
"Aziz? Asisten dosen yang merupakan anak paling pintar di kelas? Yang kena serangan jantung dan meninggal saat ujian kelulusan?" tanyaku memastikan.
"Iya. Aziz terlalu patuh pada dosennya. Apapun perkataan tuan, dia selalu menuruti. Lagipula, saat itu tuan berjanji akan selalu melindungi Aziz."
"Oh, jadi seperti itu ceritanya," kataku baru mengerti.
"Sebenarnya, masalah ini hanya orang-orang terdekat saja yang tahu. Karena tuan tak memperbolehkan siapapun tahu, kecuali kami yang sudah terlanjur melihat kejadiannya langsung," jelas Mak menatapku tajam, yang sepertinya dengan menaruh harapan besar.
" Kenapa aku diberitahu?"
"Memang tak ada orang luar yang boleh mendengarnya. Tapi karena menyangkut keselamatan nona Virgin, saya terpaksa menceritakannya pada kalian. Semoga kalian bisa menjaga rahasia ini di kampus nanti."
" Insyaa Allah. Lalu sekarang orang tua Virgin kemana? Kok gak pernah lihat dosen yang mirip sama foto itu? Itu ayah dan ibu Virgin 'kan?" tanyaku menunjuk bingkai foto yang tertempel di dinding ruangan ini.
" Semenjak kematian Aziz, ayah Virgin memutuskan untuk menerima pertukaran dosen ke perguruan tinggi di negara lain. Sedangkan ibunya, karena jarang ditemani suami, ya jadi suka belanja dan liburan ke negara-negara lain dengan teman-temannya."
"Pasti ibunya juga tertekan setelah tahu kalau mahasiswi itu mengakhiri hidupnya, karena ulah suaminya," kataku.
"Iya. Makanya semenjak saat itu, nyonya jadi sering konsumsi obat penenang. Sekarang setelah suaminya jarang pulang, dia semakin menikmati hidup bebasnya di luar sana. Seperti anak muda, tanpa mengingat kalau masih ada Virgin yang membutuhkan kasih sayangnya," ucap Mak sedih sekali.
" Sabar, Mak. Tapi aku percaya, kasih sayanh yang Mak berikan membuat Virgin bisa lebih tegar," kataku mengelus punggung yang sedikit bungkuk itu.
" Terima kasih, Nak. "
" Sama-sama. Tapi kalau boleh saya tahu, apa Aziz sebelumnya pernah mempunyai riwayat penyakit jantung? " tanyaku lagi.
" Kalau itu, saya tak tahu. Karena yang saya lihat selama ini, tubuhnya sehat dan tak pernah ketergantungan obat apapun. "
" Oh, jadi tiba-tiba aja dia meninggal? "
" Iya. Waktu itu kebetulan tuan yang menjadi pengawas ujian. Katanya, sebelum Aziz meninggal, dia sempat berteriak ketakutan. Dan di tasnya, ternyata ditemukan obat sakit jantung juga, " jelas Mak lagi.
__ADS_1
" Berarti dia punya riwayat ya? "
" Itu yang membuat saya heran. Aziz tinggal di sebuah kontrakan. Menurut keluarganya, dia tak pernah ada pemyakit serius yang diderita. Tapi kata teman satu kontrakannya, dia sering ketakutan sendiri sampai jantungnya sakit. Dan obat itu yang diberikan oleh dokter yang sempat merawatnya saat pingsan karena ketakutan sebelumnya. "
" Oh, jadi seperti itu kejadiannya. Terima kasih banyak, Mak. Kalau begitu, kami pamit pulang dulu. Sudah hampir malam juga, gak enak kalau kita masih berdua di jalan," pamitku.
" Apa tidak mau makan dulu? "
" Terima kasih banyak. Ini mobil teman saya yang dipakai ke sini. Nanti takutnya malah dicariin lagi, " cengirku.
Baru saja beranjak berdiri, suara ponselku berbunyi. Dan benar saja, Rey yang menghubungi. Membuat aku dan kak Azzam segera beranjak untuk pulang ke tempat Yumna dan Rey menunggu kami.
Kak Azzam melajukan mobil ini. Menuju kafe tempat kak Raisha bersembunyi. Karena Rey ternyata sudah di sana, saat menghubungi kami tadi.
