Mata Kedua

Mata Kedua
Petunjuk Sosok Tak Kasat Mata


__ADS_3

"Tolong aku...., hikk.....," katanya masih membelakangiku.


"Apa yang bisa aku lakukan? Kenapa kau menarikku ke sini?" tanyaku masih menatap sosok yang berjongkok di antara alang-alang yang tinggi.


"Aku, hik...hik.......," tangisnya lagi.


"Aku ingin agar kau bisa mencarikan keadilan untukku. Agar orang yang menghilangkan nyawaku dan anakku bisa mendapatkan hukuman yang setimpal," lanjutnya.


"Maksudnya?" tanyaku masih belum mengerti untuk memulai.


"Temukan lelaki itu!" jawabnya singkat masih terlihat berjongkok dan mengelus bungkusan permen mini di tangannya, saat aku coba lebih dekat.


"Bagaimana aku bisa mencari dia, kalau aku tak tahu petunjuk apapun tentangnya? Dan kenapa tak kau sendiri yang mencarinya?"


"Cari dia yang telah menjadi suami ibuku. Aku.... Aku tak bisa mencari karena dihalangi oleh kekuatan yang sengaja melindunginya," jawabnya mulai berdiri, meski masih membelakangi.


"Lalu, dimana aku bisa mencari petunjuk selanjutnya? Dimana rumah ibumu? Siaoa nama lelaki itu?" tanyaku bingung.


"ROOOOYYY........!!!!"


Wanita itu langsung berteriak, tepat mendekat ke wajahku. Tak lebih dari sepuluh senti wajah gosongnya berada di depan mukaku.


"Astaghfirullah....," teriakku kaget karena tatapan itu.


Aku baru sadar kalau itu hanya mimpi belaka. Itu sedikit membuatku lega, meski masih ada beban di dada.


Bunda dan umi yang berada di sebelah kasur kak Azzam, langsung berdiri dan berjalan ke arahku. Sepertinya mereka mendengar teriakanku.


"Kenapa? Apa ada yang mengganggu tidurmu?" tanya bunda mengusap keringat dingin dari dahiku.


"Aish mimpi, ada yang membutuhkan pertolongan Aish lagi," jawabku.


"Tak usah kau hiraukan. Itu cuma mimpi, daripada terus kau pikirkan. Mereka memang selalu mengganggu ketengangan hidup setiap manusia," jawab kak Azzam dari atas ranjangnya, sambil memainkan game di ponselnya.


"Tapi rasanya benar-benar nyata. Aku seperti merasa, ada beban kalau belum menyelesaikan. Apa kakak tak pernah merasakan seperti itu sebelumnya?" tanyaku pada kak Azzam yang sama-sama suka mencampuri urusan para makhluk yang tak terlihat mata manusia biasa.


" Kalau begitu, ikuti kata hatimu. Yang penting, kalau itu bahaya untukmu, sebaiknya hindari itu. Aku tak ingin kehilangan kamu," kata kak Azzam menaruh ponselnya, dan melihatku dengan tatapan tanpa penuh makna.

__ADS_1


"Azzam, ingat tujuanmu sekarang. Tak usah pakai acara cinta-cintaan, kalau belum bisa mendapatkan pekerjaan," kata umi mengingatkan anak semata wayangnya.


"Rejeki itu bisa datang kapan saja, yang penting kita usaha dulu sebelumnya. Sekarang usaha cari pasangan dulu sebelum usaha buat menafkahinya," cengir kak Azzan iseng seperti biasa.


"Selalu, bisa aja jawabnya kalau dikasih tahu orang tua," kata umi tersenyum sambil geleng-geleng kepala.


"Maaf, Um. Cuma bercanda, he.....," kata Kak Azzam langsung.


"Aish ijin mandi dulu ya. Pagi ini ada jadwal kuliah. Kemarin sudah bolos sehari juga," pamitku beranjak berdiri, tanpa menanggapi obrolan pagi ini.


"Iya, Sayang. Sudah adzan juga 'kan," kata bunda mengingatkan suara adzan subuh di tv yang baru dinyalakan.


Rasanya aku lagi tudak ada mood untuk brrcanda. Jadi tak lagi ku tanggapi obrolan mereka, untuk melangkah ke kamar mandi saja. Karena masih kepikiran mimpi dari wanita yang ingin diungkap kasusnya.


****


Sepulang sekolah, bunda sudah menjemputku di depan kampus. Sambil berdiri di sebelah taksi, bunda melambaikan tangan agar aku mendekat ke tempatnya.


