
"Apa dia menunjukkan rumahnya?" tanya Ronald menyahut tiba-tiba.
"Dimana rumahnya?" tanyaku ikut penasaran juga.
"Dia bilang, kalau rumahnya tak jauh dari danau itu. Yang jelas, semua penduduk di sana mengenal ayahnya, karena memang beliau cukup sering dimintai tolong warga sekitar untuk membetulkan semua perabotan rumah tangga yang rusak."
"Oke, sekarang kita tinggal mencari letak danaunya. Kita tak punya banyak waktu, karena nanti katanya mau dimakamkan, sesuai yang sudah dijelaskan sama pak Adam. Ya sudah, aku mau sholat dulu. Sudah jam tiga ini," ucapku beranjak berdiri, dengan hati-hati.
Aku berjalan ke kamar mandi. Membasuh muka dan gosok gigi. Lanjut mensucikan diri, untuk melaksanakan sunnah yang hampir menjelang pagi. Tepat saat bunda baru kembali bersama umi.
" Aish, bisa? " tanya bunda sedikit membamtuku memakai mukena.
"Insyaa Allab bisa. Terima kasih, Bunda."
"Sama-sama, Nak."
Ku sujudkan diri ini di atas sajadah. Memohon perlindungan dam menyerahkan semua yang terjadi kepada Allah, Dzat Maha Mengetahui.
Ku lanjukan membaca kitab suci, untuk menenangkan hati. Sampai terdengar suara panggilan sholat wajib sebelum terbitnya matahari.
Sekitar jam enam pagi, kami berlima masih kumpul untuk membicarakan tentang mimpiku dan kak Azzam. Ronald yang hanya diam, nampak mencatat setiap kejadian. Kemudian menelpon seseorang.
"Assalamu'alaikum," suara pak Adam yang sudah mulai ku kenal, sepertinya ada di balik pintu ruangan.
"Wa'alaikumsalam. Silahkan masuk, Pak!" ucap kak Azzam mempersilahkan.
"Bagaimana? Apa ada petunjuk baru yang di dapat? Saya khawatir, kalau hari ini jadi dimakamkan di belakang rumah sakit, Lita tak akan pernah tenang dan meneror semua yang ada di sini," kata pak Adam menerima kursi untuk diduduki setelah diberi oleh kak Azzam.
" Insyaa Allah sudah ada sedikit bukti. Ini Ronald juga masih mau menghubungi ke kantor polisi," tunjukku pada Ronald yang nampak serius, dengan percakapan di ponselnya.
"Bukti apa?"
Ku tunjukkan foto yang diambil kak Azzam. Terutama bercak merah darah yang masih menempel di batu yang terselip di sana.
Kembali ku ceritakan juga tentang mimpiku semalam. Juga mimpi kak Azzam. Meski mungkin sulit dipahami oleh orang awam. Yang tak terlalu percaya pada hal tak masuk akal.
Kami sempat mendengar, sepertinya Ronald juga sudah menjelaskan kepada anak buahnya, untuk menutup taman sementara. Memeriksa ulang semuanya. Bahkan kalau perlu, akan dilalukan otopsi juga.
"Syukurlah kalau begitu. Semoga saja cepat ketemu titik terangnya. Saya khawatir, karena sosok ini sudah terlalu sakit hati. Sampai mendatangi setiap mimpi," kata pak Adam.
"Bapak mimpi juga?" tanyaku.
"Iya, saya cuma bermimpi tentang sebuah rumah yang terbuat dari kayu bercat hijau dan kuning. Di situ tinggal seorang laki-laki, sendiri. Lalu terdengar bisikan di telinga."
__ADS_1
"Bisikan apa?" tanyaku dan kak Azzam bersama.
"Kangen papah, katanya!"
"Oke! Setelah beres kasusnya, kita cari rumahnya," usulku.
"Tapi saya tak tahu itu dimana?" kata pak Adam lagi.
"Tak apa. Kita ikuti saja alurnya. Kita kumpulkan masing-masing petunjuk yang kita dapatkan, untuk mencarinya," sahutku.
"Eh, tapi aku masih heran sama Lita. Kenapa dia selalu muncul dalam mimpi saja?" tanya Ronald yang baru menutup teleponnya.
"Mungkin dia tidak percaya diri untuk muncul langsung di depan kita?" sahut pak Adam.
"Atau mungkin juga belum cukup punya kekuatan untuk langsung menjelaskan," sahut kak Azzam lebih meyakinkan.
"Gimana polisinya?" tanyaku.
"Ya masih jadi polisi, masak ganti profesi?" canda Ronald.
"Maksudnya, gimana polisi yang kamu telepon tadi? Apa percaya sama penjelasan dari kita tadi? Biasanya polisi tak akan percaya sama hal yang begituan."
"Oh, aku tak bilang itu dapat info dari mana. Aku cuma menyuruh mereka, menyelidiki polisi yang menangani kasus ini. Juga menutup TKP, untuk mencari barang bukti."
