Mata Kedua

Mata Kedua
Wanita Berbaju Merah


__ADS_3

"Ada ayah yang akan selalu menemani Bian. Mulai saat ini, ayah akan lebih banyak memberi waktu untuk Bian," janji ayah Bian pada anak lelakinya.


"Ayah.....," kata Bian mendekat pada ayahnya.


"Ayah tak mau menyia-nyiakan waktu kebersamaan kita lagi. Ayah tak ingin ada penyesalan, seperti pada nasib Dian," kata ayah Bian lagi, sambil mengelus puncak kepala anaknya.


"Ayah, Bian sayang ayah!" kata anak lugu itu langsung memeluknya, dalam rasa haru bersama.


Sambil menunggu kedatangan kak Azzam, ku ceritakan semua kejadian pada ayah Bian. Juga menyerahkan rekaman dari ponsel yang ku genggam.


Sampai akhirnya suara deru motor kak Azzam terdengar, membelah para tetangga yang masih saling berbisik di sekitarnya. Membuat mereka menyingkir seketika.


"Itu yang mau jemput kamu?" tanya ayah Bian menunjuk ke arah kak Azzam, dari balik tirai yang sedikit dibuka untuk mengintip keluar.


"Iya, Pak. Kalau begitu saya permisi pamit pulang dulu."


"Terima kasih banyak. Saya juga akan ke kantor polisi, untuk menjadi saksi. Terima kasih sudah datang pagi ini, untuk mengungkap kebenaran keluarga kami," ucap ayah Bian lagi.


"Sama-sama. Kalau perlu kesaksian dari saya, ini kartu nama saya," kataku sambil menyerahkan kartu yang ku ambil dari tas selempang yang ku bawa.


"Terima kasih!" jawabnya mengambilnya.


"Assalamu'alaikum," ucapku lagi langsung beranjak keluar rumah yang masih ramai oleh polisi, untuk mencari petunjuk lain di rumah ini.


" Wa'alaikumsalam, " jawab ayah Bian masih ditemani seorang polisi yang ikut duduk, menunggu beliau siap memberi saksi nanti.


Ku langkahkan keluar dari rumah ini. Meninggalkan sebuah pelajaran, tentang arti dari mensyukuri. Dan menyayangi keluarga sepenuh hati, agar tak menyesal seperti ayah Bian yang terlalu sibuk bekerja akhir-akhir ini.


"Langsung pulang, Sayang?" tanya kak Azzam memberikan helm padaku, sambil tersenyum meledek yang berhasil membuat hatiku berdesir halus.


"Sudah, gak usah terus-terusan panggil kayak gitu. Gak enak didengar orang kalau keterusan!"


"Iya, Sayang. Eh, sudah kebiasaan jadinya, Sayang," kata kak Azzam mulai menujukkan isengnya pagi ini.


"Ayo pulang!"


Tak lagi ku lanjutkan perdebatan ini. Segera mengambil helm dari tangan kak Azzam, agar pergi meninggalkan tempat ini.


"Nanti mampir sarapan dulu ya," kata kak Azzam dari motor yang sudah melaju pelan.


"Iya, tapi Yumna gimana?"


"Tadi sudah ku bilang pada mereka, supaya tak menunggu kita," jawab kak Azzam lagi.


"Oke, aku ikut aja. Lagian dah lapar juga!" teriakku agar kak Azzam bisa mendengar suaraku.

__ADS_1


Kami menikmati pagi ini, hanya berdua di atas sepeda motor yang berjalan. Sambil melihat pemandangan jalan raya yang masih sangat lenggang.


Sampai tak terasa, sepeda motor kak Azzam berhenti di sebuah halaman. Depan rumah makan yang sudah lumayan terisi oleh pengunjung yang mencari sarapan pagi seperti kami.


"Wah, kirain belum ada rumah makan yang buka ya, Kak!" kataku sambil turun dan menyerahkan helm pada kak Azzam.


"Iya. Semoga enak, soalnya jam segini dah termasuk ramai orang juga meski banyak yang dibawa pulang. Lagian aku tak mencium bau pesugihan, kecuali.....," kata kak Azzam celingukan kesana kemari sambil melangkah masuk mendahului, meski tangannya masih menggandengku dengan tangan kiri.


"Kecuali apa?"


"Ada hawa negatif yang mengikuti salah satu pengunjung di sini."


Kak Azzam menunjuk seorang laki-laki yang sedang konsentrasi, mengetik sesuatu pada laptop di mejanya sendiri.


"Eh iya, itu kenapa ada sosok baju merah yang mengikuti dia?"


"Kita lihat saja. Makhluk itu sangat mengganggu atau tidak," jawab kak Azzam mengajak duduk di bangku sebelah mereka.


