Mata Kedua

Mata Kedua
Gangguan Bayi Gaib


__ADS_3

'GGGGGGGRRRRHHHH......'


Suaranya masih mengerang, penuh dendam. Kak Azzam meminta kami yang bisa melihatnya, untuk mulai berdoa. Sedangkan anak kampus yang lainnya, hanya bingung mengamati tingkah kami berempat di depan loker F66.


Doa-doa mulai kami panjatkan. Terus fokus untuk melawan kejahatan yang mungkin membahayakan. Sampai sebuah suara mulai mengagetkan.


'BBRAAAAAKKK'


Pintu loker tertutup dengan sendirinya. Membuat semua yang mengamati tingkah kami, ikut terlonjak kaget di tempatnya berdiri. Kemudian berlari pontang-panting sendiri.


"Sebentar, akan aku periksa lagi ke dalamnya," seru kak Azzam mendekat kembali ke loker yang memghebohkan kampus pagi ini.


"Hati-hati, Kak!" seruku ikut membuntuti dari belakang.


Kak Azzam melantunkan kencang, ayat-ayat dari kitab suci Al Qur'an. Sambil menjulurkan tangan, memegang gagang pintu loker yang ingin dibukanya. Dan ternyata, kosong. Tak ada lagi makhluk apapun di dalamnya.


" Hilang, tapi ku rasa dia tak akan menyerah begitu saja. Sebaiknya sekarang, kita ikut pelajaran dulu seperti biasa," ajak kak Azzam melangkah pergi dari loker ini.


Ku lihat Rey masih fokus mengamati loker itu, sampai pukulan kecil Yumna sempat mengagetkannya.


" Eh, kenapa? " tanya Rey menoleh pada kekasihnya.


" Ada kelas nggak? Tuh, Aish sama Azzam dah jalan duluan," tunjuk Yumna pada kami berdua, membuat Rey tersenyum malu mengikuti kami menuju kelas seperti biasa.


Pelajaran hari ini rasanya lumayan bisa diterima, meskipun tak sepenuhnya. Karena saat jam pelajaran hampir usai, seorang gadis dari kelasku mendadak teriak-teriak aneh dan pingsan dari bangkunya.


Membuat kelas dibubarkan dengan terpaksa, sebelum kejadian yang pernah terjadi lima belas tahun terulang lagi, yaitu kesurupan massal di sini dengan para mahasiswa yang berteriak-teriak tanpa kendali. Seperti yang dijelaskan oleh salah satu mahasiswa yang tahu banyak seluk beluk kampus ini.


"Kak, lihat tidak?" tanyaku baru kembali dari ruang perawatan, setelah mengantar Arina, teman kelasku yang sempat pingsan, ku antar ke ruang kesehatan bersama dua teman lainnya.


"Lihat apa?" tanya kak Azzam, bersama Rey yang sudah menungguku di taman.


"Tadi, aku lihat sekelebat bayangan hitam sempat berada di kaki Arina saat di kelas sebelum dia pingsan. Tapi pas ku amati lagi, dah hilang dia. Kakak sempat lihat nggak?"


"Enggak. Bayangannya seperti apa?"

__ADS_1


"Gak jelas bentuknya. Tapi kayak nemplok aja. Trus anehnya lagi, pas aku anter ke ruang kesehatan, Ariana sempat ngomong meskipun matanya masih tertutup rapat."


"Ngomong apa ngigau?" tanya kak Azzam.


"Lebih tepatnya nyanyi gak jelas gitu. Akuu..... Cantiik..... Akuuu.... Cantiiikkk... Aakuuu.... Cantiikkkk.....," kataku menirukan nyanyian Ariana yang sempat ku dengar tadi.


"Masa sih? Kesambet apaan itu anak?"


"Apa mungkin kena efek dari bayi aneh tadi pagi?" sahut Yumna baru menemui kami semua.


"Iya juga. Sebaiknya kita temui Fahri. Dia sepertinya tahu banyak tentang kampus ini. Dia juga yang tadi bilang kalau dulu pernah ada kesurupan massal," usulku.


"Iya, ayo sekarang kita cari dia! Aku dan Aish ke kanan, kalian ke sebelah kiri. Setelah ketemu, kita kumpul di sini. Jangan lupa hapenya diaktifkan ya," seru kak Azzam menggandeng tanganku pergi.


Aku dan kak Azzam memanggil nama Fahri. Termasuk menanyakan pada mahasiswa lain, barangkali ada yang melihatnya tadi. Tapi baru sampai dekat gerbang, ku dengar suara decit mobil berhenti, setelah benturan keras yang menabrak pohon besar di pinggir jalan raya kampus ini.


