Mata Kedua

Mata Kedua
Keadaan Ronald


__ADS_3

"Kalau tak ingat, jangan dipaksa!" sahut kak Azzam langsung meletakkan nasinya, dan mendekat ke arahku.


Sepertinya dia takut sekali saat aku merasa pusing seperti tadi. Tapi sekarang ini, aku tak memaksakan diri, hanya mengikuti pecahan kejadian yang sempat ada dipikiranku saja.


" Aku tak apa. Bagaimana keadaan Ronald?" tanyaku mulai penasaran sama keadaan dia.


"Dia masih koma," jawab Yumna.


"Tak usah kau tanyakan keadaan orang itu. Bikin emosi saja, karena dia yang membuatmu celaka," kata kak Azzam mulai menunjukkan emosinya.


"Bagaimanapun juga, dia sudah bertanggung jawab dengan merelakan dirinya. Agar aku bisa kembali ke keluargaku di sini."


"Tanggung jawab dari mana? Kenapa dia mengajakmu ke arah yang berlawanan dengan villa? Dia pasti sengaja mau mencelakaimu," tuduh kak Azzam mulai geram.


"Kami tersesat. Ada makhluk yang sengaja menjerumuskan mobil Ronald, sampai tak tahu arah jalan."


"Benar, dan sekarang Ronald masih terjebak di sana," sahut Bunda mendekat.


"Maksudnya?" tanyaku dan Yumna bersama.


"Setelah polisi menghubungi bunda karena Aish kecelakaan, bunda langsung menuju ke tempat kejadian. Di sana bunda lihat kalau sukma Aish masih berada di dalam tubuhnya, sedangkan Ronald nampak kosong saja."


"Apalagi malamnya bunda sempat bermimpi, mbah Darmi menceritakan semua kejadiannya. Termasuk Ronald yang merelakan dirinya, asal Aish bisa selamat kembali ke dunia kita," lanjut bunda.


"Memang sebenarnya kalian mau kemana?" tanya Yumna menatapku.


"Kita mau ke villa, untuk menemui Roy di sana. Ronald sudah menghubungi para polisi agar menyusul kita. Tapi tiba-tiba ada makhluk pengganggu yang menyesatkan perjalanan kita," jelasku.


"Pantesan, mobilmu terperosok jauh dari arah villa. Bahkan sampai ke perbatasan hutan dan desa terpencil di sana," kata Yumna.


"Masa sih?" tanyaku heran, karena sebelumnya aku yakin kalau hanya ada satu arah yang ditelusuri Ronald.


"Ada-ada saja, pakai disesatin makhluk tak kasat mata," sahut Rey sambil geleng-geleng kepala.


"Lalu apa Ronald masih bisa diselamatkan, Bunda?" tanyaku.


"Mungkin bisa, mungkin juga tidak!"


"Maksudnya?" tanyaku.


"Bunda juga tidak tahu keadaan di alam itu. Meski bunda juga pernah tersesat di alamnya, tapi mereka memiliki wilayah yang berbeda. Jadi bunda tak bisa memastikan keamanan di sana," kata bunda.


"Apa Aish bisa?"


"Jangan ambil resiko! Aku tak mau melihatmu tak sadarkan diri terlalu lama lagi. Biarkan dia menemukan jalannya sendiri," kata kak Azzam mencegahku.

__ADS_1


"Tapi, Kak!"


"Sudahlah, tak ada yang bisa kita perbuat di sini, selain berdoa untuk pencagaan dari-Nya. Kita minta tolong pada Allah SWT," kata kak Azzam mulai terlihat tenang.


"Hik.... Dia sudah merelakan dirinya untuk membuatku kembali ke dunia kita. Tapi aku tak bisa berbuat apa-apa, karena kondisiku sendiri yang masih lemas tak berdaya," kataku merasa sangat sedih sekali, mengingat pengorbanan Ronald selama ini.


Kami masih membicarakan kemungkinan-kemungkinan yang bisa dilakukan. Sampai seorang suster memberi kabar tak mengenakkan.


" Permisi, Bu."


" Iya, kenapa, Sus? " tanya bunda bersamaan drngan arah mata kami semua.


"Polisi atas nama Ronald, yang sempat kecelakaan bersama anak ibu, beliau sudah tiada."


"Innalillahi wa innaillaihi roji'un," jawab kami semua.


"Bund, Aish mau melihatnya. Aish mau ke sana! Aaauuuww.....," kataku hendak berdiri tiba-tiba, tapi justru membuat sakit kepala.


Ku pegang kembali perban di kepalaku dengan tangan kanan. Sedangkan tangan kiri menggenggam erat pinggir ranjang, agar tak terjatuh di sini.


" Aish... Tenang dulu. Kamu istirahat dulu! Biar bunda yang membereskan semuanya," kata bunda memapahku kembali berbaring di ranjang.


