Mata Kedua

Mata Kedua
Pemakaman (ilustrasi)


__ADS_3

"Eh, iya, Pak!" jawabku menatap sopir yang bertanggung jawab atas pemakaman seluruh keluarga tuannya.


"Silahkan masuk! Tapi ya beginilah rumahnya, sudah tak terlihat indah seperti sebelumnya," tunjuk sopir itu pada rumah yang hampir habis terbakar, dilalap api.


"Apa ibu Memey sudah ditemukan?" tanyaku sambil berjalan masuk ke dalam puing-puing bangunan.


"Sudah. Tubuhnya hitam legam, sampai tak dapat dikenali karena bakaran api yang sudah menyelimuti. Tapi saya juga heran, tuan kena serangan jantung, kenapa tubuhnya juga ikut menghitam ya?"


"Menghitam? Dimana jasadnya sekarang?" tanyaku celingukan mencari di rumah yang tak terlalu banyak orang ini, hanya ada pegawai yang bekerja di sini.


"Ada di dalam. Bekas reruntuhan yang sempat sedikit dibersihkan. Meski tak seperti nyonya, tapi kulit tuan tiba-tiba menghitam juga. Dan keduanya mengeluarkan bau busuk yang sangat menyengat."


"Apa bau ini berasal dari mereka?" tanyaku.


"Iya, makanya tak ada yang betah berlama-lama melayat di sini. Mereka langsung pulang setelah memberikan uang duka seikhlasnya."


Memang benar kata pak sopir. Tadi sejak aku injakkan kaki di gerbangnya, bau busuk sudah mulai tercium menusuk hidung. Apalagi saat kami mulai beranjak masuk ke dalam rumah yang terbakar ini, baunya semakin menyengat saja. Sampai aroma gosong tertutupi, kalah oleh busuknya jasad yang sudah tak jelas bentuknya di dalam peti.


" Baiklah, lebih baik segera dilakukan persiapan pemakaman saja. Apa polisi sudah selesai penyelidikannya? " tanyaku memastikan.


" Tadi kata polisi, penyebab kebakaran karena nyonya lupa mematikan kompor. Sekarang, mereka sudah menyerahkan pemakaman kepada kami, " jelas sopir keluarga ini.


"Tapi tak ada korban lainnya 'kan?" tanyaku melihat pegawai di rumah ini masih berkumpul dan bingung atas nasib mereka nanti.


"Tidak ada. Juru masak kebetulan lagi ke pasar bersama asisiten yang bertugas membersihkan rumah ini. Sedangkan para pengawal sedang berjaga di depan sesuai perintah nyonya tadi pagi. Jadi nyonya hanya di dalam seorang diri."


"Oh, seperti itu. Kalau begitu mari kita mulai mempersiapkan pemakaman. Apa bapak tahu adat yang biasa mereka lakukan? Atau kita lakukan pemakaman seperti warga lokal?" tanyaku meminta pendapat.


Masih kami pikirkan hal itu. Sebelum keputusan diambil, karena menyangkut nama besar Memey dan keluarganya yang merupakan warga keturunan. Sampai sebuah mobil mewah melaju pelan, masuk ke dalam halaman yang sudah tak beraturan.


"Itu siapa?" tanyaku menunjuk salah satu mobil yang baru terparkir di halaman.

__ADS_1


"Ronald?" panggil sopir itu menatap heran ke arah mobil yang baru datang.


"Siapa dia? Apa masih keluarga?" tanyaku.


"Dia anak laki-laki tuan, sebelum menikah dengan nyonya. Sebelum tuan meninggalkan istrinya, karena lebih memilih nyonya yang hamil Memey sebagai anak yang diakui mereka satu-satunya."


"Oh, jadi Memey sudah punya kakak tiri sebelumnya?" tanyaku masih mengamati lelaki yang baru turun itu.


"Iya, dan Ronald memilih tinggal bersama ibunya, sampai dia bisa sukses membanggakan sebagai upaya balas dendam pada ayahnya yang sudah menelantarkan mereka."


"Lalu apa tujuannya ke sini? Apa yang ingin dilakukannya setelah ayahnya sudah tiada?" tanyaku masih menatap ke arahnya yang berjalan kemari.


"Semoga dia mau membantu pemakaman ayahnya. Saya kenal dia, dan tahu kalau sebenarnya dia anak yang baik. Tapi keadaan yang mendesaknya untuk menjauh dari ayahnya."


