
Pak Rendi memberi kunci mobilnya pada kak Azzam. Kemudian melambaikan tangan, masih dengan senyuman memuakkan. Berlalu meninggalkan kami, dengan mobil yang masih penuh teka-teki.
"Kak, lima menit lagi!" seruku melihat tanda waktu di gawaiku, yang sudah ku perkirakan saat peledakannya tiba. Sesuai perkataan pak Rendi sebelumnya.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Tadi kamu bilang meledak, gimana maksudnya?" tanya kak Azzam setelah memastikan pak Rendi sudah tak ada lagi di sini.
"Sudah, nanti akan aku ceritakan. Mobil itu lima menit lagi akan meledak katanya tadi. Kita harus segera bawa pergi, daripada masjid dan rumah warga ikut terkena imbasnya meskipun diletakkan di lapangan.
" Baiklah. Kita singkirkan mobil itu sekarang," sahut kak Azzam merasa tertantang, sambil melemparkan kuncinya ke atas, kemudian langsung menangkapnya lagi sebelum melangkah menuju mobil yang ditinggalkan pak Rendi.
Kami melangkah cepat menuju ke mobil, sambil ku tanyakan arah tujuan kami nanti pada kak Azzam. Dia bilang juga tak tahu, yang penting dijauhkan dari tempat ini dulu.
"Bismillah.....," doa kak Azzam memohon pertolongan kepada Allah SWT, sebelum menancapkan gasnya untuk melaju.
Tanpa banyak bicara lagi, kak Azzam justru memutar mobilnya kembali ke arah sebelum kita ke masjid ini. Sedangkan aku masih memeriksa jam dari hape agar tak terlambat saat kita lompat nanti.
Mobil terus melaju, dan mungkin pujasera tempat yang kak Azzam tuju. Karena arah mobil terus dikemudikan sesuai jalan tempat itu.
"Pujasera?" tanyaku.
"Berapa menit lagi?" tanya kak Azzam tanpa menjawab pertanyaanku.
"Satu menit," jawabku tanpa bertanya lagi, agar tak mengganggu konsentrasi.
"Oke, aku tancap gasnya ya. Itu danaunya sudah kelihatan juga. Sebelum masuk danau, kamu buka pintunya dan lompat ke rerumputan di pinggirnya agar tak terlalu terluka."
"Insya Allah. Kakak hati-hati ya. Kita lompat bareng-bareng," jawabku ketika kita semakin mendekati danau.
"Buka pintunya, lompat!" kata kak Azzam berusaha membantuku membuka pintu, sambil menyetir ke depan. Sedikit mendorongku, dia terus melaju menuju ke danau itu.
Aku melompat, sesuai arahan kak Azzam sebelumnya. Sempat berguling sebentar tepat di atas rumput basah karena hujan rintik barusan. Ada luka yang ku rasa, tapi tak terlalu ku hiraukan.
Apalagi aku belum melihat kak Azzam, yang turun dari mobil yang masih belum berhenti. Menuju danau Rubi, sampai akhirnya mobil tercebur masuk ke dalamnya.
'DUUUUUAAAAAARRRR.......'
Suara ledakan terdengar keras sekali. Tepat setelah mobil berhasil tercebur di dalamnya.
Sempat menggetarkan bumi yang ku pijak saat ini. Dengan kobaran api, terlihat sampai ke atas danau saat ledakan terjadi.
__ADS_1
Aku bersyukur tak ada rumah di sekitar tempat ini. Memang pilihan cepat kak Azzam tepat sekali. Tapi ada hal yang sangat aku khawatirkan, karena belum melihat tanda-tanda keberadaan kak Azzam.
"KKKAAAAK AZZAAAAMM......," teriakku terus mencari, di tempat yang gelap ini.
Dengan luka memar yang mungkin ada di sekujur badanku akibat melompat dari mobil yang masih melaju, aku tahan sakitnya untuk mencoba berdiri.
"Kkaaak....., tolong jawab! Kakak dimana?" tanyaku masih berteriak mendekati danau tempat mobil terbakar di dalamnya.
"Kakaaak....tolong jangan tinggalkan aku sendiri di sini. Kaaakk.... Dimana kakak melompat tadi?"
Aku terus memanggil namanya, karena belum terlihat tanda-tanda keberadaan kak Azzam saat ini.
Dengan kaki tertatih menahan perih, masih terus ku coba melangkah lagi. Seiring dengan tangisku yang mulai pecah, membayangkan resiko atas kejadian malam ini.
" Kakaakk.....," seruku mulai lemah, berjongkok di pinggir danau yang sedang ikut terluka menahan rasa sakit yang sama.
