
"Tadi kami lihat, Bapak ada di pos penjagaan.....," ucapku tak jadi melanjutkan, tapi langsung mengecek ke tempat kejadian.
Kosong. Tak ada siapapun dan apapun di dalamnya. Berarti tadi hanya ilusi yang dibuat oleh siluman ular agar kami percaya kalau Alif ada di sini.
Baru kali ini kami menemui sosok yang lumayan kuat seperti ini. Yang masih bisa bertahan mendengar ayat kitab suci dengan ketulusan hati, meski akhirnya dia memilih pergi meninggalkan kami. Karena kalau dia tetap bertahan mendengarkan, kami yakin kalau tubuhnya akan menghilang dari muka bumi ini. Dan tak akan bisa kembali.
"Kalian sebenarnya siapa?" tanya penjaga keamanan itu lagi.
"Kami teman Dini, Pak. Kami sedang mencari Dini yang lari keluar rumah ini karena kerasukan sosok jahat. Semoga dia masih bisa diselamatkan, karena kami kehilangan jejaknya yang berlari sangat cepat," jelasku.
"Ya sudah, saya bantu cari!"
Akhirnya kami berpencar mencari Dini. Aku dan kak Azzam ke arah kanan, sedangkan penjaga keamanan ke arah kiri.
Terus kami langkahkan kaki. Tapi tak menemukan sesuatu yang teejadi, juga keberadaan Dini. Sampai akhirnya kami memutuskan kembali ke rumahnya lagi.
Pelan kami berjalan karena nafas sambil mengatur nafas dalam-dalam. Sampai akhirnya langkah kaki mulai berada di depan rumah Dini.
"Kenapa ramai sekali? Ada polisi lagi!" Kataku merasa ada hal buruk sudah terjadi.
"Kita masuk ke dalam saja. Lihat apa yang terjadi di sana, ayo!" ajak kak Azzam menggandeng tanganku.
Diantara banyak orang yang sedang berkerumun di tempat ini, kami mulai masuk ke ruang tamu luas yang lebih banyak orang lagi.
"Aish.... Dini!" tunjuk Yumna pada gadis yang sudah basah dan terkapar tak bernyawa di tengah ruangan ini.
"Innalillahi wa innaillaihi roji'un," ucapku dan kak Azzam bersama diantara tangisan kami semua.
"Kita gagal menyelamatkannya. Kita gagal!" kataku lemah, sampai terduduk di lantai.
"Istighfar, Aish! Kita sudah berusaha sekuat tenaga. Tapi memang seperti ini takdir dari Yang Maha Kuasa, jadi ikhlaskan saja!" kata kak Azzam lirih mengelus pundakku.
****
Hari sudah berganti. Tapi kematian Dini masih teringat jelas di pikiranku, saat baru ku buka mata di pagi hari. Ditambah baru ku lihat berita di televisi, kalau ada kecelakaan atas nama Alif di waktu yang sama dengan kejar-kejaran kami sebelumnya.
"Yumnaaaa.....!" panggilku menunjuk benda pipih persegi di depanku.
__ADS_1
"Kenapa?"
Yumna yang mendengar dari kamar mandi juga ikut tergopoh menemuiku. Kami melihat bersama, betapa tragisnya kematian yang dialami Alif.
"Yumna.... Sepertinya aku ingin menyudahi petualangan kita. Aku ingin lebih fokus belajar saja, sampai kembali ke negaraku," ucapku benyak merasa kegagalan yang kami alami.
"Aku pikir juga begitu. Sebaiknya kita tak usah terlalu mencampuri urusan mereka. Biarlah takdir yang memutuskan akibatnya. Toh kita juga manusia biasa, yang bisa gagal ketika berusaha. Itu malah menambah sakit yang luar biasa," ucap Yumna sepertinya mengingat kecerobohan sikapnya yang membuat Alif menuju rumah Megan kemarin.
Hari ini tanggal merah, jadi kami bisa menikmati banyak waktu untuk bisa menenangkan diri sejenak. Sambil mengobrol banyak hal tentang petualangan kita. Sampai suara ketukan pintu membuyarkannya.
"Aku buka pintu dulu!" kata Yumna beranjak pergi meninggalkanku sendiri, yang masih memikirkan masalah yang baru kami hadapi.
"Aish..... Nih, dicari sama belahan jiwamu. Eh, Rey mana? Apa masih pusing gara-gara terbentur sampai pingsan kemarin?" tanya Yumna dari ruang tamu yang membuatku beranjak menghampiri mereka.
"Katanya mau istirahat dulu. Lagi demam juga dia, habis dimimpiin sama Dini katanya," jawab kak Azzam.
