
"Assalamu'alaikum," ucap kami bertiga saat sampai di depan pintu megah milik pak Jamal.
Dua kali salam, akhirnya ada yang menjawab dari dalam.
"Wa'alaikumsalam," suara lembut wanita, diiringi kunci rumah yang mulai terbuka pelan.
"Eh, Melati. Sini masuk, Nak!" ajak bu Jamal terlihat ramah mempersilahkan setelah membuka pintu rumahnya.
"Terima kasih."
Kami bertiga mulai masuk ke dalam, duduk di sofa yang lumayan besar dan tinggi setelah dipersilahkan.
"Sebentar saya buatkan minun dulu ya," kata bu Jamal hendak beranjak pergi meninggalkan kami.
"Tidak usah, Bu! Saya hanya ingin menanyakan sesuatu kepada ibu," kata Melati yang seperti mulai tak nyaman berada di sini.
"Oh, memang apa yang membuat kalian datang kemari?" tanya bu Jamal bingung sendiri.
Melati merogoh saku bajunya. Mengeluarkan logam mulia yang kami temukan dari kamarnya.
"Maaf sebelumnya. Apakah ini milik ibu?" tanya Melati menunduk dan meletakkan benda itu di meja depan kami.
"Lhoh, iya benar. Dari mana kamu menemukannya?" tanya bu Jamal lirih, mungkin takut kalau suaminya mendengar percakapan kami.
"Di belakang lemari baju kami. Berapa banyak lagi barang yang kira-kira belum kami temukan?"
Melati nampak gugup, bersiap mendengar kesalahan ibunya yang telah mengambil samua perhiasan bu Jamal.
"Barang ini yang hilang. Tak ada lagi!" jawab Bu Jamal membuatku dan Yumna langsung saling berpandangan, melihat Melati yang berada di tengah kami langsung meneteskan air matanya.
"Oh, ya sudah kalau begitu. Saya mewakili ibu, ingin meminta maaf atas kesalahan yang pernah ibu lakukan. Semoga bu Jamal dan pak Jamal bisa memberi maaf, dan membuat ibu bisa pergi dengan tenang," kata Melati langsung berdiri.
"Kalau begitu, saya pamit pulang dulu. Dan mungkin tak akan pernah kembali ke kampung yang sudah membuat saya trauma," lanjut Melati mencoba tersenyum, meskipun air mata masih terus menetes dari pipinya.
"Melati.... Maafkan ibu juga kalau ada salah. Semoga kamu bisa memaafkan kesalahan pak Jamal juga, yang sudah berlebihan mengatakan kalau satu kotak perhiasan yang hilang. Itu dilakukan, agar ibumu mengaku saja karena ketakutan. Tapi tak ku sangka, ibumu masih kuat pada pendiriannya. Maaf, Nak! "
Bu Jamal memeluk tubuh Melati yang bergetar dan diam tak membalas pelukan.
" Kalau begitu kami permisi dulu, assalamu'alaikum! " ucap Melati melepas pelukan, kemudian berjalan keluar.
__ADS_1
" Permisi, Bu! " ucapku mengikuti langkah Melati yang mungkin sudah sampai di halaman.
"Wa'alaikumsalam," jawab bu Jamal yang masih bisa kami dengar.
Melati masih terus melangkah, bahkan sedikit berlari meninggalkan kami. Diiringi suara sumbang dari para tetangga yang terlihat senang menyaksikan tangisan Melati.
"Makanya, kalau miskin tak usah sok-sokan kuliah!"
"Dah dienakin jadi pembantu, malah ambil emas majikannya. Satu kotak pula!"
"Serakah itu namanya."
Celoteh para tetangga tak lagi berbisik seperti tadi, justru semakin keras sampai menyakitkan hati. Tapi Melati tak menanggapi sama sekali, hanya berlari menuju rumahnya sendiri.
Seaampainya di depan kamar Melati, kami meminta ijin untuk menghampiri dia yang sedang berjongkok di depan lemari.
"Mel, sabar ya! Kami masih ada di sini untuk mendukungmu bangkit lagi," ucapku mendekat dan merangkul daro sebelah kiri.
"Iya, Mel. Sebaiknya segera kita bereskan barang-barangmu! Kalau perlu kita pindah hari ini juga," tambah Yumna ikut merangkulnya dari sebelah kanan.
