
"Aku juga tak menyangka, kalau nasibnya akan seperti itu. Orang tuaku, terutama ibuku sampai menangis mendengarnya. Beliau merasa menyesal, karena tak mencegah pamannya mengambil Susan yang sudah menjadi sebatang kara."
"Sudah terlambat kalau harus menyesali semua. Sekarang yang terpenting adalah merawat anak yang sudah dititipkan Susan padamu. Oh iya, Susan cerita tidak tentang penyebab dia yang mengingankan kamu menyembunyikan identitas anaknya?" tanyaku.
"Iya, dia bilang kalau dia tak ingin nyawa anaknya terancam sepertinya."
"Maksudnya? Berarti Susan sudah merasa kalau nyawanya dalam bahaya saat itu?"
"Iya, juragan Roy yang harus bertanggung jawab atas semuanya. Dia yang menyebabkan temanku mengalami nasib buruk seperti itu!" ucap Hildan mulai geram.
"Roy? Juragan? Apa itu orang yang sama dengan yang melenyapkan nyawa Riri? Nyawa seorang gadis yang dipertaruhkan hanya untuk menjaga nama baiknya?" gumamku sendiri mencoba mencocokkan keterangan dari Hildan barusan.
"Kamu kenal Roy?" tanya Hildan yang sempat mendengar lirih ucapanku.
"Aku tak yakin, tapi aku merasa kalau ini ada hubungannya. Aku sedang membantu mengungkap kematian seorang gadis bernama Riri. Dan juragan kaya yang kami curigai sebagai pelakunya juga bernama Roy."
"Apa itu orang yang sama?" tanya Hildan.
"Entahlah, tapi kita bisa mencarinya bersama. Agar tak ada lagi korban selanjutnya," ucapku yang sudah berhenti berjalan, saat tiba di depan pintu ruangan kak Azzam.
"Kamu benar. Kalau kamu mau mencarinya, aku siap membantu kapan saja. Hubungi saja nomorku di kartu nama yang pernah ku berikan padamu," katanya mengingatkanku pada sepotong kertas di dalam tas.
"Insyaa Allah. Kalau begitu aku masuk dulu ya!"
"Kerabatmu dirawat di sini?" tunjuknya pada pintu di belakangku.
"Iya, lebih tepatnya calon imamku. Tapi di dalam ada ibuku dan ibunya yang datang jauh-jauh dari negara kita."
"Ohh... Begitu. Ya sudah, aku ke kamar anak angkatku juga ya. Jangan lupa kabari kalau ada yang menyangkut Roy!" kata Hildan sembari melangkah pergi.
"Siap! Aku juga masih ada pertanyaan untukmu. Tapi sebaiknya ceritakan di lain waktu," kataku melambaikan tangan tanda perpisahan.
"Tentang apa?" tanya Hildan menghentikan langkah, dan segera menengok ke belakang lagi.
"Tentang sikapmu yang terburu-buru saat mengantarku di rumah Memey beberapa waktu yang lalu."
"Oh itu. Panjang kalau diceritakan sekarang. Aku juga mau menanyakan tentang kejadian yang menimpa keluarga itu. Ya sudah, lain waktu kita bertemu, sekalian memperkenalkan pada calon imammu," katanya tersenyum, mengejek perkataanku tadi.
__ADS_1
"Insyaa Allah."
"Selamat malam!" katanya melangkahkan kaki lagi, menuju tempat anak angkatnya dirawat saat ini.
Perlahan ku buka pintu ruangan ini. Hati-hati agar tak membangunkan seseorang yang mungkin sudah tertidur di jam segini.
"Assalamu'alaikum," bisikku lirih sambil melangkah ke dalam ruang perawatan kak Azzam.
"Wa'alaikumsalam. Sudah selesai, Nak?" tanya bunda yang ternyata masih duduk bersama umi dan seorang suster yang sedang mengganti infus kak Azzam.
"Belum, Bund. Tinggal cari orangnya. Kalau kasusnya insyaa Allah sudah jelas semua. Aish ke kamar mandi sebentar ya, ceritanya lanjut nanti saja," kataku meletakkan tas di atas nakas, kemudian berjalan ke arah kamar mandi dalam ruangan.
"Lhoh, bukannya kamu tadi dari kamar mandi di dekat tempat suster jaga?" tanya suster itu membuatku menghentikan langkah.
"Enggak. Kan aku baru pulang, Sus! Lagian di kamar ini ada kamar mandi, ngapain ke sana?" tanyaku.
