Mata Kedua

Mata Kedua
Kejadian Aneh Di Salon


__ADS_3

"Yang bener?" tanyaku sedikit terkejut mendengarnya.


"Iya, aku melihat ada pembunuhan kepada seorang wanita. Dan calon suami Nasha yang melakukannya. Dia menggorok leher wanita itu, kemudian merampas barang-barang di rumahnya."


"Astaghfirullah. Eh, aku jadi ingat. Di salon yang kemarin aku datangi, juga ada suara tangisan wanita tak kasat mata. Tapi aku gak lihat wujudnya."


"Trus apa hubungannya, kok bisa bikin kamu ingat itu?"


"Soalnya, ada pegawai salon yang pernah melihat sosoknya. Wanita, dengan bekas gorokan di lehernya."


"Hehhh.... Kok bisa sama-sama tragisnya ya? Kasihan mereka," sahut Yumna.


"Iya, dan rencananya aku mau kembali ke salon itu. Untuk mencari penyebab terornya. Soalnya suaranya mulai meneror semua pemghuni salon. Dan anehnya, suara itu seperti berasal dari rambut palsu yang baru mereka pesan sebelumnya."


"Kok bisa? Ehmm.... Gimana kalau sebelum kita ke lamaran Nasha, kita ke salon itu dulu saja. Buat make up, sekalian sama mencari tahu apa yang terjadi di sana," usul Yumna.


"Oke, boleh juga itu. Ya sudah, ayo kita bereskan semuanya, trus lanjut tidur biar konsentrasi di kampus besok," ajakku.


****


"Sudah siap ke lamaran Nasha?" tanya Yumna mengetuk pintu kamarku, saat matahari hampir menenggelamkan sinarnya.


"Iya, ini baru pakai baju resmi. Wah, kamu cocok juga ternyata pakai baju khas dari negaraku."


Bunda mengirimku beberapa lembar kain daerah beberapa waktu yang lalu. Jadi aku dan Yumna sudah memiliki baju yang sama, untuk lamaran malam nanti di rumah Nasha.


"Terima kasih. Bagus sekali motifnya, aku suka," puji Yumna pada hasil karya anak bangsa dari tempat kelahiranku.


"Syukurlah kalau kamu suka. Oh iya, kita ke salon dulu 'kan? Mumpung masih sore juga," tanyaku sebelum melangkah ke depan.


"Iya, ini aku sudah panggil taksi. Sekali-kali kita keluar sendiri ya, tanpa diikuti para pria-pria yang selalu ngikuti kita."


' Tiiin...... '


Suara mobil sudah terdengar dari depan rumah ini. Membuatku dan Yumna bergegas untuk melihatnya.


"Iya, bener taksinya," sahut Yumna membenarkan.


"Ayo!"


Tanpa menunggu lama, kami berdua menuju salon, sesuai rencana sebelumnya.


Selama di perjalanan, ku ceritakan lagi tentang teror yang sempet membuat resah para karyawannya. Sampai tak terasa, kami sudah tiba di depan bangunannya.


"Terima kasih, Pak!" kata Yumna setelah membayar taksi yang langsung melaju pergi, setelah mengangguk dan tersenyum ramah pada kami.

__ADS_1


"Ayo langsung masuk saja, hampir magrib juga soalnya!" ajakku.


"Ughh.... Baunya anyir!" kata Yumna langsung menutup hidung, saat kita semakin mendekati pintu salon ini.


"Iya nih. Tapi belum nampak sosoknya di sekitar sini," sahutku menanggapi.


Kami terus melangkah masuk saja, meski semakin menyengat bau darah saat di dalamnya.


"Eh, kamu yang kemarin 'kan?" tanya salah satu karyawan yang sempat melayaniku sebelumnya.


"Iya, Kak. Aku sama temanku mau dandan saja, buat acara lamaran nanti malam. Tapi sebelumnya, kami minta ijin nunpang sholat sebentar. Karena sampai sini sudah berkumandang adzan," kataku menjelaskan.


"Oh, baiklah. Mari saya antar."


Di samping kiri ruangan untuk melayani pelanggan, terdapat sebuah ruangan kecil. Biasanya digunakan untuk melaksanakan sholat para karyawan.


Aku dan Yumna langsung menjalankan ibadah wajib di waktu petang. Bergantian dengan para karyawan, yang juga masih ditunggu beberapa pelanggan lain di ruangan pelayanan.


"Terima kasih ya, Kak. Maaf kalau merepotkan!" kataku pada karyawan yang mengijinkanku tadi.


"Iya, sama-sama. Mari saya rias di kursi itu," ajaknya.


Ku ikuti langkahnya, yang ternyata menuju di kursi tempatku duduk sebelumnya. Sedangkan Yumna menempati kursi sebelah kananku, dekat dengan tempat rambut palsu yang ditumpuk diantara kardusnya.


"Apa masih ada teror, Kak?" tanyaku memulai percakapan.


