
"Apa yang harus saya lakukan ini?" tanya karyawan itu khawatir.
"Kita bawa ke sana bersama. Aku dan Yumna akan menemani," sahutku melihat Yumna, meminta persetujuan juga darinya.
"Iya, kita selesaikan segera. Supaya tak ada lagi korban maupun teror selanjutnya," sahut Yumna mengangguk padaku.
"Ba... Baiklah. Kalau begitu, saya akan bersiap ke sana. Prita dan Angel, tolong dandani mereka dengan cepat. Supaya tak terlalu lama bu Bos menunggu kedatangan saya. Sekalian sambil nunggu supir taksi yang saya order nanti," perintah karyawan yang sepertinya paling bertanggung jawab, saat pemiliknya tak ada di tempat.
" Ii.. Iya, Kak Dona. Kami akan merias mereka dengan cepat! "
Seperti yang diperintahkan, dua karyawan tadi segera meriasku tanpa menunggu lama. Aku yang diam hanya berdzikir, sembari menunggu datangnya taksi pesanan salon ini.
'Tiinn...'
Suara klakson mobil sudah terdengar dari luar, menandakan kalau yang kami tunggu sudah datang.
"Tepat, riasannya juga baru saja kelar. Semoga tak terjadi masalah di sana, dan segera beres semuanya. Supaya tak ada lagi teror tangisan di salon ini, hiiii.... Ngerriii...," ucap kak Prita, yang merias wajahku dengan sempurna.
"Aamiin....," jawab semuanya.
"Sudah siap, ayo kita berangkat. Tapi ehmm..... Boleh minta tolong tidak?" tanya kak Dona yang mau pergi bersamaku dan Yumna.
"Tolong apa, Kak?" tanyaku.
"Saya akan membawa rambut palsu yang lain, tapi untuk yang itu, tolong kamu yang pegang saja. Gimana?" cengirnya sungkan, tapi tak berani membawanya sendiri.
"Oh, tak masalah. Akan aku bawakan."
Ku ambil kotak yang meneror salon ini. Sedangkan, kak Dona dibantu Yumna membawa kotak lainnya ke dalam taksi yang kami tumpangi.
"Jaga salon ya. Semoga saja dengan ku bawa kotak itu, sudah tak ada lagi teror di dalam salon ini," seru kak Dona dari balik jendela mobil yang terbuka, sebelum dijalankan oleh supirnya.
"Siap, Kak. Semoga saja!"
Taksi mulai berjalan pelan. Kotak teror masih dalam pangkuanku, yang duduk di sebelah pak sopir taksi ini. Kadang ada rasa getaran, tapi tak panas seperti tadi. Semoga saja setelah terungkap, gadis itu bisa tenang meninggalkan dunia ini.
" Mbak, ada suara perempuan nangis?" tanya pak sopir saat kita masih dijalan.
"Abaikan saja, Pak. Tak ada yang menangis, mungkin suara HP ku yang pakai nada dering mirip suara tangisan," sahut Yumna dari kursi belakang beralasan, agar pak sopir tak bertanya macam-macam.
"Oh gitu. Ya sudah kalau gak diangkat, tapi kenapa pakai suara gitu? Bikin merinding suaranya, soalnya menyayat hati banget tangisannya."
"Itu nada dering khusus buat orang yang gak ku suka, Pak. Jadi kalau suaranya gitu, berarti aku gak perlu mengangkatnya."
__ADS_1
Sebenarnya ingin tertawa aku mendengar pengakuan Yumna. Tapi daripada semakin panjang penjelasannya, lebih baik aku diam saja. Karena pak sopir sepertinya juga sudah tak bertanya lagi soal suara tangisan, yang sebenarnya berasal dari dalam kotak ini.
" Belok kiri, Pak! " kata kak Dona tiba-tiba, hampir saja membuat jantungku copot dari ototnya.
"Iya, Non. Oh, yang ada acara itu?"
"Iya, benar. Kita berhenti. Stop, di sini saja. Sepertinya kalau terlalu masuk malah sulit buat putar arah."
"Baiklah."
Kami semua turun, membawa kotak-kotak yang sudah di tangan masing-masing. Membawanya masuk, mengikuti arahan pelayan yang bertugas mencegat kedatangan kami di luar tenda acara nanti.
"Bu, ini dari salonnya sudah datang!" kata pelayan tersebut, kepada nyonya pemilik rumah ini.
"Baiklah, saya akan memilihkannya untuk Nasha. Supaya dia terlihat spesial di hari lamarannya," kata ibu Nasha hendak meraih kotak-kotak dari tangan kami bertiga.
