
"Oh, baiklah kalau itu keputusan kakak. Nanti saat Rey datang, kita bisa langsung bicarkan," jawabku.
Kami melanjutkan obrolan tentang keadaan kak Raisha, sampai masa pertumbuhan Lousa tanpa sosok ayah menemaninya. Mulai banyak sedih dan tawa dari kita, untuk sejenak melupakan masalah di pujasera.
" Assalamu'alaikum," terdengar suara kak Azzam dari pintu ruangan, diikuti Rey dari belakang.
"Wa'alaikumsalam," jawab kami bersama.
"Tadi makan pagi sama siangnya jadi datang tidak? Sudah aku pesankan sebelum berangkat pulang."
"Sudah kok. Terima kasih ya, Nak Azzam. Enak makanannya," jawab ibu kak Raisha mewakili.
"Alhamdulillah kalau begitu."
"Oh iya, Rey. Katanya kak Raisha sudah boleh pulang. Trus minta ikut kerja minggu depan, gimana?" tanyaku pada makhluk paling pendiam dan cuek di bumi ini.
"Oh, oke. Nanti akan aku sampaikan sama pak Rendi."
"Trus, kamu inget nggak kalau Yumna...," kataku terpotong oleh bungkaman tangan sahabat di sampingku.
"Yumna? Kenapa dia?" tanya Rey langsung meletakkan gawainya, dan terlihat khawatir menghampiri Yumna.
"Dia tak apa. Hanya kita melupakan suatu janji padanya."
"Oh, maaf. Tolong ingatkan aku, apa itu? Aku tak suka kalau dia berubah diam padaku."
"Minggu depan, kita janji mau ikut ke kampung Yumna. Lupa?"
"Astaga. Maaf, maaf banget. Soalnya terlalu banyak masalah, sampai aku melupakan itu. Kenapa kamu tak mengingatkanku?" tanya Rey menatap tajam, sambil mengusap rambut dari dahi Yumna.
"Kalian benar pacaran ya?" tanya kak Raisha.
"Tolong jangan katakan pada karyawan lainnya. Supaya mereka tak canggung pada ku," kata Yumna terbelalak mendengar pertanyaan itu.
"Oh, jadi itu alasannya. Baiklah, ini rahasia kita bersama kalau begitu," senyumnya melihat kemesraan tatapan Rey pada Yumna.
"Trus gimana?" tanyaku menyadarkan mereka berdua.
"Oke, minggu depan kita ke kampung Yumna. Batalkan dulu pembukaan pujasera. Sekalian nunggu Raisha pulih dari trauma. Gimana?" tanya Rey.
"Lhoh, kok gitu?" tanya Yumna.
__ADS_1
"Kamu kenapa nggak mengingatkan aku? Pantesan dari tadi diajakin kencan, kok mukanya cemberut aja. Ditanya macam-macam juga banyak diamnya. Jadi karena ini alasannya?" tanya Rey kembali mengusap kepala Yumna.
"Tumben Rey mulai banyak omong, kalau Yumna jadi pendiam?" tanyaku meledeknya.
"Hadehhh..... Kalau gitu ulangin gih kencannya. Jangan di depan kita kalau mau mesra," sahut kak Azzam ikut menggoda mereka berdua.
"Idiiih...., Azzam iri itu kayaknya. Sudah punya gandengan belum dia? Kayaknya cocok kalau sama Aish. Sedikit ada mirip, semoga aja jodohnya," timpal kak Raisha.
"Lha memang mereka pacaran, Kak!" jawab Yumna membuat kita saling menggoda dan tertawa bersama.
Tak terasa adzan magrib telah tiba. Kita semua segera menunaikan, dipimpin oleh kak Azzam sebagai imam.
Doa-doa kami panjatkan, sambil belajar mengaji bersama. Sampai adzan isya terdengar, untuk kami tunaikan ibadah selanjutnya.
"Alhamdulillah, kalau gitu kita beres-beres sekarang saja gimana?" usul kak Azzam setelah menutup doa.
"Boleh, saya juga sudah gak sabar untuk pulang ke rumah. Bosan di rumah sakit, makannya bubur terus," sahut kak Raisha mulai mengeluh.
"Tapi, nanti kalau makhluk itu kembali menemui kamu bagaimana?" tanya ibu kak Raisha.
"Kalau diijinkan, saya akan menginap sementara di rumah Raisha. Dan kalau diperbolehkan, saya juga ingin melamarnya," sahut pak Rendi dari depan pintu ruang perawatan.
"Pak.. Pak Rendi?" gugup kak Raisha.
