
"Megan.... Aku sudah membuatnya celaka karena melindungiku. Dia terkena tebasan pedang, yang biasa dipajang di ruang tamunya. Huhuhuuu......," tangis Dini.
"Lalu bagaimana keadaannya?" tanyaku.
"Kepalanya putus, dia sudah tak bernyawa saat aku meninggalkan jasadnya. Aku hanya bisa lari, karena ancaman Alif yang semakin mengerikan," jelas Dini.
"Maaf, ini juga salahku. Alif mungkin tahu kalau kamu di rumah Megan, karena mendengar ceritaku pada teman-teman. Aku tak tahu kalau dia masih menguping pembicaraan kita," ungkap Yumna ikut merasa bersalah.
"Memang apa yang ingin diperbuat Alif? Dan kenapa dia jadi brutal seperti itu?" tanyaku sambil memeluk Yumna dari samping, untuk menenangkannya.
"Alif hanya ingin memilikiku seutuhnya. Sampai tak membiarkanku jauh darinya. Tapi semua ini salahku juga," tunduk Dini sedih.
"Rey, hubungi kepolisian. Biar datang ke rumah Megan," usul kak Azzam sedikit memotong pembicaraan.
"Iya, akan ku hubungi sekarang. Kira-kira berapa korban yang ada di rumah Megan?" tanya Rey sambil menunggu sambungan teleponnya diangkat.
"Megan sama asisten rumah tangganya. Kebetulan kedua orang tuanya sedang ke luar kota," jawab Dini pelan, namun terlihat banyak penyesalan.
"Oke, lanjutkan saja ceritanya. Aku ke depan sebentar," kata Rey manjauhi kami untuk menelpon polisi.
"Tadi kamu bilang, semua ini salahmu! Memang apa yang sudah kamu lakukan?" tanyaku berharap Dini bisa menjelaskan dengan sejujurnya, karena kami hanya menebak ada hubungannya dengan guna-guna.
"Awalnya.... Aku dan Alif sepasang kekasih yang kalian sendiri sudah tahu, betapa lengketnya kami. Tapi itu semua berubah, saat Alif tahu aku mengandung anaknya, dan memintaku menggugurkannya."
"Astaghfirullah. Jadi kamu sekarang hamil?" tanyaku lagi.
"Tidak. Karena aku sudah menyerahkan janinku sebagai tumbal perjanjian."
"Perjanjian dengan siluman?" tanyaku lagi.
"Aku bingung saat itu. Alif hanya memintaku menggugurkan, tapi tak mau menemani bahkan malah menjauhi. Dengan mudahnya dia dekat dengan wanita lain, di kampus kita juga!" tangis Dini meluapkan emosi.
"Tenang dulu. Istighfar dulu!" ajakku.
"Aku tak tahan melihat sikapnya. Jadi benar-benar ku gugurkan janin dalam kandunganku. Lalu.....,nenek yang membantu persalinan paksa itu menyarankan, untuk menyerahkan janin itu sebegai kesepakatan saling menguntungkan sebagai bentuk perjanjian."
"Kata nenek itu, aku bisa mendapatkan Alif lagi kalau mau melakukannya."
"Kamu pasti mau 'kan!" tebakku yakin.
"Aku pikir, itu banyak menguntungkanku. Selain aku bisa mendapatkan Alif lagi, aku tak perlu kebingungan membuang jasad janin yang sudah keluar."
"Hehhh.... Lalu setelah itu, apa ritual yang kamu lakukan?"
"Aku disuruh mandi dengan air bunga, yang sudah digunakan untuk mencuci janin yang berlumuran darah. Kemudian memasukkan sedikit air bekas mandiku, ke dalam botol kecil sebagai pegangan. Sedangkan jasad bayi itu dibawa nenek entah kemana? Huhuhuuu.... Aku menyesal! "
__ADS_1
"Pegangan apa maksudmu?"
"Selain aku harus mencampur air itu pada makanan Alif, aku juga harus terus membawa botol itu kemana-mana. Jadi kalau Alif sudah mulai berpaling, aku harus menuangkan lagi pada makanannya," jelas Dini semakin pelan saat menjelaskan.
"Lalu dimana botol itu?" tanyaku.
"Tertinggal di rumah Megan."
"Oke, lalu apa yang terjadi pada Alif setelah makan campuran cairan itu?" tanya kak Azzam mulai penasaran.
"Alif memang langsung kembali jatuh cinta lagi padaku. Karena aku ingin cintanya semakin banyak, terus saja ku teteskan pada makanan yang dia makan setiap kali kencan."
