
"Jangan gampang emosi. Nanti cepat tua, malah Aish nya sudah gak mau lagi sama kamu, hahahaaa.....," gurau Ronald membuat kak Azzam langsung menegakkan badan.
"Apa maksudnya bilang seperti itu?" tanya kak Azzam mulai tersulut emosi.
"Kak.... Tak usah diladeni orang seperti dia. Buang-buang tenaga. Sebaiknya kakak bantu Aish menyelesaikan masalah yang sudah meneror semalam," kataku mulai cerita pada kak Azzam, tentang kejadian tadi malam.
Satu per satu kejadian mulai ku ungkapkan. Berawal dari tubuhku yang tak bisa bergerak saat bermimpi, sampai sosok yang menjuntaikan rambut panjangnya di kamar mandi. Begitu juga dengan keterangan suster yang sempat ku tanyakan pagi ini.
"Kenapa aku tak melihat sosoknya ya?" tanya kak Azzam celingukan di sekitar sini.
"Haduuh....jangan sampai deh ditampakkan lagi wujud makhluk tak kasat mata. Masih trauma," ucap Ronald menanggapinya.
"Huh...penakut banget. Mana bisa melindungi wanita, kalau kamu sendiri tak berani menghadapinya," sindir kak Azzam.
"Tapi kan.....," belum sempat dilanjutkan, teriakanku sudah membuat mereka terdiam.
"CUKUP!! Aku mau telepon ke kamar mayat dulu. Jangan berisik!" kataku mengangkat gagang telepon, yang berada di atas nakas yang memisahkan ranjangku dan Ronald.
Ku cari kode nomor di tulisan yang menempel pada dinding di atasnya. Kemudian mulai menekannya.
" Dua.. Lima... Tiga..., " ucapku sambil memastikan kebenaran dari nomor yang yang ku pencet saat ini.
'Tuut..... Tuuutt.... Tuut......'
Nada panggil masih terdengar, karena belum ada yang mengangkat teleponnya dari seberang sana. Sampai ada sebuah suara wanita, yang menjawabnya.
"Yaa......," jawabnya sedikit parau, dan tak terlalu asing terdengar di telinga.
"Haloo.... Pak Adam ada?" tanyaku.
"Antar saya pulang!" jawabnya tanpa menyambung pada pertanyaanku.
"Haloo.... Ini siapa ya?" mulai penasaran, ku coba untuk menanyakan pengangkat teleponku ini.
"Tolooongg..... Pulaaaanggg!"
"Pulang kemana? Namamu siapa?" tanyaku lagi.
"Lita....!"
'Tut..tut..tut..'
Suara telepon terputus tiba-tiba. Tapi paling tidak aku sudah mendapatkan sedikit petunjuk, meski belum tahu benar siapa yang mengangkat teleponnya.
"Kenapa?" tanya Ronald yang kelihat ekspresiku hanya bengong saja.
"Eh.... Tadi yang ngangkat teleponnya itu.... Suster atau sosok yang semalam menerorku ya?" gumamku masih berpikir sendiri.
__ADS_1
"Maksudnya gimana? Memang tadi yang pak Adam bilang apa?" tanya kak Azzam.
"Tadi bukan pak Adam. Yang jawab suara perempuan. Persis seperti yang menggangguku semalam."
"Maksudnya?" tanya Ronald belum paham.
"Barusan aku telepon ke kode sambungan kamar mayat. Tapi yang angkat teleponnya bukan pak Adam. Melainkan suara perempuan."
"Apa sosok itu bisa mengangkat teleponmu?" tanya Ronald masih belum yakin akan kejadian yang baru ku rasakan.
"Apa kamu mau coba telepon sendiri ke sana?" tawarku.
"Eh.. Enggak deh. Aku percaya kok!" katanya langsung menutup wajah dengan bantal.
"Apa kamu mau aku cek ke kamar mayat dulu? Tapi aku tak tega meninggalkanmu sendiri di sini," kata kak Azzam mencoba menawarkan diri.
"Dia tidak sendiri. Kan ada aku! Memang kau kira aku ini apa?" sahut Ronald membuka kembali mukanya, sambil sedikit bersandar di atas ranjangnya.
"Justru kamu yang bikin aku tak tega meninggalkan Aish sendiri di sini," tegas kak Azzam.
"Assalamu'alaikum," kata bunda dan umi baru saja datang.
"Wa'alaikumsalam," jawabku dan kak Azzam.
"Nah, bunda dan umi sudah datang. Kalau begitu aku cuci muka sebentar, terus coba cari pak Adam."
