
"Alhamdulillah, bisa pulang juga. Besok umi sama bunda juga balik ke negara kita ya," ucap bunda sambil membantu membereskan perlangkapan yang ku pakai selama di rumah sakit ini.
"Yaaahh.... Bunda sama umi mau pulang ya!" kataku sedih mengingat kebersamaan kita di sini.
"Semangat, Aish! Kamu harus konsentrasi untuk meneyelesaikan sekolahmu. Biar bisa kembali ke negara kita buat mengembangkan toko roti bundamu!" kata umi membangkitkan cita-citaku.
"Semangat!" kataku lemas membayangkan kepergian bunda.
"Kita jadi langsung ke danaunya, atau ke rumah Yumna? Antar barang Aish yang seabrek ini," ucap kak Azzam tersenyum menyindirku.
"Loh, ini mau kemana?" tanya Yumna tiba-tiba datang menjengukku, di waktu yang tepat.
"Sudah boleh pulang. Ini lagi siap-siap!"
"Oh, kalau begitu aku bantu ya. Masuk ke mobil Rey langsung saja, kebetulan lagi bawa mobil yang bisa muat banyak. Abis antar barang ke kafe juga tadi soalnya," tawar Yumna.
"Iya, deh. Barang-barangnya biar di mobil Rey. Kita bisa langsung ke danau biru kalau begitu," jawab kak Azzam.
Ku jelaskan kembali masalah yang sedang kami hadapi. Untungnya Yumna berbaik hati mau membawakan pulang barang-barangku, supaya kita bisa segera membantu mencari keberadaan rumah Lita.
" Maaf ya, aku tak bisa ikut kalian. Kalau sore sampai malam, kafe bener-bener lagi sibuk. Jadi tak bisa ikut petualang," kata Yumna memelukku sebelum pergi meninggalkan kami.
"Tak apa. Kamu bantu bawa barang saja sudah sangat meringankan sekali. Semoga lancar dan tambah sukses ya, kafenya!" ucapku tersenyum, menghargai kesibukan mereka.
"Aamiin. Eh, tapi kamu yakin mau ke sana? Kan kamu baru saja keluar rumah sakit!" ujar Yumna terlihat mengkhawatirkan kondisiku.
"Aku tak akan bisa tenang kalau masalah ini belum diselesaikan. Kita harus bertindak cepat, sebelum jenazah Lita dianggap tak punya keluarga, terus dikebumikan."
"Bunda?" tatap Yumna melihat tanggapan dari bunda.
"Bunda tak bisa melarang kemauannya, karena bunda juga pernah muda. Tapi isnyaa Allah, bunda akan terus memantaunya."
"Oh, ya sudah kalau begitu. Hati-hati ya! Semoga cepat ketemu rumahnya," kata Yumna sebelum pergi membawa barang-barangku.
Ronald juga sudah menghubungi asisten pribadinya, untuk membereskan semua barang miliknya. Jadi kami bisa langsung berangkat ke Danau Biru.
" Eh, apa gak perlu ajak pak Adam? Beliau kan tahu ciri-ciri rumahnya. Mungkin saja bisa membantu kita di sana nanti," usulku lagi.
__ADS_1
"Oke, aku urus kalau soal itu!" kata Ronald langsung mengangkat gagang telepon kamar ini, dan berbicara dengan seseorang.
Kami yang menunggu, hanya diam mengamati Ronald yang meminta pak Adam untuk datang kemari.
"Beres, sebentar lagi pak Adam ke sini. Kita segera siap-siap, mumpung masih pagi. Karena kita sendiri tak tahu, berapa lama perjalanannya nanti," kata Ronald setelah menutup kembali gagang teleponnya.
Beberapa saat kami terdiam di sini, akhirnya pintu ruangan menunjukkan pak Adam yang baru saja datang.
"Apa kita mau mencari rumah Lita?" tanya pak Adam terlihat senang.
"Iya. Bapak ikut ya!" ajakku dibalas anggukan olehnya.
"Dengan senang hati. Tak tega saya kalau terus mendengar tangisannya saat malam hari."
"Oh, bapak sering diganggu secara nyata juga?" tanyaku dijawab anggukan olehnya.
****
Lebih dari satu jam perjalanan, akhirnya kami sampai di tempat yang ditunjukkan oleh sebuah aplikasi peta di ponsel. Sebuah kawasan wisata yang kata kak Azzam persis, seperti dalam mimpinya.
