Mata Kedua

Mata Kedua
Akhir Kisah Lita


__ADS_3

Kami semua hanya bisa diam saja. Tak ada yang berani menjawab. Untungnya pak Salih tak mendesak, karena sepertinya sudah tahu maksud kami semua. Meski hanya tebakan di dalam pikirannya.


Sesampainya di rumah sakit, pak Adam pelan-pelan menuntun pak Salih masuk ke dalam rumah sakit. Karena sepertinya ada masalah dengan kesehatan pak Salih, yang sudah terlihat pucat saat kami menemui di rumahnya tadi.


"Pak, apa perlu kita periksakan bapak dulu?" tawarku mengikuti berjalan di belakang mereka.


"Tidak usah. Saya cuma ingin bertemu dengan Lita, meskipun mungkin untuk yang terakhir kalinya," ucap pak Salih membuat kami saling berpandangan satu sama lainnya.


"Kalau bapak lelah, saya minta kursi roda saja ya!" tawarku lagi.


"Hehhh..... Baiklah. Saya memang sudah tak kuat berjalan kaki. Rasanya lemas sekali," ucap pak Salih menghela nafas panjang, sambil memegang bagian tubuh yang mungkin terasa nyeri, antara dada dan perutnya dari tadi.


"Suster, kursi rodanya pinjam boleh?" tanyaku menunjuk jajaran kursi roda yang memang disediakan untuk pasien yang baru datang.


"Gak apa-apa, Dek. Ambil saja!" ucap pak Adam masih memegang lengan pak Salih dari sampingnya.


"Iya, ambil saja. Itu memang disediakan untuk pasien yang tak kuat berjalan," tanggapan ramah suster, di balik meja resepsionis.


"Bapak yakin kuat menghadapinya nanti?" tanyaku memastikan lagi, sedikit memberi pandangan kalau akan ada kabar tak baik harus dihadapi.


"Iya, saya hanya ingin melihat anak semata wayang saya. Supaya saya lebih tenang juga."


Ku turuti saja kemauannya, sesuai tanda anggukan yang diberikan pak Adam yang mendorong kursi roda semakin ke dalam. Kami semua terus berjalan, menuju ke arah ruangan paling belakang.


Sesampainya di depan ruangan yang bertuliskan 'kamar mayat', pak Salih langsung meneteskan air matanya.


" Bagaimana, Pak?" tanyaku memastikan kembali keadaannya.


"Iya, saya sudah menduganya," ucapnya tanpa berteriak, meski sebenarnya ada gundah yang tersimpan rapat di dalam dada.


"Kita masuk?" tanya pak Adam.


"Iya, kita masuk saja!" jawab pak Salih mulai bisa mengontrol emosinya.


Pintu ruangan mulai dibuka. Langsung ku lihat sosok Lita. Dia sedang berdiri di pojok ruangan, sambil menatap ke ayahnya. Dengan wajah pucat, dan bola mata yang terus mengeluarkan darah hitam, meleleh dari celahnya.

__ADS_1


"Maaf,.... Maafkan Lita. Maaf karena sudah tak menuruti perintah ayah. Maaf, karena Lita tetap berusaha menemui sahabat Lita, yang ternyata juga ikut menjebak bersama Angela."


"Padahal Lita sudah sangat percaya, bahkan dia juga bilang kalau menemukan informasi tentang ibu juga, " lanjut Lita masih terus melelehkan air mata darahnya.


Hanya aku, kak Azzam, dan bunda saja yang mendengar penyesalan Lita. Tapi sepertinya pak Salih juga merasa, kalau anaknya selalu ingin dekat dengannya. Menyesali perbuatannya.


" Sebentar! Akan saya keluarkan dari ruang pendingin dulu," kata pak Adam melepaskan pegangan dari kursi roda.


"Lita,.... Ayah tahu kamu tak ingin semua ini terjadi. Tapi takdir sudah membuat rencananya sendiri. Kita harus ikhlas menghadapi takdir dari Illahi. Huhuu......," tangis pak Salih terdengar merintih, sampai menundukkan kepala, dengan wajah yang terus ditutupi kedua tangannya.


Pak Adam dengan cekatan dibantu kak Azzam meletakkan tubuh Lita, di atas meja yang tersedia di tengah ruangan. Jasad yang sudah kaku dan pucat membiru menunjukkan kalau sudah waktunya dimakamkan.


Pak Salih mulai beranjak berdiri, untuk mendekati tubuh Lita yang sudah tak bernafas lagi. Meski sosoknya masih nampak di pojok ruangan, sambil terus menangis semakin kencang.