"Terima kasih. Tanpa kalian, mungkin aku tak akan bisa bertahan. Mungkin aku tak bisa tegar seperti sekarang. Kalau diijinkan, aku memang ingin pindah sekarang," ucap Melati membalas pelukan kami.
"Ayo!" ajakku mengangkat tubuhnya pelan, untuk segera membereskan.
Yumna menghubungi Rey lewat ponsel. Meminta mencari sewa truk saja untuk mengangkut sebagian besar barang Melati. Dia juga meminta, agar nenek menyiapkan barang pentingnya untuk menginap di rumah baru sekarang juga.
"Nanti akan ku ceritakan saat di jalan. Sekarang sewa truk saja, keburu malam," kata Yumna sebelum menutup sambungan.
Setengah jam berlalu, dua trus besar dengan sopir dan beberapa orang laki-laki sudah datang. Membantu kami menaikkan barang ke bak belakang. Tak menunggu lama, kami langsung menuju rumah Melati untuk masa depan yang cemerlang.
****
"Pagi, Mel. Gimana tidurnya semalam?" tanyaku baru tiba di kampus bersama Yumna.
"Alhamdulillah, sudah lebih tenang. Meskipun masih ada rasa dongkol karena perbuatan pak Jamal. Yang membersar-besarkan masalahnya," kata Melati mengelus dadanya sendiri.
"Sabar aja. Tapi aku salut sama kamu. Kamu bisa tegar meskipun banyak tetangga mencibirmu sepanjang jalan. Kenapa kamu tak menjelaskan pada mereka, kalau yang diambil ibumu tak sebanyak yang mereka kira?" tanyaku.
"Buat apa? Toh ibuku juga sudah terlanjur pergi untuk selamanya. Malah bikin ribut aja sama mereka."
__ADS_1
"Bagus. Aku makin salut sama kamu."
"Biasa aja!" jawabnya sudah mulai bisa tertawa.
Jam sudah menunjukkan waktu pelajaran hampir dimulai. Jadi kami berpisah dengan Yumna, untuk bertemu lagi sepulang kampus ini.
Selesai semua mata kuliah hari ini, aku bersama Melati menuju taman di tempat nongkrong kami seperti biasanya. Di sana, kami sudah berkumpul berempat tinggal menunggu Yumna. Sampai tibalah dia yang ngos-ngosan, baru saja tiba.
"Kamu ngapain? Baru dikejar setan?" tanyaku.
"Hehh... Hehh... Hehh..... Bentar," ucap Yumna mengeluarkan botol air mineral.
"Habisin terus sampek botolnya sekalian," celetuk kak Azzam tertawa melihat tingkah Yumna.
"Kenapa sih? Ada apa?" tanyaku semakin penasaran, langsung menutup mulut kak Azzam.
"Tadi aku lihat, Dini balikan sama Alif."
Yumna menunjuk ke belakang dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanan masih menenggak botol minumnya lagi.
"Terus? Apanya yang aneh?" tanya Rey mulai bicara.
"Hehhh.... Bukannya Dini sama Alif sudah putus?" tanya Yumna mulai duduk tenang di sebelahku.
"Balikan lagi mungkin? Kan kamu yang sekelas sama mereka, mana kita tahu?" jawab kak Azzam santai.
"Alif itu dah deket sama anak jurusan lain sebenere. Aku lupa namanya. Nah, tiba-tiba sekarang deket lagi sama si Dini. Ada yang lebib aneh lagi."
"Apa?" jawab kami bersama, saking geregetan sama cerita Yumna yang seperti orang lagi bingung sendiri.
"Pas Dini di sebelah Alif, ada sosok ular yang kepalanya nemplok di atas kepala Alif, tapi ekornya ada di tangan kiri Dini. Aneh nggak sih?"
"Heemmm..... Guna-guna!" jawab Rey tersenyum seperti tertarik pada kasus ini.
"Hihhh.... Ngeri banget sih? Kalian gak akan campurin urusan mereka kan?" tanya Melati.
"Enggak akan kami lepaskan, karena pasti akan ada korban kalau dibiarkan," jawab kak Azzam mengerutkan dahi di kening.
"Tidak takut kalau makhluk itu malah menyerang kalian?"
__ADS_1
"Tenang saja, kami tak akan membuatmu masuk ke dalam situasi berbahaya ini. Kamu cukup bantu kami untuk mengurus kafe, kalau kami belum sempat mengunjungi ke sana," jawab Yumna.