"Kecelakaan?" tanyaku saling berpandangan bersama kak Azzam.


Aku berlari. Begitu juga orang-orang di sekitar sini. Mencoba mencari apa yang sedang terjadi.


Aku dan kak Azzam segera mendekat, dan melihat seseorang yang tergeletak lemah tak berdaya di depan kami.


"Dia masih hidup, sebaiknya segera ke rumah sakit. HEIIII..... AYO BAWA! MEREKAM PENDERITAAN ORANG ITU SAMA SEKALI TAK MANUSIAWI!" bentak kak Azzam setelah memeriksa nadi Fahri, dan mencoba mencari bantuan tapi malah banyak yang asik merekam.


"Azzam, bawa masuk!" suara Rey terdengar dari belakang kami.


Rey dan Yumna sudah siap di dalam mobil, untuk membantu Fahri ke rumah sakit terdekat. Orang-orang sekitar juga langsung tanggap, membantu menaikkan Fahri ke bangku belakang bersama kak Azzam. Setelah diteriaki tentang kemanusiaan yang hampir saja terkikis oleh tekhnologi saat ini.


"Rey, ayo cepat! Fahrii.... Ayo bangun!" seru kak Azzam setelah Fahri sudah dipangku olehnya sendiri.


Rey tanpa banyak bicara langsung menancao gasnya. Tak dipedulikan lagi tangisan bayi yang mulai terngiang di telinga kami dalam mobil ini. Justru doa kak Azzam yang kami ikuti bersama, untuk menjauhkan dari marabahaya.


"Alhamdulillah, suara tangisnya hilang. Apa ini juga kerjaannya bayi gaib itu?" tanya Yumna.


"Aku rasa iya. Nanti kita tanya Fahri kalau dia sudah sadar!" jawab kak Azzam masih berusaha membangunkan Fahri, dan mengelap darah yang masih menetes dari keningnya dengan ku bantu mengambilkan dan membuang tisunya.

__ADS_1


"Sampai, akan aku panggilkan suster. Suster....,, teriak Rey langsung turun begitu saja.


Tak lama, dua orang perawat membantu kami memindahkan Fahri untuk diperiksa di ruang gawat darurat rumah sakit ini.


Selagi Fahri dalam pemeriksaan, aku dan kak Azzam menunggu di depan pintu ruangan. Sedangkan Rey ditemani Yumna untuk mengurus administrasi, supaya cepat ditangani.


"Kak, kira-kira Fahri kenapa ya? Apa kejadian Arina tadi juga ada hubungannya sama bayi loker itu?" tanyaku di ruang tunggu.


"Kita selidiki lagi nanti. Semoga Fahri baik-baik saja, dan bisa cerita apa yang terjadi dengannya," jawab kak Azzam menggenggam erat jariku, untuk meminta dukunganku.


"Kakak butuh minum?" tanyaku menunjukkan mesin minuman di dekat tempat kami.


"Boleh. Haus banget rasanya."


"Tunggu sini sebentar ya!"


" Iya!"


Ku ambil dua botol minuman itu, setelah memasukkan uang terlebih dahulu."


"Ini, Kak. Biar adem sebentar pikiran kita, sambil menunggu di sini," ucapku menyerahkan sebotol teh dingin.


Kami masih memikirkan bersama, apa yang sebenarnya menimpa kampus kita. Sampai salah satu dokter menghampiri kami berdua, dan menyatakan kalau Fahri sudah siuman di dalam ruang gawat darurat.


" Tolong jangan tanya sesuatu yang membuat dia berpikir terlalu keras. Karena butuh waktu untuknya mengingat perlahan," pesan dokter sebelum kami masuk ke dalam.


"Maksudnya, Fahri hilang ingatan?" tanya kak Azzam memastikan.


"Kemungkinan cuma sementara, dan tidak sepenuhnya. Tapi semua butuh proses, agar bisa kembali seperti sebelumnya. Jadi usahakan pelan-pelan kalau bertanya, dan jangan memaksa apabila dia belum mengingatnya," kata dokter laki-laki itu lagi.


"Terima kasih, Dok!"


"Oh iya, apa sudah dihubungi keluarganya? Supaya diurus administrasinya. Jadi bisa segera dipindahkan ke ruang perawatan, agar lebih nyaman," saran dokter.


"Sudah, Dok. Ini sudah saya selesaikan semua," seru Rey menunjukkan beberapa lembar kertas sebagai buktinya.

__ADS_1


__ADS_2