
"Ya sudah, sebaiknya kalian cepat masuk ke rumah sekarang. Sudah malam," kata Rey mengingatkan.
"Iya, terima kasih atas antar-jemputnya hari ini. Kami pamit masuk duluan ya," kataku sedikit lega, setelah memeluk Yumna dan mencoba mengesampingkan rasa ego yang sempat mempengaruhi pikiran.
"Bersihkan badan, trus baca Al Qur'an. Supaya hatimu bisa lebih tenang," nasehat kak Azzam melanjutkan.
"Iya, Kak. Yumna, ayo!" ajakku saat melihat Yumna yang masih terdiam, meski aku sudah turun mobil dahulu.
"Eh, iya. Ehmm.... Minggu depan, ada libur seminggu 'kan. Bisa antar ke Smallville tidak?" tanya Yumna sebelum ikut turun.
"Smallville itu apa?" tanyaku karena belum benar-benar mengerti nama-nama daerah di negara ini.
"Itu nama kota kecil, tempat tinggal masa laluku. Heehhhh.....sudah lama aku tak ke sana, untuk ziarah ke tempat makam nenekku. Padahal kalau bawa mobil sendiri, gak sampai sehari perjalanannya. Tujuh jam kalau jalan benar-benar lengang."
"Kamu pasti kangen nenek," kataku ikut sedih terbawa suasana, sambil mengelus pundaknya.
"Aku belum pernah mengunjungi kota itu lagi, setelah pemakamannya setahun yang lalu. Aku perlu menyiapkan diri, menerima kalau beliau sudah benar-benar pergi. Karena Smallville terlalu banyak menyimpan kenangan masa kecilku, bersama beliau. Hikk....," lanjut Yumna terlihat sangat sedih sekali.
"Iya, aku bersedia kalau kamu mengajakku ke sana. Kita doakan bersama, supaya nenekmu tenang di sisi-Nya," kataku memeluk Yumna lagi, untuk memberi kekuatan kalau aku ada di sampingnya saat dia merasa tak punya siapa-siapa.
"Terima kasih."
"Kenapa nenek tak dimakamkan di Metro, kota ini? Biar kamu tak jauh kalau kangen dan ingin ziarah ke makamnya," tanyaku melepas pelukan, dan memberi Yumna beberapa lembar tisu untuk mengusap air matanya yang mengalir begitu saja.
"Sengaja aku makamkan di sana. Selain karena amanat, juga biar bisa dekat dengan makam kedua orang tuaku. Hehhh.... Setahun aku tak mengunjungi makam mereka juga. Seperti apa keadaannya sekarang ya?" kata Yumna menerawang ke atas.
"Setiap bulan aku sudah menyuruh orang untuk membersihkan. Tak usah khawatir kalau soal perawatannya," sahut Rey dari depan.
"Terima kasih, Rey. Terima kasih kalian sudah membuatku merasa bermakna ada di dunia ini. Kalian ada saat aku kesepian, dan tak punya keluarga lagi."
"Sudah... Sudah..., kalau mewek terus jadi jelek nanti. Mana belum mandi lagi!" timpalku membuat Yumna bisa sedikit tersenyum lagi.
Aku dan Yumna turun dari mobil Rey, dan beranjak sebentar ke counter depan milik Yumna, yang masih ditunggu oleh tetangganya.
"Belum tutup, Kak Alwi?" tanya Yumna pada laki-laki yang umurnya mungkin masih di atas kami.
"Belum, sebentar lagi," ucapnya sambil meladeni seorang pembeli.
Pertanyaan itu sebenarnya hanyalah basa basi. Karena sebenarnya niat kami, untuk menggeret Susi penunggu pohon depan rumah, agar tak menggelendot manja di lengan pembeli yang sudah terus memegangi lengannya dari tadi.
__ADS_1
"Iiihhh.... Yumna kenapa sih? Setiap aku nemplok cowok ganteng, pasti ditarik. Disuruh pergi, tak boleh pegang, tak boleh ganggu, hehhh....aku tuh bosan kalau gak ada mainan," ucapnya masih manja pada Yumna.
"Berisik. Minggu depan, aku mau balik ke Smallville. Mau ke makam nenek dan orang tuaku. Kamu ikut nggak? Barang kali ada yang nyantol dari makam, biar gak godain terus ke orang-orang," omel Yumna masih ku ikuti dari belakang mereka, sambil tertawa.
****
"Selamat pagi, Cantik. Ayo berangkat!" ajak kak Azzam yang sudah berdiri di teras depan.
Dari jauh juga nampak Rey, memainkan gawainya dengan bersandar di sebelah mobil mewah miliknya.
"Yumna, semangat kan hari ini!" seruku menyambut cerahnya sinar pagi.