"Nah itu dia. Saya tadi juga sempat tanya sama kamu seperti itu. Tapi kamu cuma tersenyum, terus masuk aja langsung ke kamar mandi. Saya kira, kamar mandi ruangan ini lagi bermasalah."
"Enggak kok! Sama sekali gak ke kamar mandi luar, soalnya ini memang benar-benar baru pulang," kataku mengibaskan kerah bajuku.
"Hadeh.... Dikerjain lagi berarti ini," kata suster itu membuat kami semua tertawa.
"Sudah selesai ganti infusnya. Hehh.... Harus melewati kamar mandi lagi sebelum ke pos suster jaga," keluh suster itu menghela kasar.
"Saya antar kalau tidak berani," tawar bunda.
"Tidak, terima kasih. Semoga sudah tak kenampakkan diri lagi," ucap suster.
"Kalau menampakkan diri kayak aku lagi, bilang suruh langsung temui aku di sini. Enak aja menyerupai tapi gak pakai royalti," kataku menambah tawa sebelum suster itu pergi.
"Mending gak nampak lagi aja deh, kapok!" kata suster tersenyum saat mulai membuka pintunya.
Ku lanjutkan langkahku menuju kamar mandi, untuk membersihkan diri. Kemudian merebahkan kepala pada pangkuan bunda, di karpet tebal lantai rumah ini. Sambil memejamkan mata, dan bercerita tentang semua yang ku alami. Sampai aku sudah merasa tak sadarkan diri.
****
"Selamat pagi, Cantik!" kata kak Azzam saat alarm membangunkanku untuk melaksanakan ibadahku.
__ADS_1
"Lebih cantik lagi kalau lebih rapat lagi menutup auratnya. Kalau kamu menutupnya rapat, kamu tak perlu meminta royalti pada jin yang menyerupai," celetuk bunda sedikit santai, tapi berhasil membuatku semakin malu saja.
"Insyaa Allah," kataku berjalan sedikit sempoyongan untuk mensucikan diri, sebelum melaksanakan kewajiban di fajar ini.
Ku basuh setiap bagian yang wajib dilakukan sebagai syarat sahnya wudhlu. Setelah sebelumnya sudah ku guyurkan air dan sabun untuk menghapus keringatku. Kemudian ku tutup semua aurat yang sebelumnya belum tertutup rapat.
Benar kata bunda. Mungkin ada yang salah dari dalam diriku, sampai jin mau menyerupai bentuk fisikku. Tapi tujuan utamaku menutup aurat, karena aku tak ingin amal perbuatan baik ayah tersendat. Oleh perbuatanku yang mengandung maksiat.
Dan sekarang saatnya aku memulai memperbaiki diri, dimulai dari baju yang ku kenakan sehari-hari. Meskipun bunda tak berkata seperti itupun, sebenarnya sudah ku siapkan baju ganti yang menutupi.
"Bismillah....," ucapku mulai keluar dari kamar mandi.
"Masyaa Allah.......," ucap bunda dan umi yang melihatku menutup aurat sepenuh hati.
Ku langkahkan terus maju, sambil bersiap melaksanakan ibadah pagi ini. Melirik sekilas ke pasien yang tadi terbaring, sekarang sudah mulai duduk dan ternganga sendiri.
"Azzam!" kata lembut umi membuyarkan pandangannya padaku.
"Astaghfirullah. Maaf, sampai terkesima," kata kak Azzam menunduk malu, dan langsung mengusap mukanya yang sedikit memerah.
Hanya ku gelengkan kepala saat melihat sikapnya. Meski sebenarnya aku sendiri juga tersipu, karena salah tingkah kak Azzam yang sedang kebingungan mencari alasan. Tapi ku senyumi saja, dan kembali melanjutkan memakai mukena.
Dua rokaat ku jalani, kemudian lanjut membaca ayat-ayat dari kitab suci ku lalui dengan hikmat sekali. Memohon ampunan atas kesalahanku selama ini. Dan terus meminta agar tetap bisa menegakkan kebenaran Sang Pencipta di dunia ini.
"Alhamdulillah," ucapku bersyukur atas semua nikmat yang sudah ku dapatkan, sembari melipat semua perlengkapan yang baru saja ku gunakan.
"Apa kamu yakin mau memakai pakaian seperti ini? Bunda tak ingin memaksa, tapi menyarankan yang terbaik saja," ujar bunda tersenyum meyakinkan.
"Insyaa Allah. Doakan Aish agar selalu bisa menjaga diri, dan memperbaiki ibadah sampai akhir hayat nanti."
"Aamiin...," jawab semuanya.
****
Ilustrasi
Aish
__ADS_1