"Kita cari motor buat kamu ya!" kata bunda setelah aku sudah berada tepat di hadapannya.


"Buat semua kegiatanmu di sini."


Aku berusaha menolak, karena tak ingin membuang uang bunda dengan percuma. Masih banyak keperluan yang aku butuhkan dalam memenuhi tugas kuliah, sampai beberapa tahun lagi untuk menyelesaikan sekolah.


Tapi bunda terus memaksa, dan beliau bilang kalau aku tak perlu merisaukan kalau soal biaya. Akhirnya ku turuti saja, karena bunda juga tahu kalau aku sering membantu para korban yang tak tenang seperti sekarang yang sedang ku pikirkan.


Tak perlu waktu lama, sepeda motor sudah ku dapatkan. Aku langsung mengajak bunda, untuk mencari petunjuk di tempat wanita yang menemuiku dalam mimpi semalam. Ke tempat ditemukan jasadnya, beserta bayi yang dibungkus ala kadarnya.


Ku cari di lokasinya, yang tak jauh dari kampusku berdiri. Sesuai arahan suster yang sempat ku temui sebelum berangkat ke kampus pagi tadi.


Sesampainya di tempat itu, ternyata persis seperti suasana dalam mimpiku. Dan polisi juga masih ada yang mencari petunjuk di jajaran alang-alang yang rimbun.


"Bunda tanya sama polisi dulu ya, apa ada petunjuk yang di dapat mereka?" usul bunda setelah kita berdua memarkir sepeda motor di pinggir jalan, sebelum masuk ke area yang diberi police line.


"Iya, aku akan mencari petunjuk lain. Ke warung yang tak jauh dari sini," tunjukku pada sebuah warung sederhana tepat di depan kaeasan ini.


"Oke, paling lama kita ketemu satu jam lagi di sini. Paling tidak sebelum adzan magrib berkumandang," kata bunda.

__ADS_1


"Siap!" ucapku sambil mengangkat tangan, dengan gaya seperti memberi penghormatan.


"Bisa aja!" kata bunda mengusap kepalaku pelan, lalu berbalik arah menuju ke tempat tujuan masing-masing.


Baru selangkah hendak ke warung itu, aku seperti mendengar suara seorang wanita. Tapi tak nampak wujudnya. Jadi ku putuskan berbalik arah tak jadi ke warung yang sempat menjadi tujuanku sebelumnya.


"Ke kanann......"


Aku ikuti saja langkahku sesuai arahan itu. Pelan aku berjalan, sambil mengamati langkahku pergi. Sampai terlihat sesuatu nampak melambai di balik pohon yang tinggi.


"Oh, oke......!" ucapku mempercepat langkah mendekati.


Sampai di pohon itu, aku menemukan sebuah kalung berliontin bintang. Dengan nama 'Riri' di tengahnya. Tapi sosok tadi sudah tak ada.


"Kemana dia tadi ya?" gumamku masih mengamati kalung dan sekitar tempat ini.


"Riri..... Kamu dimana?" tanyaku lagi.


Sepi.... Tak ada jawaban. Di tempat yang banyak pohon mangga berjajar rapi. Tapi aku lihat beberapa makhluk lain sedang ikut mengamatiku di sini.


"Permisi.... Apa ada yang mengenal Riri?" tanyaku mendongak ke atas pohon-pohon yang tinggi. Tapi mereka malah bersembunyi.


"Hehh.... Baiklah, akan aku cari ke daftar pencarian orang hilang kalau begitu," gumamku sambil berbalik arah ke tempat bunda tadi.


Sambil berjalan, sambil ku buka ponsel di tangan. Mencari daftar nama orang hilang, yang beberapa waktu ini sempat terjadi di sekitar daerah sini. Sampai jempolku menghentikan sebuah berita, yang tertera di layarnya.


"Riri Nurhaliza..... Apa ini berita dengan orang yang sama? Soalnya sosok itu tak menampakkan wujudnya seperti foto anak ini. Gosong dibagian wajahnya," kataku sendiri masih terus berjalan.


'Brukkk......'


Tak terasa tubuhku menabrak seseorang yang berdiri di pinggir jalan, hendak menyebrang ke warung depan.


" Auu.... Maaf, " kataku menundukkan kepala.


" Eh, kamu Aish kan? " tanyanya membuatku langsung mendongakkan kepala.


"Kamu.... Ronald?" tanyaku kaget dibuatnya.

__ADS_1


__ADS_2