Mata Kedua

Mata Kedua
Teror Sosok Wanita


__ADS_3

"Siapa di situ?" tanyaku saat ada sekelebat bayangan mulai melewati luar jendela dapur yang terbuat dari kaca, meski ada kelambu tipis yang menghalanginya.


Ku sibak kelambu itu, agar terlihat jelas kalau ada sesuatu. Tapi ternyata kosong, tak ada siapapun di situ.


"Kalau kamu mau berurusan sama saya, tampakkan wujudmu. Jangan jadi pengecut seperti itu!" kataku lagi.


Masih sepi, tak ada jawaban. Ku tutup kembali kordennya, untuk melanjutkan aktifitas sebelumnya.


"Ya sudah, kalau tak mau menampakkan diri, ku lanjutkan membuat mie. Lapar banget ini."


Ku ambil panci dengan air yang terisi setengahnya, kemudian merebus di atas kompor yang menyala. Sambil menunggu matang, ku lihat sekeliling untuk mencari sosok itu memunculkan diri. Karena dari tadi hanya berani menampakkan sekilas saja untuk menakuti.


Beberapa menit berlalu, mie sudah siap disajikan. Dengan telur yang dicampur saat perebusan, ditambah irisan cabai yang menggiurkan.


"Bismillah.....," ucapku membaca doa makan sebelum menyantapnya di atas meja makan, sendiri saja tanpa Yumna seperti biasa.


Baru sesuap ku lahap telurnya, sekelebat bayangan kembali melewati belakangku duduk di sini. Tanpa ku pedulikan lagi, tetap ku lanjutkan saja menghabiskan mie.


'Aaiiiiissshhhhh........'


Suara desahan seorang wanita terdengar dekat sekali, semakin lama semakin lirih masuk ke dalam gendang telinga. Dan aku merasa, hawa negatif sudah mulai ada.


"Kamu siapa? Maumu apa?" tanyaku masih menyuapkan makanan ke mulutku, sambil menengok ke kanan dan ke kiri.


Sepi, masih tak ada jawaban lagi. Sampai tak terasa makananku habis, meski gangguan sekilas bayangan terus berusaha menghantui.


Aku mulai berdiri, mencuci semua peralatan yang ku pakai tadi. Kemudian setelah meletakkan wadah bersih ke tempatnya lagi, ku langkahkan kaki menuju kamarku sendiri. Tapi tiba-tiba semua lampu di rumah ini mati, membuatku terantuk kursi.


"Astaghfirullah! Apa lagi ini?"


Ku sibak jendela lagi, untuk mengecek rumah sekitar sini. Sambil meraba dengan tangan ke depan, supaya tak ada yang menghalangiku berjalan.


"Rumah tetangga nyala semua, berarti rumah ini aja yang mati lampunya. Mana counter lagi gak buka juga, jadi bingung mau minta tolong siapa buat cek listriknya," kesalku masih meraba menuju pusat saklar.


Masih sambil berjalan, hati-hati ku langkahkan kaki. Sampai aroma anyir mulai tercium lagi, tepatnya setelah aku berada di ruang tamu rumah ini.

__ADS_1


'Aaiisshh......'


Suara lirih terdengar lagi. Masih di kegelapan ruangan ini. Tanpa ada wujudnya sama sekali.


"Siapa kamu? Apa maumu?" bentakku pada sosok yang masih belum ku lihat bentuknya.


Dari salah satu jendela ruang tamu yang tersibak kordennya, seberkas cahaya nampak menyorot dari rumah tetangga. Sedikit cahaya itu memperlihatkan sosok bayangan hitam seorang wanita, sedang berdiri membelakangiku.


"Kamu siapa?" tanyaku lagi, berharap ada jawaban kali ini.


Wanita itu berbalik perlahan. Menunjukkan wujudnya yang berpakaian seperti adat pengantin wanita. Dengan mata sipit seperti yang pernah ku lihat sebelumnya.


"Memey?" tanyaku memastikan, karena cahaya tak terlalu jelas memperlihatkan.


"Iya, kenapa kamu ingin membantu anak itu?" tanyanya melotot padaku.


"Kenapa kau ingin menjerumuskannya tanpa dia sadari hal itu?" tanyaku balik, tanpa menjawab pertanyaannya.


"Dia milikku, aku harus membawanya pergi bersamaku!"


Aku curiga, kalau sosok di depanku ada hubungannya dengan orang tua Memey. Tapi bukan berarti Memey yang melakukannya sendiri, dengan kesuksesan yang dia beri sebelum mengambil nyawa kak Azril nanti.


