
"Papa..... Tak mungkin. Ku kira kabar itu hanya angin lalu saja. Huwaaa.......," tangis Virgin mulai merajalela, membuatnya terlihat hampir seperti orang gila.
Dia terus meronta, sampai kakinya menendang-nendang tanpa arah. Seperti anak kecil yang tak dituruti saat meminta sesuatu yang diinginkannya.
"Tenang, Non. Tenang dulu. Sebaiknya kita bawa Nona Virgin ke kamarnya saja, memberinya obat penenang yang biasa diminun nyonya, agar bisa tidur," jelas Mak, assisten rumah tangga di rumah ini.
Aku mengikuti saja kemauannya. Selama ini yang terbaik untuk Virgin ke depannya. Ku panggil kak Azzam segera, bersama tiga asisten rumah tangga wanita lainnya. Ke dalam kamar Virgin untuk membantu doa bersama.
" Kak, tolong pimpin doanya. Untuk melepaskan pengaruh bayi itu yang sepertinya tak mau melepaskan punggung Virgin. Mak dan lainnya, tolong pegang Virgin kalau sekiranya nanti dia meronta ingin menyakiti dirinya," pintaku.
"Bismillah, kita mulai ya. Usahakan khusuk, untuk meminta pertolongan kepada Allah SWT. Karena hanya Allah Ta'ala, yang bisa menolong kita dari semua kejahatan dan gangguan," kata kak Azzam mencoba memperkuat keyakinan para wanita yang sudah bersiap memegang Virgin yang masih berteriak menangis tak jelas.
Kak Azzam memulai dengan dua kalimat syahadat, seperti biasanya. Dilanjutkan dengan bacaan-bacaan surat Al-Qur'an, dengan fokus dan tulus memohon pertolongan pada Sang Pencipta.
Seperti dugaanku, bayi itu mulai meronta dan menatap tajam ke arahku dan kak Azzam. Dia mulai menunjukkan wajah yang lebih menyeramkan. Berwarna hitam legam seperti kena bakaran api, dengan taring yang juga semakin panjang, mata merah menyala, dengan satu tanduk di kepala.
"JANGAN IKUT CAMPUR! DIA HARUS MENERIMA PEMBALASAN DARI YANG PERNAH DILAKUKANNYA!!" kata bayi itu yang sudah berwujud tak karuan.
"Kamu siapa? Dan apa maumu?" tanyaku dalam hati, fokus menatapnya.
"Aku disuruh seseorang untuk membalaskan dendam. Sesuai yang pernah dilakukan ayahnya dulu," kata Virgin tiba-tiba sudah bersuara laki-laki, karena wujudnya sudah merasuk dari tengkuk Virgin tadi.
"Anak ini tak tahu apa-apa. Maafkan dia!" seruku lagi, masih diiringi ayat-ayat suci dari mulut kak Azzam.
"Anak ini sudah ikut andil dalam menambah kekuatanku. Dia sudah menyerahkan bayinya sendiri, sebagai makananku. Hahahaaa......," tawa Virgin.
__ADS_1
"Lepaskan dia. Kalau kau sudah mendapatkan bayinya, kenapa masih mengganggu Virgin terus?"
"Tugas utamaku adalah dia!" tunjuknya pada keningnya sendiri.
"Sepertinya sudah tak ada lagi maaf dari orang yang menyuruhku. Aku hanya menjalankan tugas, untuk menghancurkan keluarga ini melalui anak satu-satunya yang sangat dia sayangi. Hahahaaaa......," teriak Virgin sambil berusaha membenturkan kepalanya di dinding kamar ini.
Para asisten rumah tangga masih terus berusaha menahan benturan itu. Termasuk Mak, yang menahan dinding dengan telapak tangan, hingga mulai mengeluarkan darah dari punggung tangan keriputnya.
" Siapa yang menyuruhmu? " bentakku melotot pada Virgin sambil menekan dahinya mengikuti bacaan kak Azzam sedari tadi.
" Kau tak perlu tahu! Lepaskan aku! Lepaskan! " teriak Virgin terus meronta kesakitan.
Aku rasa, dia tak mungkin mengungkap siapa yang menyuruhnya. Jadi terpaksa ku sudahi saja komunikasi sementara, dengan memohon pada Allah Ta'ala untuk mengeluarkan jin pengganggu dari tubuh Virgin.
Bacaan demi bacaan surat Al-Qur'an semakin kencang kami kumandangkan. Berusaha fokus tanpa menghiraukan rintihan yang mulai terdengar memilukan. Sampai akhirnya Virgin lemas dan pingsan. Bersamaan dengan terbangnya sosok hitam yang terlihat keluar dari mulut Virgin, kemudian semakin menjauh melalui jendela kamar ini.
