
Aku, Yumna, dan Martha masih berjalan mengendap memutari pagar pembatas rumah pak Malik. Sampai Martha mengajak kami berhenti, ketika terlihat tumpukan rumput kering yang menempel di tembok pembatas rumah misterius ini.
Tepatnya, kami sedang berada di kebun milik orang lain yang terletak di sebelah kanan mantan rumah Yumna.
"Tunggu sebentar," kata Martha mengangkat rumput-rumput kering di depan kami.
"Hah? Ada celah?" tanyaku.
"Iya, ayo ikuti aku!"
"Bagaimana caramu membuat celah kecil ini?" tanyaku berbisik di belakangnya, sambil merangkak mengikuti.
"Selama dua tahun ini, aku selalu mengendap ke sini. Membuat lubang untuk keluar masuk, yang ku tutupi dedaunan setiap hari. Sampai aku berhasil membuat jalan keluar untuk Anjani, meski akhirnya tertangkap lagi," sesalnya.
"Lalu, selama ini kamu hilang kemana?" tanya Yumna mengingat penjelasan bu Nuri sebelumnya, kalau Martha termasuk salah satu gadis yang dinyatakan hilang.
"Aku bersembunyi, di gudang belakang rumah bu Nuri. Mengambil makanan dan sayurannya setiap hari, ketika beliau terlelap di malam hari. Supaya lebih mudah menelusup, menuju ke rumah ini."
"Hah? Kenapa kamu melakukan itu semua?"
"Ceritanya panjang. Yang jelas, ini tentang persaudaraan. Antara aku dan Anjani, yang dulunya ternyata berasal dari panti asuhan yang sama. Dan kami adalah saudara."
"Saudara?" tanyaku berhenti sejenak, saking kagetnya.
"Eh, iya bener. Makanya pas pertama aku lihat Anjani, kayaknya familiar banget mukanya. Tapi gak tau mirip sama siapa? Soalnya kalau gak diamati, gak terlalu mirip juga sama kamu. Maaf ya, karena aku tak tanggap saat melihat Anjani tadi pagi," sahut Yumna masih ikut berbisik juga, masih merangkak di belakang kami.
"Panjang kalau diceritakan nanti. Yang penting, sekarang kita selamatkan Anjani," ucap Martha mendahului, keluar dari celah sempit ini.
Tak kami pedulikan lagi tanah basah yang menempel di baju lagi. Apalagi Martha yang sepertinya sudah tak terawat sejak lama, demi berjuang membebaskan saudaranya. Dengan tubuh kurus, pucat, dan baju kumal yang mungkin terus menerus dipakainya.
"Nah, itu kamar Anjani, yang sekarang mulai dijaga juga dari luar jendela. Mungkin akibat lolosnya dia," ucap Martha saat kami sudah tiba di balik pagar pembatas ini, masih bersembunyi di balik semak yang mengitari tembok ini.
"Trus, ruangan lainnya untuk apa?" tanya Yumna yang tahu seluk beluk ruangan di dalam sana, meski tak tahu fungsinya sekarang.
"Nah, di sebelah kanannya adalah kamar orang tuanya. Bersama adiknya juga selalu tidur bersama mereka. Oh iya, di belakang rumah, ada kamar mandi 'kan?"
__ADS_1
"Iya?"
"Di depan kamar mandi ada sebuah ruangan lagi, yang dipakai sebagai tempat pemujaan mereka."
"Pemujaan?" tanyaku dan Yumna bersama.
"Iya, untuk mengurung makhluk-makhluk yang sudah ditumbalkannya," jelas Martha lagi, yang sepertinya sudah sangat paham sekali dengan tempat ini.
"Kamu sering menyelinap masuk ke sana?"
"Dua tahun bukan waktu yang singkat untuk menyelidiki tempat ini."
"Oke, trus sekarang rencananya apa?" tanyaku lagi.
"Saya juga belum tahu, bagaimana cara kita mengalihkan perhatian para penjaga itu, untuk membawa Anjani keluar dari sini," kata Martha masih berpikir juga.
"Aku yang akan menarik perhatiannya. Terserah kalian mau lakukan apa selanjutnya," kata Ncus tiba-tiba sudah muncul, duduk di atas tembok pembatas belakang kami.
"Ncus? Ternyata kamu berguna juga. Ya sudah, kalian fokus pada Anjani saja. Aku yang membereskan tempat pemujaan, agar tak ada lagi korban selanjutnya," sahutku.
