Mata Kedua

Mata Kedua
Ke Rumah Riri


__ADS_3

Selesai melaksanakan kewajiban di waktu petang, kami kembali melanjutkan perjalanan. Dengan sedikit bertanya kepada beberapa orang, kami akhirnya bisa sampai di tempat yang mungkin menjadi tujuan.


Karena masjid tempat kami berhenti tadi, ternyata tak jauh dari lokasi yang ditunjukkan ponselku ke arah rumah Riri.


"Kamu turun duluan, tanya kepastian pada orang sekitar. Apa benar ini rumah gadis bernama Riri yang sempat hilang beberapa hari yang lalu?" usulku sedikit memaksa, setelah mobil berhenti di depan sebuah rumah usang yang masih terawat rapi.


"Baru kali ini ada yang berani memerintahku selain kepala polisi. Biasanya saat penyelidikan, anak buahku yang nurut sama keputusanku," jawabnya tersenyum kecut tapi ternyata nurut juga, karena pintu mobil mulai dia buka untuk turun terlebih dahulu.


"Yaelah, gitu aja pakai dibuat masalah," jawabku agar dia iklhas melakukannya, tanpa ada senyum yang dipaksa.


Baru saja pintu mobil dibuka Ronald, tak sadar aku sedikit berteriak saking terkejutnya.


"Eh, itu Riri!" sahutku hendak mendahului turun, karena terlihat sosok Riri di depan rumah di depan kami.


Ku buka pintu mobil terburu-buru, sebelum sosok itu menghilang lagi. Tapi saat aku turun, dan mulai melangkahkan kaki untuk mengejarnya, sosok itu sudah tak nampak lagi. Membuatku celingukan di sekitar sini. Di depan sebuah rumah yang terlihat sepi, dengan lampu kuning yang menyala di teras depan rumah ini.


Rumah berdinding kayu dan dulunya mungkin bercat kuning-coklat, tapi sudah banyak yang mengelupas. Meski begitu, masih terlihat rapi di sekitar halaman. Dengan sayur mayur yang tertanam rapi, di atas plastik bekas sebagai wadah media tanam.


"Kamu kenapa sih? Tadi katanya aku di suruh turun dulu!" protes Ronald menyusul ke sebelahku berdiri.


"Tadi aku lihat sosoknya di depan rumah ini."


"Sosok lagi. Aku masih antara percaya dan tidak sebenarnya. Tapi tak ada salahnya kita coba bertanya pada pemilik rumah ini," katanya berjalan mendahului.


"Oke, aku juga penasaran, apa memang benar yang ditunjukkan sosok tadi itu demi menunjukkan identitasnya," jawabku sambil menyusul langkah Ronald untuk menyelidiki.


'Tok... Tok... Tok....'


Pintu kayu mulai di ketuk oleh Ronald, dengan kata ramah yang memanggil si pemilik rumah.


" Assalamu'alaikum, Bu....., " kataku ikut memberi salam agar segera dibukakan.


" Dari mana kamu tahu kalau yang punya rumah ini seorang ibu? Kalau laki-laki apa gak malu lagi kamu?" ledeknya tersenyum padaku.


"Feeling aja!" jawabku pendek, tak mau berdebat lagi.

__ADS_1


'Krieeeettt.....'


Pintu tua rumah ini mulai terbuka. Nampak seorang wanita paruh baya yang keluar dari dalamnya. Dia nampak sangat lemah, dan sembab di matanya. Meski begitu masih menampakkan kecantikan alaminya.


" Maaf, apa benar ini rumah Riri?" tanyaku karena wajah yang Riri tampakkan selalu sama dengan saat jasadnya di bawa oleh perawat di rumah sakit. Penuh dengan luka bakar yang menghitam. Jadi aku tak bisa mengenali apakah wajah ibu ini ada kemiripan.


"Riri? Dimana dia?" tanya ibu itu langsung meneteskan air mata.


"Maaf, Bu. Jadi benar ini rumah Riri?" tanya Ronald kembali, karena sepertinya ibu itu tak konsentrasi atas pertanyaan kami.


"Iya, ini rumah Riri. Tapi Riri belum pulang sampai hari ini," tunduknya menangis sambil memegang kayu pintu sedari tadi.


"Maaf, Bu. Saya dari kepolisian, apa anak ibu memang sedang hamil dan siap melahirkan?" tanya Ronald sambil menunjukkan tanda pengenalnya.


"Hamil? Tidak, anak saya masih enam belas tahun. Dan dia belum menikah. Tapi.....," katanya terpotong, karena langsung terduduk lemas di lantai rumah yang masih beralaskan tanah.