" Bagus banget ya sekitar tempatnya. Lalu kita ke arah mana dulu untuk bertanya?" tanya Ronald memulai percakapan, saat kita sudah sampai di sekitar danau yang sudah menjadi tujuan.
Mobil mulai dihentikan kak Azzam. Tepat di sekitar pemuda yang menjaga parkir. Kemudian Ronald langsung turun dengan tak sabar.
"Lhah, baru juga aku mau turun tanya ke mereka," sahut kak Azzam tanpa emosi, mulai terbiasa dengan sikap aneh Ronald.
Kami semua hanya menunggu di dalam mobil. Berharap Ronald bisa menemukan petunjuk rumah Lita.
"Ngomong apa sih dia? Lama sekali?" gerutu kak Azzam yang hanya melihat perilaku Ronald, tanpa mendengar suaranya karena jarak yang sedikit berjauhan.
"Nah, tuh dia sudah balik ke sini!" jawabku melihat Ronald yang sedang berjalan dan masuk ke mobil lagi.
"Mereka tak kenal sama Lita. Tapi kalau orang yang biasa memperbaiki perabotan, ada. Namanya pak Salih. Katanya rumahnya daerah sana!" tunjuk Ronald kembali masuk dalam mobil, duduk di belakang sesuai syarat dari kak Azzam.
"Tak kenal Lita?" gumamku, mengingat kembali mimpi yang pernah membisikkan sebuah nama padaku.
"Kita ke arah sana dulu. Cari rumah pak Salih!" jawab kak Azzam memutar laju mobilnya menuju arah yang baru ditanyakan.
__ADS_1
Tak lebih dari lima menit, pak Adam menunjuk sebuah rumah bercat kuning dan hijau, sesuai apa yang pernah ditunjukkan dalam mimpi oleh gadis itu.
"Bapak yakin ini rumahnya?" tanyaku.
"Iya, saya yakin. Kita turun dulu, dan coba tanyakan pada pemilik rumahnya," usul pak Adam.
Dengan hati berdebar, aku dan pak Adam turun duluan. Supaya tak terlihat ramai orang dan mengundang perhatian banyak orang.
"Assalamu'alaikum....," salamku mengetuk pintunya.
Tak lama kami menunggu, seorang laki-laki seumuran pak Adam keluar dari dalam.
"Wa'alaikumsalam. Dari mana ya?" tanya lelaki yang terlihat pucat sekali.
"Kami dari rumah sakit yang ada di kota. Apa benar ini rumah Lita?" tanyaku sebelum memberitahu yang sebenarnya.
"Ii.....iyaa.....saya ayahnya. Tapi Lita tak ada. Sudah tiga hari tak pulang ke rumah."
"Oh, Pak Salih ya? Kalau begitu boleh bapak ikut kami ke kota? Untuk menemui Lita?" tanyaku lagi tanpa memberitahunya.
"Memang kenapa Lita di sana?" tanyanya terlihat mulai bergetar, memikirkan nasib anaknya.
"Bapak ikut dulu saja. Akan kami ceritakan di sana," kataku tak ingin membuat keributan di sini.
"Oh, baiklah."
Meski masih diselimuti rasa bingung, penasaran, dan khawatir terhadap nasib putrinya, pak Salih berusaha tegar menghadapinya.
Sepanjang perjalanan, kami mendengar cerita pak Salih tentang anak gadis satu-satunya. Mulai dari masa kecil, hingga mulai hilangnya Lita.
Beliau berkata, kalau Lita memang jarang dikenal oleh tetangga. Karena kegiatannya hanya di rumah dan sekolah saja. Dia tidak percaya diri, karena sering diolok teman-temannya.
Ibunya pergi dengan pria lain meninggalkan ayahnya, saat Lita masih berusia balita. Jadi Lita hanya diberitahu kalau ibunya sudah tiada, agar tak mencarinya.
Tapi sore sebelum hilangnya Lita, dia sempat pamit mau menemui sahabatnya. Katanya ada informasi tentang ibunya. Jadi ayahnya membiarkan saja, karena dianggap sudah dewasa. Ternyata tak pernah pulang lagi setelahnya.
"Bapak sudah cari kemana?" tanyaku menanggapi cerita pak Salih.
__ADS_1
"Sudah kemana-mana. Sampai tak tahu lagi harus berbuat apa, untuk menemukan anak semata wayang saya," tunduknya.
"Apa Lita baik-baik saja? Saya bermimpi kalau dia pamit pergi dan bilang tak akan kembali," lanjut pak Salih mulai meneteskan air mata.