Kak Azzam menggeret sebuah kursinya, dan mempersilahkanku duduk di depannya.


"Terima kasih!"


"Sama-sama, Sayang!"


"Jangan mulai deh. Kita pesan makanannya dulu aja, lagian makhluk itu cuma berdiam saja tanpa bergerak sama sekali," gumamku pelan agar mereka tak memperhatikan.


"Ya sudah, aku pesankan dulu makanannya ke sana. Kamu mau apa?"


"Sama kayak kakak aja."


Tempat makan ini memang tak mempekerjakan pelayan yang menghampiri pengunjungnya. Jadi setiap pengunjung yang menginginkan makanan, harus langsung ke stand yang sudah berjajar dengan pilihan masing-masing menu yang akan disajikan.


"Oke, tunggu di sini. Jangan pergi! Meskipun aku pasti bisa menemukanmu nanti, karena kita sehati."


"Buseettt..... Masih lanjut terus gombalnya. Dah sana!" kataku mengibaskan tangan agar kak Azzam segera memesan makanan.


"Jangan kangen ya, cuma sebentar!" katanya lagi sebelum melangkah menjauhi bangku ini, sambil tersenyum menggoda sekali.


Dari tempat dudukku ini, aku masih mengamati lelaki yang masih fokus pada laptopnya tadi. Dia yang duduk tak jauh dari meja kami, terlihat sangat serius sekali.


Sedangkan sosok pucat yang mengikuti, masih terdiam berdiri di belakang. Dengan baju berwarna merah, khas baju dari negeri tirai bambu.


Rambutnya juga masih disanggul rapi, dan tak terlihat lusuh sama sekali. Hanya wajah pucat, dengan tatapan kosong ke depan, dan sedikit bau tak sedap yang membedakan dia dengan manusia.


"Kenapa? Apa ada yang salah dengan saya?" tanya laki-laki itu tiba-tiba menoleh kepadaku.

__ADS_1


Aku yang kaget hampir saja bilang kalau yang ku amati adalah sosok di belakangnya sedari tadi. Tapi untungnya itu bisa ku tahan, dan ku bilang tentang dia saja.


" Enggak apa-apa. Kakak serius sekali pagi-pagi begini? Tuh, sarapannya sudah datang dari tadi sampai tak tersentuh sama sekali," tunjukku pada semangkok bubur yang sudah datang, ketika aku mulai duduk di sini.


"Eh iya, sampai tak melihat ini tadi. Kamu sendiri?" tanya lelaki yang seperti yang sepertinya berusia sedikit di atasku.


"Eng.. Enggak. Tadi sama dia," tunjukku pada kak Azzam yang masih di depan meja pesanan.


"Oh, pacarnya?"


"Emm....iya," jawabku sedikit malu.


"Kirain masih belum punya pacar, he....," cengirnya tanpa dosa, kemudian menggeser makanannya untuk menggantikan laptop di depannya sambil tersenyum ramah.


Ketika laki-laki itu mulai mengobrol denganku, sosok wanita du belakangnya mulai terlihat bereaksi. Dia melotot menunjukkan ekspresi tak suka.


"Aku makan duluan ya, kamu masih pesan kan?" suara laki-laki itu sempat mengagetkanku, yang terdiam menatap wanita di belakangnya.


"Iya. Silahkan dinikmati makanannya."


Sambil menyendokkan buburnya, sesekali dia mengajakku mengobrol lagi.


"Kamu masih sekolah?" tanyanya setelah baru menelan sesendok makanannya.


"Iya, Kak. Kakak sendiri masih sekolah atau kerja?"


"Aku baru lulus. Sekarang masih cari kerja, sambil mulai menulis novel buat keisengan sekaligus mata pencaharian sementara," jelasnya.


"Oh iya, namaku Azril."


Lelaki itu menyodorkan tangannya, meski jarak tak memungkinkan kita bersalaman.


"Namaku Azzam," sahut kak Azzam yang menyambut tangan itu, sambil melangkah maju.


"Kamu pacarnya gadis ini?" tanyanya lagi, mencoba basa basi, padahal itu sudah dia tanyakan tadi.


"Iya, saya calon suaminya!" jawab kak Azzam pasti, yang membuatku menendang kakinya setelah duduk di meja ini.


"Oh gitu. Lalu siapa nama gadis ini?" tunjuknya padaku masih menunjukkan keramahan pada sapaannya.


"Aku Aish."


"Aisyah?" tebaknya.


"Iya, Aisyah."

__ADS_1


"Nama yang cantik, secantik orangnya."


"Ehemmm....," kata kak Azzam memberi kode tak suka.


__ADS_2