Mata Kedua

Mata Kedua
Sumpah Poci


__ADS_3

"Melati.....," panggilku masih mengikuti tarikan Yumna.


Melati langsung bingung, menoleh ke arahku yang berlari mendekat padanya. Dia hanya diam, berdiri di sebelah sepeda yang biasa dia gunakan.


"Ada apa?" tanyanya saat langkah kami mulai sejajar dengannya.


"Hehh.... Hehh.... Sebentar. Ambil nafas dulu," kataku memegang lutut, setelah Yumna mulai melepaskan pegangan.


"Heheeee..... Maaf ya, Aish. Soalnya aku sudah keburu penasaran," kata Yumna melirik hantu permen disamping Melati.


"Memang kalian lagi apa sih?" tanya Melati mengerutkan dahi.


"Ini, Yumna mau tanya kamu!"


"Lah, kok aku? Kamu tadi yang katanya mau tanya 'kan?" ucap Yumna malah melempar pertanyaannya padaku.


"Hehhh..... Ya sudah."


"Melati, maaf sebelumnya. Apakah ibumu baik-baik saja?" lanjutku setelah menghela nafas panjang.


"Iya, ibu ada di rumah. Sedang menjual kue titipan orang. Memang kenapa?" tanya Melati.


Aku dan Yumna saling memandang. Sesekali melihat ke arah poci yang tak ada ekspresi.


"Loh, bukannya ibumu kerja di rumah Pak Jamal?" tanyaku pernah mendengar ceritanya, kalau ibunya bekerja sebagai asisten rumah tangga.


"Iya dulu, tapi ibu sudah diberhentikan dari sana."


Melati langsung menunduk sedih. Seperti sedang mengingat kejadian yang baru saja menimpanya.


"Kenapa?" tanyaku lebih mendekat satu langkah, sambil memegang pundaknya.


"Huhuhuuuuu..... Ibuku... Ibuku," tangisnya tak bisa melanjutkan cerita.


"Kita duduk dulu di taman ya. Kamu tenang dulu, supaya kamu bisa cerita. Barangkali ada yang bisa kami lakukan untuk meringankan bebanmu," ucapku sedikit menunduk, untuk melihat wajah Melati yang tak biasa murung seperti ini.


"Kalian tunggu di taman. Akan aku carikan minuman," ucap Yumna beranjak menjauh dariku dan Melati.


Ku rangkul bahu Melati, mengajaknya ke arah taman kampus ini. Berharap dia mau bercerita jujur, supaya kita bisa membantu mencarikan solusi. Dan semoga masalahnya juga bisa teratasi.

__ADS_1


Sesampainya di taman, ku lihat kak Azzam hendak menuju ke arahku. Langsung ku beri tanda dengan lambaian tangan, supaya Melati bisa bebas mengeluarkan beban yang sedang dia rasakan.


Hantu permen itu masih terus mengikuti. Tapi ku coba berkomunikasi, dia sama sekali tak menyahuti. Wajahnya persis seperti ibu Melati, hanya terlihat lebih hitam seperti terkena hangus bekas bakaran api.


"Ini minum dulu!" kata Yumna menyerahkan sebotol air untukku, dan sebotol lagi untuk Melati.


Melati masih terlihat lemas sekali. Membuka botol minum juga seperti tak ada tenaganya. Sampai ku bantu untuk memudahkan dia.


"Minum dulu, supaya kamu lebih tenang."


Setengah botol sudah masuk ke tenggorokan Melati. Dia nampak berkali-kali menghela nafas panjang, mungkin sebagai pelampiasan menahan beban pikiran.


"Kenapa kamu tadi menangis? Apa ada masalah dengan ibumu?" tanyaku pelan, sambil mengelus punggungnya sebagai bentuk dukungan dalam menghadapi kenyataan yang mungkin tak seperti yang diharapkan.


"Maaf, sebenarnya ini aib keluarga. Tapi aku tak bisa menahannya."


Baru beberapa kata, Melati nampak membuka kembali botol minumnya. Menengguk sedikit, kemudian melanjutkan bicara.


"Ku harap setelah aku cerita, kalian bisa menyimpan rahasia ini," kata Melati menatap serius padaku dan Yumna.


"Insyaa Allah, kami akan menjaganya. Kalau kamu percaya, kami siap mendengarkan ceritamu," ucapku.


"Astaghfirullah. Lalu bagaimana dengan ibumu?" tanyaku.


"Karena hanya ibuku yang mempunyai akses masuk ke rumahnya, jadi ibuku yang dituduh mengambilnya," jelas Melati mulai meneteskan air mata.


