Mata Kedua

Mata Kedua
Kerusakan Di Pujasera


__ADS_3

"Alhamdulillah, akhirnya sampai rumah juga," kataku saat baru turun di depan rumah Yumna, yang berada di kota dekat kampus kita.


"Ya sudah, kita langsung pulang ke apartemen aja ya. Ketemu besok lagi," kata kak Azzam mewakili pamit pada kami.


"Oke, hati-hati di jalan!" sahutku dan Yumna bersama, sambil melambaikan tangan pada mereka berdua.


"Aku juga balik ke pohon depan ya. Mau siap-siap godain laki-laki yang lewat di jalan nanti," sahut Ncus langsung melayang, tanpa menunggu jawaban.


"Terserah kamu lah, Ncus. Asal gak bikin orang celaka aja," jawab Yumna tersenyum, sambil menggelengkan kepala. Melihat tingkah Ncus yang selalu bikin geregetan orang.


"Nih kunti ternyata ngikut lagi ke sini? Kirain ketinggalan di kampung halaman."


"Iya nih, aku juga gak tahu tadi. Ayo kita masuk aja, Aish! Capek banget soalnya," ajak Yumna merangkulku sambil berjalan ke dalam.


Aku dan Yumna bergegas membersihkan badan, kemudian masuk ke kamar masing-masing. Sudah tak ada lagi percakapan, karena rasa lelah membuat mata langsung terlelap tanpa pemanasan.


****


"Pulang kuliah mau langsung pulang aja atau mau kemana?" tanya Yumna saat kita bertemu di taman lagi, kecuali kak Azzam yang belum muncul setelah pamit ke toilet tadi.


"Kita ke pujasera dulu gimana? Cuma cek keadaan di sana," usul Rey.


"Oke. Tapi Azzam mana sih? Lama banget?" sahut Yumna celingukan ke sekitar kita.


"Hehhh... Hheeehh.... Heehhh.....," nafas kak Azzam yang baru datang, terdengar seperti tersengal-sengal.


"Kakak kenapa? Ngap-ngapan kayak habis dikejar setan," heranku melihat tingkahnya.


"Ini, sepertinya ada yang sengaja menaruhnya di sana," tunjuknya dengan tangan kiri, ke arah toilet tadi. Sedangkan tangan kanannya, memegang boneka kecil tanpa rupa, dengan sebuah paku yang menancap di bagian perut bonekanya.


"Boneka? Dapet dari mana?" tanya Yumna mengambil alih boneka itu.


"Dari dekat toilet," jawab kak Azzam sudah mulai bisa mengatur nafas lega, meski masih memegang lututnya.


"Kenapa boneka kayak gini diambil? Gak ada bagus-bagusnya gitu," sahut Yumna lagi, sambil memutar-mutar boneka kecil di tangannya.


"Itu seperti boneka voodoo," jawab Rey sambil bersedekap di depan dada, dan bersandar di bawah pohon cemara.


"Tolooooooong......!"

__ADS_1


Suara lirih seorang wanita, terdengar di sekitar kita.


"Nah.... Suara itu yang dari tadi terdengar dari dalam boneka ini," kata kak Azzam menunjuknya.


"Memang suara itu berasal dari dalam sini?" tanyaku memastikan, dengan membuka telinga lebar-lebar, mendekatkan diri di sebelah boneka yang Yumna pegang.


Hening, tak terdengar lagi suara rintihan tadi.


"Malah gak bersuara. Memang dimananya toilet kakak menemukan ini?" tanyaku lagi.


"Tadi pas baru keluar toilet, aku dengar suara rintihan wanita. Kirain dari dalam toilet wanita. Tapi pas ku cari sumber suaranya, ternyata dari dalam sebuah gundukan tanah, persis di dekat toilet pria," jelas kak Azzam menerangkan.


"Eh, iya. Kapan hari aku juga pernah dengar, tapi lirih sekali. Karena lagi terburu-buru kalian tunggu, jadinya gak ku cari asal suara itu. Ternyata dari boneka ini?" sahutku mengingat kejadian yang pernah ku alami sebelumnya.


"Ini paku buat apa sih?" tanya Yumna hendak mencabut pakunya.


"Tunggu, sebaiknya kita selidiki dulu. Apakah yang dikurung di situ layak untuk dibebaskan, atau bisa mencelakai orang," kata Rey mulai berdiri tegak, dan meminta boneka dari tangan Yumna.


Rey memejamkan mata. Konsentrasi pada apa yang ada di dalamnya. Membuat kita bertiga hanya diam menunggu Rey membuka kembali matanya.