"Biar saya pilih sendiri!" sahut Nasha kaku, bukan seperti dia yang pernah aku kenal sebelumnya.
Dia sama sekali tak menyambut kedatanganku dan Yumna di sini, sebagai teman kampusnya. Aku curiga, kalau sebenarnya ada makhluk lain di tubuhnya.
"Maaf, mungkin ini rambut yang kamu maksud!" tunjukku membukanya tepat di depan semua.
Dia hanya mengangguk, dan menunjuk ke belakang kepalanya. Agar pemilik salon yang berada di sebelahnya segera memasangkannya.
"Eh, adek ini siapa ya? Kok bisa bantu bawa barang-barang salon ke sini?" tanya pemilik salon baru menyadari, sambil memasangkan rambut palsu ke kepala Nasha.
"Saya teman kampusnya."
"Aarrrghh.....," teriak Nasha tiba-tiba, lanjut menangis kencang juga.
"Nak, kamu kenapa? Nak... Sadar!" ucap ibu Nasha mengguncang bahu anak gadisnya.
"Maaf, boleh saya pegang tangan Nasha?" pintaku sekali lagi.
"Tolong ijinkan, supaya Nasha bisa terselamatkan," sahut Yumna membantu menjelaskan.
"Memangnya, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya ibu Nasha lagi.
"Akan saya jelaskan nanti, setelah sosok itu keluar dari raga Nasha," jawabku.
"Makhluk apa?"
"Maaf, saya pegang tangannya ya," kataku lagi tanpa menunggu jawaban dari ibunya.
__ADS_1
Ku baca doa-doa yang masih hafal di luar kepala. Sambil yakin, meminta pertolongan pada Sang Pencipta.
Ku pencet dari jempol tangan, sampai kelingkingnya. Sambil terus melafalkan doa.
" Jangan ikut campur!" kata Nasha masih dalan pengaruh sosok itu.
"Tolong lepaskan raga temanku. Akan aku usahakan mengungkap kenyataan tentangmu!" sahutku ganti memijat sela ibu jari dan telunjuk Nasha.
"Apa yang kau tahu? Aaarrhhh...., lepaskan!" berontak Nasha kemudian.
"Kakak gadis yang baik, sampai hari naas itu tiba. Saat terjadi perampokan oleh dua pemuda," sahutku menceritakan garis besar tentang kejadian yang menimpanya.
"Hik.... Jahat, dia memang jahat!" tangis Nasha masih belum sadar juga.
"Kakak dulu orang yang baik. Buktinya mau meladeni kesusahan dua pemuda, yang sedang salah tujuan antar barang. Tapi ternyata kebaikan kakak disalah gunakan," kataku mengingatkan masa lalunya.
"Laki-laki itu jahat!" serunya masih tak mau kalah juga.
"Tolong jangan jadikan kejahatan mereka, membuat kakak jadi jahat juga."
"Biarlah saya jadi jahat, asalkan mereka menerima akibatnya juga. Seperti yang sudah mereka lakukan pada saya!" bentaknya padaku.
Ibu Nasha yang tak tahu apa-apa, hanya menangis di pelukan Yumna. Sedangkan para perias dan pemilik salon, saling mendekap satu sama lainnya.
" Ada apa ini? " tanya ayah Nasha, sepertinya masuk ke sini karena mendengar keributan kami.
Tak ku hiraukan mereka semua, meski ayah Nasha terdengar semakin murka padaku.
"Aaaaaaarrggghhhh.....," teriak Nasha masih menggema memenuhi ruangan.
"Lepaskan anakku. Siapa kamu?"
Ayah Nasha hendak menghampiriku, tapi langsung ditahan oleh istrinya yang sepertinya mulai mengerti keadaan yang sedang teejadi di sini.
"Sudah, Pa. Biarkan mereka membantu Nasha!" tangis ibunya sambil mendekap lengan suaminya.
Aku masih konsentrasi saja, sampai mulai terlihat sosoknya. Gadis muda dengan luka menganga di lehernya.
"KELUARR!" bentakku menarik paksa dia sekuat tenaga.
"Hik... Hik.... Aku tak bisa tenang kalau pembunuh kejam itu masih berkeliaran bebas. Aku tak terima kalau rambutku dijual untuk mempercantik orang lain. Aku tak terima!"
Sosok yang menangis histeris mulai terlepas dari tubuh Nasha, yang mulai limbung, dan akhirnya pingsan di depan kami semua.
__ADS_1
Kemudian semua fokus pada Nasha, dan tak ada yang peduli lagi pada makhluk teraniaya di depan kami semua, kecuali aku dan Yumna. Karena hanya kami berdua saja yang bisa melihat wujudnya.