"Semangat dong. Sudah gak sabar, pengen cepet liburan," jawab Yumna sambil mengunci pintu rumahnya.
"Sudah benar-benar siap sepertinya, untuk kembali mengunjungi kota masa kecilmu?" tanyaku tersenyum padanya.
"Iya, meski sebenarnya masih ada rasa berat, tapi aku yakin kalau sudah siap. Apalagi sekarang aku punya sahabat, yang membuat semakin hebat," timpalnya ikut tersenyum tulus, dengan mata berkaca-kaca.
"Sudah? Ayo berangkat!" kata kak Azzam berjalan, kembali duduk di sebelah Rey yang sudah duduk di belakang kemudi.
Sesampainya di kampus, kami berempat langsung celingukan mencari keberadaan kak Diana. Sempat berpencar juga untuk mengelilingi ke segala penjuru, yang mungkin dilaluinya. Tapi ternyata nihil, tak sedikitpun terlihat jejaknya. Sampai kita berkumpul di taman tengah kampus kita.
"Masuk kelas dulu deh, nanti lanjut tanya ke teman-temannya," usul kak Azzam kami setujui bersama.
Akhirnya kami membubarkan diri, karena kelas hampir dimulai. Ku ikuti pelajaran hari ini, dengan mengesampingkan semua masalah yang sedang kami hadapi.
Sampai tiba waktu jam kelas usai, kami kembali melangkahkan kaki menuju taman lagi. Sambil sesekali menengok ke sana kemari, mencari informasi.
" Hehh... Hehh...Hehh...., kalian...kalian tahu tidak?" tanya Yumna menghampiri kami, sambil ngos-ngosan sendiri.
"Minum dulu. Nih, mumpung masih belum kebuka segelnya," kataku menyerahkan botol air mineral dari tasku.
"Makasih," ucap Yumna langsung menenggaknya, sampai hampir separo isi botolnya terkuras.
"Pelan-pelan kalau mau cerita. Apa kita sambil duduk di taman saja, biar enak ceritanya?" usulku menunjuk ke belakang kami.
"Iya, ayo!"
Setelah Yumna mulai bisa bernafas teratur, dia memulai mengatakan apa yang di dengarnya barusan.
__ADS_1
"Kata teman sekelas kak Diana, hari ini ibunya meninggal dunia. Terus bagaimana sebaiknya?"
"Ya ke sanalah. Masak kita kenal, tapi gak ikut bela sungkawa?" sahut kak Azzam.
"Apa kalau kita ke sana, tak diusir lagi ya?" tanyaku meminta pendapat dari yang lainnya.
"Coba aja, biar kita tahu. Kalaupun diusir, ya kita pergi," sahut Rey santai.
"Bener juga, ya sudah. Ayo kita berangkat sekarang!"
Tanpa obrolan lagi, kami langsung masuk ke mobil untuk menuju rumah kak Diana.
Tapi setibanya kami di rumah megah itu, ternyata sepi tak ada seorangpun yang terlihat di depannya. Meski bel sudah kami bunyikan berkali-kali.
"Lah kok sepi? Katanya ibunya meninggal?" tanya Yumna heran.
"Apa mungkin dia di rumah orang tuanya?" tebakku.
"Ehmm... Mungkin juga. Lalu rencana apalagi selanjutnya? Kan kita tak tahu rumahnya?" tanya kak Azzam.
"Kita ke Toserba saja, bagaimana?" usulku lagi.
"Oke, ayo cepat. Semoga masih ada karyawan yang bisa ditanya tentang ini!" ajakku lagi.
Mobil kembali melaju menuju toserba milik kak Diana. Sampai kita bertemu kakak yang mengaku sahabat kak Diana, hendak menutup tokonya.
"Kak... Kakak...," teriakku menghampirinya dengan segera, sebelum kehilangan jejaknya.
"Panggil saja Vero. Kok kamu ke sini?" tanyanya celingukan ke arah teman-temanku yang masih menunggu dalam mobil.
"Iya, kami ingin tahu. Apa ibu kak Diana benar meninggal?"
"Iya, padahal semalam, dia sempat bermimpi buruk tentang ibunya. Sampai tengah malam nekat telepon saya untuk membicarakan ini semua," katanya menunjukkan kesedihan yang mendalam.
"Mimpi apa?"
"Dia mimpi, kalau tuan sekaligus suami gaibnya, mengajak ibunya pergi. Dia pasti sedih sekali saat ini. Maaf kalau tak bisa mengobrol lama, aku mau ke rumah orang tua Diana."
Panggilan teman-temannya mulai bersahutan. Membuat kami terpisah lagi hari ini, tanpa banyak informasi yang didapatkan.
__ADS_1