Mata Kedua

Mata Kedua
Kembali ke Rumah Sakit


__ADS_3

Setelah kami menceritakan ke ibunya tentang apa yang sudah dikatakan Riri, kami langsung pamit untuk pulang sebelum hari semakin malam.


Ronald juga tak lupa memfoto gambar Roy dari buku nikah ibu Riri, sebagai kunci untuk kencari keberadaannya nanti. Sedangkan aku hanya bisa berencana mengajak kak Azzan untuk menerawang keberadaan Roy saat ini.


"Terima kasih, Nak. Kalian sudah repot-repot datang kemari. Jauh-jauh dari kota, hanya untuk mencari identitas Riri," kata ibu Riri saat aku bersalaman dengannya.


"Sama-sama. Semoga bisa segera terungkap, dan Riri bisa tenang menuju alam selanjutnya. Kalau begitu saya permisi dulu," kataku disambut pelukan hangat dari ibu Riri dengan suara isak tangis yang masih meneteskan air mata di pipi, sebelum kami pergi.


"Terima kasih kerjasamanya. Kalau ada informasi lagi, bisa minta tolong pak RT atau siapapun untuk menghubungi saya di nomor ini," kata Ronald menyerahkan sepotong ketas identitas, yang membuat pelukan kami terlepas untuk mengamati kartu nama ini.


"Kalian hati-hati ya, semoga hubungan kalian langgeng juga. Karena saya yakin kalau pak polisi ini orang yang bertanggung jawab untuk gadis baik seperti kamu," kata ibu Riri membuat Ronald besar kepala.


Aku dan Ronald saling berpandangan. Rasa kesalku semakin dalam saat melihat senyumnya yang sedang merasakan sanjungan.


" Aamiin...., " jawab Ronald kemudian, tambah membuatku geram.


" Aduh..., " katanya lagi saat ku injak kaki kirinya saking geregetan.


Ibu Riri yang melihat tingkah kami, mulai bisa tersenyum sendiri. Membuat rasa kesalku sedikit terobati, karena berhasil menghibur kesedihan orang yang sedang mengalami nasib yang tak menyenangkan.


"Jadi ingat saat saya sama almarhum ayah Riri. Dulu mesranya kita itu saat terjadinya pertengkaran kecil seperti itu," celetuk ibu Riri masih tersenyum melihat tingkah kami.


"Astaghfirullah. Saya permisi, Bu! Assalamu'alaikum," kataku sudah tak mau melanjutkan pertengkaran yang semakin membuat Ronald senang.


"Wa'alaikumsalam. Hati-hati!"


"Permisi, Bu!" pamit Ronald kemudian, mengikutiku dari belakang.


Aku terus berjalan ke tempat diparkirnya mobil Ronald. Tanpa menoleh ke arah orang yang menyebalkan. Sampai akhirnya dia bisa menyusulku, dan membuka pintu mobil mendahuluiku.


"Hehh.... Terima kasih. Tapi tolong jangan berlebihan!" ucapku mengingatkan.


"Maaf, aku cuma ingin menunjukkan keseriusanku sama kamu. Kalau perlu, aku akan memeluk kepercayaan sepertimu," jawabnya terlihat tak bercanda.


"Terlalu cepat kamu berkata seperti itu. Lagi pula, aku sudah memiliki kekasih yang selalu setia menunggu dan menjagaku."


"Baiklah, tapi kamu perlu tahu kalau aku tak akan menyerah untuk terus maju mendapatkan hatimu."


"Tapi...."

__ADS_1


Sebelum aku selesai menjawab, Ronald sudah berjalan memutari mobil untuk duduk di tempatnya tadi, belakang kemudi. Dan sebelum mobil ini dijalankan lagi, terlihat Riri sedang berusaha memeluk ibunya yang sedang berdiri menatap kepergian kami.


" Semoga kamu bisa tenang, Riri! " gumamku sendiri.


"Aamiin," jawab seseorang yang tak ku minta menanggapi.


Beberapa kali Ronald selalu menanyakan tentang hal pribadi, sama sekali tak ku tanggapi. Sampai akhirnya dia menyerah sendiri, dan perjalanan terasa semakin sepi.


****


Sesampainya di depan gerbang rumah sakit, jam sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Aku langsung turun, setelah roda mobil dihentikan.


"Terima kasih," kataku tanpa melihat wajah orang yang sempat membuat mood ku jelek hari ini.


"Sama-sama! Sampai ketemu lagi," jawabnya ku abaikan dan ku tinggal melangkah langsung ke dalam rumah sakit ini.