Tak lebih dari lima menit, Rey langsung berujar kalau di dalamnya ada sosok berwujud wanita buruk rupa, yang ingin membalas dendam saja. Selebihnya, dia tak bisa menjelaskan karena terlalu tertutup untuk menerawang lebih ke dalam.


"Simpan dulu bonekanya, sambil cari tahu siapa yang menaruhnya di sana," jawab Rey menyerahkan lagi boneka itu ke tangan kak Azzam, lalu berjalan mendahului ke parkiran.


"Ini maksudnya aku yang harus simpan? Hehhh.... Ya sudahlah," jawab kak Azzam mengikuti langkah Rey, pergi bersama kami.


Sesampainya di pujasera, suasananya di depan mata membuat kita kaget melihatnya. Beberapa gerai nampak terkoyak gambar dan tulisan. Sedangkan kursi dan meja, juga seperti sengaja diobrak abrik seseorang dengan penuh amarah.


"Siapa yang melakukan ini semua?" ucap Rey menggenggamkan jarinya, menunjukkan betapa marahnya dia.


"Sabar, Rey. Kita cari pelan-pelan. Besok aku bantu memperbaiki semuanya," kata Yumna sambil mengelus punggungnya.


"Iya, sebaiknya kita tak terpancing emosi. Supaya lebih fokus mencarinya nanti," sahut kak Azzam.


Aku tak menanggapi mereka yang sedang mencoba menenangkan Rey di depan kantornya. Karena ada sesuatu yang lebih menarik perhatianku di sini, yaitu sebuah nampan berisi penuh sesaji di depan dapurku bersama kak Raisha biasanya.


" Sepertinya masih baru, " gumamku sendiri, melihat taburan bunga mawar, yang masih nampak segar.


"Aish, ngapain?" tanya Yumna dari kejauhan, yang mungkin juga ikut penasaran.

__ADS_1


"Ini sesaji 'kan?" tunjukku ke arah nampan dengan bunga-bunga dan semangkuk cairan kental seperti darah, tapi berwarna hitam.


"Apa-apaan ini?" kata Rey semakin geram saat mendekat ke arahku.


Entah kenapa, sesaji ini tak menunjukkan hawa mistis sama sekali. Meski sepertinya, bahan yang diletakkan di sini lengkap untuk persembahan pada kesesatan.


"Siapa yang mencoba merusak usahaku?" kata Rey semakin marah, mengobrak abrik sesaji itu, melemparnya ke segala arah, mulai dari depan sampai ke atasnya tempatnya berdiri saat ini.


"Aaauuu......," kata suara wanita berdaster dari atas pohon, yang sempat terkena lemparan nampan dari sesaji.


"Hei, kamu pasti tahu. Perbuatan siapa ini?" tunjuk Rey memandang tajam ke arahnya.


"Maaf, saya tak ikut campur," jawabnya langsung menghilang.


"Sebaiknya Rey istirahat di kantor dulu. Yumna, temani dia untuk menjaga emosinya. Aku dan kak Azzam akan mencoba menyisir tempat ini," kataku menarik tangan kak Azzam.


"Hehhh.... Oke. Terima kasih sebelumnya. Kepalaku terlalu pusing memikirkan ini semua," kata Rey dituntun Yumna menuju kantornya, sambil memegangi kepala.


"Kita mulai dari mana?" tanya kak Azzam.


"Entahlah. Apa sebaiknya dari dalam dapurku itu dulu?"


"Boleh, ayo kita mulai mencari petujuk. Sebelum petang," ujarnya menarikku.


Dari dapur ini, tak terlihat ada yang aneh selain berantakan yang diakibatkan kejadian waktu itu. Saat kak Raisha disandera dan ditemukan di lemari bumbu masakan.


"Tak ada apapun. Ayo lanjut ke area berikutnya," ajakku berbalik arah, hendak keluar dari sini.


"Iya, Ayo!"


"Eh, Kak. Itu gantungan apa ya?" tanyaku lagi menunjuk kepala tengkorak kecil, yang menjadi liontin sebuah kalung dengan bahan kayu, menempel di atas dinding masuk ruangan ini.


"Iya, apa-apaan sih ini?"


Kak Azzam langsung melepaskan kalung itu. Untuk mencari petunjuk lain di tempat ini.


"Sssttt.....," suara sekelebat bayangan yang nampak di balik jendela belakang kami, sempat mengagetkan juga.


"Siapa? Apa kunti yang kabur saat lihat Rey marah tadi?" tanya Kak Azzam melihatku segera melongok keluar.

__ADS_1


"Tak ada siapapun. Apa tadi cuma halusinasi saja ya?" gumam ku setelah melongok ke jendela ruangan ini.


__ADS_2