
"Janin?" tanyaku dan Yumna bersama.
"Sebenarnya sudah berwujud bayi pada umumnya. Karena dia sudah lahir sesuai waktunya. Tapi ditinggal begitu saja dalam loker F66, masih dengan ari-ari yang menempel pada pusar. Kalian belum lihat grup chat kampus? Kayaknya semua lagi heboh umumin ini lo," tanya kak Azzam heran.
"Belum sempat. Memang ceritanya gimana? Memang lokernya punya siapa?" tanyaku lagi bertubi-tubi.
"Ceritanya loker F66 itu dari dulu tak pernah dipakai. Jadi mudah untuk pelaku menaruh bayinya di situ."
"Kenapa gak pernah dipakai?"
"Menurut teman-teman yang tahu, dulunya loker itu punya seorang mahasiswi yang nekat mengakhiri hidupnya di depan rumah kekasihnya."
"Lhah, kok tragis juga pemilik sebelumnya?" tanyaku lagi.
"Iya, katanya sih loker itu tak pernah dikunci, setelah sempat dibongkar paksa keluarganya. Yang ternyata menemukan tes kehamilan di sana, dan dinyatakan positif juga. Eh, sekarang malah ada anak yang dibuang di sana," ucap kak Azzam geleng-geleng kepala.
" Memang kapan pemilik loker itu mengakhiri hidupnya? " tanya Yumna ikut penasaran juga.
" Sekitar lima belas tahun yang lalu."
" Lalu apa penyebab dia mengakhiri hidup itu karena kekasihnya tak mau bertanggung jawab pada kehamilannya?" tebakku semakin penasaran.
" Iya, itu penyebabnya. Tapi itu sudah kejadian lama. Dan tak pernah ada lagi gangguan di kampus kita. Setelah jasad kekasihnya yang terkena serangan jantung saat mengikuti ujian kelulusan dikebumikan keluarganya."
" Na'udzubillahimindzalik, " seruku ikut membayangkan kejadiannya.
" Terus apa jasad bayi itu sudah diamankan polisi?"
" Sudah, masih dicari pelakunya. Tapi bukan itu yang aku khawatirkan sekarang, "ucap kak Azzam menerawang ke langit ruangan.
" Apa? " tanyaku serempak lagi bersama Yumna.
" Bayi bajang. Kalau janin itu memang sengaja dibuang, dia akan berusaha membalas dendam," ucap kak Azzam dengan suara dibesar-besarkan, dan tangan seperti hendak menerkam berusaha menakutiku dengan tingkah anehnya.
"Aaaaaaarrgghhhh.....," teriak Louisa, anak kak Raisha, malah terdengar dari depan pintu kamar neneknya.
__ADS_1
Kami semua langsung melongok ke sana. Ternyata ada ular hitam besar melingkar di atas kasur. Seperti bukan ular yang sebenrnya.
"Baca doa sebisanya! Amankan dulu anak kak Raisha," seru kak Azzam sebelum memimpin doa.
Ibu kak Raisha langsung membawa cucunya ke ruang tamu lagi. Memangku dan mengelap sisa tangis yang sempat keluar karena ketakutannya. Sedangkan kak Azzam mulai memimpin doa.
" Bismillahirohmanirohim...... Hai bumi, Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah. Aku berlindung kepada Allah dari kejahatanmu, kejahatan barang yang ada padamu, kejahatan barang yang berjalan di atasmu. ALLAHU AKBAR!" teriak kak Azzam pada ular yang mulai berjalan pelan, keluar melewati lubang kecil dari jendela kamar.
Kak Azzam masih nampak terus berdoa. Membaca ayat-ayat suci Al Qur'an dari gerak bibirnya tanpa suara. Masih sambil memejamkn mata. Sampai beberapa menit kemudian, dia mulai bersuara.
"Sepertinya kita harus pindah sekarang juga," ajaknya menatap Rey.
"Oke, kalian bantu bereskan barang-barang yang penting saja. Saya akan menghubungi orang yang bisa mengangkut ke rumah kafe," ucap Rey mengambil gawai dari saku, kemudian berbicara dengan seseorang dari sambungan telepon selulernya.
Semua bersiap membantu pindahan. Termasuk berpamitan pada para tetangga, dan cuma mengatakan kalau mau ke luar kota. Sesuai saran dari kak Azzam tadi, kalau suatu saat ada orang yang mencari kak Raisha ke tetangga.
"Terus, jin yang di rumah ini tak tahu kalau kita pergi ke mana?" tanya kak Raisha.
