
"ANTONIIIII......," teriak seorang wanita yang ikut keluar dari dalam mobil dengan berlinang air mata.
Para tamu undangan yang kebanyakan adalah kerabat dekat saja, mulai resah tak tahu apa yang terjadi saat ini. Mereka kebingungan, sambil mendekat perlahan untuk mencari kejelasan tentang keadaan di depan.
Sedangkan jauh di sana, terlihat lelaki yang sempat tertembak kakinya, mulai dikerumuni banyak orang. Karena mulai menarik perhatian di pinggir jalan.
Lelaki yang sempat menghabisi nyawa kak Disha, meskipun tak pernah saling mengenal sebelumnya. Sudah tergeletak tak berdaya, meski masih bisa meringis kesakitan saja.
"Ada apa?"
"Apa yang terjadi?"
"Kenapa ada polisi?"
Banyak pertanyaan heran muncul dari mulut mereka. Seolah ingin tahu, meski ada rasa takut juga saat darah segar mulai mengalir deras dari betis Antoni.
"Aaaaaaarrggghhhh..... Ampun... Maafkan saya. Maafkan saya!" tangis lelaki itu, saat kak Disha memperlihatkan diri di depannya. Dengan tenggorokan menganga, dan bercucuran darah dimana-mana.
Lelaki itu terus meracau saking takutnya, sampai mengakui semua kesalahannya. Yang membuat tempat ini, mulai heboh di kelilingi warga. Termasuk orang lewat, yang bukan hanya kerabat dekat keluarga Nasha.
"Yumna... Aish..., terima kasih banyak. Aku bersyukur karena tak jadi mengikat janji dengan dia," ucap Nasha yang ternyata sudah terlihat lebih tegar, berdiri tegak sambil menghapus air matanya.
"Nasha, maafkan kami yang telah mengacaukan acara ini. Maaf, kalau kedatangan kami tak membuatmu bahagia hari ini," sahutku memeluknya bersama Yumna.
Kami bersama mengeluarkan air mata, bukan sebagai kesedihan atas kegagalan lamaran. Tapi karena berhasilnya mengungkap kebenaran.
Kak Disha mulai bisa tersenyum bahagia, melihat salah satu pelakunya sudah ditangkap. Untuk ditelusuri lagi pelaku satunya yang masih dalam proses pengejaran selanjutnya.
****
Beberapa hari kemudian,....
"Cieeehhh.... Yang mau pulang kampung. Pasti seneng banget ya, reunian sama teman lama?" godaku saat menunggu mobil Rey menjemput di teras rumah Yumna.
"Mau reunian sama siapa? Tak ada yang berteman dekat denganku, seperti kita saat ini," sahut Yumna tak kecewa.
"Maksudku, si Ncus yang mau reunian. Ya 'kan?" panggilan unik ku pada sosok perempuan yang dibawa Yumna dari rumah lamanya, dan suka menggoda para pria di counter miliknya.
"Ihhh.... Kirain ngomong sama aku. Kalau dia, suka banget di sana, banyak temannya. Soalnya iseng banget orangnya, eh..hantunya!" sahut Yumna membuat kami semua tertawa.
'Bruummmm.....'
__ADS_1
Suara mobil Rey mulai terdengar datang. Dari dalamnya, dua lelaki menghampiri kami untuk membawa barang. Memasukkannya ke dalam bagasi belakang. Saat matahari mulai bersinar terang, tepat di atas kepala kita.
" Siap? " tanya Rey setelah semua sudah masuk, termasuk Ncus yang duduk bersama koper dan oleh-oleh untuk tetangga dekat Yumna dulu.
"Siap, bismillah!" seru kak Azzam kemudian memimpin doa sebelum perjalanan.
Senang sekali rasanya liburan kali ini. Setelah beberapa waktu yang lalu sempat melihat kejadian buruk tentang Nasha. Tapi kami sudah lega setelah mendengar kabar kalau teman Antoni sudah ditangkap juga. Dan kemungkinan mereka mendapatkan hukuman mati atau hanya seumur hidup saja.
"Lihat apa?" tanya kak Azzam mengagetkanku yang sedang melamun memandang jendela.
"Tak apa. Hanya menikmati keindahan alam Sang Pencipta," jelasku menatap lelaki di sebelahku ini.
"Oh, kalau gitu aku juga lah. Memandang keindahan itu," sahutnya masih terus memandangku.
"Maksudnya? Tuh, pemandangannya ada di luar jendela!" tunjukku pada deretan pohon yang seperti nampak sedang berjalan, di belakang kak Azzam.
"Yang ini lebih indah," tatapnya padaku sambil tersenyum, sukses membutku malu.