"Lita.... Maafkan ayah!" ucap pak Salih memeluk tubuh dingin putrinya.


Beberapa saat berlalu, akhirnya pak Salih sudah bisa terlihat lebih tenang lagi. Dan menyetujui jasad Lita dibawa ke kampungnya nanti.


Tapi saat pihak rumah sakit mulai menyiapkan ambulan, pak Salih mulai merasakan sakit yang teramat di dadanya. Beliau terus mengerang dan terlihat tak berdaya.


Ada firasat tak enak yang datang dari sekitar sini.


"Pak.... Kuat ya!" ucapku ikut berlari mengikuti kursi roda yang didorong kak Azzam ke ruang UGD.


Seorang dokter mempersilahkan aku dan kak Azzam menunggi di luar. Kondisi pak Salih juga sudah terlihat mulai tak sadar.


Lima menit... Sepuluh menit.... Akhirnya dokter keluar ruangan.


"Maaf, nyawanya tak bisa diselamatkan. Beliau memiliki penyakit asam lambung akut. Ditambah sekarang lambungnya kosong tak terisi," ucap dokter yang tadi menangani.


Saat pintu ruangan dibuka, aku dan kak Azzam masuk ke dalamnya. Terlihat di situ ada Lita, yang sudah nampak bersinar dan tersenyum menatap kami berdua. Pak Salih sudah digandengnya, berjalan menuju ke sebuah cahaya.


" Terima kasih.....," ucap pak Salih melambaikan tanganya sebelum hilang masuk ke dalam cahaya yang menyilaukan mata.


"Innalillahi wa innaillaihi roji'un," ucapku bersama dengan kak Azzam.

__ADS_1


****


Satu bulan sudah berlalu. Tapi cerita kepedihan tentang keluarga Lita masih terkenang sampai sekarang. Akhir dari kasusnya juga sudah jelas diceritakan oleh Ronald.


Angela merupakan anak dari seorang petinggi di daerahnya, sampai bisa memberi suap pada oknum yang sedang menangani kasus penghilangan nyawa Lita. Tapi aku lega, Ronald bisa membereskan semuanya.


Oknum polisi yang menerima suap sudah mendapatkan hukuman yang setimpal. Ayah Angela juga jadi terkena dampaknya sampai harus dikeluarkan dari jabatan yang sudah susah payah dirintisnya. Sedangkan Angela sendiri, sekarang masih melalui proses hukum sesuai umurnya.


Sahabat Lita, dia sampai kehilangan akal sehatnya. Masuk ke rumah sakit jiwa. Merasa bersalah atas kematian sahabat yang tak pernah disangkanya.


Dia tak mengira, permintaannya bisa mencelakakan sahabatnya. Dia hanya meminta Lita ke taman, karena ancaman dari Angela yang akan membocorkan rahasianya. Tentang pencurian obat yang pernah dilakukan olehnya karena terpaksa, demi menyembuhkan adiknya. Tapi ternyata bisa berakibat fatal sampai teman baiknya kehilangan nyawa.


Aku cuma bisa mendoakan, semoga Lita dan Pak Salih sudah lebih tenang. Tak merasakan sakit lagi sekarang. Dan tak perlu memikirkan perpisahan.


"Aish.... Lagi mikir apa sih? Masih belum move-on dari kasusnya Lita?" tanya Yumna mengagetkanku saat aku menunggunya di taman kampus.


"Astaghfirullah..... Yumna!" seruku kaget olehnya.


"Ayo pulang. Nanti malam jadi ikut ke kafe Rey tidak?" ajak Yumna.


"Ya jadilah!"


Aku beranjak berdiri. Menuju ke parkiran, mengambil sepeda motor yang sudah dibelikan bunda tempo hari.


Sesampainya di tempat parkir, ada sesuatu yang aneh kami temui.


"Aish... Itu kenapa ada poci terus ikuti Melati ya?" tunjuk Yumna menghentikan langkahku berjalan.


"Eh, itu kok pocinya mirip sama ibunya? Bukannya ibunya masih hidup ya?" tanyaku heran.


"Masa sih? Aku kurang tahu tentang keluarganya. Kamu yang sekelas sama dia, harusnya tahu kalau misalkan ada info tentang keluarganya."


"Aneh. Kapan hari aku sempat bertemu Melati, sedang membonceng ibunya. Dan terlihat sehat-sehat saja. Tapi kok?" tunjukku masih bingung dibuatnya.


"Kita ke sana!"

__ADS_1


Yumna langsung menarik bajuku. Tanpa menunggu jawabanku.


__ADS_2