Tapi tak sesakit hati ini yang membayangkan kehilangan orang yang berharga.
"Kakak kemana? Aku tak bisa sendiri tanpa kakak. Aku sayang kakak, huhuhuuu.....," tangisku mulai pecah.
Belum ada tanda-tanda munculnya kak Azzam. Aku semakin kalut, menangis sendiri di tempat ini. Sampai ada beberapa warga yang mulai berdatangan kemari.
"Bunyi apa tadi?"
"Sempat gempa, memang ada apa?"
"Apa yang terbakar di danau Rubi?"
Banyak pertanyaan warga mulai bermunculan.
"Kamu tak apa?" tanya seorang wanita yang semakin mendekat ke arahku.
Semua tak terlalu ku hiraukan, saat tangis tak dapat ku bendung dari kelopak mataku.
Masih banyak pertanyaan warga, yang mulai tiba di tempatku berpijak saat ini. Tapi aku masih belum sanggup menanggapi pertanyaan mereka semua, karena masih terduduk lemas di pinggir danau Rubi.
Sampai terdengar perkataan seorang pria dari tempat yang lumayan jauh, membuatku fokus pada mereka lagi.
"Ada laki-laki tergeletak di sini!" teriaknya menunjuk bawah kaki dengan senter yang dipegangnya.
__ADS_1
"Kak Azzam?" tebakku langsung berdiri.
Meski lutut rasanya masih lemas, tapi ku coba terus berjalan cepat ke arah teriakan yang membuatku mendapat harapan.
Kaki terus ku langkahkan lebih cepat, bahkan mulai berlari. Mencari asal suara yang sempat terdengar tadi. Sampai ku lihat ada seseorang yang tergeletak di atas rumput pinggir danau Rubi. Setelah ku pecah gerombolan warga yang menutupi.
"Kak.... Kak Azzaaaamm....," tangisku saat mendekat, dan memeluk tubuh tak berdaya itu.
Kapalanya sedikit ku angkat, dan ku baringkan pada pangkuanku. Air mata yang sudah kunusap, kembali menetes di sini. Hingga membasahi pipi dari tubuh lemas dan mata terpejam masih dalam pangkuan.
"Kakk.....bangun. Tolong bangun!" seruku menepuk pelan pipinya yang basah oleh air mataku yang jatuh menetes menimpanya.
Terus ku usap wajah tampannya, dengan penuh kecemasan karena belum menemukan tanda kehidupan selain lemahnya denyut nadi di tangannya.
"Ssttt..... Jangan nangis. Berkurang cantiknya," bisik lemah suara dari dekat telinga.
" Kak... Kak Azzam? "
Ku tatap wajah sendu dari dekapanku. Ada desir di hati melihat tatapannya sedekat ini. Bercampur dengan kebahagiaan, saat menemukan masih adanya harapan di dalam sorot matanya.
"Kamu kenapa nangis?" tanya kak Azzam masih lemah, menghapus air mataku.
"Kakak kenapa nggak bangun dari tadi? Padahal para warga sudah beberapa kali goyang-goyang kepala sampai badan kakak. Tapi tetap tak ada pergerakan sama sekali. Sampai aku lemas melihat keadaan kakak yang seperti tadi," omelku menumpahkan beban di hati sedari tadi.
" Kakak bangun karena kamu belum mandi, bau," cengirnya mulai mengejek meski masih terdengar berat untuk berbicara.
" Ih, kakak juga belum 'kan?"
" Iya, kan sehati, " jawabnya semakin membuatku kembali gemas pada sikap jahilnya.
Ku usap kembali air mata. Merasakan lagi kehidupan yang sempat membuatku hampir merasa kehilangan. Dan tersenyum puas mendengar celoteh jahilnya seperti biasa.
Beberapa waktu kemudian, para polisi dan ambulan datang. Aku dan kak Azzam dibawa ke rumah sakit terdekat. Hendak dilakukan pemeriksaan atas insiden yang baru saja kami alami berdua di sini.
Setibanya aku di dalam ambulan, ku sempatkan menengok keluar sebentar. Sampai ku lihat lagi sosok Tissa di bawah pohon pinggir danau. Tersenyum melambaikan tangannya, diantara kerumunan orang-orang dan para polisi yang seperti menembus tubuhnya berdiri.
"Tissa? " gumamku sendiri, setelah mobil ambulan mulai dijalankan.
"Apa Tissa ada di sana? Sekarang ceritakan, apa yang sebenarnya terjadi dengan pak Rendi? Dan kenapa ada bahan peledak di dalam mobilnya?"
__ADS_1
Satu persatu yang sempat ku dengar mulai ku ceritakan. Bersamaan dengan jalannya ambulan.