
Rasanya ingin sekali ku buka mata ini. Tapi terasa berat sekali.
"Tolooong..... Pulaaang......!!"
Suaranya terdengar semakin jelas di dekat telinga, tapi aku tak tahu wujudnya. Karena hanya kegelapan yang terlihat, sebab mata terus tertutup saja. Tanpa bisa melakukan apa-apa.
Antara sadar dan tidak, aku berusaha menggerakkan tubuhku yang rasanya kaku sekali. Sampai akhirnya bisa terucap kata, meskipun sangat lirih bibir ini bisa terbuka.
"Astaghfirullahal'adzim!"
Mulanya hanya mulut yang bisa digerakkan saja. Secara perlahan, akhirnya satu per satu bagian tubuh bisa digerakkan semua.
"ALLAHU AKBAR!!" teriakku, membuat mata ini akhirnya bisa melihat seisi ruangan lagi.
Aku langsung terduduk di atas ranjang rumah sakit ini. Rasanya lega sekali, karena tadi seperti ada yang menindihi.
"Aish, kamu kenapa?" tanya kak Azzam yang ikut terbangun juga di sebelah ranjangku.
"Kakak tidur di sini? Gak capek tidur sambil duduk begini?" tanyaku kasihan melihat posisinya yang pasti tak nyaman sama sekali.
"Tak apa! Yang penting makhluk ini tak mengganggumu, kalau kita semua sedang terlelap di sini," jelasnya sambil menunjuk Ronald, membuatku ingin tertawa melihat tingkah khawatirnya yang tak jelas sama sekali.
"Jam berapa sekarang?" tanyaku masih dengan cucuran keringat di sekujur tubuh ini.
"Ehmm.... Jam tiga pagi. Semua masih tertidur lelap, kamu juga harus banyak istirahat!" kata kak Azzam.
"Bunda dan Umi belum bangun?"
"Belum kayaknya," jawab kak Azzam bebarengan dengan kami yang menoleh bersama, pada mereka berdua yang tertidur di atas ranjang, yang sengaja disediakan untuk penunggu pasien di rumah sakit ini.
"Tumben?"
"Mungkin mereka kelelahan. Sudah, biarkan!" kata kak Azzam.
"Eeehh....ya sudah. Kalau gitu aku mau ke kamar mandi dulu!"
Ku coba perlahan untuk menegakkan badan, kemudian berpegangan pada tiang infus di sebelahku. Masih ku usahakan agar bisa berdiri, sambil sedikit mengerang menahan sakit kepala yang ku rasakan saat ini, meski tak terlalu parah seperti tadi.
"Kamu mau apa? Mau buang air kecil? Ku bangunin bunda dulu ya," kata kak Azzam tak tega melihatku yang masih saja melangkahkan kaki.
"Tak usah. Aku bisa sendiri. Aku mau ambil wudhlu, untuk sholat malam ini. Mungkin mimpiku tadi sebuah peringatan, agar aku tak lalai dan tetap memasrahkan diri," kataku masih berusaha melangkah pelan sekali.
"Kamu yakin bisa?"
"Iya, aku bisa kok. Tenang saja, karena Allah selalu ada. Toh sekarang aku ingin melaksanakan perintah sunnahnya."
__ADS_1
Langkah kaki terus saja ku jalani. Kak Azzam yang tak tega juga masih mengikuti, berusaha memapahku meski akhirnya berhenti di depan kamar mandi.
" Maaf, aku tak bisa mengantarmu ke dalam. Kalau perlu bantuan, biar bunda atau umi yang menemanimu. Gimana?"
"Tak apa. Aku bisa. Kakak tunggu di sini saja."
"Baiklah kalau itu maumu. Ku harap kamu benar-benar yakin akan kemauanmu."
Senyuman dan anggukan kepalaku menjawab keyakinannya untukku. Lalu segera ku basuh muka dan menggoson gigiku.
"Bawa aku pulang!!"
Suara itu kembali terdengar lagi. Saat aku berada di kamar mandi sendiri.
"Kamu siapa? Pulang kemana maksudnya?" tanyaku sambil melihat ke atas, asal suara tadi.
Tiba-tiba, ada rambut panjang mulai turun dari celah di atas dinding kamar mandi. Semakin lama, rambut itu terjuntai berniat menakuti.
"Aaauuuuww......!"
Sebuah suara menggema kembali. Ketika ku tarik rambut yang semakin panjang, tanpa memperlihatkan diri.
