Mata Kedua

Mata Kedua
Penculikan


__ADS_3

"Maksud bapak?" tanyaku duduk di kursi belakang bersama Yumna.


Tanpa menjawab apa-apa, pak Rendi menghentikan mobilnya. Di tepi jalan yang jarang dilewati kendaraan lainnya.


Dia mengeluarkan tali besar, untuk mengikat tangan dan kaki kami dengan ancaman senjata.


" Pak, apa maksudnya semua ini? Kenapa pujasera harus dijual?" tanyaku mengulang pertanyaan.


Pak Rendi kembali duduk di belakang kemudi. Menyetir kembali mobilnya ke jalanan yang masih lumayan sepi.


"Hahahaaa..... Rey benar-benar bodoh. Sudah diberi penawaran tinggi, tetap tak mau melepas pujasera yang sebenarnya tak seberapa."


"Mungkin menurut bapak itu tak seberapa. Tapi bagi Rey, itu adalan impiannya," sahut Yumna tak terima.


"Impian tak bisa mengalahkan kebutuhan," jawabnya enteng.


"Maksudnya siapa yang butuh? Lagian kenapa juga bapak memaksa menjual pujasera?" tanyaku heran.


"Saya yang butuh. Karena ada komisi besar yang akan saya terima nanti. Untuk membayar hutang-hutang berjudiku selama ini," jawabnya tanpa merasa berdosa.


"Jadi, sebenarnya penjualan pujasera itu hanya demi keuntungan bapak saja?" tanyaku memastikan.


"Ya, makanya sengaja ku fitnah Rey agar dipenjara. Agar pujasera bisa dijual sesuai harapan saya."


"Lalu, kenapa bapak ingin memusnahkanku dan kak Azzam juga?" tanyaku lagi.


"Oh, supaya kalian tak menghalangi rencanaku saja. Aku tahu kalau kalian berdua itu teman baik Rey. Jadi nanti kalau Rey dipenjara, pasti kalian berdua yang diminta mengurus pujasera. Jadi terpaksa, ku lenyapkan saja seperti Tissa yang sebenarnya tak tahu apa-apa. Hanya anak kecil yang lagi kasmaran, tapi bisa dimanfatkan menjadi umpan. Hahahaaa......, " tawanya menggelegar di telinga.


" Lalu, saat bapak melamar kak Raisha? Itu semua juga hanya bohong belaka? Seperti pura-pura baiknya bapak selama ini pada kami?" tegasku.

__ADS_1


" Ehmmm..... Dulu memang saya sempat menyukainya. Saat kami sama-sama kuliah di kampus yang sama. Tapi rasa itu sudah mulai pudar, setelah ketagihan judi memaksaku melakukan segalanya."


" Istighfar, Pak. Masih ada waktu! " kataku melemahkan suaraku, untuk melunakkan rasa egonya.


" Buat apa? Tak ada yang bisa menolongku, selain diriku sendiri. Semua orang sudah menagihku. Bahkan sampai menyiksaku, dan menyita rumahku. Sekarang mobilku juga sudah ku jual, jadi terpaksa meminjam mobil rental untuk melaksanakan semua rencana ini."


"Astaghfirullahal'adzim," ucapku mengingatkannya.


"Cukup, tak usah kau sebut kata itu didepanku. Aku sudah cukup muak sama takdir ini. Semua kegagalan sudah menimpaku selama ini. Mulai dari kegagalan urusan jodoh bersama Raisha dulu, sampai keuangan juga saat ini. HHHAAAAAAHHHHHH.......!" teriaknya melepas beban di dada.


Aku dan Yumna yang mendengar hanya bisa diam saja. Sambil menyusun rencana dalam hati sendiri-sendiri.


" Sebentar lagi waktu penyerangan. Mumpung emosinya mulai tak terkontrol."


Batinku sendiri, sambil memikirkan rencana untuk mulai menyerangnya. Tapi ternyata Yumna mendengarku suara batinku juga, saat kami fokus pada hal yang sama.


" Nanti, tunggu dia menghentikan mobilnya dulu. Baru kita serang bersama."


"Aku yang akan mengamankan dia nanti. Kalian lari saja setelah dia ku buat jera," ucap Tissa yang tiba-tiba muncul di kursi sebelah pak Rendi.


Dan benar saja, tak lama mobil yang kami tumpangi mulai berhenti. Di sebuah gubuk bambu yang sepertinya sudah lama ditinggalkan pemiliknya. Dengan ilalang tinggi yang mengelilingi.