Langkah demi langkah ku lalui, untuk menuju ke ruang tempat kak Azzam dirawat.


'Ssst....sssttt.....'


Suara-suara para penghuni tak kasat mata sudah mulai berbisik di sekitar. Ditambah sosok-sosok jahil juga berseliweran untuk melakukan aktifitasnya sebagai pengganggu manusia.


"Aish....," panggil seseorang dari belakang.


Langkah masih ku lanjutkan di lorong sepi ini, tanpa menghiraukan. Karena hari semakin malam, dan aku masih belum siap menyelesaikan kalau ada sosok yang meminta bantuan. Tapi panggilan itu mulai terdengar semakin dekat dengan kakiku berjalan.


"Aisyah......," panggilnya lagi.


Ku pelankan langkah, untuk sedikit menengok ke belakang.


"Eh, kamu......! Anakmu masih dirawat di ruang ICU?" tanyaku setelah melihat manusia yang pernah mengantarku ke rumah Memey tempo hari.


"Tidak. Sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Kenapa kamu jam segini masih berkeliaran di sekitar sini?" tanya laki-laki yang pernah memperkenalkan diri dengan nama Hildan.


"Tadi habis dari luar, ada keperluan. Kamu sendiri?"


"Cuma cari camilan!" jawabnya menunjukkan sekantung plastik dengan beberapa makanan ringan.


Sambil berjalan, aku masih celingukan. Mencari sosok berbaju merah, yang sempat mengikutinya dulu.

__ADS_1


"Cari apa? Jangan aneh-aneh, dah tengah malam pula!" kara Hildan mengikuti arah mataku mencari.


"Sosok itu tak terlihat ikuti kamu lagi? Kemana dia?"


"Oh, dia mungkin sudah tenang menuju ke alam nya. Setelah tahu kalau anaknya baik-baik saja."


"Kamu tahu tentang sosok itu? Katanya tak percaya dan tak pernah melihatnya?" protesku katena dulu sepertinya dia tak pernah menganggap ucapanku tentang makhluk itu.


"Iya, dulu aku memang tak percaya. Sampai adik sepupuku yang datang ke rumah mengalami kerasukan. Nah, setelah itu barulah dia mengaku, kalau ternyata wanita yang merasuki itu bernama Susan."


"Susan? Kamu kenal sebelumnya?" tanyaku masih melanjutkan berjalan menyusuri setiap bangsal perlahan.


"Iya, dia adalah ibu dari anak angkatku."


"Lalu, kenapa Susan meninggalkan anaknya kepadamu?" tanyaku lagi.


"Susan adalah teman baikku semenjak kecil. Tapi dia menghilang dan aku tak tahu kabarnya sama sekali setelah kedua orang tuanya meninggal, dan dia dibawa oleh keluarga pamannya."


"Terus?"


"Sampai tiba-tiba dia mengantarkan bayi itu kepadaku, dan bilang kalau harus menyembunyikan identitas anak itu."


"Aneh?"


"Dia bilang, jangan sampai orang lain tahu kalau anak itu adalah anaknya. Lalu dia pergi meninggalkanku yang masih penuh tanda tanya."


" Dia tak menceritakan tentang masalahnya?"


"Dia hanya menangis saat menyerahkan bayi itu. Jadi tak sempat cerita apa-apa, hanya berpesan untukku menjaga bayinya. Saat ibuku bertanya tentang ayah dari anaknya, dia hanya menggelengkan kepala. Baru setelah sepupuku kerasukan, Susan bisa menceritakan."


"Ohhh.... Jadi mungkin Susan mengikutimu terus untuk menyampaikan ceritanya. Tapi dia belum menemukan orang yang bisa membantu untuk menceritakan itu semua. Hehh.... Maaf, Susan. Aku sudah mengabaikanmu waktu itu," sesalku.


"Tak apa. Kebetulan sepupuku memang orang yang sering dimasuki sesuatu seperti itu. Jadi mudah baginya untuk menjadi mediasi Susan bercerita," kata Hildan tersenyum menenangkanku.


"Lalu apa kata Susan saat berada di tubuh sepupumu?"


"Dia cerita, kalau dia terpaksa dinikahkan dengan juragan kaya oleh pamannya. Sebagai penebus hutang mereka. Tapi tak disangka, juragan itu juga meminta dia melayani koleganya."


"Astaghfirullah....," sedihku mendengar cerita itu.

__ADS_1


__ADS_2