"Katakan apa maumu! Jangan terus meneror kalau tak ingin ku ganggu balik kamu," kataku mengancamnya, masih sambil memegang rambut tak jelas itu.
"Tolong, lepaskan! Aaauuwww......," katanya mulai menampakkan diri, menembus dinding kamar mandi ini.
"Oke, aku lepaskan! Tapi awas saja kalau kau terus menerorku. Lagi pusing gini, mau cari gara-gara sama aku?" peringatku lagi padanya, sambil ku lepaskan karena kasihan juga.
"Terima kasih!" ucapnya langsung menghilang tak jelas dari hadapanku.
"Aish.... Kamu tak apa?" tanya kak Azzam dari luar pintu.
"Iya, sebentar lagi selesai," ucapku menyahuti.
"Sudah seperempat jam, kok lama banget?"
"Iya... Iya... Ini mau ambil wudhlu!"
Ku basuh sesuai kewajiban bersuci. Kemudian langsung keluar kamar mandi.
"Sudah selesai?" tanya kak Azzam yang ternyata masih berdiri di depan pintu.
"Sudah, tapi tak perlu dibantu lagi. Aku bisa sendiri," ucapku membuatnya mengerti.
Kak Azzam yang tak tega masih terus mengikuti, sampai aku duduk di tempat yang biasa kami gunakan untuk ibadah di ruangan ini.
__ADS_1
"Kakak boleh tinggalkan aku sendiri. Supaya lebih konsentrasi saat sujud nanti," ucapku menoleh dan tersenyum agar kak Azzam mengerti.
"Baiklah. Aku juga mau ke kamar mandi dulu ya. Kalau perlu apa-apa, panggil saja."
"Siap!"
Ruangan mulai sunyi. Hanya terdengar siraman air dari dalam kamar mandi. Karena semua yang ada di sini masih tertidur lelap sekali.
Ku pasrahkan semua yang sudah dan akan terjadi, sambil memanjatkan doa setelah dua rokaat ku lalui.
Dengan menengadahkan tangan pada-Nya, ku curahkan keluh kesah yang ku hadapi. Memohon ampun dan perlindungan, kalau mungkin ada yang ingin mencelakai. Baik dari golongan jin, maupun manusia yang mungkin tak suka oleh sikap yang pernah ku lakukan selama ini.
Rasanya tenang sekali di hati. Ku lanjutkan juga dengan membaca kitab suci. Sampai tak terasa, mata ini berat kembali.
Entah berama lama aku terpejam duduk bersandar di atas sajadahku, sebuah tepukan pelan di pundak membangunkanku.
"Aish.... Sayang... Bangun. Subuh, Nak!" suara bunda langsung ku kenali.
"Huaaaahmmm.... Jam berapa?"
"Hampir jam lima. Kamu kenapa tidur di sini?"
"Oh, maaf. Tadi ketiduran kayaknya. Aish ambil wudhlu lagi ya," kataku.
Ku langkahkan lagi kaki ini ke kamar mandi. Ternyata kak Azzam sudah terlelap tidur di ranjang yang dipakai bunda dan umi tadi.
"Pasti capek sekali dia. Tapi cakep juga kalau lihat tidurnya," gumamku sendiri, sampai tak sadar langkahku terhenti.
"Aish.... Kamu kenapa senyum-senyum sendiri sambil lihat Azzam?" tanya umi.
"Eh, enggak. Aish ke kamar mandi dulu!" ucapku menundukkan kepala, menutupi wajah yang terasa memanas sampai ke telinga, saking malunya.
Sampai di kamar mandi, ku tengok lagi barangkali ada rambut seperti tadi.
"Hei.... Kamu dimana?" ucapku menyapa sosok yang sempat membuatku merasa bersalah, setelah menjambak rambutnya.
Hening, tak ada jawaban sedikitpun darinya. Ku ulang beberapa kali, untuk memanggilnya. Tapi masih saja tak ada sahutan yang menyapa.
"Oke..... Maaf kalau tadi sempat bikin kamu kesal. Kalau kamu butuh bantuan, nampakkan dirimu dengan sewajarnya. Tapi kalau kamu cuma mau iseng, jangan pernah lagi muncul di sekitarku!"
Masih tak ada jawaban maupun sosokyang menampakkan diri, sampai terdengar ketukan pintu di belakang tubuhku yang masih melongok ke celah dinding kamar mandi ini.
****
Hai.... Hai... Haii....
__ADS_1
Pemenang giveaway yang sudah diumumkan dan belum hubungi author, tolong segera konfirmasi ya. Buruan!!! 👋👋👋👋
****