"Maaf, Bu. Saya bantu masuk ke dalam rumah ya. Permisi," kataku berusaha membantu mengangkatnya berdiri, kemudian mendudukkannya di kursi. Beliaupun mengikuti tuntunanku, karena rasa lemas yang semakin menjadi.


Ibu itu melanjutkan tangisnya. Kami biarkan itu supaya lega. Sampai lima menit berlalu, mulai ada kata yang terucap darinya.


" Pasti ini perbuatan Roy! Sekarang dimana Riri?"


"Iya, darimana kamu tahu? Lalu dimana Riri sekarang? Hik..... Ririii....," tanyanya mengusap air mata.


"Maaf, karena jasad Riri sudah kami otopsi di rumah sakit kota. Untuk menemukan penyebab utama kematiannya," jawab Ronald.


"Jasad? Kematian?" tanya ibu Riri, kemudian tak sadarkan diri.


Aku yang berada di sebelahnya langsung menangkap tubuhnya.


"Ibu.... Maafkan Riri.....," suara seorang gadis muncul menembus tembok dari kamar rumah ini.


Dia menampakkan diri dengan wajah pucat biasa, tapi masih lebih menarik untuk dilihat daripada sebelumnya. Masih sambil menggendong sesuatu yang dibungkus kain.


" Riri.... Akhirnya kamu menampakkan diri. Ke sinilah, dan ceritakan pada kami apa yang sebenarnya terjadi?" tanyaku masih mendekap ibu Riri yang pingsan ini.

__ADS_1


"Kamu bicara sama siapa?" tanya Ronald yang memperhatikanku dari tadi.


"Riri... Dia ada di sini, dan sepertinya lebih ramah dalam menampakkan diri. Kamu mau melihatnya?"


"Apaan? Maksudnya lebih ramah gimana?" tanya Ronald lagi.


"Pegang tanganku, konsentrasi dan berdoa sepenuh hati. Aku akan membantumu melihat keberadaannya. Riri....boleh mendekat kemari? Pegang pundakku!" kataku masih mendekap ibu Riri dengan tangan yang satunya.


"Dengan senang hati, Aish! Bilang saja kalau kamu ingin pegang tanganku," cengir Ronald menggoda.


"Astaghfirullah. Begini saja, akan aku coba membuka sedikit mata batinmu. Tak perlu kau sentuh aku!" kataku memutuskan, sekaligus belajar dari yang pernah diajarkan kak Azzam.


"Pegang tangan juga gak apa-apa kok!" kata Ronald menyerahkan tangannya di depanku.


"Kamu merem saja. Dan ikuti petunjukku!" jawabku tak jadi menunjukkan cara yang biasa aku lakukan.


"Yaaahh.... Gak jadi pegang tangan halusmu dong!"


"Diamlah, dan turuti saja kalau ingin mendapat cerita yang sebenarnya dari korban yang sedang kau cari identitasnya!" kataku mulai kesal.


"Oke, maaf...maaf.... Tolong jangan marah, karena itu bisa menyakitkan buatku. Tetaplah tersenyum di hadapanku!"


"Polisi kok gak serius sama sekali? Mau dapat bukti tidak?" tanyaku demakin kesal.


"Hahahaa..... Memang kita ke sini untuk mencari bukti 'kan? Tapi jujur, aku tak terlalu percaya sama makhluk tak kasat mata. Meski ayahku sempat bersekutu dengan mereka," kata Ronald mengingat kejadian tragis keluarga ayahnya.


"Baiklah, sekarang turuti saja apa kataku. Lalu kamu buktikan sendiri, apa yang menjadi pikiranmu tadi? Yang penting siapkan mental, karena sosok mereka tak selalu sedap dipandang oleh mata batin kita."


"Baiklah, apa katamu saja! Trus sekarang aku merem 'kan?"


"Ya!" jawabku singkat.


Aku mulai mengusap di depan wajah Ronald, tanpa menyentuhnya. Sambil berdoa, memohon dilancarkan semua kemampuan yang ku punya. Untuk membantu menuntaskan kasus, agar keadilan terlaksana.


"Aaaargh...... Belakangmu... Belakangmu....!" teriak Ronald menunjukku tiba-tiba, membuat ibu Riri bangun seketika.

__ADS_1


"Apa yang kamu lihat?" tanyaku pada Ronald yang ingin menjauh dari depanku, sampai dia terduduk di lantai tanah rumah ini saat tersandung kursi di belakang tempatnya berdiri tadi.


"Ada apa ini?" tanya ibu Riri masih bingung melihat sekitar rumahnya sendiri.


__ADS_2