Perlahan, laki-laki yang mungkin berumur sedikit diatasku, semakin dekat ke arah kami. Sambil sesekali membetulkan jasnya agar selalu nampak rapi.


" Selamat pagi, Tuan Ronald! " sapa sopir itu mengajak bersalaman Ronald, yang sudah berdiri di hadapannya.


" Pagi, Pak. Tolong jangan panggil saya tuan lagi. Panggil saja seperti saat masih kecil dulu. Ronald. Itu saja tanpa perlu embel-embel apa-apa! " katanya dengan nada lembut, tak seperti cerita tentang Memey yang kasar dan suka berteriak kalau memanggil seseorang, menurut penuturan sopirnya saat di rumah sakit menunggu ayah Memey tadi pagi.


" Terima kasih sudah berusaha menjaga ayah. Jangan pernah menyesal, saat bapak belum berhasil meluruskan ayah sebelum ajal menjemputnya," kata Ronald seperti bisa membaca apa yang dirasakan sopir ayahnya.


"Sebaiknya kita urus pemakaman sekarang," usulku saat bau busuk semakin menyengat.


"Iya, kamu benar. Mari kita segera selesaikan semuanya," ajak pak sopir melepas pelukan lelaki yang mungkin sudah seperti anaknya sendiri.


Kami bersama-sama menuntaskan pemakaman ketiga jasad yang sudah dibersihkan. Ronald yang lebih mengetahui adat keluargnya saat melakukan pemakaman, segera memandu agar anak buah ayahnya bisa membantunya. Sampai acara memasukkan jenazah ke liang lahat tiba.....


"Iihh....., kok bisa lubangnya tidak muat sama petinya?" tanya salah asisten rumah tangga, di pemakaman bersama para pegawai yang lainnya, termasuk orang-orang yang bekerja di perusahaan ayah Memey yang nyaris bangkrut juga.


"Iya, sudah tiga kali digali lebih lebar, tapi saat dimasukkan lagi kenapa kurang panjang terus ya?" bisik asisten rumah tangga yang lainnya.

__ADS_1


Semua terus mencoba memasukkan peti mati itu ke dalamnya. Tapi tetap tak mau masuk juga. Akhirnya diputuskan untuk mengeluarkan jasadnya dari peti, dan memasukkan langsung ke dalam lubang meski badannya sedikit ditekuk.


Itu terpaksa dilakukan, setelah Ronald sudah kasihan melihat penggali kubur berkali-kali memperluas lubang.


Tapi untuk pemakaman Azril, aku usulkan agar bisa dimakamkan sesuai syariat agama yang diyakininya. Dan semua berjalan seperti selayaknya pemakaman pada umumnya. Tak seperti makam sepasang suami istri penyembah setan, yang seperti tak diterima.


Setelah semua selesai, aku langsung pamit pulang. Mengingat kak Azzam yang sendirian. Karena belum ada kabar darinya kalau umi sudah datang.


"Maaf, Nona Aish. Boleh saya antar nona pulang?" tawar Ronald ramah.


"Terima kasih. Tapi saya bisa naik taksi saja, atau ojek dari aplikasi," tolakku halus.


"Nona, sebaiknya terima tawaran Ronald. Dia laki-laki yang baik. Saya jamin itu. Anggap saja sebagai ucapan terima kasih dia, karena Nona sudah membantu pemakaman keluarganya, sampai siang begini," sahut pak sopir mendukung kemauan tuannya sambil tersenyum ramah.


" Tapi saya....., " belum sempat ku selesaikan ucapan, Ronald langsung menarik tanganku pelan, menuju ke mobil mewahnya yang terparkir di pinggir pemakaman.


" Pak, tolong urus semua karyawan ayah. Nanti laporkan pada saya, berapa uang pesangon yang seharusnya mereka terima," kata Ronald pada asisten pribadi yang tadi datang bersamanya.


"Kenapa tak kamu urus dulu semuanya?" tanyaku masih mengikuti langkahnya yang menarik tangan ini.


"Apa gunanya asisten pribadi, kalau saya harus mengurusnya sendiri," jawabnya singkat masih melanjutkan langkah.


Sesampainya di sebelah mobil mewah, Ronald langsung membukakan pintunya untuku. Membuka telapak tangan kirinya, sebagai tanda mempersilahkan aku masuk ke dalam.


" Terima kasih, " jawabku singkat, tanpa berkata apa-apa lagi.


Dan mobil mulai dijalankan ke rumah sakit, tempat kak Azzam dirawat tadi.


****


**ILUSTRASI

__ADS_1


Ronald**



__ADS_2