"Aish, jangan memaksakan dirimu. Memang sudah menjadi takdirnya seperti itu," kata kak Azzam menggenggam jemariku, sebagai bentuk kekuatan dan dukungan darinya.


"Aish.... Kamu tenang dulu ya. Bunda dan umi masih sibuk sekali. Jadi tak usah menambah beban mereka di sini. Aku yakin kamu bisa bangkit sendiri," kata Yumna mengelus pundakku yang tak berhenti meneteskan air mata.


"Aku tahu itu. Aku hanya ingin melepaskan kekesalanku pada Ronald, yang telah ceroboh tak mendengar ucapanku."


Mulai ku ceritakan urutan kejadian yang kami alami, setelah semua sudah mulai ku ingat lagi. Tak ada yang menanggapi, hanya mengangguk mengerti. Sampai ku alihkan pembicaraan pada kasus Roy, yang sempat kami lalui.


" Roy memang sudah menghilangkan nyawa beberapa wanita. Selain karena kesenangan saja dengan mereka, dia memiliki ritual untuk mengambil darahnya," jelas Yumna.


"Ritual untuk apa?"


"Untuk tetap mensejahterakan hidupnya. Demi kemajuan bisnisnya, dia rela meminum darah para wanita muda."


"Astaghfirullah, sampai segitunya dia melakukannya. Riri... Artis wanita itu, juga teman dari Hildan, semoga mereka sudah bisa tenang sekarang," kataku berharap kebaikan mereka.


"Aish..... Kamu dirawat di sini?" kata seorang lelaki yang baru diantar suster ke kanar perawatanku.


"Hildan.... Baru saja dibicarakan. Apa kamu tahu kalau Roy sudah tertangkap?" tanyaku.


"Iya, aku tahu itu. Kedatanganku kemari juga untuk berterimakasih soal itu. Sekarang aku bisa menjaga anak angkatku lebih tenang, tanpa ada bayang-bayang Roy yang selalu mengancam."


Aku perkenalkan Hildan kepada para twmanku. Kami mengobrol basa basi sebagai perjenalan diri. Juga mendengar ceritanya yang sudah bertemu dengan temannya, ibu dari anak angkatnya, meski dalam mimpi.

__ADS_1


" Dia memintaku menyampaikan ucapan terima kasihnya padamu. Karena kasus ini, kamu sampai celaka sendiri," kata Hildan sedikit sungkan.


"Tak apa, santai saja. Oh iya, kamu masih punya hutang cerita," kataku mengingatkannya.


"Cerita apalagi?"


"Tentang sikapmu yang terburu-buru saat mengantarku di rumah Memey dulu."


"Oh, itu karena mengingatkan pengalamanku di rumah itu. Hampir saja aku jadi tumbal keluarganya, saat diminta mengi ap di rumahnya."


"Kamu kenal baik keluarga Memey?"


"Ehmmm..... Sebenarnya Memey teman sekelasku juga. Dan kami diajak ramai-ramai untuk menginap di rumahnya. Cuna aku yang mengalami kejadian mistis, bahkan hampur jadi tumbalnya. Sayangnya tak ada yang percaya."


"Oh, jadi karena itu kamu seperti trauma saat ku minta antar ke sana?"


"Iya, tapi sekarang sudah jelas semuanya. Setelah terbakar habis semua rumahnya. Meski percuna saja, karena sudah terlanjur tak ada teman yang percaya," tunduknya.


"Tak usah sok sedih seperti itu. Kalau kamu butuh teman, gabung aja ke sini. Atau ke kafe Rey juga boleh, barangkali mau melarisi," sahut kak Azzam berusaha mencairkan suasana.


"Sudah... Sudah.... Kakak bujannya tadi lagi makan? Kok gak dihabisin?" tanyaku.


"Sudah kenyang."


"Ada yang cemburu gara-gara kita omonging Robald tadi," ucap Yumba menggodanya.


Entah kenapa, saat mendengar nama itu rasa bersalah langsung muncul seketika. Robald yang menyebalkan sudah tiada. Membuatku merasa kehilangan juga.


"Assalamu'alaikum," kata bunda tersenyum ramah membuka pintunya, diikuti ranjang dorong di belakang tubuhnya.


"Wa'alaikumsalam," jawab kami bersama, sambil menunggu seseorang yang terbaring di belakang bunda.


"Kalian lagi ngomongin aku ya!" ucap Ronald yang ternyata ada di atas ranjangnya.


****


Hei, Pembaca Setia.....


Tak lupa like dan komentarnya 'kan? Tunggu tanggal 30 Juni 2021 ya, untuk pengumuman pemenang giveawaynya.


Pengumuman juga akan disampaikan di....


Ig : MakMak871


😍😍😍😍**

__ADS_1


__ADS_2