"Ternyata, dia sampai posesif seperti itu. Bahkan mengancam menghabisi nyawaku, kalau aku menjauh darinya. Aku takut, tapi tak bisa berbuat apa-apa selain bersembunyi di tempat lain."
'Tuliliiiitt......'
Suara ponsel dari saku celana Dini berdering kencang. Ada nama ibunya yang tertera dari layarnya.
" Ibu? Tumben cari aku? Biasanya cuma sibuk sama pekerjaannya saja, " gumannya menghapus air mata, sebelum mengangkat telepon.
Ibu Dini seorang single parent. Jadi beliau bekerja keras sendiri, untuk mencukupi kebutuhan anak semata wayangnya. Tanpa terpikirkan, kalau kasih sayang juga dibutuhkan oleh anaknya. Sampai akhirnya Dini terjerumus dalam pikiran sesat para pengikut setan.
"Haloooo...... Haloooo......eh... Ini siapa?" tanya Dini langsung mengeraskan volume suaranya.
"Kamu tak ingat siapa saya?"
"Pulang, atau ku habisi nyawa ibumu!"
'Ceklek... Tut.. Tut.... Tutt......'
Sambungan terputus sebelum Dini melanjutkan pertanyaan.
"Ibu dalam bahaya. Aku harus menyelamatkannya," ucap Dini mulai berdiri.
"Meskipun aku tak pernah ditemani di rumah, tapi aku yakin sebenarnya ada rasa sayangnya untukku. Huhuhuuu.......!" panjutnya sambil menangis dan mulai melangkah.
Tanpa menunggu lama, kami langsung mengikuti langkah kaki Dini berjalan keluar kafe. Rey yang sudah berada di depan, siap mengantar setelah kami ceritakan tentang keadaan ibu Dini sekarang.
Beberapa menit kemudian, kami sudah sampai di depan sebuah rumah megah milik Dini. Tapi terlihat sepi sekali, dengan energi gelap yang sangat terasa dari dalam sana.
"Pak.... Buka pintunya!" panggil Dini dari luar gerbang.
"PAKKKK.....!" teriak Dini semakin kencang.
"Tak ada cara lain untuk membukanya selain dari dalam?" tanyaku.
__ADS_1
"Kita panjat saja!" usul kak Azzam.
"Oke, tak terlalu tinggi juga sepertinya," jawabku.
"Aku gak bisa panjat. Salah satu saja yang naik, nanti pencet tombol merah di pos satpam," usul Dini.
"Ya sudah, aku yang naik!" kata kak Azzam.
Kami semua masih menunggu dengan sabar, ketika kak Azzam naik ke gerbang.
"Hati-hati, Kak!" suaraku.
"Insyaa Allah!"
Kak Azzam sudah tak nampak lagi di depan kami, karena tertutup gerbang sebagai penghalang. Dari suaranya, sepertinya kak Azzam sudah mulai turun dan melangkah ke pos satpam.
"Astaghfirullah..... Innalillahi wa innaillihi roji'un," kata kak Azzam dari dalam.
"Kenapa?" teriak kami yang masih ada di luar.
Perlahan tapi pasti, suara gerbang mulai terbuka lebar. Kami yang tadinya masih di luar, langsung berlari ke dalam.
Kak Azzam masih terdiam. Menunjuk pada seseorang yang tergeletak berlumuran darah karena tebasan pedang tajam. Sampai membuat kepalanya menggelinding jauh dari tubuhnya.
"Pak... Huhuhuu.... Ibu.....," teriak Dini berlari ke dalam, setelah melihat penjaga rumahnya tewas mengenaskan.
"Jangan disentuh, supaya tak meninggalkan bekas sidik jari kita," kata Rey memperingatkan.
"Ya sudah, ayo ikuti Dini saja!" ajakku pada semua.
Kami meninggalkan mayat begitu saja. Ikut berlari menyusul Dini ke dalam rumah besar di depan kami.
"Diin.... Diniii.... Kamu dimana?" tanyaku setelah kami berada di teras rumahnya, tapi tak kami lihat siapapun di dalamnya.
"Sepi banget. Dini kemana ya?" gumam Yumna.
"Diniii.....kami ijin masuk ya....," teriak kak Azzam tapi tetap tak ada jawaban.
"DINIIIII.....," panggilku masuk ke pintu utama yang sudah terbuka.
"DINIII.....!"
"DIIIINNN.....!!"
Teriakan kami bersama tak membuat ada jawaban. Langkah demi langkah masih terus kami pijak di rumah megah yang terasa sunyi dan suram. Sampai tiba-tiba terdengar teriakan keras dari lantai atas.
__ADS_1
"AAAAAAARRRGHHHH......!"