Mata Kedua

Mata Kedua
Kondisi Kak Azzam


__ADS_3

"Masih belum sadar. Tapi masih akan kami pantau perkembangannya. Kalau administrasinya sudah diurus, langsung kita pindah ke ruang ICU saja," kata dokter terlihat serius tanpa menerangkan kejelasan kondisi kak Azzam.


"Kalau begitu saya permisi dulu. Tolong usahakan yang terbaik untuk kesembuhannya, Dok!" kataku masih dalam sedikit isak tangisan.


"Pasti. Kami akan memgusahakan yang terbaik untuknya," kata dokter wanita itu tersenyum ramah, mengelus pundakku sebelum pergi kembali masuk ke ruangan kak Azzam saat ini.


Tanpa menunggu lama, langsung ku hampiri tempat administrasi rumah sakit. Melunasi semua tanggungan biaya sementara. Agar penanganan bisa segera dilakukan. Kemudian menuju mushola untuk mencoba pasrah dan ikhlas atas semua kejadian.


Tak terasa, jam sudah menunjukkan tengah malam. Ku langkahkan kaki lagi menuju lorong, sebelum mencapai tempat kak Azzam dirawat saat ini. Sesuai arahan dari para perawat yang tadi sudah ku temui untuk mendapat informasi.


Tapi baru saja mencapai tengah lorong yang sedikit remang, sebuah tempat tidur beroda berjalan menuju ke arahku.


Semakin dekat, semakin terlihat jelas dua orang suster yang menjalankan. Dengan menundukkan kepala, terus melangkah kemari.


Langkah demi langkah mereka lalui dengan perlahan. Sampai tibalah mereka, tepat di sebelah tempatku berdiri.


"Malam, Sus!" sapaku mencoba ramah pada mereka.


Dua orang suster itu mendongakkan kepala ke arah mataku mengamati. Datar....tanpa terlihat satupun anggota wajahnya. Tanpa mata, hidung, mulut, dan lainnya. Hanya terlihat muka yang rata.


"Oh, oke!" kataku baru mengerti, kalau mereka bukan manusia.


Mencoba menakuti, tapi tak ku tanggapi lagi. Aku hanya berdiri menempel tembok, memberinya jalan melewatiku, untuk pergi.


"Aneh-aneh aja!" gumamku sendiri.


Langkah kembali ku jalankan. Tapi dari depan sana, nampak pemandangan yang hampir sama. Dua orang suster membawa seorang pasien yang di tutupi kain di seluruh wajahnya.


"Banyak banget yang lagi iseng!" gumamku menempel di dinding lagi, berniat memberi jalan mereka lagi, karena sempitnya lorong ini.


Semakin dekat, semakin terlihat kalau mereka ternyata manusia. Yang membawa jenazah dari arah depan sana. Deretan ruangan ICU, yang hendak aku tuju.


"Siapa yang dibawa? Semoga bukan!" gumamku khawatir, tanpa mau menebak pasiennya.


Semakin dekat, aku semakin penasaran saja. Membuatku menghentikan mereka.


"Sus, bisa lihat sebentar? Siapa yang baru meninggal?" tanyaku bergetar saat mengucapkan, karena kegelisahan yang mendalam mulai ku rasakan lagi.


"Boleh, silahkan kalau mau dilihat!" kata suster mempersilahkan.


Meski getaran tangan ini tak terkendali, masih ku coba untuk memberanikan diri. Agar mengetahui sesuatu yang pasti di depanku saat ini. Sambil berharap kalau itu bukan orang yang ku sayangi.

__ADS_1


" Bismillah...., " doaku sebelum kain ku buka untuk melihat wajahnya.


"Kak Azril? Innalillahi wa innaillaihi roji'un," kataku kaget, karena aku baru mengingat tujuan utamaku tadi.


"Kamu kenal?" tanya suster.


"Tidak seberapa kenal sebenarnya. Tapi aku dan temanku yang membawanya ke rumah sakit ini."


"Kalau begitu, nanti kamu datang saja ke rumahnya. Sambil menjelaskan pada keluarganya. Mungkin sebelum subuh, jenazahnya sudah mau diambil keluarganya," kata suster menutup wajahnya kembali dengan kain yang sempat ku buka tadi.


"Keluarga? Setahuku dia tak punya keluarga?" kataku penasaran.


"Tadi siang ada laki-laki yang datang bersama beberapa pengawalnya. Dia bilang kalau dia adalah orang tua dari jenazah ini."


"Orang tua? Oh, kalau begitu nanti coba ku temui mereka saja. Saat mau mengambil jenazah kak Azril. Kira-kira pukul berapa?"


