Mata Kedua

Mata Kedua
Perselisihan


__ADS_3

"Mungkin. Ya sudah, ayo kita kembali ke tempat Rey dan Yumna berada saja. Aku masih lelah hari ini," sahut kak Azzam terlihat lemas.


"Oke, sambil nunggu adzan magrib juga. Aku bikinin coklat hangat mau?" tawarku.


"Boleh, tapi jangan terlalu manis ya. Soalnya aku mau minumnya sambil lihat kamu."


"Apaan sih? Sudahlah, kakak ke sana dulu. Nanti aku susul setelah jadi coklat panasnya."


"Kenapa gak bikin di ruangan Rey aja?" tanya kak Azzam mengernyitkan dahi, hendak mengajakku pergi dari sini.


"Enggak, aku lebih hafal letak semua peralatan di area ini. Kalau di ruangan Rey, belum tentu lengkap juga."


"Oh, oke. Kalau gitu aku ke sana dulu ya. Rasanya sedikit meriang juga sebenernya," sahut kak Azzam beranjak meninggalkanku sendiri di sini.


"Kakak mau minum obat? Nanti ku carikan kalau mau," teriakku setelah dia semakin menjauh.


"Tak usah. Aku cuma merasa sangat lelah," jawabnya sambil berlalu pergi keluar tempat ini.


"Oh, baiklah."


Ku ambil serbuk coklat dan gula, yang biasa ku seduh dengan air panas. Kemudian menambahkan sedikit parutan coklat batang, untuk menambah kenikmatan.


"Eh, kayaknya belum pada makan semua. Stok sayur di kulkas juga habis tak ada sisa. Karena belum sempat belanja juga."


"Ehmmm.... Mie instan pake kuah kayaknya enak. Untung masih ada sisa yang ku bawa dari rumah dulu," sambungku mengingat letak tumpukan mie instan di dalam lemari bagian paling bawah.


Ku buka pintu-pintu lemari, mencari letak mie instan yang seingatku masih ada beberapa bungkus.


"Kok nggak ada ya? Apa kak Raisha menyimpannya di tempat lain?" gumamku masih mengelilingi tempat ini.


Mulai dari tempat tertinggi, sampai lemari paling bawah sendiri. Masih belum ku temukan juga wujudnya. Sampai ku lihat ada sebuah tas, yang tergeletak di pojok belakang pintu ruangan ini.


"Tas siapa ini? Kenapa baunya anyir sekali ya?" gumamku mencoba mendekat, tapi enggan membukanya sendiri.


"Sebaiknya ku bicarakan sama yang lainnya, supaya kita bisa putuskan bersama," lanjutku sambil keluar ruangan, untuk menemui teman-teman.


Sesampainya di depan kantor Rey berada, langsung ku bicarakan temuanku di dapar tempatku bekerja sebelumnya.


"Rey, ada tas aneh! Baunya juga anyir seperti darah. Bisa ikut aku melihatnya?" selorohku.


"Tas? Tas apa?"


"Entahlah, aku tak berani membuka."


"Bagus, jangan ada yang menyentuhnya. Dan kalau mencurigakan, sebaiknya kita lapor polisi dulu agar memeriksa dalamnya."


Kami semua menuju tempat dimana ku temukan tas tadi. Tapi ternyata sesampainya di sana, lenyap. Tak ada apapun di pojok belakang pintu dapurku.

__ADS_1


"Mana?" tanya Rey menatapku tajam.


"Lhoh, tadi aku lihat ada di situ. Serius!" ucapku meyakinkan mereka semua.


"Mungkin kamu cuma halusinasi. Istirahatlah!" ucap Rey santai.


"Kenapa kau tak percaya? Aku memang benar-benar melihatnya. Bahkan sempat mencium baunya," kataku yakin, sedikit emosi atas sikap Rey yang seperti tak peduli.


"Sudahlah, tak perlu dibahas lagi. Toh tasnya juga gak ada di sini," sahut Rey membuatku semakin kesal, tanpa mau mencari kebenaran ceritaku tadi.


"Rey! Apa kamu mulai tak percaya sama ucapanku?"


"Sepertinya mulai sekarang iya," jawabnya masih santai seperti biasa.


Sakit sekali hati ini, saat seorang sahabat mulai tak percaya lagi. Mengabaikan laporanku yang memang benar-benar terjadi.


"Lalu, apa menurutmu aku berdusta?"


"Entahlah, mungkin cuma cari perhatian saja."


"REY!" sahut kak Azzam yang sudah mulai geram, langsung memukul wajahnya sampai membuat memar, dan mengeluarkan darah di sudut bibir dengan sekali pukulannya.


"Apa masalahmu?" kata Rey hendak membalas pukulan kak Azzam, setelah sempat roboh dibuatnya.


'Bruukkk.....'


"Aauuuuuu......," teriakku kesakitan, sedikit kliyengan.


"AISH......!" teriak Yumna juga.