Ku lihat ada rasa gugup saat aku mulai membicarakan hal itu.


"Apa ada pemilik salon ini di ruangannya?" tanyaku lagi.


"Enggak, bu Bos lagi rias di tempat lamaran temanmu, Nasha."


"Oh, terus kenapa kakak kayak gak nyaman gitu pas aku tanya soal teror salon?"


"Semalam....."


Baru kakak itu mau bercerita, kotak-kotak di sebelah kanan Yumna mulai bergetar tak beraturan. Membuat para karyawan yang di dekatnya, langsung menjauh dengan gemetar ketakutan.


"Apa itu kotak rambut palsu yang kamu maksud?" tanya Yumna padaku.


"Iya, kamu bisa tidak melihat kejadian masa lalu dari rambut itu? Kak, boleh minta ijin dibuka kotaknya?" tanyaku pada para karyawan yang ternyata sudah berkumpul, saling berpegangan.


"Bo..boleh...buka saja. Maaf, saya tak berani membukakannya. Tapi saya yang bertanggung jawab pada orderan itu," sahut salah satu karyawan lain yang mendekat ke arahku dan Yumna, sambil menunjukkan tangan sebagai tanda mempersilahkan.


"Haduh... Apa lagi ini? Capek rasanya kalau harus tegang terus saat kerja," sahut karyawan lain yang bersembunyi di balik baju temannya.

__ADS_1


'Gludukk... Gludukk....'


Suara benda bergerak semakin kencang dari tumpukan kardus-kardus itu. Tapi semua karyawan, malah mundur dan hanya berani melihatnya saja dengan wajah ketakutan semua.


" Akan aku ambilkan, supaya kamu bisa mengumpulkan tenaga untuk melihat kejadian masa lalunya," sahutku menyuruh Yumna tetap duduk diam, sambil mulai konsentrasikan pikiran.


Ada beberapa tumpukan kardus di sini. Saat ku raba, terasa ada hawa panas dari salah satu kardusnya.


" Mungkin yang ini," kataku menyerahkannya pada Yumna.


" Aaauuuww...., " sahut Yumna saat baru pertama menyentuhnya, tapi terus dianlanjutkan konsentrasi untuk menyikap misteri.


Aku kembali duduk di kursiku lagi. Menunggu Yumna yang masih fokus komunikasi, dengan melihat langsung apa yang sebelumnya pernah terjadi.


" Astaghfirullah, huueekkk....," kata Yumna mulai mual setelah baru membuka mata.


"Kenapa?"


Aku dan para karyawan lain semakin penasaran saja melihat Yumna. Tapi sepertinya dia masih harus menenangkan diri, sebelum bercerita. Karena air mata mulai menetes di matanya.


"Minum dulu, istighfar sampai kamu tenang dulu. Baru cerita apa yang sudah kamu lihat barusan?" tuntunku.


"Sadis, memang sadis sekali calon suami Nasha," jawabnya setelah menengguk air mineral, dan membaca istighfar beberapa kali.


"Ja... Jadi... Itu memang kejadian yang sama?"


"Ya, dan ini adalah rambut yang dijualnya setelah menggorok leher gadis itu."


"Astaghfirullahal'adzim," sahut kami bersama.


Menurut cerita Yumna, dia melihat kalau calon suami Nasha mendatangi sebuah apartement mewah. Dia berpura-pura mengantarkan pesanan, yang salah tujuan bersama seorang temannya.


Saat gadis itu menjelaskan kalau itu bukan pesanannya, calon suami Nasha masuk paksa bersama dengan rekannya yang terus mengawasi keadaan.


Gadis itu sempat berontak, dan terus berusaha untuk berteriak. Jadi calon suami Nasha langsung menggorok lehernya, sampai darah keluar kemana-mana. Dan langsung membuat Yumna pusing dan mual seketika.


"Aku tak kuat, melihat kelanjutan kejadiannya. Rasanya kasihan sekali melihat kondisinya. Tapi aku sempat lihat kalau teman dari calon suami Nasha memotong rambut gadis itu. Untuk dijual saking bagusnya menurut dia."


"Wah, memang kurang ajar tuh orang!" sahut salah satu karyawan yang mendengarkan.


Untungnya salon masih belum banyak pelanggan, karena hari juga baru menginjak petang. Jadi kejadian ini masih bisa menjadi rahasia, antara para karyawan dan sedikit pelanggan.


'Tuliliiittt..... Tuliliiiitt.....'


Suara gawai kakak yang bertanggung jawab pada orderan rambut palsu ini mulai berdering kencang. Setelah dia mengangkatnya, nampak raut muka resah yang terlihat. Sampai tertutup sambungan telepon itu, semua mata masih tertuju padanya.

__ADS_1


"Bu bos, minta dibawakan rambut palsu ke sana. Untuk riasan di lamaran Nasha," katanya menjelaskan.


__ADS_2