Mata Kedua

Mata Kedua
Nasib Pengirim Teluh


__ADS_3

"Gimana keadaan Fahri?" tanya Rey yang baru tiba menyusul kami, di depan ruang ICU rumah sakit ini.


"Belum tahu, kita lagi nunggu pihak rumah sakit atau keluarganya keluar. Dari pada mengganggu nanti kalau ikutan di dalam," jelas kak Azzam.


"Dokter," panggil Rey pada seorang dokter yang baru mau masuk ke dalam ruangan Fahri.


"Tuan muda Rey?" panggilnya pada kekasih Yumna.


Rey memang orang yang lumayan populer. Meskipun dia pendiam, tapi pengaruh perusahaan keluarganya yang sering donasi ke rumah sakit maupun panti, membuatnya cukup terkenal di negara ini. Sehingga tak heran kalau ada orang yang mengenal namanya, meski dia tak balik mengetahui nama orang lain yang memanggilnya.


"Bagaimana keadaan teman saya, Dok?"


"Dia mengalami gegar otak."


"Lalu, apa bisa sembuh total?"


"Itu masih akan kami pelajari sekarang. Doakan saja agar semua berjalan sesuai rencana," jawab dokter laki-laki tersebut sambil tersenyum ramah.


"Tolong usahakan yang terbaik untuk teman saya di dalam ya, Dok. Apapun yang dokter butuhkan untuk menyelamatkan nyawanya, langsung hubungi saya saja. Ini kartu nama saya," kata Rey memberikan secarik kartu miliknya.


"Pasti, tuan muda Rey. Kami akan terus mengupayakan kesembuhan setiap pasien. Kalau nanti memang dibutuhkan untuk operasi, akan saya hubungi nomor dari kartu ini," kata dokter menunjukkan senyumnya kembali.


"Terima kasih banyak, Dokter. Saya percayakan semua penanganan pada dokter. Kami hanya bisa membantunya dengan berdoa saja," sahut Yumna mengajak dokter laki-laki itu bersalaman, hanya sebagai formalitas penghormatan.


Mata Rey yang tadinya ramah, sedikit berubah menjadi garang. Aku dan kak Azzam yang mengamati, hanya bisa menahan senyum sambil senggol-senggolan kaki.


"Itu yang paling dibutuhkan pasien saat ini. Kalau begitu, saya permisi masuk ke dalam dulu ya," pamit dokter muda itu, mulai membuka pintu ruang ICU.


"Terima kasih," kata Rey mengantar kepergian dokter dari hadapan kami.


"Rey, kok kayaknya kamu niat banget untuk menolong Fahri?" tanya kak Azzam menatap lekat ke arahnya, untuk mengalihkan pikiran Rey yang sedang dimakan cemburu pada Yumna.


"Aku cuma merasa iba. Nasib Fahri tak seberuntung kita. Ibunya seorang single parent, setelah ditinggal lari oleh ayahnya yang pergi dengan selingkuhannya. Hanya dia satu-satunya harapan keluarga, setelah kakaknya pergi terkena serangan jantung juga, karena menahan beban akibat kesalahan dosennya. "


" Hehhh..... Iyaa, kasihan sekali dia. Sekarang sebaiknya kita ke mushola saja. Sebentar lagi adzan ashar 'kan! " usulku.


" Iya, ayo kita doa bersama di sana. Demi kesembuhan Fahri, teman kita, " sahut Yumna setuju.


Kami berempat pergi dari tempat ini. Menuju mushola untuk menengadahkan doa.


****

__ADS_1


Sebulan kemudian,...


" Fahri sudah boleh pulang, " kata Rey memberi kabar gembira saat menjemput kami berdua pagi ini, di rumah Yumna.


" Oh ya? Terima kasih, Rey. Kamu sudah baik membayari semua biaya administrasi, termasuk operasinya Fahri," kataku mewakili.


"Iya, Rey. Aku bangga sama kamu, dan merasa tak salah bergaul bersama kalian," sahut kak Azzam ikut memuji.


"Sudahlah, kalau soal itu jangan dibahas lagi. Nanti sepulang kampus, kita jemput Fahri. Sekalian antar dia untuk menemui Virgin di penjara nanti," tanggapan Rey.


"Lhoh, Fahri sudah boleh pulang?" tanyaku.


"Iya, makanya kita jemput dia. Sekalian mau ke makam kakaknya juga," jawab Rey berjalan mendahului, masuk ke mobilnya yang terparkir rapi.


Kami berempat berangkat seperti biasa. Setelah ku bagikan bekal, kepada yang lainnya.


"Dah baca grup belum? Ariana sudah bisa dibebaskan. Jadi Virgin yang harus menerima hukumannya sendiri," kata Yumna membuka obrolan saat mobil mulai berjalan.