"Kalau saya, terserah sama Raisha. Maunya gimana? Tapi saya akan lebih tenang, saat dia sudah memiliki pemdamping manusia," senyum dengan guratan keriput tua menghiasi bibirnya.
"Tolong beri saya waktu. Untuk menjawabnya," pinta kak Raisha.
"Tak masalah bagi saya. Karena saya sudah terbiasa menunggu cukup lama, untuk mencari pendamping yang pas di hati saya."
"Tapi ternyata setelah suamimu meninggal dan sempat ada kejadian kemarin, saya merasa ingin sekali menjaga kamu dan Louisa," lanjut pak Rendi.
"Lebih baik, kalian saling mengenal dulu secara pribadi. Bukan sebagai atasan dan bawahan seperti selama ini. Baru kalau memang merasa sama-sama nyaman, lanjutkan ke pelaminan," usul ibu kak Raisha.
"Iya. Terima kasih sebelumnya, karena pak Rendi sudah bersabar menunggu kepastian dari saya. Tapi untuk masalah makhluk itu, saya tak takut menghadapi dia. Saya sudah pasrah sama takdir Allah saja, yang penting saya selalu memohon perlindungan dari - Nya. Bukan begitu, Aish?" tanya kak Raisha, yang menirukan bisikanku tadi pagi untuk menguatkan batinnya.
" Sipp. Kalau begitu, kita bisa pulang sekarang?" sahutku.
" Boleh, ini juga sudah hampir selesai kok. "
" Kalau saya belum boleh menemani di rumah, apa saya diijinkan untuk mengantarkan pulang saja?" tamya pak Rendi masih belum menyerah menakhlukkan hati kak Raisha.
__ADS_1
" Boleh, Nak. Ibu akan senang kalau Raisha bisa bersanding dengan orang yang bertanggungbjawab seperti anda," kata ibu kak Raisha, membuat kami semua langsung tertawa menggoda mereka berdua.
Setelah beres semua, kami langsung pergi dari rumah sakit ini. Meninggalkan tawa makhluk tak kasat mata, sampai wujud yang tak beraturan juga. Tapi sayangnya tak ada misteri menarik yang ingin ku cari tahu penyebabnya.
Aku, kak Azzam, Yumna, dan Rey berpencar dengan arah rombongan kak Raisha yang diantar pak Rendi. Kami sempatkan mampir sebentar, membungkus makan malam sesuai selera sendiri-sendiri. Sampai akhirnya bisa sampai ke rumah lagi.
" Alhamdulillah, akhirnya sampai rumah juga," kataku menyusul Yumna, yang sudah sampai rumah terlebih dahulu.
" Ehmm... Terima kasih ya. Kamu sudah mengingatkan Rey, soal acara pulang kampungku."
"Ih, kamu tuh jangan suka memendam pikiran. Nanti jadi bisul biar tahu rasa lo."
"Enak aja. Jangan sampai lah!" jawab Yumna membuat kita tertawa bersama.
"Oh iya, tadi aku ketemu sama Nasha. Kenal kan?" tanyaku pada Yumna, sambil membuka bungkusan nasi untuk makan malam bersama.
"Iya, kenal. Kenapa?"
"Nanti deh, ku lanjutkan ceritanya. Laper banget ini!" seruku.
"Ih, gak jelas banget ya? Dia yang mulai cerita, pas didengerin serius malah ditunda," gerutu Yumna sambil mengunyah makanannya.
"Gak baik ngomong sambil makan. Habiskan dulu!" seruku kembali melahap makanan juga di depanku.
Sendok demi sendok, mulai ku suapi diriku sendiri. Sampai habis tak bersisa di bungkusnya, sama sekali.
"Alhamdulillah. Kenyang. Oh iya, Nasha mau lamaran besok. Gak tahu nikahnya kapan. Tapi kita diundang untuk acara lamarannya dulu."
"Nasha mau nikah? Trus kuliahnya?" tanya Yumna menanggapi, sambil membereskan alat makan ini.
"Mungkin mau lanjut kuliah setelah nikah," tebakku.
"Tapi....," ucap Yumna seperti sedang menyembunyikan sesuatu.
"Tapi apa?"
"Tapi aku kok merasa gak suka sama calon suami Nasha ya?"
"Kenapa sih? Kurang cakep?"
"Bukan soal itu saja. Aku pernah tak sengaja menabraknya saat dia antar barang buat Nasha."
__ADS_1
"Trus?" tanyaku.
"Aku melihat ada slide kejadian pembunuhan dari tangan pemuda itu," sahut Yumna sedikit mengingatnya