"Insyaa Allah tak tahu. Saya sudah berusaha menutup pendengaran mereka, semenjak kedatangan saya tadi pagi. Mencoba yang pernah diajarkan pak Abu, sebelum saya datang ke negara ini. Makanya dia tak berani memunculkan wujud aslinya, karena selalu waspada. Hanya berani menunjukkan eksistensinya saja," jelas kak Azzam.
" Alhamdulillah, ayo kita bergegas pergi dari tempat ini. Itu mobil pickup nya juga sudah datang," ajak ibu kak Raisha sambil menggendong cucunya.
Semua orang masuk ke dalam mobil Rey. Sedangkan beberapa barang yang dibawa hanyalah yang penting saja. Diangkut dengan menggunakan mobil yang sudah disewa Rey sebelumnya.
Obrolan dalam mobil mulai ramai, dengan godaan kak Azzam pada Louisa, yang sebenarnya memiliki karakter pendiam. Tapi entah kenapa, saat bersama kak Azzam dia merasa seperti menemukan sahabat baru yang bisa membuatnya nyaman.
Memang kak Azzam pandai sekali mengambil hati orang. Termasuk Louisa, anak kecil yang masih polos dengan kejujuran hati sampai terkesan. Membuatku semakin jatuh cinta lagi, setiap waktu yang kami lalui bersama.
"Sampai, itu kafenya!" ujar Rey mempersilahkan keluarga kak Raisha masuk ke dalam, melalui pintu samping kafe yang baru dibuka.
Kafenya nampak benar-benar mengagumkan. Tak sebesar pujasera, tapi sangat nyaman untuk pemuda yang ingin sekedar nongkrong bersama. Dan yang penting tak terlihat gangguan untuk keluarga kak Raisha, meskipun ada beberapa makhluk iseng yang sudah ditangani Rey sendiri saat kami baru saja tiba.
****
Pagi ini, kami ke kampus seperti biasa. Rencananya, kafe akan buka seminggu lagi, menyelesaikan pembangunan di beberapa sudut ruangan. Jadi sementara, kita masih bisa fokus pada kampus.
__ADS_1
"Mau lihat lokernya tidak?" tanya kak A, zam setelah kita turun dari mobil bersama.
"Boleh, aku juga penasaran. Apakah benar akan ada bayi yang sempat kakak ceritakan kemarin?" tanyaku mengikuti langkah kak Azzam.
"Haduh, mulai deh pasangan kepo beraksi di kampus ini," canda Yumna yang ternyata ikut di belakang kami juga, bersama kekasihnya.
"Biarin kepo, daripada situ yang suka ngejek, tapi ternyata sama penasarannya juga. Hahahaaa.....," balas ledekku pada Yumna, membuat kami tertawa bersama.
Sesampainya di jajaran loker, murid-murid seperti sedang terburu-buru. Mengambil dan menaruh seperlunya dalam loker mereka. Seperti ada rasa ketakutan yang sedang melanda kampus ini.
" Apa-apaan sih? Pakai lari-lari begitu?" gumamku masih diam berdiri mengamati bersama ketiga sahabatku.
'OOOOEEEEKKKKKK........'
Suara bayi mulai menebarkan terornya di kampus ini. Sepertinya semua yang di sini ikut mendengarnya juga. Membuat mereka semakin kalang kabut saja.
'OOOOOEEEEKKK.........'
Tangis anak itu masih terus menyelimuti ruangan ini.
"Ayo kita cek ke loker F66!" ajak kak Azzam menggandeng pergelangan tanganku agar aku terus maju.
Pelan-pelan kami mendekatu loker itu, dengan suara bayi yang semakin lekat berasal dari situ.
"Bismillah, Kak!" seruku mengingatkan.
Kak Azzam diam sebentar. Membaca beberapa ayat Al Qur'an, kemudian membukanya pelan.
'Gggggrrrrrr.........'
Nampak seorang bayi laki-laki dengan posisi merangkak di dalam loker tersebut. Dengan geraman marah, gigi tajam, dan wajah penuh dengan darah.
"Kenapa kamu masih di sini? Pergilah dengan tenang anak baik!" kata kak Azzam menenangkan.
"Iya, kamu itu masih suci. Biarlah orang tuamu mendapatkan karmanya sendiri," sahut Yumna dari belakang kami.
__ADS_1
"Apa dia itu benar-benar bayi yang dibuang? Kenapa wajahnya nampak lebih mengerikan dari bayi pad umumnya?" tanyaku masih belum terlalu paham.
"Itu hanya qorinnya. Jin yang menyerupai, bukan arwah bayi yang sebenarnya. Karena arwahnya insyaa Allah sudah tenang kembali ke surga. Sedangkan dia yang penuh dendam, akan merubah fisiknya semakin menakutkan," jelas kak Azzam pada kami semua.