Mata Kedua

Mata Kedua
Emosi Azzam (Giveaway)


__ADS_3

****


Pengumuman Giveaway time...... πŸ—£οΈπŸ—£οΈ





Untuk nama yang berkomentar di atas, mohon segera hubungi author ke......


Ig: Makmak871


Akan ada pulsa masing-masing 25ribu. Cuusss..... Segera konfirmasi yaaaa.....


Terimakasih untuk semua komentar dan like dari para pembaca. Dan tunggu giveaway selanjutnya, di waktu dan cara yang berbedaπŸ˜πŸ˜πŸ˜πŸ™πŸ™


****


"Kamu?" tanyaku langsung memaksa duduk di ranjangku, meyakinkan diri kalau itu memang Ronald yang sedang terbaring di atas ranjangnya sambil dorong oleh perawat mengikuti bunda.


"Kenapa?" tanya Ronald dengan ekspresi tak mengerti, hanya menoleh ke kanan dan kiri.


Semua mata dalam ruangan ini tertuju padanya. Mengamati kalau dia masih berupa manusia.


"Bukannya kamu.....?" kataku menunjuknya setengah tak percaya.


"Tenang, biar bunda jelaskan."


Bunda mulai menarik kursi yang terletak di sebelah kanan ranjangku. Kemudian mempersilahkan para perawat kembali melanjutkan pekerjaannya, agar menempatkan ranjang Ronald di sebelah kiriku.


"Jadi tadi suster bilang kalau Ronald sudah tiada bukan?" tanya bunda mulai memulai penjelasannya pada kami.


"Ya, memang dia kenapa bisa hidup lagi?" tanya kak Azzam memotong karena mulai emosi, melihat wajah Ronald yang meringis membuat kami semakin geregetan sendiri.


"Bukan hidup lagi. Dia memang masih hidup sejak tadi. Cuma kita saja yang salah arti," jelas umi tersenyum bersama bunda dengan tatapan tanya kami.


"Salah arti gimana maksudnya?" ganti Yumna mengungkapkan rasa penasarannya tentang Ronald, yang hanya menggaruk kepalanya sambil cengengesan lagi.


"Salah arti, kalau maksudnya tiada itu bukan karena meninggal dunia," sahut bunda.


"Lha terus maksudnya apa?"


"Maksudnya, Ronald tak ada di ranjangnya. Padahal sebelumnya dia sempat koma. Tak ada yang menemani dia, tapi tiba-tiba menghilang saja saat suster waktunya memeriksa keadaannya," jelas bunda lagi.

__ADS_1


"Memang dia hilang kemana?" tanyaku heran.


Sambil melihat para perawat merapikan peralatan untuk Ronald, kami menunggu penjelasan.


"Tadi saat aku terbangun, aku mendapati diriku sedang sendiri di sebuah ruangan penuh dengan alat yang menempel di tubuhku. Aku bingung, lalu perlahan melepaskan alatnya satu per satu, dan mulai beranjak berdiri sambil berpegangan pada tiang infus. Satu-satunya alat medis yang tak ku lepas dari tanganku, " jelas Ronald.


" Terus kamu kemana? " tanyaku mulai menatap sinis padanya.


" Aku ingat kalau sebelumnya kita pergi bersama. Aku mencemaskan keadaan Aish, lalu berusaha mencari ke segala ruangan yang ku temui," lanjutnya.


"Kamu cari Aish kemana saja?" tanya Yumna.


"Di setiap ruangan sekitar tempatku dirawat. Semua ku buka asal saja. Tapi pas sampai di ruangan kosong tanpa penghuni, rasanya badanku sudah mulai lemas sekali. Jadi ku putuskan untuk tidur sejenak sambil mengumpulkan energi."


"Kami bingung mencari keberadaannya, sampai ada seorang suster yang menemukan dia karena hendak menyiapkan ruangan itu untuk pasien barunya," jelas bunda.


"Bikin susah aja. Kirain beneran tiada, pergi dari dunia manusia," sahut kak Azzam kesal, tapi malah membuat kami tertawa.


Beberapa suster masih membetulkan ranjang Ronald, di sebelah ranjangku berada. Hanya terpisah nakas sebagai tempat menaruh keperluan pribadiku saja.


" Awas sampai kamu godain Aish. Tak akan ku lepaskan pandanganku padamu!" kata kak Azzam mulai mengancam.


"Sudahlah, tak usah cemburu begitu. Jadi tadi bunda muter-muter cari, ternyata malah dia enak-enakan tidur di kamar orang, gitu?" sahut Yumna mulai menanggapi.


"Iya, padahal kami sudah cemas sekali. Takut kalau jasadnya ikut dibawa ke alam lainnya," kata umi tersenyum mengejek Ronald yang hanya meringis dari tadi.


" Mbah Darmi?" seruku dan bunda saling menatap bersama.


