
"Kenapa kau terus mencari Bian? Pergilah menjauh dari keluarga kami!" ucap Della mulai menunjukkan wujudnya lebih jelas lagi, dengan maju langkah demi langkah mendekati kami.
Wajah pucat, dengan baju putih penuh darah terutama di bagian bawah. Seperti orang yang baru saja melahirkan, tanpa pertolongan seorang bidan.
Ari-ari penuh darah yang masih bergelantungan, menjulur terseret dari bawah kakinya yang melayang. Membuat ngilu siapapun yang memandang. Mungkin itulah sebabnya dia dari tadi tak menampakkan diri di tempat yang terang.
"Ka... Kamu! Jangan mendekat, kalau tak ingin ku rusak kalungmu ini!" ancam Rima lagi, agar Della tak berani menyakiti.
"Rima, sekarang apa yang kamu inginkan dari Bian? Kenapa kamu mau mencarinya? Bukannya kamu sudah kecewa dengan sikap ayahnya? Biarkan dia hidup bahagia bersama keluarganya yang tersisa," kataku pelan.
"Bian, anak yang malang. Dia tak mendapat kasih sayang sedikitpun dari ayahnya."
"Apa rencanamu selanjutnya, kalau Bian ditemukan?" tanyaku lagi.
"Saya akan membawanya pergi dari rumah ini."
"Untuk apa?"
"Saya akan merawatnya sampai besar. Dan akan menikahinya suatu saat nanti. Jadi saya tak lagi mau menunggu cinta dari ayahnya Bian lagi."
"Astaghfirullah, nyebut Rima!"
"Wajah Bian yang mirip sekali dengan ayahnya, sudah cukup membuat saya bahagia. Apalagi hanya dia yang mengerti semua keluh kesah saya, tak seperti ayahnya. Tak ada kepedulian sama sekali selama saya berkerja padanya, " katanya sambil tertawa tak jelas.
Rima mulai membayangkan masa depannya dengan Bian. Impian masa depan yang konyol, dan harus dihentikan.
" Aaauuuuu......, " seruku membuatnya kaget, karena ada sedikit darah yang mengalir di pipiku, oleh goresan kecil pisau yang dipegang tangan kanan Rima.
" Maaf, saya tak sengaja. Saya.... Saya.... Ayo kita cari Bian sekarang juga! "katanya seperti orang yang sedang kebingungan sendiri.
Dalam keadaan lengah dan kacau seperti itu, segera ku pukul lengannya dan menghindari sabetan pisau yang mungkin bisa mengenaiku lagi. Pisau itu terlempar jauh ke bawah kursi. Membuatnya tak percaya, kalau aku berani senekat ini.
" Kenapa kau pukul saya? " tanyanya sambil mengibaskan lengannya yang mungkin terasa sakit saat ini.
__ADS_1
Tak banyak bicara, aku langsung memegang tangannya. Mengayunkan lengan kanan Rima ke belakang punggungnya, dan mengunci agar dia tak nekat lagi.
"Lepaskan! Saya harus cari Bian!" teriak Rima lemah tak berdaya.
"Saya di sini!" kata anak laki-laki kecil baru keluar dari dalam lemari perabotan tempat makan, bersama gadis kecil yang pantas disebut kembar dengannya.
"Bian... Dian....," seruku memanggil kedua anak itu, yang mengangguk mengiyakan seruanku.
"Bian, sayang. Tolong lepaskan kakak. Sakit tangan kakak, Auuu....," kata Rima mencoba memelas pada Bian.
"Bian, tak usah kau dengar ucapan wanita ini. Telepon ayah sekarang, agar bisa pulang lebih awal," kataku membujuknya, masih mengunci tangan Rima.
Della dan Dian yang berdiri, tak berucap sama sekali. Hanya menganggukkan kepala saat Bian menatap satu per satu dari mereka, tanda setuju pada usulku ini.
" Bian, tak usah kau dengarkan kakak ini. Dia orang jahat! Dia mau mencelakai keluarga ini," kata Rima mulai memutar balikkan fakta.
"Apa-apaan kamu? Bicara yang bener, biar gak ada salah paham di sini," kataku geregetan, mengangkat sedikit tangan yang terplintir ke belakang.
"Bian sayang, tolong kakak. Kakak yang merawatmu dari bayi, kamu harus percaya sama kakak. Dia perempuan jahat yang mau mencuri di rumah ini," kata Rima lagi masih mencoba menfitnah keberadaanku.
"Bian sudah dengar kata kak Rima tadi. Maafkan Bian, karena Dian yang menyuruh Bian sembunyi. Untuk mendengarkan apa yang kalian bicarakan tadi," kata Bian dengan suara khas anak kecil, menunjuk ke arah kembarannya yang tersenyum di sebelahnya berdiri.