"Oh ya? Tapi kok aku gak pernah lihat Ariana di kampus kita?"


"Dia pindah ke luar kota, bersama semua keluarga besarnya. Mungkin malu juga."


"Kalau Virgin sepertinya sudah lebih khusuk dalam memperdalam ilmu agama. Jadi dia terlihat lebih ikhlas menghadapinya," sahutku.


"Iya. Aku lupa belum cerita ya? Pokoknya dia sudah berubah 180° sekarang. Juga sudah berhijab."


"Alhamdulillah kalau begitu. Jadi malu sama diriku sendiri, yang masih sering menunda waktu sholat setiap hari," sahut Yumna


"Iya, aku juga. Semoga kita bisa sama-sama belajar menjadi lebih baik lagi ya!"


"Insyaa Allah," jawab kami bersama, kemudian tertawa.


"Oh iya, bagaimana kabar kakak dari mahasiswi itu ya?" tanya kak Azzam dari kursi depan.


"Nah, kemarin Fahri bilang sempat bertemu dengannya. Masuk ke rumah sakit yang sama," jawab Rey dari belakang kemudi.


"Dia sakit apa?"


"Kata Fahri, laki-laki itu mengaku menyesal sekali. Setelah kanker otak mulai menjalar di kepalanya. Dan dia mengakui semuanya."


"Mengaku apa?" tanya kami bersama.

__ADS_1


"Mengaku kalau sebenarnya, penyebab sakit jantung kakaknya Fahri itu juga salah satu ulahnya. Dia mengirim teluh terus menerus untuk meneror, sampai tujuan akhirnya tercapai. Membuat targetnya kehilangan nyawa, setelah sempat dipermainkan dengan boneka fudu juga"


"Astaghfirullah. Dendam yang ada di kepalanya, pada akhirnya bisa menghancurkan dirinya sendiri. Semoga kita semua dijauhkan dari sifat seperti itu. Na'udzubillahimindzalik," kata kak Azzam menanggapi.


"Aamiin," jawab kita bersama dalam mobil ini.


Perjalanan masih kami lalui. Tanpa adanya hambatan sama sekali. Sampai kami tiba di depan sebuah sekolah taman kanak-kanak, seorang anak laki-laki sedang berdiri di tengah jalan kami. Bersama seorang anak perempuan pucat di sebelahnya, yang sepertinya mirip dan seumuran juga dengannya.


"STOOOOP!!" teriak kami bersama, membuat Rey menghentikan mobil, tepat di hadapan mereka berdua yang sedang memejamkan mata.


Teriakan demi teriakan dari pinggir jalan mulai bermunculan. Termasuk seorang wanita muda, yang langsung berlari, untuk menggendong anak laki-laki itu menjauhi jalan raya. Sedangkan anak perempuannya ditinggal begitu saja.


"Apa dia bukan manusia?" tanyaku dan Yumna bersama, saling tatap setelah menunjuk ke arah anak perempuan yang sedang sedih di tengah jalan.


Aku dan Yumna yang merasa ada kejanggalan, langsung minta Rey untuk menepikan mobil sejenak. Menghampiri anak yang ditinggalkan wanita tadi, di tengah jalan, tepat di depan mobil Rey ini.


"Dek, kamu tak apa?" tanyaku membuatnya mendongakkan kepala.


Wajah pucatnya mulai terlihat jelas, kalau dia bukanlah manusia.


"Apa kamu saudaranya anak laki-laki tadi? Kalian mirip sekali," kataku lagi.


Bukannya menjawab, anak perempuan itu langsung menghilang dan pergi dari hadapan kami.


"Lah, ngomong sendiri dong kita," sahutku merasa dicuekin oleh hantu kecil tadi.


"Bukannya memang kamu lagi ngomong sendiri? Tuh, orang-orang lagi pada lihatin kamu di sini," tunjuk Yumna dengan mengangkat dagunya, agar aku melihat sekeliling kami.


"Eh, iya bener. Ya sudah, ayo kita cari anak laki-laki tadi. Kayaknya dia gak bisa ngilang kayak saudara kembarnya ini," ajakku menggandeng Yumna masuk ke area taman kanak-kanak.


"Dari mana kamu tahu, kalau mereka kembar?"


"Asal nebak aja. Tapi untungnya ada yang percaya, hehe......," senyumku mengejek Yumna.


"Apaam sih! Basi!" jawabnya tak terima.


"Sudahlah, tak usah diperpanjang masalah itu. Maafkan aku ya!"


"Iya, sama-sama!"


"Eh, itu kayaknya anak laki-laki tadi yang sedang ditenangkan di depan ruang perawatan sekolah."

__ADS_1


"Iya, ayo kita samperin mereka!" semangatku langsung menarik tangan Yumna tanpa kira-kira, membuatnya meringis seketika.


__ADS_2