"Pantesan dari tadi ku telepon gak diangkat. Kebiasaan kalau lagi gak enak badan, gak berani cerita dia. Aku siap-siap dulu kalau gitu!" ucap Yumna berlalu meninggalkan kami berdua.
"Kenapa Yumna?" kataku baru berdiri di depan kak Azzam.
"Aish, aku pinjam sepeda motormu ya!" lata Yumna yang tiba-tiba sudah berdiri di sebelahku.
"Mau ke apartemen Rey? Aku ikut!" ucapku masuk ke dalam untuk mengambil tas selempang.
"Lhah, diajakin kencan malah balik apartemen. Ya sudah, aju juga ikut!" seru kak Azzam.
Aku dan Yumna menaiki sepeda motor yang sama. Sedangakan kak Azzam mengikuti dari belakang kami berdua.
Sesampainya di depan ruang apartement milik Rey, kami memencet bel yang tersedia. Tak lama, Rey membukakan pintunya.
" Lhoh, kalian ke sini?" tanya Rey masih memegang kepala, kemudian mempersilahkan masuk dengan kode tangannya.
"Kami sakit? Istirahat dulu aja! Dah makan belum? Dah periksa ke dokter?" tamya Yumna sampai Rey bingung mau jawab yang mana dulu.
"Iya," jawab Rey singkat seperti biasa, membuatku dan kak Azzam saling berpandangan, lalu tertawa.
"Rey, tadi kata Azzam kamu mimpi didatangi Dini? Cuma bunga tidur atau permintaan tolong dari dia?" tanya Yumna memastikan.
__ADS_1
"Kayaknya permintaan tolong," kata Rey merebahkan kembali tubuhnya di sofa.
"Oh iya, sebenarnya aku dan Aish sudah sepakat kalau tak akan mencampuri lagi urusan mereka. Terutama yang tak kasat mata."
"Iya, kita ingin fokus belajar saja, lalu lulus dengan nilai yang membanggakan orangtua," ucapku menambahkan Yumna.
"Sebenarnya aku juga berpikir yang sama, apalagi saat ku lihat kita berempat hampir saja celaka."
"Bukannya takut pada makhluk seperti itu, tapi kalau orang sudah terlanjur masuk pada perjanjiannya, apapun yang kita lakukan, pasti mereka tetap menanggung resikonya. Kecuali dia sendiri sudah benar-benar bertobat, dan memohon ampun pada Allah SWT," lanjut kan Azzam.
" Iya, seperti mimpiku semalam. Ku lihat Dini dicambuk oleh siluman ular."
" Makhluk itu hanya ingin menunjukkan, kalau kita tak perlu mengusik pekerjaannya yang suka menyesatkan manusia, " jelas Rey mulao bisa cerita panjang.
"Dia juga mengaku kalah, tak kuat terlalu lama mendengar bacaan kitab suci yang kalian lafalkan dengan penuh keyakinan. Makanya dia memilih pergi, dengan membawa Dini yang sudah setuju untuk dia bawa pergi," lanjut Rey lagi.
"Ya sudah, kalau begitu kita sepakat untuk tak mencampuri urusan mereka lagi. Kita hidup untuk masa depan kita, dan membantu sesama dengan cara yang normal saja," usul Yumna.
"Setuju, karena masih banyak hal positif yang bisa kita lakukan untuk membantu sesama. Tanpa harus melibatkan makhluk tak kasat mata. Biarlah mereka menyelesaikan semdiri urusannya yang masih tertunda di dunia," jawabku mendukung.
"Mulai sekarang, kalau kita melihat mereka, cuekin aja ya!" kata kak Azzam menelangkupkan sebelah tangan di depan.
"Sipp!" kata Rey menumpuk di atasnya, diikuti Yumna, dan aku paling atas dari tangan mereka semua.
"Belajar untuk masa depan menjadi manusia normal!" sahutku.
"Yaaaa.......!" jawab mereka sambil tertawa bersama.
END
****
TERIMA KASIH UNTUK SEMUA PEMBACA. SEMOGA TERHIBUR DAN NANTIKAN NOVEL SELANJUTNYA. DI GENRE YANG BERBEDA.
**NANTIKAN JUGA PENERBITAN NOVEL YANG AKAN DIBUKUKAN DENGAN JUDUL 'MISTERI DI DESA TERTINGGAL'. AKAN ADA TAMBAHAN CERITA LAIN YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEYSA SAAT MEMGANDUNG AISH.
💕💕💕💕💕💕💕💕💕**
__ADS_1