"Mau ke kamar mandi, trus ke luar sebentar, Umi!" kata kak Azzam yang sudah masuk untuk membasuh mukanya.
"Mau kemana sih dia?" tamya bunda sambil menata meja, yang akan dibuat makanmereka bersama.
"Panjang ceritanya. Kalian makan dulu saja, nanti Azzam nyusul kalau sudah selesai urusannya. Assalamu'alaikum," sahut kak Azzam langsung keluar begitu saja.
"Anak itu, buru-buru mau kemana?" tamya umi menatapku.
"Mau cari pak Adam, penjaga kamar mayat," jawabku.
"Kenapa?" tanya bunda yang mulai ikut penasaran.
Kembali ku ceritakan tentang kejadian semalam. Juga telepon aneh yang baru saja membingungkan.
"Oh, soal itu! Sebaiknya kamu istirahat dulu. Tak usah berusaha membantu, kalau belum benar-benar pulih," nasehat bunda yang sepertinya sangat mengenal kebiasaanku.
"Ini juga Aish masih terbaring di atas ranjang. Gak kemana-mana kan," cengirku.
"Iya, tapi jadi Azzam yang ikut bingung mencari tahu."
"Iya, Bun. Soalnya kak Azzam sendiri yang menginginkan mencari pak Adam."
__ADS_1
"Ya karena gak tega kalau lihat kamu penasaran!" jawab bunda tersenyum sambil duduk siap makan.
"Tak usah nunggu Azzam. Makan dulu saja!" kata umi mengijinkan.
"Tak apa, ini juga masih jam enam. Aish dan Ronald aja sarapannya juga belum datang."
"Nah, itu dia!" tunjuk umi pada suster yang baru masuk membawa dua porsi makanan.
"Selamat pagi, ini sarapannya dihabiskan ya. Setelah itu, minum obatnya," jelas suster menaruh nampan berisi makanan.
"Terima kasih, Sus!" jawab kami bersama.
"Oh iya, apa adek ini tahu tentang mayat yang baru ditemukan semalam?" bisik suster di dekatku.
"Belum, masih mau cari pak Adam. Kok suster tahu kalau aku lagi cari informasi tentang mayat itu?"
"Suster yang jaga malam cerita sebelum dia pulang. Katanya tadi pagi adek juga diganggu sosoknya. Haduh... Semoga minggu depan saat saya jaga malam sudah tak menampakkan diri lagi. Sudah cukup banyak gangguan di rumah sakit tua ini, jangan ditambah lagi," kata suster celingukan sambil bergidik ngeri.
" Semoga dia bisa cepat memberikan alamat rumahnya, agar bisa dipulangkan. "
" Semoga saja. Kalau begitu saya permisi dulu. Jangan lupa dihabiskan! " senyumnya sebelum meninggalkan ruangan perawatan ini.
"Dasar wanita, kalau ketemu bisanya selalu gosip saja. Baru juga tadi pagi ditanyai, belum jelas malah sudah cerita ke suster lainnya," omel Ronald.
Kami bertiga yang merupakan wanita semua, langsung menatap Ronald bersama. Membuat salah tingkah sendiri jadinya.
" Eh, maaf. Oh iya, saya sarapan dulu ya! "kata Ronald menunduk malu, langsung mengambil mangkok bubur yang sudah di taruh di atas nakas seperti biasa.
Beberapa menit berlalu, kami sudah menyelesaikan sarapan bersama. Tinggal menunggu kak Azzam yang masih belum kembali ke ruangan ini.
" Assalamu'alaikum," ucap seorang laki-laki paruh baya, yang mulai masuk ke ruangan ini.
"Wa'alaikumsalam," jawab kami masih belum mengenali.
"Apa benar ini ruangan Aish?" tanyanya masih berdiri di ambang pintu kamar ini.
"Iya, benar. Saya Aish. Maaf, kalau boleh tahu bapak siapa?"
"Saya pak Adam. Saya tadi bertemu Azzam, yang sekarang masih ijin ke warung depan."
"Oh, silahkan duduk, Pak!" kataku menunjukkan kursi yang tak terpakai saat ini.
"Begini, kedatangan saya kemari ingin menanyakan tentang jenazah yang masih menjadi misteri. Katanya adek sempat didatangi?"
"Oh, iya. Tapi dia tak memberi petunjuk yang berarti. Hanya bilang kalau mau pulang."
"Apa adek tahu alamatnya? Soalnya semalam, dia juga sempat memberi saya mimpi tentang sekolahan. Tapi yang saya sayangkan, sementara kasus ini diduga dia melenyapkan diri sendiri. Padahal di mimpi saya lihat dia sedang di-bully."
__ADS_1