"Gak apa kamu ejek aku, yang penting kamu bahagia. Eyyyaaa.....," katanya sambil tertawa puas menatap kak Azzam yang geleng-geleng kepala.
"Berarti saya menunggu informasi dari polisi ya? Untuk memakamkan jenazah Lita nanti," tanya pak Adam.
"Iya, Pak. Bapak tunggu info dari saya saja. Kalau ada polisi yang datang memaksa, suruh temui saya," sahut Ronald mulai serius saat menghadapi tugasnya.
****
"Sudah jam sebelas siang. Informasi apa yang mereka dapatkan?" tanyaku setelah melihat Ronald menutup sambungan teleponnya.
"Sudah jelas semuanya. Ada satu oknum polisi yang menerima sejumlah uang dengan nominal cukup besar, dari salah seorang yang dia sendiri tak terlalu kenal. Yang jelas, orang itu minta kalau kasus ini harus segera ditutup saja."
"Berarti polisi itu sudah tak menangani kasus ini 'kan? Dan kasusnya bisa dilanjutkan untuk penyelidikan?" tanyaku.
"Iya. Aku akan terus memantaunya. Kamu tenang saja," ucapnya tersenyum menggoda, sambil memainkan kedua alisnya.
"Norak!" sahut kak Azzam.
"Baiklah. Berarti kita tinggal mencari alamat rumahnya. Mulai dari petunjuk danau yang kakak ceritakan tadi," usulku membuka percakapan lagi tentang Lita.
__ADS_1
"Aku belum pernah lihat danaunya. Sebentar, akan aku coba cari di ponsel saja. Barangkali ada yang mirip, saat aku tulis 'danau air biru'."
"Nah, kenapa nggak dari tadi carinya? Ayo, Kak. Aku sudah terlalu penasaran juga," kataku ikut melongok ponselnya.
Tak terasa, jarak kami sangat dekat sekali. Sampai membuat jantungku, berdegup kencang sekali. Dan aku baru sadar diri, setelah deheman suara Ronald diantara kami.
"Eh, maaf!" kataku sedikit menjauh.
"Aish... Azzam.... Apa perlu kalian dinikahkan dulu sebelum kita kembali pulang?" kata umi mengingatkan.
"Kalau iya, akan aku telepon ayah kalian sekarang. Biar datang ke sini untuk menyelenggarakan perniakahan, " sahut bunda tersenyum menggoda kita.
"Deket amat nempelnya. Kayak selai sama roti tawar saja," ucap Ronald langsung menyambar roti yang kemarin dibawakan Yumna, langsung memakannya dengan brutal.
"Eh, kamu belum boleh makan roti ya! Akan saya periksa dulu sekarang, untuk memastikan kondisinya. Biar besok bisa pulang," kata dokter yang baru masuk ruangan.
Aku dan kak Azzam yang melihat tingkah terkejutnya Ronald yang melempar rotinya, langsung tak tahan menertawakan. Sampai membuat suster yang mengikuti di belakang dokter, ikut menutup mulut menahan tawanya.
Beberapa saat kami diperiksa, akhirnya dokter mengatakan seperti rencananya. Memperbolehkan kami pulang esok hari, asal tetap menjaga pola makan dan istirahat sampai waktu kontrol selanjutnya.
"Eh, ini seperti danaunya," ucap kak Azzam, setelah dokter keluar ruangan.
"Kakak yakin?" tanyaku setelah ditunjukkan gambar di ponselnya.
"Iya, aku yakin. Nah, di sini tempat gadis itu duduk termenung sendiri. Dan ini tempatku berdiri," jelas kak Azzam menunjuk dengan jari, setelah memperbesar gambarnya.
"Oke, besok pulang dari rumah sakit kita langsung ke sana!" kataku.
"Aku ikut ya!" sahut Ronald.
"Untungnya kamu polisi yang sedang menangani kasus ini. Kalau tidak, tak akan ku biarkan kamu mengikuti kami," kata kak Azzam yang berarti menyetujui.
"Besok bunda sama umi juga mau menemani kalian. Jadi sewa mobil untuk ke sana ya," ucap bunda menatap kak Azzam, sebagai kode permintaan.
"Siap, Bunda. Laksanakan!" jawab kak Azzam menirukan tanda hormat, seperti para prajurit yang mau perang.
"Besok kita sudah boleh pulang?" tanyaku kegirangan.
"Tapi tetap harus dijaga dulu pola makannya yang benar. Karena pencernaan kalian masih belum benar-benar normal. Setelah seminggu koma, dan hanya masuk infus saja," kata bunda mengingatkan.
****
Terima kasih untuk semua pembaca, yang sudah mengikuti ceritanya mulai dari novel sebelumnya. Mohon dukungan dan doanya, untuk kelancaran penerbitan novel 'Misteri di Desa Tertinggal' yaaaa....... 😍😍😍😍
__ADS_1