"Kalian kenal nenek itu?" tanya Ronald mulai melongo menatap kami.


"Mungkin," jawabku dan bunda masih saling menatap muka, sambil tersenyum penuh makna.


"Memang apa yang selama ini kamu rasakan dan lakukan, di tempat yang bukan alamnya manusia ?" tanya Yumna.


"Aku tak terlalu mengingatnya. Aku hanya ingat, kalau waktu itu aku hanya berkeliling sambil berjalan kaki menyusuri jalannya. Tapi rasanya hanya sehari saja, tak sampai menginap di sana. Eh, kata suster, aku sudah koma selama tujuh hari di dunia manusia."


"Kadang memang kejadian di alam lain tak sama waktunya dengan di dunia kita," kata bunda.


"Iya, rasanya hanya ada malam yang gelap gulita. Tanpa ada matahari yang menjelang pagi. Tapi ternyata aku sudah seminggu tak sadarkan diri," Ronald masih keheranan dengan pengalaman yang tak masuk ke logika.


"Eh, kamu bukannya kakaknya Memey ya?" tanya Hildan yang dari tadi hanya diam saja, setelah mengamati Ronald agak lama.


"Iya, memang kenapa?" tanya Ronald sambil membetulkan posisinya agar bisa lebih sedikit tegak.


"Eh... Eng.. Enggak. Kalau begitu saya permisi dulu. Anak saya sudah menunggu," katanya melangkah keluar meninggalkan kami, tanpa penjelasan yang berarti, meskipun kami bisa menebak sendiri.

__ADS_1


"Kenapa sih dia? Memang dia siapa?" tanya Ronald.


"Teman Memey, yang sempat hampir menjadi tumbal di rumahmu," kata kak Azzam langsung menjelaskan.


"Oh, pasti ulah ayahku!" kata Ronald menerawang ke langit-langit kamar, mengingat nasib yang sempat menimpa keluarganya.


"Sudahlah, doakan saja ayahmu lebih tenang di tempat barunya saat ini," sahutku.


"Iya, doa anaklah yang bisa membantu mengurangi dosa orangtuanya," sahut bunda.


"Percuma. Mungkin sekarang dia lagi diperbudak di negeri jin peliharaannya," sahut Ronald tak berminat membicarakan nasib tragis keluarganya.


"Ya sudah kalau gitu, aku juga mau pamit pulang dulu," kata Yumna yang sudah melihat jam tangannya dari tadi.


"Lhoh, eh. Kamu gak nginap sini? Nanti kamu di rumah sendiri lo," kataku mencegah Yumna pergi.


"Maaf, tapi hari ini harus cek kafe Rey yang sedang dalam proses renovasi lagi. Untuk sedikit memoerbesar, karena sebelahnya ada sedikit tanah yang dijual pemiliknya," kata Yumna melihat jam lagi.


"Oh, pasti kalian sibuk sekali ya. Ya sudah tak apa, tapi hati-hati ya!" kataku mengingatkan.


"Siap! Kamu juga cepat sembuh ya," kata Yumna memelukku untuk memberikan semangat baru.


"Insyaa Allah."


"Azzam, jangan kau lepaskan pandanganmu pada manusia ini. Jaga Aish selalu!" kata Rey menepuk pundak kak Azzam sambil tersenyum meledek.


"Sudah, ayo pulang! Jangan kau panasi hatinya Azzam. Bunda, Umi, kami permisi," sahut Yumna sambil mendorong tubuh kekasihnya, menuju pintu ruangan ini.


"Assalamu'alaikum," katanya sebelum pergi.


"Wa'alaikumsalam," jawab kami bersama.


Suasana mulai terasa sepi. Umi dan bunda nampak duduk di sofa yang sedikit jauh dari kami. Sedangkan kak Azzam memilih duduk di antara ranjang kami.


"Hadap sana saja, awas kalau berani mencuri pandangan lagi!" kata kak Azzam memperingatkan Ronald.


"Anak kecil banget! Kok Aish mau ya sama dia," suara ledek Ronald sambil memalingkan badan menuruti kak Azzam.


"Terserah mau ngomong apa, yang penting nurut aja. Tak usah berani-beraninya hadapkan muka ke sini!" gerutu kak Azzam, membuatku ingin tertawa saja.


Malam semakin larut. Kak Azzam masih mengajakku mengobrol. Sedangkan Ronald sudah tak ada suaranya. Membuat bunda memperingatkan kita.


" Aish... Azzam.... Sudah malam! Tidur! "


" Iya, Bunda. Aku mau tidur di sini saja," kata kak Azzam mengelus puncak kepalaku, yang membuat mata semakin berat saja.

__ADS_1


Entah sudah berapa lama aku memejamkan mata, tiba-tiba terdengar suara seorang wanita.


"Tolong..... Pulang......!"


__ADS_2