Malam semakin larut. Setelah mampir ke masjid sebentar, kami kembali melanjutkan menuju tujuan. Sampai akhirnya kami tiba di depan kafe, yang memperlihatkan Rey bersandar di dinding luarnya sambil menyikap tangan di depan dada.
"Sori, Bro. Banyak kejadiam hari ini!" seru kak Azzam melempar kunci mobil yang langsung ditangkap oleh Rey, kemudian mengikuti langkahnya dari belakang.
"Fahri? Adiknya Aziz?" tanyaku.
"Iya, kok kamu tahu namanya?" tanya Yumna balik.
"Ya tahu lah. Tadi asisten rumah tangga Virgin sudah menceritakan yang terjadi pada majikannya. Panjang ceritanya, padahal sudah laper bau masakan dari dapur kak Raisha," kataku menikmati bau di udara.
"Eheemm.... Nanti dilanjut lagi ceritanya. Sekarang waktu makan malam sudah tiba. Ini, kakak sudah masakin menu yang akan disajikan untuk kafe ini. Cobain dulu, koreksi, sebelum kita sajikan ke pelanggan nanti," kata kak Raisha membuyarkan obrolan kami yang baru saja hendak di mulai.
"Hmmm..... Wangi banget. Bikin laper aja!" tanggapan kak Azzam yang paling cepat menyambar sepotong daging rendang.
Senda gurau kami lalui bersama. Menikmati beberapa hidangan spesial yang disajikan di meja. Bersama kak Raisha dan keluarganya.
Sampai tiba waktu menunjukkan pukul sembilan malam, kami langsung bergegas pamit pulang. Sepanjang perjalanan, aku terus menceritakan apa yang terjadi hari ini pada sahabatku. Yang pasti sudah berjanji, untuk tak menyebarluaskan di kampus kita nanti.
__ADS_1
****
Hari ini tanggal merah. Waktunya libur, tanpa tugas kuliah. Membuatku bisa sedikit longgar, untuk menyelesaikan masalah.
"Pagi, Yumna!" sapaku pada sahabat saat dia baru keluar dari kamarnya, menyambut bau masakan yang sudah ku sajikan di meja.
"Pagi. Enak banget kayaknya. Jadi laper!"
"Eits.... Sholat dulu, baru boleh makan. Lagian belum manfi juga, nanti nasinya takut pada lari semua gimana?" ledekku sambil memegang hidung, pura-pura merasakan bau badan Yumna.
"Iya... Iya....," kata Yumna bergegas ke kamar mandi.
Tak lama, kami menyelesaikan kegiatan rutin di pagi hari. Termasuk sarapan, dengan aku sebagai juru masak dadakan. Kemudian, kami duduk di teras depan, sembari menunggu jemputan.
"Oh iya, kemarin aku sudah cerita dari versi keluarga Virgin. Sekarang, giliran cerita yang dari versinya Fahri. Gimana?" tanyaku.
"Jadi, sebelum kakaknya meninggal, sebenarnya dia sudah sering mendengar keluh kesah kakaknya yang diteror makhluk seram. Yang katanya mirip dengan mahasiswi yang sempat mengakhiri hidupnya sendiri, tapi dengan wujud yang lebih menakutkan."
"Terus?"
"Ya kakaknya jadi sering kaget, sampai akhirnya kena serangan jantung karena tak kuat menahan ketakutan itu."
"Lalu, kamu tahu tidak siapa sebenarnya dalang dari teror itu?" tanyaku lagi.
"Aku curiga sama keluarga mahasiswi itu," jawab Yumna.
"Nah, awalnya aku juga mikir gitu. Tapi, kata Mak, asisten rumah tangga Virgin, keluarga mahasiswi itu sempat minta maaf sama pak dosennya."
"Iya, karena awalnya mereka pikir, Aziz yang membuat anak gadisnya meninggal. Tapi kata Fahri, setelah kematian kakaknya, dia berusaha mencari tahu tentang kejadian yang sebenarnya. Dan bertemulah dia dengan orang tua mahasiswi itu, sekitar setahun yang lalu."
" Lalu, apa yang dia bilang lagi? "
__ADS_1
" Fahri menceritakan kejadian yang sebenarnya, untuk membersihkan nama baik kakaknya yang terus mendatanginya lewat mimpi. Termasuk menyerahkan buku harian kakaknya ke orang tua mahasiswi itu. Tapi katanya, kakak dari mahasiswi itu langsung memperlihatkan wajah dendam dan meremas buku hariannya. "