Mata Kedua

Mata Kedua
Kisah Kembaran Bian


__ADS_3

"Astaghfirullah. Berarti kakak Bian memang dibawa kabur, kemudian dijadikan sebagai tumbal kesaktian?" tanya Yumna.


"Mungkin juga. Sejak kapan Bian mulai terlihat ditemani kakaknya?" tanyaku menatap Rima.


"Dulu Bian anak yang pendiam dan murung sekali. Tapi kurang lebih satu bulan belakangan ini, dia mulai bisa tersenyum ceria. Mulai asik bisa bermain sendiri sambil tertawa. Seperti ada yang menemaninya, padahal saya tak melihat siapapun di sekitarnya," jelas Rima.


"Apa itu berarti, saudara kembar Bian baru saja ditumbalkan? Sekitar sebulan yang lalu?" tanya Yumna.


"Bisa jadi saudara Bian baru sebulan ini menemui Bian. Tapi kita tak bisa memastikan, sejak kapan dia dijadikan tumbal oleh dukun itu," ujarku.


"Iya, bisa jadi seperti itu!" kata Yumna lagi.


"Kalau ayah Bian tahu bahwa saudara kembar Bian masih hidup selama ini, pasti dia menyesal sekali tak sempat menyelamatkannya. Soalnya sejak dulu ayah Bian selalu bersikeras, tak pernah mau membuat makam untuk anaknya yang dibawa kabur dukun itu. Padahal banyak keluarganya yang meminta untuk dibuatkan makam sebagai simbol kalau memang dia sudah tiada," sesal Rima.


"Kasihan ayahnya Bian," tanggapanku membayangkan perasaan mereka.


"Kami sudah mencari anak itu sampai setahun lebih, setelah kelahiran Bian dan saudara kembarnya. Tapi tak ada sedikitpun informasi yang kami dapat. Sampai akhirnya ayah Bian memutuskan pindah ke kota ini, demi meninggalkan kenangan buruk di rumah lama."


"Sesuai saran dari keluarga besar mereka, karena ibu Bian sempat menghantui semua yang menginap di rumahnya, " lanjut Rima.


"Menghantui bagaimana?" tanyaku.


"Hehhh..... Banyak sekali gangguan itu. Tapi intinya, dia selalu menanyakan keberadaan anaknya."


"Lalu, apa sekarang sudah tak mengganggu lagi setelah kalian pindah kemari?"


"Lebih tepatnya setelah dipanggil orang pintar untuk membuatnya tenang menuju alam baka," jelas Rima.


"Lha kenapa pindah kalau sudah tak mengganggu lagi?"


"Ayah Bian ingin menata hidup barunya di sini. Meski ternyata sampai sekarang, dia terus gelisah dan tak mau mencari istri sekaligus ibu untuk Bian. Dulu saya sempat ingin berhenti kerja juga, tapi keluarga mereka menghalanginya."


"Kasihan Bian kalau kamu berhenti kerja. Sebaiknya temani Bian. Katamu ayahnya Bian sekarang suka menyibukkan diri?" sahut Yumna.


"Iya, temani Bian. Paling tidak sampai ada ibu yang merawatnya dengan baik suatu hari nanti. Trus kalian tak pernah pulang ke desa itu lagi berarti?" timpalku.


"Tidak, sudah lama kami tak ke sana. Saya masih ngeri mengingat teror dari ibunya Bian," jawab Rima bergidik ngeri.


"Itu Qorin, tak usah takut kalau kamu tak berbuat salah," kata kak Azzam yang tiba-tiba menyahuti.

__ADS_1


"Eh, maaf. Ini teman kami. Kalau begitu, kami pamit pulang dulu. Ini kartu nama saya,, hubungi saya kalau Bian kena gangguan dari kakaknya," kataku memberikan secarik kartu.


"Baiklah, semoga dia tak aneh-aneh membahayakan dirinya sendiri lagi. Terima kasih sudah mau mendengar ceritaku," jawab Rima menerima kertas pemberianku.


"Sama-sama. Maaf kalau ada kata-kata dari kami yang kurang berkenan hari ini. Assalamu'alaikum," kataku sebelum melangkah kembali ke mobil Rey yang menunggu kami.


"Wa'alaikumsalam," jawabnya pendek.


Kami kembali melanjutkan perjalanan ke kampus. Masih dengan membahas cerita tentang Bian. Malah kak Azzam menyahut kalau dia tak terlalu suka dengan ekspresi Rima, saat bercerita tentang tuan dan nyonya yang katanya menghantuinya.