" Kasih madu juga, buat pemulihan dia nanti. Dan yang paling penting, tolong arahkan dia untuk lebih mendekatkan diri pada Allah SWT, sebaik-baiknya penolong manusia dari semua marabahaya," sahut kak Azzam menambahi.
"Terima kasih, Nak. Kalian masih muda, tapi bacaan suratnya begitu indah. Ditambah bisa menyembuhkan orang dari kesurupan pula. Membuat saya malu karena sudah tua belum terlalu bisa mengenal agama," kata Mak.
"Kami masih harus banyak belajar. Dan kami bukanlah siapa-siapa. Hanya manusia biasa, sama seperti semua yang ada di sini. Kami hanya bisa membantu dengan memohon pertolongan pada Allah. Karena semua kesembuhan, itu karena Allah SWT yang memberikan. Bukan kami," kata kak Azzam ku jawab dengan anggukan.
" Kamu sudah cakep, santun lagi. Andai saya punya anak gadis, pasti sudah ku jodohkan," cengir Mak membuatku sedikit memaksakan mengikuti tawa semua orang.
" Oh iya, boleh minta kotak P3K? Tangan Mak lecet, sebaiknya segera dibersihakan dan diobati. Biar gak infeksi," kataku menyentuh tangan keriput itu.
__ADS_1
" Kamu juga gadis baik. Kalau saya juga punya anak perjaka, pasti akan ku jodohkan sama kamu," sahut Mak lagi membuat ketegangan yang tadi terasa, sedikit terhibur dibuatnya.
" Ya sudah, anggap saya anaknya Mak. Jadi biar bisa dijodohkan sama dia," sahut kak Azzam menunjukku, menambah riuh suasana.
Virgin ditemani oleh salah satu asisten rumah tangganya. Sedangkan aku dan kak Azzam mengikuti Mak ke ruang santai untuk mengobati lukanya di sana. Sambil sesekali bercerita tentang masa lalu tuannya.
" Tuan itu sebenarnya orang yang baik. Saya sudah bekerja dengan orang tuanya, sebelum akhirnya mengikuti Tuan sampai ke rumah ini. Tapi karena perjodohan yang terjadi, membuat Tuan tak terlalu bahagia dengan rumah tangganya."
"Oh, jadi orang tua Virgin menikah karena perjodohan?" tanyaku mulai membalut luka di tangan keriput itu.
"Iya. Lebih tepatnya, ibu Virgin yang meminta dijodohkan."
"Kenapa ayah Virgin mau?"
"Sebenarnya, ayah Virgin tak terlalu suka. Apalagi kata beliau, Virgin itu sudah dikandung ibunya, sebelum dia sempat menyentuhnya. Makanya, dia dinamakan Virgin, yang maksudnya sebagai sindiran untuk ibunya."
"Oh! Lalu, bagaimana kisah ayah Virgin, sampai bertemu dengan mahasiswi itu? Apa ibu Virgin tak tahu?"
"Mereka sudah saling mengenal sebelum ayah Virgin menikah. Dan ibu Virgin tahu itu. Tapi karena ibu Virgin yang merupakan anak konglomerat, yang bisa menguasai perusahaan keluarga Tuan, jadi ya akhirnya menikahlah mereka, dengan terpaksa."
"Trus, sejak kapan mahasiswi itu dekat dengan dosennya, sekaligus Tuan di rumah ini?"
" Sebenarnya mereka mulai dekat dan menjalin hubungan sebagai kekasih, setelah Virgin sekitar umur dua tahun. Dan mahasiswi itu sebenarnya juga sudah menaruh hati pada Tuan, jauh sebelum dosennya menikah. Dia rela berbuat apa saja termasuk memasukkan obat untuk memabukkan Tuan. Dan terjadilah hal berdosa yang akhirnya malah merenggut nyawanya sendiri. "
" Nekat sekali ya? Apa mungkin keluarganya yang sengaja mengirim makhluk itu pada Virgin? Karena kecewa dengan ayahnya?" tanyaku.
__ADS_1
" Kita tak bisa asal menuduh, sebelum menemukan bukti yang mengarah pada keluarganya. Sebaiknya kita selidiki, sambil terus mengawasi Virgin nanti," sahut kak Azzam.
" Iya, sepertinya tak mungkin kalau keluarganya. Karena setelah kejadian bunuh diri itu, malah keluarganya datang ke sini untuk meminta maaf pada Tuan dan Nyonya. Setahu mereka, Aziz yang merupakan asisten dosen itu yang menjadi penyebab gadis itu mengakhiri hidupnya sendiri. "