"Biarkan saya yang membalaskan dendam ini. Setelah dia menyusahkan kehidupan sampai kematian saya ini. Termasuk mengurung saya beberapa tahun di rumah lama di desa, karena gangguan yang ku tebarkan untuknya sebelumnya," sahut Della mulai menunjukkan amarah.
"Hapus dendam itu. Kembalilah pada jiwa yang telah pergi lebih dulu. Jangan biarkan dendam membuat iblis memperbudakmu," kataku mencegah langkah Della.
"Hahahaaa....... Semua sudah tahu. Jadi lebih baik ku musnahkan saja kalian semua, agar saya bisa leluasa mendapatkan hati ayah Bian lagi. Meski jalur mistis yang akan aku lalui," tawa Rima mulai menggelegar tak jelas lagi.
Dengan tangan kiri, ku ambil ponselku yang bersembunyi di balik tas kecil. Bersiap merekam semua perkataan Rima dari balik punggungnya. Saat pikirannya mulai berceloteh tak karuan, yang mengakui semui perbuatannya.
"Memang saya yang telah memanggil dukun beranak itu. Memang saya sengaja, meski tahu pada akhirnya akan ada nyawa yang diminta olehnya. Memang saya orangnya, mau apa kamu selanjutnya?" oceh Rima.
"Sadar, Rima. Itu semua bukan perbuatan yang bisa dibanggakan!" seruku mengingatkan.
__ADS_1
"Saya tak meminta pendapatmu. Kamu bukan siapa-siapa dan tak ada hubungannya. Lepaskan tanganku, dan pulanglah kembali ke rumahmu!" perintah Rima berusaha melepaskan kuncian tanganku.
"Tadi kamu yang memintaku ke sini. Sekarang kamu suruh aku pulang lagi?"
"Tadinya saya memang takut sama Della. Dan memintamu membantu saya, bukan malah berpihak pada hantu itu," geram Rima.
"Karena aku tak pernah mau berpihak pada manusia yang tega mencelakai orang lain," jawabku.
"Sekarang pulang saja! Saya baru teringat kata dukun yang mengurungnya, kalau benda kesayangannya yang sudah diberi mantra ini bisa menjadi kelemahannya. Kalung yang menjadi saksi cinta Della dan ayah Bian dulu, yang sudah ku ambil untuk menjadi jimat penolak untuk dia, cuiiihhh.....cinta," kata Rima jijik sendiri mengingat kemesraan tuan dan nyonyanya dahulu kala.
" Kenapa tak kau cari saja laki-laki lain di luar sana? Kenapa harus sampai nekat menghancurkan keluarga ini? "tanyaku.
" Aku memang bukan siapa-siapa di keluarga ini. Tapi aku sudah terlanjur diajak ikut campur pada masalahnya. Jadi tak mungkin juga aku tega meninggalkan anak sekecil itu mengurus semua kejahatanmu sendiri," kataku menatap Bian yang merasa ketakutan, sudah berdiri di pojok ruangan, ditemani Dian saudara kembarnya yang masih berusaha menenangkan.
" Sudahlah, biar saya saja yang membereskan dia. Kamu pulanglah, supaya tak ikut menanggung masalah kita, " kata Della mulai tak bisa menahan amarahnya lagi.
"Kamu sudah berani melihat kalungmu ini rusak? Hahh!!" seru Rima mengancam.
"Aku tak peduli lagi pada kalung itu. Karena anakku lebih berharga, melebihi apapun. Bian satu-satunya bukti cinta kita yang masih harus dibiarkan menghirup kebebasan," kata Della.
"Saya sadar saat mendengar kata gadis ini, yang rela melibatkan diri demi masa depan Bian nanti. Jadi saya juga harus merelakan benda kesayanganku hancur, bersamaan denganku yang akan sirna dari dunia ini."
Della semakin marah, melayang mendekat ke arah kita. Hendak mengotori dirinya untuk melenyapkan Rima.
Semakin dekat, dan mendekat lagi sampai tangannya mulai menyentuh kepala Rima. Yang terus meronta menolaknya.
Della bersikeras merasuk ke dalam raganya. Untuk membuatnya celaka dengan merasuki tubuhnya.
"Hentikan, kak Della!" teriakku tak merubah kemauannya, sampai seseorang datang kepada kita.
" Hentikan! Saya sudah mendengarnya. Sayang, kau tak perlu membuat dirimu berdosa. Pergilah dengan tenang ke alam selanjutnya. Biar saya yang akan mengurus sisanya," suara seorang pria muncul dari balik tembok pembatas ruangan ini.
"Ayah..... Huhuhu....," tangis Bian sambil berlari menghampiri pria yang selama ini tak terlalu peduli.
__ADS_1