" Kamu tak usah ikut campur. Ini urusanku dan keluargaku!" katanya semakin melotot.


Matanya yang semula sipit, tiba-tiba menjadi lebar. Bola mata juga terlihat hampir keluar dari kelopaknya. Dengan bau anyir darah yang semakin meracuni tempat ini.


" Lepaskan dia. Kalau kau memang benar-benar peduli dengannya. Dia tak salah apa-apa, hanya korban keluargamu saja," bujukku padanya.


"Memang. Dia hanya korban sepertiku. Korban menjadi tumbal oleh keluargaku. Tapi, aku tak bisa pergi dengan tenang tanpa membawanya juga," suara serak Memey mulai menunjukkan kekejaman.


"Tumbal?" tanyaku memastikan, kalau tadi aku tak salah dengar.


"Iya. Orang tuaku menjadi budak iblis. Dan aku yang menjadi tumbal terakhir untuknya, sebelum ku temukan tumbal baru agar aku bisa tenang menuju ke alam selanjutnya. Agar aku tak menjadi budak iblis yang memberi kekayaan untuk ayahku selamanya," katanya mulai meneteskan air mata darah yang berbau anyir meski aku tak melihat begitu jelas.


" Maksudnya? Kamu menginginkan kak Azril kehilangan nyawa, agar menggantikanmu menjadi budak iblis ayahmu? "

__ADS_1


" Iya, ayahku yang sudah memilihnya dengan menikahkan aku padanya."


"Berarti, sebelumnya kamu juga sudah dipilih untuk menggantikan orang lain? Kamu tidak mengakhiri hidupmu sendiri?" tebakku.


"Iya, aku menggantikan karyawan ayahku. Sebenarnya bukan ayahku yang memilihku, karena dia sudah menyiapkan tumbal selanjutnya dari karyawannya. Tapi korban sebelumnya, yang selalu menempel dan memilihku untuk menggantikannya. Supaya ayahku jera."


"Tapi nyatanya ayahmu semakin menikmati kekayaan itu?" tebakku lagi.


"Kamu benar. Ayah tak benar-benar sedih saat kehilanganku. Aku mengakhiri hidupku sendiri juga karena hasutan dari korban sebelumnya. Di saat aku sedang putus cinta dengan Azril karena perjodohan yang ayahku paksakan."


"Azril harus menjadi korban selanjutnya, dan akan ku bantu dia mencari penggantinya. Agar kami bisa bersatu dan bahagia. Apa kamu mungkin mau melakukannya? Menjadi pengganti Azril selanjutnya?" tanyanya mengusap kedua bola mata agar masuk ke dalam lagi, dan mulai terlihat senyum tak bersahabat.


"Tak perlu kau ambil nyawa orang lain lagi. Pergilah dengan tenang, dan akan ku bantu mendoakanmu nanti," kataku membujuknya.


Dia hanya menggelengkan kepala. Dengan rambut lurus yang terombang ambing pelan menutupi wajah. Kemudian menghilang perlahan, bersamaan dengan lampu ruangan yang mulai menyala terang.


" Hari ini adalah waktu yang tepat untuk mengajaknya"


Suara kembali menggema, tanpa ada wujudnya. Pergi begitu saja, meski aku belum melakukan apa-apa.


"Hehhh.... Apa lagi ini? Aku harus ke rumah sakit sekarang. Nyawa kak Azril sedang dipertaruhkan!"


Ku ambil tas selempang kecil dari belakang pintu kamarku. Mengambil gawai dan beberapa barang penting untuk dimasukkan ke situ. Kemudian langsung mengunci pintu.


" Astaghfirullah, sampai lupa belum sempat panggil tukang ojeknya. "


Ku ambil gawai, menyandarkan punggung di teras dulu.


"Yumna sudah telepon berkali-kali ternyata. Sampai kirim pesan juga. Tapi kenapa aku tak mendengar suara deringnya?" gumamku sambil membaca pesan dari Yumna.


Dia bilang, hari ini mungkin akan pulang sampai larut malam. Karena ada pekerjaan di kafe Rey, yang harus diselesaikan. Karena akhir pekan ini ada perayaan yang sedang digelar.


" Anak ini kenapa tak mengajakku ke sana juga tadi? " kesalku saat membacanya.


" Astaghfirullah, ada nyawa yang harus aku selamatkan sekarang."

__ADS_1


Baru ku ingat lagi pesan dari Memey yang akan mengajak Azril pergi. Jadi ku lupakan tulisan Yumna, untuk segera memesan ojek menuju ke rumah sakit sekarang juga.


__ADS_2