"Mulai deh, gombal! Tidur sajalah!" kataku menyandarkan kepala, sambil memejamkan mata.
Antara sadar dan tidak, aku seperti merasa diawasi sosok tak kasat mata. Energi yang dia bawa, dapat aku rasakan meski tak nampak wujudnya.
Semakin ku cari asal energi ini, suara meminta tolong mulai menggema di telinga.
'Toooolooooong.....'
Suara lirih bersahut-sahutan, membuat perih hati yang mendengar. Sampai akhirnya suara Ncus membangunkan aku sampai sadar dari mimpi anehku.
"Aish... Bangun! Kita akan masuk ke kotanya. Kamu harus lihat, saat lelaki yang sempat jadi incaranku selalu menanti di sana," kata Ncus terdengar bahagia.
"Hahh! Mana?" tanyaku kaget, karena baru sadar dari lelapnya tidurku yang terasa hanya sebentar saja. Meski perjalanan ternyata sudah melewati beberapa jam yang lalu.
"Sebentar, nanti kalau ada kebun pisang kanan jalan. Tunggu ya!"
"Kalau pohon pisang, biasanya isinya hantu permen tuh," tebakku.
"Enak aja permen. Kalau di sini namanya hantu bungkus!" sahut Ncus tak terima.
"Lhah, apa bedanya? Ya sudah, hantu bungkus permen aja deh," cengirku meledeknya.
"Nah... Nahh.... Itu dia, pasti lagi nunggu aku juga. Heiii...., aku datang!" seru Ncus heboh sendiri.
__ADS_1
"Eh... Eh... Sebentar. Kenapa banyak sosok wanita berjajar di pinggir jalan?" ucapku malah fokus pada seberang jalannya.
Wanita-wanita itu masih sangat muda. Hanya berdiri diam, tanpa ekspresi apapun. Tatapannya yang syahdu, membuatku ingin tahu.
" Siapa mereka ya? Kok lama tak pulang, mulai ada keanehan?" sahut Yumna ikut memperhatikan sosok-sosok yang terdiam.
"Cuekin saja, tak usah ikut campur kalau tak ada hubungannya. Nanti kalian malah susah sendiri di kota ini," seru Rey masih konsenteasi ke depan.
"Iya, bener. Tak usah diperhatikan," sahut kak Azzam menimpali.
Beberapa menit kemudian, kami tiba di sebuah rumah yang lumayan cukup luas dibandingkan rumah sekitarnya. Menurut Yumna, itu adalah rumah bu Nuri, tetangga paling dekat yang sudah dianggap orang tua olehnya.
" Memang rumahmu kenapa? Yang mana?" tanyaku setelah mobil mulai menghentikan mesinnya.
"Sebelahnya, tapi kita tak akan tinggal di sana."
"Trus, kita mau tidur dimana?" tanyaku mulai ikut turun, dan melihat suasana sekitar.
"Ya di rumah saya dong," jawab seorang ibu yang nampak sabar sekali, meski aku baru pertama bertemu.
"Bu Nuri, Yumna kangen!" serunya langsung memeluk wanita ramah tersebut.
"Ayo masuk!"
"Ibu sendiri?" tanya Yumna mengikuti langkah bu Nuri menuju ke rumahnya.
"Suami ibu lagi tugas ke luar kota, biasalah."
"Assalamu'alaikum," kataku saat kami berada di depan pintu.
"Wa'alkaikumsalam," jawab semuanya.
Bu Nuri langsung menunjukkan kamar untukku dan Yumna di ruangan paling depan, sebelah ruang tamu. Tepat di sebelah kanan kamar bu Nuri. Sedangkan kak Azzam dan Rey, menempati kmar sebelah kirinya, yang berhadapan langsung dengan ruang santai keluarga. Dan Ncus, sudah pergi entah kemana.
"Sebaiknya kalian istirahat dulu. Hari juga hampir petang, jadi ke makamnya besok saja," sahut bu Nuri mengingatkan.
"Sebenarnya kami ingin jalan-jalan dulu melihat kampung ini sebentar. Nanti sesudah isya gimana?" usul kak Azzam.
"Sebaiknya kalau hari sudah mulai gelap, jangan keluar rumah lagi," jawab bu Nuri.
"Kenapa, Bu?"
__ADS_1
"Akhir-akhir ini, sering terjadi hilangnya gadis-gadis. Bahkan sampai di kampung-kampung sebelah juga mengalami hal yang sama. Sebaiknya tak usah mengambil resiko, hanya untuk berjalan-jalan saja. Besok saja setelah dari makam," jelas bu Nuri terlihat resah sekali.