Mata Kedua

Mata Kedua
Kejar-kejaran


__ADS_3

"Sebaiknya kita pergi sekarang, mumpung pak Rendi masih ketakutan dikejar Tissa," kataku menarik tangan Yumna, untuk menjauhi tempat ini. Aku juga tak lupa menggapai gawai, kalau mungkin akan dibutuhkan nanti.


Kami bersama keluar dari gubuk renta, menengok ke kanan dan kiri mencoba mencari pertolongan. Meski sedikit mustahil, karena tempat ini terlihat jarang didatangi orang yang lewat di sekitarnya.


"Aish bisa nyetir mobil?" tanya Yumna menunjuk mobil merah yang ditinggal lari pemiliknya, karena ketakutan melihat penampakan Tissa.


"Tidak, kamu?"


"Sama, aku juga tak bisa."


"Trus, sekarang kita mau kemana?" tanyaku bingung, karena posisi kami yang jauh dari populasi penduduk.


"Kita ikuti jalan saat kita datang tadi. Sampai ketemu jalan besar nanti," ajak Yumna.


"Oke, ini tolong pegang senjatanya. Aku sambil hubungi Rey atau kak Azzam saja."


Aku baru mengingat, kalau Rey pasti masih memikirkan perihal pujasera. Tapi ternyata setelah ku coba, tak bisa menyambung juga. Karena sinyalnya juga mulai tak ada.


"Kamu yakin jalannya ke sini?" tanyaku memastikan,karena sambungan fungsi telepon semakin hilang.


"Eh, gak yakin juga sih sebenernya. Tapi gak ada salahnya dicoba."


Masih terus berjalan, aku mengibas-ngibaskan hape ke atas kepala. Berharap menemukan sinyal lagi, yang bisa didapat pak Rendi untuk menghubungi Rey tadi.


Tapi langkah kami mulai terhenti, saat terdengar suara pak Rendi berteriak menuju ke arah kami.


" PERGI KAU SETAAAAANN, HUUUSSHH....!"


" Sembunyi! " tarikku pada Yumna agar ikut berlindung, di balik semak yang tinggi.


Kami berdua mengintip dari celah daunnya. Terlihat pak Rendi pontang-panting di kejar Tissa. Tapi malah menbuatku ingin tertawa, saat melihat tingkah lucu mereka.


"Hheemmpph....," ucapku hampir tak bisa menahan ketawa.


"Kenapa?" tanya Yumna.


"Eh, enggak. Itu pak Rendi sampai ngompol di celana. Si Tissa juga gak nyerah, sampai badannya sempat protol kemana-mana. Trus dibenerin lagi buat kejar pak Rendi," jelasku menunjuk mereka, membuat Yumna akhirnya malah tertawa lepas.


"Sssttt..... Nanti dia dengar!"


"Oh iya, maaf. Ayo kita cari jalan lagi," kata Yumna mau melangkah keluar dari tempat persembunyian kami.

__ADS_1


Baru berjalan menghindari arah pak Rendi, suara gawaiku berbunyi nyaring sekali. Membuatku sempat gugup, takut ketahuan pak Rendi.


"Alhamdulillah, Rey!" syukurku langsung mengangkatnya, kembali menundukkan kepala, sambil berbisik saat menjawabnya.


"Baiklah, saya akan menjual pujasera. Yang penting kamu bebaskan Yumna sekarang juga," suara Rey dari dalam telepon ini, sebelum dia tahu kalau aku yang mengangkatnya.


"Eh, cuma pengen selametin Yumna aja ternyata?" tanyaku sedikit kesal.


"Aish? Kamu dimana?" tanya Rey tanpa menjawab pertanyaanku sebelumnya.


"Aku share lokasinya ya. Cepetan ke sini, kami tak tahu arah lagi," ucapku lantang.


"Iya... Iya.... Cepetan kirim lokasinya ke sini. Aku akan menjemput kalian," katanya langsung membuatku menutup sambungan telepon, agar bisa segera mengirim pesan lokasi kami saat ini.


Sembari mengetik di layar ponselku, masih di tempat persembunyian, kami mengamati pak Rendi dan Tissa yang terus kejar-kejaran. Berlalu lalang mulai dari jauh di depan, sampai memutari gubuk reot tak berpenghuni. Dan bisa membuat hiburan tersendiri buat kami.


"Ih, yang jahat siapa sebenarnya? Masa kita lihat orang ketakutan malah tertawa senang?" kataku masih terbahak-bahak.


"Salah sendiri, dia yang memulai. Eh, sudah dikirim lokasi kita?" tanya Yumna.