"Lalu ibumu sendiri bagaimana?"


"Ibuku bilang ke aku, kalau beliau tak tahu soal perhiasan itu. Karena saat pak Jamal keluar kota, ibu hanya membersihkan rumah kemudian pulang."


"Apa ibumu sudah menjelaskan itu kepada pak Jamal?"


"Sudah, tapi mereka tak percaya."


"Apa karena itu, ibumu jadi diberhentikan kerja di sana?" tanyaku memelankan suara.


"Iya. Tapi lebih parahnya, kemarin ibu disuruh untuk melaksanakan sumpah seperti orang meninggal," jelas Melati.


"Sumpah Poci?" ucapku.

__ADS_1


"Apa itu?" tanya Yumna.


"Aku sendiri juga tak terlalu paham seperti apa ritualnya. Tapi setahuku, itu digunakan saat ada yang tak mengakui kesalahan. Kalau memang bersalah, orang yang disumpah akan mendapat masalah. Tapi kalau memang tidak, ya selamatlah orang itu," jelasku.


"Kok ada sumpah seperti itu?" tanya Yumna ingon lebih tahu.


"Aku belum pernah melihatnya langsung. Jadi tak terlalu tahu. Cuma setahuku, sumpah itu biasa dipakai oleh orang yang kental dengan adat istiadatnya, di daerahku sana. Memang pak Jamal orang mana?"


"Setahuku, beliau memang berasal dari negara yang sama denganmu. Cuma aku juga tak tahu, apakah sama daerahnya denganmu," jelas Melati.


"Oh, pantesan pak Jamal tahu itu. Memang ritualnya seperti apa? Kamu melihatnya?" tanyaku pada Melati.


"Sebelumnya, ibu dimandikan oleh beberapa orang, termasuk aku, dengan posisi seperti orang yang sudah meninggal. Kemudian, dilanjutkan dengan dibalut kain kafan. Setelah itu dibaringkan di tengah ruangan, dan diminta bersumpah kalau memang tidak melakukan apa yang dituduhkan."


Melati langsung menutup wajahnya setelah selesai menjelaskan. Sepertinya dia tak kuat membayangkan, atas kejadian yang sudah dilakukan.


" Kita berdoa saja, semoga memang bukan ibumu pelakunya. Tapi yang aku heran, kenapa pak Jamal sampai meminta ibumu bersaksi seperti itu? Kenapa tidak tanya baik-baik, atau menggeledah rumahmu, misalnya?" tanya Yumna.


"Mereka sudah menggeledah rumahku, tapi tak menemukan apapun. Sampai malam harinya, istri dari pak Jamal yang biasanya baik kepada keluarga kami, datang lagi ke rumah sendiri. Dia mengajak ibu bicara dari hati ke hati."


"Bicara apa?" tanya Yumna lagi.


"Kalau ibu tahu pelakunya, atau letak perhiasannya, ibu diminta menyerahkan saja kepada beliau. Nanti beliau yang akan mengatur, kalau seolah-olah beliau yang teledor menyimpannya. Dan akan membersihkan nama kami berdua. Karena ayahku sudah tiada dan ibu menjadi tulang punggung keluarga."


" Lalu tanggapan ibumu? "


" Ibu tetap bersikeras, kalau tak pernah tahu perhiasan itu. Jadi akhirnya, istri pak Jamal hanya bisa menuruti kemauan suaminya untuk melakukan sumpahnya. "


"Dan kemarin ibumu sudah melakukan itu?"


"Iya. Semoga tak terjadi apa-apa. Meski rasa khawatir masih terus ada," cerita Melati.


"Apa pak Jamal menjelaskan juga, resiko sumpah itu seperti apa?" tanyaku.


"Tidak. Aku cuma mendapat informasi dari internet saja. Taruhannya bisa nyawa, katanya. Tapi ibu bersikeras meyakinkanku, kalau semuanya baik-baik saja. Orang kampung sudah terlanjur menghakimi kami, jadi ibu terpaksa menyetujui."


"Semoga saja tak akan terjadi apa-apa, karena sumpah itu terlalu berbahaya. Selain itu juga setahuku tidak ada anjuran dari agama kita," sambungku.


"Aku juga tahu itu. Tapi kami terpaksa melakukannya," tunduknya.

__ADS_1


Aku dan Yumna kembali saling berpandangan. Sudah merasakan kalau semua tak akan berjalan sesuai keinginan. Karena kami masih melihat sosok yang menyerupai ibunya, sedang berdiri memakai kain kafan seperti ceritanya tadi. Dengan pandangan kosong, tanpa ekspresi sama sekali.


__ADS_2