Mata Kedua

Mata Kedua
Mencari Petunjuk Lain


__ADS_3

"Ya sudah, semua itu cuma mimpi. Sebaiknya kita tidur lagi. Masih tengah malam juga ini, jangan bikin keributan di rumah sakit lagi," kata umi membuyarkan obrolan kami.


"Iya, tidur saja Aish. Tak usah terlalu kau pikirkan tentang kasus Lita. Kalau sudah waktunya terungkap, pasti ada saja jalannya," sahut kak Azzam menatapku lembut.


"Aku kasihan sama Lita. Kira-kira, berapa banyak waktu yang kita punya untuk mengembalikan jenazah ke keluarganya?" tanyaku.


"Kata pak Adam, mungkin semingguan. Aturan di rumah sakit ini, kalau lebih dari seminggu belum ditemukan identitasnya, terpaksa mayatnya di makamkan di belakang rumah sakit."


"Satu minggu ya?" tanyaku masih memikirkan langkah yang akan ku ambil terlebih dahulu.


"Iya. Sama seperti jenazah yang tak memiliki keluarga, atau tak diambil karena memang tak punya. Kecuali ada permintaan khusus dari pihak kepolisian, dengan alasan penyelidikan. Itupun harus tetap di lemari pendingin, supaya tak merusak jasadnya. "


"Satu minggu. Lita.... Kalau kau mendengarku? Segera tunjukkan alamat rumahmu. Supaya kita bisa membantumu," ucapku sendiri sambil memejamkan mata, berharap ada komunikasi lagi di antara kita.


"Sudahlah, ayo istirahat lagi. Biar kita vusa berpetualang bersama lagi," kata kak Azzam menenangkan.


"Ehemm... Ehemm.... Terus aja elus kepala Aish. Ku doain nanti bener-bener dimimpiin sama Lisa, baru tahu rasa," terang Ronald lupa kalau kak Azzam sudah terbiasa menghadapi makhluk tak kasat mata.


"Sekarang munculpun tak apa. Tak perlu masuk mimpi, biar cepat jelas semuanya. Tapi kalau ternyata dia memilih masuk ke mimpimu karena lemahnya pikiran kamu yang penuh ketakutan itu, ya jangan salahkan aku," ucap kak Azzam balik menakuti Ronald.


"Eh... Jangan! Sebaiknya muncul di depan Azzam saja deh. Ya sudah, aku mau tidur. Terserah kalian hadapi saja Lita sendiri. Aku tak mau ikut campur lagi!" kata Ronald menyerah karena ucapannya sendiri.


"Kak, apa aku boleh minta tolong?" tanyaku pada kak Azzam, memutuskan perdebatan mereka berdua.


"Pasti! Apa yang bisa aku lakukan?" tanya kak Azzam menanggapi.


"Aku minta tolong, kak Azzam pergi ke taman tempat pembunuhan. Dan tolong fotokan sekitar pohon yang digunakan, mulai dari batang pohon sampai dengan akarnya. Mau?"


"Beres, besok kakak ke sana. Sekarang kamu istirahat dulu ya!"


Aku menganggukkan kepala, kemudian memulai memejamkan mata.


****


Alarm pagi mulai membangunkanku hari ini. Membuatku bergegas mensucikan diri, untuk melaksanakan ibadah sujud pada Illahi.

__ADS_1


Seperti biasa, bunda dan umi pamit sebentar untuk mencari sarapan setelah sinar matahari mulai tampak menyinari pagi ini. Sedangkan Ronald masih kembali melanjutkan mimpi, setelah semalam hampir tak bisa tidur lagi.


"Kok dia gak datang lagi ya, Kak?" tanyaku setengah duduk sambil bersandar di atas ranjangku.


"Mungkin ada yang harus dia selesaikan. Namti akan aku datangi tempat kejadian, sepulang bunda dan umi dari cari sarapan."


"Hehh.... Apa ini ada hubungannya sama anak-anak yang membully dia ya?" tanyaku lagi.


"Entahlah. Tapi bisa jadi ada. Cuma kita belum tahu hasil keputusan polisi apa?"


Baru saja kak Azzam berucap, dering telepon di kamar mulai terdengar.


"Lhah, siapa yang telepon ya? Biasanya kita yang telepon suster. Kenapa malah ada telepon masuk ke kode nomer telepon kamar ini?" tanyaku.


"Angkat saja. Barangkali ada yang penting!" saran kak Azzam.


'ckleekk'


Suara gagang telepon mulai ku angkat. Kemudian ku tempelkan pada telinga kananku, untuk mendengarkan suaranya terlebih dahulu.


