
Sesampainya di jalan dekat rumah sakit, aku meminta turun dan berterima kasih atas tumpangannya hari ini. Meski Ronald bersikeras mengantar sampai ke dalam, ku tolak halus kemauannya barusan. Agar tak terjadi salah paham.
"Berapa nomor ponselmu?" tanya Ronald sebelum aku turun dari mobilnya.
"Untuk apa?"
"Kalau saya ingin bertemu denganmu di lain waktu," jawabnya singkat, tapi membuatku resah.
"Maaf, tapi saya sudah punya kekasih di dalam sana," jawabku tersenyum ramah, agar tak menyakiti perasaannya karena aku tahu arah pembicaraannya.
"Oh, baiklah. Tapi saya tak akan menyerah," jawabnya sambil mengerlingkan mata sebelah, membuatku semakin tak nyaman saja.
"Permisi," ucapku bergegas pergi, meninggalkan dia yang masih tersenyum puas seorang diri.
Terus ku langkahkan kaki, sampai mulai memasuki halaman rumah sakit tempat kak Azzam dirawat tadi.
Sesampainya di dalam, ku lihat Yumna sedang berdiri di depan meja resepsionis yang masih menunggu informasi. Di sampingnya juga ada Rey yang nampak khawatir, karena tak ada kabar dari kak Azzam sejak malam tadi. Padahal mereka sudah mempunyai janji.
"Kamu dari mana saja? Dari tadi aku telepon tak ada jawaban juga? Padahal aktif nomor ponselmu! Di rumah tak ada, di kampus juga tak datang. Azzam juga nomornya tak bisa dihubungi. Ada apa sih?" tanya Yumna sambil mengomel kesal.
"Kalian tahu kami di sini dari mana?"
"Si Ncus bilang kalau lihat kamu kebingungan tengah malam saat di rumah. Lalu dia mengikuti sampai ke rumah sakit ini. Cuma dia dicegat sama hantu penunggunya, jadi gak bisa ikut masuk ke dalam sini," jelas Yumna lagi.
"Maaf, tadi sempat ku silent ponselku, karena membantu pemakaman orang. Trus pas selesai, aku belum sempat menghubungi kalian yang sudah menelpon berkali-kali. Memang Ncus kenapa dicegat dan gak boleh masuk sini?" tanyaku heran.
"Katanya dia terlalu cantik, dan bisa bikin hantu lain mendapat saingan baru nanti."
"Tetep, narsis banget si Ncus. Ya sudah, ayo ke ruangan kak Azzam," senyumku mengingat wajah pucat Ncus yang jarang ku lihat, meski ternyata dia juga peduli mengikutiku sampai ke sini.
"Oh iya, aku juga bawa baju gantimu, karena aku merasa pasti ada apa-apa kalau kamu kemari sampai tak pulang lagi. Ada di mobil, kalau kamu butuh menginap di sini."
"Terima kasih ya, Sahabatku. Nanti aku ambil sebelum kamu pulang," kataku memeluk Yumna bangga.
"Keadaan Azzam gimana?" tanya Rey mulai bicara.
__ADS_1
"Alhamdulillah dia sudah melewati masa kritis tadi pagi. Kita ke ruangannya saja, biar langsung tahu keadaannya. Sudah tanya dimana ruang perawatannya?" tanyaku pada mereka.
"Mari saya antar. Kebetulan saya juga mau memeriksa perkembangan kesembuhan dari pasien Azzam," ucap seorang suster yang menemani kak Azzam tadi pagi, baru masuk dari pintu depan sambil membawa beberapa bungkus makanan.
"Wah, suster ada di sini juga. Kebetulan sekali. Baru istirahat, Sus?" tanyaku melihat suster dengan raut kesedihan yang ditutupi dengan senyuman.
"Iya. Saya taruh ini dulu ya!" kata suster menunjukkan belanjaan.
"Iya, Sus. Kami tunggu di sini."
Kami bertiga duduk di tempat yang sudah disediakan, sampai suster tadi datang, tak lama dari waktu saat dia tinggalkan tempat ini.
"Sudah, Sus?" tanyaku melihat papan yang ada ditangannya memggantikan barang belanjaan tadi.
"Sudah siap, ayo kita sembuhkan pasiennya," katanya seperti pura-pura ceria, dengan tersenyum dan berjalan menirukan tentara, membuat kami semua tertawa.