"Insyaa Allah, aku tak sendiri. Ada Allah yang aku yakini, selalu ada dimanapun tempatku pergi," sahutku yakin.
"Baiklah. Hati-hati ya. Soalnya bawa pergi Anjani sepertinya tak bisa ku lakukan sendiri, dengan kondisinya yang hamil besar seperti tadi," sahut Martha.
"Kalian juga hati-hati."
"Nanti kita langsung ketemu di rumah bu Nuri," sahut Yumna menyetujui rencana ini.
Kami mulai bersiap bergerak, menunggu Ncus mengelabui penjaga di depan kami. Dengan lihai, Ncus sedang menggoda penjaga dengan menunjukkan dirinya seperti sosok wanita muda yang cantik jelita.
Penjaga yang baru bangun dari tidurnya percaya, kalau wanita ini salah satu gadis yang diculik oleh temannya sebagai tumbal berikutnya. Yang katanya memang sudah ada beberapa wanita lain, yang sudah disiapkan pak Malik di gudang rumahnya.
Ncus yang sudah mulai genit, langsung mengajaknya pergi menjauhi jalan yang akan kami lalui. Agar kami bisa segera bertindak malam ini.
"Sekarang!" kata Martha berlari cepat ke jendela Anjani, untuk mengecek saudaranya.
__ADS_1
Aku yang tinggal sendiri, mengirim pesan pada kak Azzam dan Rey untuk segera menghubungi polisi. Kalau kami tak balik satu jam lagi.
"Bismillahirohmanirohiimm...... Ya Allah, ku serahkan hidup dan matiku hanya kepadamu. Hari ini, aku hanya ingin meluruskan kebenaran di tempat ini. Dengan ridho-Mu, ku pasrahkan semua takdirku nanti," doaku sebelum beranjak menuju ke belakang rumah.
Ku ikuti deretan semak yang menempel di tembok pembatas ini. Sampai ku lihat ada daun pintu, menghadap berlawanan arah dengan letak rumah. Yang mungkin merupakan jalur belakang untuk masuk ke dalam.
" Ada penjaga juga ternyata di sana," gumamku sambil tengok kanan dan kiri.
" Alhamdulillah, aku percaya ini pertolongan Allah Ta'ala," syukurku lagi saat menemukan tumpukan kayu, yang berantakan seperti bekas bongkahan bangunan, yang belum sempat dirapikan.
Perlahan, ku ambil salah satu kayu yang lumayan besar. Bersiap untuk memukulnya dari belakang. Tapi baru saja hendak ku ayunkan, ternyata ada seeokor kucing yang datang dan menggeliat di kaki penjaga tersebut. Membuatku kembali sembunyi di salah satu sudut bangunan ini.
"Ih... Kucing si*lan, kenapa dia di sini sih?" umpatnya kesal, sambil menaikkan kakinya dengan bergidik ngeri.
Masih ku tunggu reaksinya, dan terlihat kucing itu hendak melompat manja ke arahnya.
"Hiii.....," ucapnya menjauh berlari geli, dari pintu yang hendak ku masuki sebentar lagi.
"Alhamdulillah, kesempatan!" syukurku lagi, masih membawa kayu besar sambil masuk ke dalam rumah yang sebenarnya tak terlalu luas.
Masih berhati-hati, ku lihat sekitar tempatku berdiri. Sampai ku temukan kamar mandi, sesuai arahan Martha tadi.
"Ini pasti ruangannya, pas di depan kamar mandi," ucapku mencoba menguping sebelum mencoba membuka ruangannya.
Hening, tak ada sedikitpun suara. Jadi ku beranikan diri untuk mengayunkan gagang pintunya pelan-pelan.
'Ceklek....'
Suara yang seharusnya lirih terdengar nyaring sekali. Tapi untungnya tak ada seorangpun yang datang ke sini.
"Astaghfirullah," kejutku melihat ada dua gadis tanpa busana diikat tali, dengan mulut yang tersumpal oleh lakban hitam.
"Uuugghhh.... Uugghhh....," sahutnya berusaha meminta tolong ketika melihatku datang.
"Sssttt..... Tolong sabar. Sebentar!" ucapku menenangkan mereka, sembari mencari kain untuk menutupi tubuhnya.
__ADS_1