"Sudah, semoga Rey bisa segera tiba."


Satu jam berlalu, akhirnya terdengar suara rombongan mobil datang ke tempat ini. Yang ternyata gerombolan para polisi yang dibawa Rey ke sini. Untuk menangkap pak Rendi yang sudah kelelahan, sampai terduduk tak berdaya di samping gubuk reot.


"Bawa saja, Pak. Kalau bisa hukum seumur hidupnya, agar tak meresahkan orang lagi nantinya," sahut Yumna


"Kamu tak apa?" tanya Rey mengusap rambut Yumna.


"Iya, aku baik-baik saja."


"Ehemmm.... Jadi obat nyamuk deh jadinya apa aku ikut mobil polisi saja ya?"


"Eh, jangan dong. Aku temani duduk di belakang deh nanti," rayu Yumna supaya aku ikut dalam mobil kekasihnya.


"Yaaahhh.... Jadi supir deh," guman Rey melangkah masuk kembali dalam mobil mewahnya.


Semua segera bersiap pergi dari tempat ini. Termasuk para polisi yang akan kembali esok hari, untuk penyelidikan lebih lanjut setelah introgasi. Sedangkan Tissa merasa lega, sudah membuat pikiran pak Rendi semakin kacau saja.


"Terima kasih," kata Tissa melambai ke arah kami, dengan senyum yang sudah mengikhlaskan kisah cinta yang tak terbalas oleh Rey.


Mobil mulai dijalankan. Dan para polisi mengikuti mobil Rey dari belakang. Membuat perjalanan terasa sangat lenggang, tanpa macet seperti keadaan sehari-hari.

__ADS_1


"Kita langsung ke rumah Raisha ya," kata Rey dari balik kemudi.


"Lho kenapa? Gak lihat keadaan kak Azzam di rumah sakit dulu?" tanyaku.


"Azzam sudah di rumah Raisha. Yang terus meraung seperti kesurupan, kata ibunya," jelas Rey.


"Oh, oke kita, ke sana. Tapi kak Azzam apa sudah baik-baik saja? Kok sudah keluar rumah sakit seenaknya?" tanyaku sedikit tak terima.


"Tadi katanya dia tak apa. Makanya kita cepat ke sana saja buat membantu dia," kata Rey lagi.


Sudah tak ada lagi percakapan. Hanya saling diam, atas lamunan masing-masing orang. Sampai terdengar bunyi cacing di perutku minta diisi segera.


'Krruuucuuuukk......'


'Eh, kamu laper?" tanya Yumna melihat ke arah perutku.


"Lha kan tadi pas mau sarapan sudah dipaksa pergi sama pak Rendi?"


"Eh iya, bener juga. Ya sudah, kita mampir cari makan dulu gimana?" tawar Yumna.


"Bungkus aja ya, gak tega kalau ingat kak Azzam sedang dalam bahaya," pintaku.


"Azzam baik-baik saja. Tapi kalau kamu minta bungkus ya gak apa-apa," sahut Rey mencoba menenangkan kegelisahan.


Mobil polisi mulai mendahului kami. Setelah Rey pamit ijin mengurusi hal pribadi. Dan berjanji akan memberi kesaksian saat dibutuhkan nanti.


" Eh, itu rumah makan apa sih sebenarnya? Rame banget, sampai antrinya dari depan pintu pagar," tunjukku saat kita hampir sampai di sebuah rumah makan terkenal di daerah sini, meski kami belum pernah mampir sama sekali.


Hanya memdengar ceritanya saja dari beberapa mahasiswa di kampusku berada.


"Aku juga gak tahu. Soalnya gak pernah tertarik sama sekali buat masuk. Rasanya kayak males aja," sahut Yumna.


"AWAAASS, REYY........!" teriak kami bersama, saat tiba-tiba seorang anak berumur sepuluh tahun berlari, kemudian berdiri dengan pandangan kosong di tengah jalan raya ini.


'Ciiiiiiittt......'


Decit rem memekakkan telinga. Tapi untung tak ada yang terluka. Karena Rey berhasil menghentikan mobil, sebelum menabraknya.


" Aku mau turun, "sahutku membuka pintu, saat mobil sudah benar-benar berhenti, meskipun masih di tengah jalan raya, jalur lalu lintas antar kota.


" Aku ikut, " kata Yumna mengekor di belakangku.

__ADS_1


Perlahan, aku dan Yumna menghampiri anak tak berdosa ini. Yang hanya diam tak bergerak sama sekali. Masih di tengah mobil Rey tadi, sambil sesekali bicara sendiri.


__ADS_2