"Kenapa kakak gak suka?" tanyaku masih dalam mobil yang berjalan.


"Ya nggak suka aja. Kayaknya dia lagi mencari pembenaran diri."


"Mungkin karena dia merasa bersalah, atas kematian ibu Bian," kata Yumna ikut menanggapi.


"Iya, mungkin juga ya," sahutku.


"Entahlah, aku tak terlalu paham sama ceritanya. Tapi saat dia bercerita, kelihatan kalau semua ceritanya mengarah pada kebaikan dia agar tak disudutkan pada kematian ibu Bian."


"Ya sudah, gak usah diributkan lagi soal Rima. Semoga Bian tetap baik-baik saja," kataku memutus obrolan tentang Bian dari tadi.


" Kami turun duluan ya. Ayo Yumna!" ajakku meminta mobil berhenti.


Tak lama, Rey menuruti kemauan kami. Yang membuat kami berdua segera turun, menjauh mobil ini yang juga melaju pergi meninggalkan kami, ke parkiran kampus ini.


"Mau kemana sih? Buru-buru banget!"


"Mau cek loker F66."


"Ngapain? Kan terornya udah gak ada!"


"Gak apa, iseng aja."


"Hehhh.... Ya sudah, ayo!"


Kami melangkah masuk ke ruangan loker. Hawa yang semula negatif, sudah tak terlalu terasa di sini. Sampai kami mendekati loker yang kami cari, masih tak terkunci.


'krieettt.....'

__ADS_1


Suara pintu loker mulai terbuka. Kosong, tak ada apa-apa. Dan aku lega sepertinya semua sudah berakhir begitu saja. Tapi saat pintu hendak ku tutup lagi, ada kertas putih yang terlihat menyelip diantara kayu pembatas antara loker sebelahnya.


"Apaan?" tanya Yumna yang melihatku menarik kertas itu.


"Gak tahu. Kayak kertas apa ya?"


Sedikit hati-hati, akhirnya bisa ku tarik juga kertas yang sepertinya baru saja di tulis ini.


"Kita baca di taman saja ya. Kayaknya ini surat baru. Kertasnya masih sangat bagus soalnya," usulku.


" Iya, ayo. Di sana cahayanya lebih terang juga.


Kami melangkah bersama ke taman yamg letaknya tak jauh dari ruang loker. Mencari duduk di bawah pohon rindang, dengan hawa semilir yang mengenakkan.


" Kita baca bareng ya, " ajakku pada Yumna saat surat mulai ku buka.


"Boleh. Aku juga penasaran soalnya," cengir Yumna seperti biasa.


'Sha.... Sudah ku balaskan dendammu pada lelaki yang membuatmu terluka. Lelaki yang telah merenggut kehormatanmu, sampai membuatmu terlena. Hingga rela memberikan nyawa.


Adikku, maafkan kakak yang selama ini salah dalam mengeksekusi orang. Ku kira Azziz yang melakukan. Terlanjur dia ku teror hingga kehilangan nyawa. Dan aku baru tahu, kalau mantan dosenmu yang melakukannya.


Shaa..... Kakak lega meski sekarang kakak harus menanggung akibatnya. Menderita penyakit otak, karena pikiran kotor untuk melenyapkan orang, yang selalu terngiang di kepala.


Adekku.... Tunggu kakak di sana. Meski pada akhirnya kita mungkin tak bisa bersatu di neraka, tapi kakak akan mencoba mencarimu saat ajal sudah datang menjemputku.


Tunggu kakak, adek kecilku...... '


Tulisan rapi seorang laki-laki membuat kami trenyuh sendiri. Tanpa membenarkan sikapnya sama sekali. Yang penting masalahnya sudah beres di sini.


"Aish kok tiba-tiba tadi pengen buka loker tadi? Kenapa?"


"Gak tahu, tapi aku kayak ketarik aja pengen ngecek ke sana. Apalagi semalam aku bermimpi, ada seorang gadis yang berterima kasih dan menyuruhku untuk membuka lokernya."


"Apa mungkin mahasiswi itu?"


"Entahlah, aku sendiri tak sempat berkenalan dengannya. Yang penting sekarang sudah jelas semuanya. Kita doakan saja kakaknya diampuni dosanya, dan baik-baik saja."


"Ya sudah kalau begitu, yuk ke kelas. Tuh mereka dah mau ajak kamu!" tunjuk Yumna pada kak Azzam dan Rey yang melangkah mendekati kami.

__ADS_1


__ADS_2