" Turun, dan jangan berani macam-macam. Tapi teriakpun sebenarnya percuma, karena tak akan ada yang mendengar kalian. Hahahaaa......," tawanya sangat menyebalkan.


Aku dan Yumna yang masih diikat tangan dan kakinya hanya bisa menurut. Sambil mencari celah untuk melawannya. Sampai kami dipaksa masuk ke dalam gubuk, menunggu dia menghubungi Rey dari gawaiku.


" Halo, Rey? Serahkan pujasera kalau kau ingin kekasih dan sahabatmu selamat!" ucapnya langsung pada intinya.


"Oh, sebentar. Ini kekasihmu mau bicara," kata pak Rendi lagi, menaruh hape di telinga Yumna supaya ikut bicara.

__ADS_1


"Jangan kau turuti. Aku akan membereskannya sendiri," teriak Yumna.


"Omong kosong. Kalau kau berani macam-macam, akan aku habisi dia!" bentaknya pada Yumna, sambil menodongkan pistolnya ke arah kepalaku.


"Oh iya, sebelumnya kita buat kerjasama ini tanpa campur tangan polisi. Kalau kamu sudah sanggup, akan saya beritahu apa yang harus kamu lakukan nanti. Sebelum aku semakin kalut, dan menembak kepala kekasihmu yang keras kepala ini," lanjut pak Rendi kembali berbicara melalui sambungan teleponnya.


" Kalian diam di sini. Kita tunggu reaksi Rey nanti. Tapi jangan berani macam-macam karena kita ada di tengah hutan. Yang jauh dari keramaian. "


Pak Rendi yang wajahnya sangat kusut, seperti tak tidur mulai dari semalam tadi. Dia mulai duduk di sebuah kursi reot di depan meja yang tak kalah usangnya, dan membuka botol minuman yang airnya berwarna sedikit kekuningan. Melangkah keluar, sampai berdiri tepat di tengah pintu masuk rumah kayu terbengkalai ini.


Gubuk ini hanya terdiri dari satu ruangan. Dengan bekas ranjang kayu yang sudah sangat berdebu. Tanpa kasur mupun bantal gulingnya. Hanya sebuh tikar usang, yang berlubang dimana-mana. Dan kami di suruh duduk di atasnya.


"Kalian tunggu di sini. Akan aku singkirkan senjatanya, supaya kalian bisa bebas pulang," kata Tissa berusaha menggapai pistol dari saku pak Rendi, tapi ternyata tak bisa disentuhnya. Selalu menembus saja.


Aku juga masih berusaha melepaskan ikatan ini. Seperti yang pernah ku lakukan saat di desa Yumna dulu. Atas ijin Allah, aku akan terus berusaha melepaskannya dengan strategi yang sama.


Meski sulit, aku tak meyerah melakukannya. Sampai akhirnya ada satu simpul yang terlepas juga. Mulai memudahkan melepas semua ikatannya.


"Alhamdulillah!"


Ucapku dalam hati, setelah ikatan tanganku bisa bebas lagi. Sekarang ganti fokus pada ikatan di kaki saja yang tak terlalu sulit sama sekali. Sedangkan Yumna, juga masih berusaha sendiri sambil sesekali melirik ke arahku untuk menyuruh hati-hati.


Pak Rendi masih melihat ke luar gubuk ini. Sambil menyesap minuman beralkohol dari tangan kanannya. Jadi kesempatan besar olehku untuk mengamankan senjatanya, sebelum membantu Yumna.


"Dapat!" kataku mengangkat senjata itu ke atas, yang membuat pak Rendi murka.


"Kurang aj..... Aaaaaahhhh, hantuuu!" serunya kaget, saat baru berbalik badan ke arahku.


Pak Rendi nampak mundur-mundur ketakutan. Sampai punggungnya terantuk pintu yang menutup tak sengaja. Melihatku sambil terus menerus menyebut kata 'hantu' sampai terkencing di celana. Dan melupakan senjatanya yang ku pegang saat ini.

__ADS_1


Aku yang tak mengerti, membalikkan badanku sendiri. Untuk membantu melepaskan ikatan Yumna yang masih terikat dari tadi. Tapi ternyata, sosok Tissa dengan berlumuran darah mengerikan, sedang menatap marah pada pak Rendi. Tepat di belakang tubuhku ini.


"Pergilah, lari jauh dari tempat ini. Biar Rendi menjadi urusanku sendiri," ucap Tissa semakin mendekat pelan pada pak Rendi, yang hanya bisa berteriak ampun dan berusaha lari.


__ADS_2