"Mungkin jam empat pagi."


"Baiklah, terima kasih banyak, Sus!" kataku.


"Sama-sama. Kami permisi dulu kalau begitu."


Suster kembali mendorong jenazah kak Azril, untuk dibersihkan. Sedangkan aku melanjutkan berjalan ke depan, menuju ruangan kak Azzam.


"Nomor lima A. Berarti yang ini!" kataku mencoba masuk, setelah memakai baju dan alat yang disiapkan sebelum masuk ruang ICU.


Ada seorang suster yang sedang mengecek keadaan kak Azzam. Dia mencatat semua yang diperlukan.


"Bagaimana keadaan kak Azzam, Suster?"


"Perkembangannya sudah mulai bagus. Tadi dia sempat mengigau, memanggil nama 'Aisayang'. Saya tak tahu siapa yang dimaksudkan. Tapi tolong hadirkan dia untuk menyemangati kesembuhannya."


"Oh iya, terima kasih informasinya. Saya yang akan menjaga dia, sebelum orang tuanya tiba," jelasku pada suster itu.


"Kalau begutu, saya permisi dulu. Terus bisikkan kata untuk membuatnya semangat ya!"


"Insyaa Allah. Terima kasih!"


Suster mulai meninggalkan ruangan ini. Sedangkan aku mengambil duduk di sebelah telinga kak Azzam yang masih terbaring lemah ini.


Ku genggam jemarinya. Ku bisikkan kalimat yang selama ini malu untuk ku ucapkan padanya.

__ADS_1


"Kak.... Aish sayang kak Azzam. Tolong bangunlah, untuk kita merajut masa depan yang indah."


Tangannya mulai ku rasakan ada gerakan menanggapi, meski cuma sedikit saja. Jadi terus ku bisikkan cerita, tentang masa-masa seru kita bersama.


Tak terasa, mataku ikut berat sekali. Sampai aku juga tak sadarkan diri. Membuatku masuk ke dalam mimpi.


" Aish.... Sudah ku bawa Azril pergi. Jangan kau halangi lagi niat kami. Kami sekarang tahu, apa yang seharusnya kami lakukan nanti," suara sosok Memey terdengar begitu nyata.


"Maksudnya? Kau benar-benar membawa kak Azril?" tanyaku memastikan.


Aku seperti ada di ruangan kosong, hanya berdua bersama Memey saja. Tanpa kak Azril, atau siapapun di sekitarnya.


"Iya. Dan dia melarangku untuk mencelakaimu. Azril tak mau kau menggantikan dia, agar kami tenang menuju alam selanjutnya."


"Lalu, apa itu berarti kak Azril akan terus menjadi budak iblis itu?"


"Tidak. Kami sudah memilih pengganti yang lebih tepat lainnya," kata Memey masih menundukkan kepala.


"Siapa maksudnya?"


"Kau tunggu saja nanti. Kalau dia yang menjadi budak, ku pastikan dia tak lagi bisa mencari korban selanjutnya. Kami ingin mengakhirinya. Maafkan aku juga ya!"


"Maaf? Untuk apa?"


"Aku sudah mencelakai dia. Saat dia berkendara, aku muncul langsung di depannya. Maaf karena aku sempat berpikir untuk memilihnya sebagai korban selanjutnya."


"Kak Azzam?" tanyaku, hanya dijawab dengan anggukan.


"Insyaa Allah semua akan baik-baik saja. Tenanglah menuju alammu, dan lupakan dendam masa lalumu," kataku menataonya, yang semakin lama semakin nampak bercahaya.


Wajah mengerikannya perlahan berubah menjadi cantik. Saat dia mulai mendongakkan kepala menatapku lekat, sambil meneteskan air mata.


" Aku ikhlas! " kataku membuat cahaya menyilaukan menelan semua yang ada di depanku.


"Astaghfirullah," kataku baru membuka mata, sadar kalau tadi hanya bunga tidur saja.


Ku rasakan ada yang mengelus lembut kepalaku. Sentuhan hangat yang terus saja ku panjatkan doanya semalam.


"Kak Azzam? Alhamdulillah..... Terima kasih ya Allah," kataku melihatnya yang sudah mulai membuka mata, meski nampak masih lemas sepertinya.


Kak Azzam hanya tersenyum. Menggenggam erat jemariku lagi. Tepat saat alarm sebelum subuh berbunyi.

__ADS_1


"Ku panggilkan suster ya. Kakak harus sembuh, agar kita bisa berpetualang lagi. Jangan membuat aku cemas lagi," kataku mengusap lembut dahinya, yang hanya ditanggapi dengan anggukan ringan olehnya.


__ADS_2