Kami berjalan bersama, menuju ruangan perawatan kak Azzam dengan mengikuti langkah suster yang ada di depan. Sambil menjelaskan kejadian yang aku lalui barusan.
Yumna juga menjelaskan, kalau semalam dia tak pulang karena harus menemani kak Raisha yang sibuk di kafe sendirian. Saat ibunya sedang mengantar Louisa berwisata sesuai program sekolahnya yang baru dijalankan. Sampai kami bertiga, berdiri tepat di depan ruangan perawatan bertuliskan 'Jasmine 05'.
"Assalamu'alaikum," kataku mengikuti dari belakang.
"Wa'alaikumsalam," jawab mereka yang di dalam.
"Umi.... Bunda......," kataku tak sadar mematung saking kagetnya.
Tak terasa ada air mengalir di pelupuk mata. Banyak rindu yang terpendam di hati yang sekian lama ku rasa.
"Aish...., kok diam aja? Gak kangen sama bunda?" tanya bunda tersenyum dan berdiri merentangkan tangan, menyambut pelukan dariku.
Aku yang sempat mematung, langsung berlari ke dalam pelukannya. Sambil menangis tersedu karena biasanya hanya melihat dari ponsel saja. Kaget juga karena tak menyangka kalau umi akan ke sini bersama bunda.
"Bunda, Aish kangen!" kataku memeluk erat tubuh yang selalu berusaha menjagaku.
"Tadi memang Azzam meminta kami, tak usah beri tahu Aish kalau bunda ikut ke sini. Buat kejutan katanya," jawab umi melirik anak lelakinya yang masih terbaring dengan perban di kepala.
__ADS_1
"Bunda juga kangen. Kamu sehat kan? Kok kayaknya agak kurusan?" tanya bunda melepas pelukannya, sambil mengamati dari ujung rambutku sampai dengan kaki.
"Kebanyakan begadang soalnya. Ngurusin arwah penasaran," sahut kak Azzam dari ranjang.
"Eh... Enggak juga. Kan kalau malam kakak selalu telepon juga, bikin begadang jadinya," kataku keceplosan yang membuat semua tertawa.
"Aku telepon juga sudah minta ijin sebelumnya. Tapi kamu suka kan, dengar suaraku sampai memejamkan mata," balas kak Azzam membuatku semakin ditertawakan.
"Abi gak jadi ikut ke sini?" tanyaku mengalihkan percakapan supaya malunya tak kebablasan.
"Lagi ada kerjaan. Tapi tadi beliau sudah telepon, langsung senang pas lihat Azzam sudah baikan," sahut umi.
Obrolan dan rasa kangen kami curahkan. Sampai tak terasa, hari semakin larut malam.
"Sudah malam, kami pulang dulu ya!" kata Yumna beranjak berdiri setelah melihat jam di tangannya.
"Gak ikut nginep sini?" tanyaku.
"Nanti malah Azzam gak bisa istirahat, karena terlalu banyak orang. Apalagi kalau ketemu Rey, bawaannya pengen ribut aja 'kan," jawab Yumna membuat kami tertawa.
"Benar juga. Tapi tadi Rey sempat khawatir juga' kan sebenarnya?" godaku pada mereka berdua yang tak pernah akur biasanya.
"Bukan khawatir, cuma geregetan. Janji mau mabar, kok malah ngilang gak ada kabar," jawab Rey membela diri.
"Bilang khawatir kenapa sih? Gengsi banget kayaknya!" kata kak Azzam membuat Rey tersenyum sambil menggelengkan kepala.
"Kangen pengen gelut iya!" sahutnya membuat kami kembalu tertawa.
"Eh, nanti kamu tidur sendiri di rumah tak apa?" tanyaku khawatir pada Yumna.
"Mungkin ke rumah kafe lagi. Daripada bengong sendiri," kata Yumna sambil mencium tangan bunda dan umi bergantian sebelum pergi.
"Oh, ya sudah kalau gitu. Hati-hati ya! Aku antar kalian ke parkiran kalau begitu, sekalian ambil baju gantiku," ucapku ikut beranjak berdiri.
"Ya sudah, ayo!"
__ADS_1
Kami bertiga berjalan keluar ruangan. Ketika jam sudah menunjukkan sembilan malam. Bersama-sama menuju ke parkiran, yang berada di belakang rumah sakit tua yang tak ada tangga. Karena memang hanya satu lantai saja, dengan area yang sangat luas.