'Wwuusshhh.....'


"Hhemmpp.....!" kataku sedikit menjauhkannya.


"Tolong.... Pulangg.... Ayah....!" ucap suara dari seberang sana.


' Tut.. Tut.. Tut..'


"Lita.... Lita... Halooo....," kataku saat sambungan terputus tiba-tiba.


"Kenapa, Aish?" tanya kak Azzam setelah ku turunkan gagang teleponnya.


"Dia mencoba mengajak berkomunikasi lagi!" kataku tersenyum senang.


"Oke, terus sekarang kamu mau bagaimana?"

__ADS_1


"Kita tunggu saja petunjuk baru darinya. Yang penting sekarang, kamu istirahat saja di sini. Menerima petunjuk, dan aku yang mencarinya," kata kak Azzam memegang pundakku dengan penuh keyakinan.


"Assalamu'alaikum," suara pak Adam terdengar dari luar.


Kak Azzam langsung berdiri, dan membukakan pintunya agar beliau masuk dan membicarakan maksud kedatangannya.


"Wa'alaikumsalam. Apa ada kabar tentang Lita?" tanya kak Azzam sambil mempersilahkan tempat duduk untuk pak Adam.


"Begini, sebenarnya saya juga berat hati menyampaikan. Polisi menganggap ini kasus mengakhiri hidupnya sendiri. Jadi besok kalau keluarganya tak ada yang mengambil, bisa langsung dimakamkan saja karena dianggap wanita tuna susila yang tak kuat menghadapi cobaan hidupnya," jelas pak Adam merasa sangat terbebani saat menceritakan.


" Hahh? Secepat itukah polisi memutuskan?" tanyaku.


" Memang kalau malam, sering adan wanita seperti itu yang berkeliaran di sekitar taman. Jadi tak heran kalau semuanya menganggap keputusan polisi itu benar."


"Ditambah ada yang melihat, kalau sebelum ditemukan meninggal, perempuan yang mungkin bernama Lita itu sedang duduk termenung seorang diri di salah satu kursi taman. Katanya, dia seperti sedang memikirkan banyak beban."


"Pasti ada orang dalam yang sengaja menutup kasusnya. Andai saja aku sudah sehat, akan ku urus sendiri sampai tuntas. Tak akan ku biarkan ada jabatan atau uang yang bisa menutupi kejahatan. Apalagi menyangkut nyawa seseorang," kata Ronald yang ternyata sudah duduk tegak di atas kasurnya.


" Ya sudah, Kak. Kalau begitu cepat foto sekitar pohon itu. Terutama di bagian batang tempat dia tergantung juga sekitar akarnya yang sempat dia tunjuk lama. "


" Oh iya, ada satu lagi yang membuat pikiran saya mengganjal!" sahut pak Adam mengingat sesuatu.


" Apa? " aku, kak Azzam, dan Ronald, bersamaan menatap serius pada pak Adam.


" Eh, kok jadi melotot ke saya semua? Tolong biasa saja, karena lebih mengerikan dari ketemu sosok tak kasat mata, " katanya sambil menutup muka, berusaha bercanda.


"Haha... Bapak bisa saja. Memang apa yang membuat bapak kepikiran?" tanyaku pelan.


"Di kepala bagian belakangnya, dirambut panjangnya, seperti ada darah kering akibat luka. Tapi saat saya bilang ke polisi yang memeriksa, katanya mungkin itu bekas kotoran saat jenazahnya diturunkan di tanah sekitar taman saja."


"Siapa polisi yang menanganinya? Akan aku tuntaskan dia!" sahut Ronald mulai tegas.


"Katanya kamu suruh orang buat menyelidiki kasusnya, kenapa kamu tak tahu orangnya?" tanyaku mengingat ucapannya tempo hari.


"Temanku sedang ke luar kota. Dia bilamg sudah ada yang menanganinya. Jadi ya sudah, ku biarkan saja."

__ADS_1


"Ehmm... Apa bapak mencoba menyibak rambutnya? Apa benar ada luka? Memang mayatnya tidak di-autopsi?" tanyaku lagi.


"Kata polisi itu tidak perlu. Karena sudah jelas terlihat kalau memang ada bekas jeratan di lehernya. Tapi memang kalau kata dokter yang hanya sekilas memeriksanya, penyebab kematiannya karena kehabisan oksigen. Jadi itu sudah cukup membuat jelas semuanya. Kalau dia memang mengakhiri hidupnya dengan tali yang digantung pada pohon di taman kota."


__ADS_2