"Aku tak apa," jawabku yang masih bersimpuh di lantai akibat menerima pukulan Rey.


Kepalaku rasanya pusing sekali. Tapi mencoba kuat, untuk bisa mengatasi semua ini.


"Apa maksudmu?" kata kak Azzam lagi, kembali mengayunkan genggamannya menuju wajah Rey seperti tadi.


"CUKUUUUPPPPP!" teriak Yumna membuat kami melongo semua.


"Bilang sama pacarmu itu, kalau dia laki-laki harusnya tak melukai wanita! Apalagi sampai memukulnya," marah kak Azzam sambil berjongkok menuntunku untuk kembali berdiri, meski masih terasa sangat nyeri bahkan kepala rasanya berputar tak karuan.


"Siapa suruh dia menghadang pukulanku. Jadi itu bukan salahku," sahut Rey ikut marah juga.


"Kurang ajar! Kau memang pantas diberi pelajaran!" ucap kak Azzam hendak memukul Rey lagi.


"Sudah, hentikan. Sebaiknya kita pulang. Menenangkan diri, sebelum kita bertemu lagi," usulku.


"Iya, sebaiknya kita pulang saja. Tak perlu berdebat lagi seperti ini," sahut Yumna setuju.

__ADS_1


"Kita naik taksi saja. Biar aku yang carikan," kata kak Azzam menggandeng tanganku, menjauhi tempat ini.


Sembari berjalan keluar, ku sempatkan menoleh sebentar. Rey dan Yumna masih terdiam, memandang punggung kami hingga tak terlihat oleh mereka lagi.


Aku dan kak Azzam masih terus berjalan. Meninggalkan pujasera yang hancur berantakan. Membawa suasana emosi yang terjadi dari dalam.


"Kak, tanganmu hangat. Apa kita perlu cari klinik dulu?" tanyaku masih dalam genggaman tangan kak Azzam, sambil berjalan menyusuri pinggir jalan raya.


"Aku tak apa. Cuma capek aja."


"Ehmmm.... Apa perlu beli obat di apotik depan. Tuh, dah kelihatan tempatnya," tunjukku.


"KU BILANG AKU TAK APA!" bentaknya untuk pertama kali.


"Hehhh..... Oke kalau mau kakak begitu. Aku akan diam saja sampai kita menemukan taksi," ku buang nafas panjang, untuk melegakan sesak karena sakit hati.


"Maaf!" ucapnya pendek, tak seperti biasanya.


Aku tak mengerti. Sebenarnya ada apa di tempat ini? Apa karena kita semua sedang lelah, sampai emosi mudah sekali terpancing meski sebenarnya masalah tak terlalu besar juga.


Tak lama, kak Azzam mengangkat teleponnya. Sepertinya itu dari supir taksi pesanannya.


"Taksinya sebentar lagi sampai," katanya tanpa ku jawab apa-apa, setelah sambungan hape yang dia pegang sudah dimatikan.


Dan benar saja, sebuah mobil berwarna hitam berhenti di sebelah kami. Tapi itu bukan taksi yang dipesan kak Azzam tadi, melainkan pak Rendi.


"Ayo saya antar. Daripada jalan berdua, nanti malah dirazia," goda Pak Rendi tersenyum, setelah melongok di salah satu jendela pintu mobilnya.


"Gimana, Kak?" tanyaku.


"Sebentar, saya akan hubungi supir taksinya. Ini tadi katanya sudah deket juga," ucap kak Azzam mencoba menelepon seseorang.


Baru juga gawainya menyambung ke arah nomor tujuan, sebuah mobil lain berhenti di belakang mobil pak Rendi.


"Maaf, apa adek yang pesan taksi tadi?" tanya seseorang dari mobil putih itu.


"Iya, Pak. Bisa kita diantar pulang sekarang?" tanya Kak Azzam.


"Maaf sebelumnya, Dek. Istri saya baru menghubungi kalau sudah mau melahirkan. Jadi terpaksa saya harus cancel pesanan taksinya, gimana?" katanya memelas.


"Oh, gak apa-apa. Ini juga kebetulan ada teman yang mau antar. Eh iya, ini uang ganti cancel-nya," kata kak Azzam menyerahkan dua lembar dengan nominal uang tertinggi di negara ini.


"Tak usah, Dek. Saya yang harusnya bertanggungjawab. Ini bukan salah adek," katanya sambil terlihat begitu khawatir dan ketakutan.


"Tak apa, Pak. Terima saja. Semoga istri bapak lancar semuanya," jawab kak Azzam masih kekeh pada pendirian.


"Iya, ini saya tambah uangnya. Semoga bisa membantu menambah biaya persalinan istrimu," kata pak Rendi turun dari mobil, sambil menyerahkan beberapa lembar dengan nominal yang sama, pada lelaki yang semakin nampak tertekan.

__ADS_1


"Ii... Iiyaa... Terimakasih. Saya permisi dulu," katanya langsung mau menerima dan pergi secepat kilat dari hadapan kami.


__ADS_2