Mata Kedua

Mata Kedua
Cerita Martha


__ADS_3

"Yumna, bangun. Sudah pagi. Sholat, terus siap-siap ke rumah sakit dan kantor polisi," ucapku membangunkan dia yang sedang terlelap.


"Huaaahhhhmm......, eh kamu dah bangun?"


"Masa aku masih merem bisa bangunin kamu? Nih handuknya, ayo cepetan mandi!"


Ku lihat Yumna sudah berdiri, menuju kamar mandi belakang rumah ini. Langsung saja ku langkahkan kaki, ke dapur untuk membantu bu Nuri.


"Hhmmmm..... Masak apa, Bu?" tanyaku menikmati bau masakan yang sepertinya enak sekali.


"Ini lagi bikin nasi lemak."


"Aku bantuin ya, Bu."


"Apa kamu tak capek? Itu para lelaki sudah siapin tenaga dari tadi," tunjuk bu Nuri pada kak Azzam dan Rey yang sedang menggoreng kacang dan membuat sambelnya.


"Ya sudah, biar mereka yang membereskan sisanya. Ibu ngobrol sama saya saja gimana?" ucapku sedikit keras, menggoda para lelaki yang sedang fokus dengan pekerjaannya.


"Iya, sebaiknya para wanita hari ini istirahat. Toh tinggal sedikit juga sisanya, ya 'kan, Rey?" tanya kak Azzam meminta persetujuan.


"Hmmm.....," jawaban ala kadarnya, padahal nanti pasti dia sendiri yang harus menyelesaikannya. Karena kak Azzam tak terlalu bisa memasak makanan.


"Beneran? Padahal niatnya cuma bercanda. Tapi tak apalah, sekali-kali nyuruh orang kaya," kataku menarik tangan bu Nuri sambil tertawa puas, melihat Rey menunjukkan kepalan tangannya padaku sambil sedikit tersenyum.


Aku dan bu Nuri memutuskan untuk duduk di teras depan. Sambil melihat ke rumah yang semalam menjadi saksi bisu peristiwa kelam. Meski tembok pembatas tinggi menutupi kami untuk melihat ke dalam.


"Oh iya, ibu tahu tidak kalau Martha selama ini sengaja bersembunyi sampai dikira menghilang?" kataku memulai pembicaraan.


"Tahu, dia tinggal di ruang belakang, gudangku. Tapi kata suami, biarkan saja."


"Ibu tahu? Kenapa tak menegur dia?"


"Daripada nanti ditegur malah pindah ke tempat lain. Kita malah tak bisa mengawasi, dia masih aman atau tidaknya selama ini."


"Benar juga. Tapi bagaimana kalau orangtuanya mencari dia?"


"Orangtuanya sudah meninggal, mengalami kecelakaan saat liburan berdua saja. Martha masih selamat karena kebetulan lagi ujian, jadi tak ikut mereka."


"Oh, jadi dia sudah tak punya keluarga? Makanya meski tinggal di gudang ibu, tak ada yang mencarinya."

__ADS_1


"Sebenarnya ada pengasuhnya, yang mencari dia saat itu. Karena tidak ketemu, akhirnya dia memutuskan untuk pulang kampung saja, meninggalkan rumah besar yang sekarang tak berpenghuni."


"Ibu tak memberitahu beliau?"


" Saat itu saya juga belum tahu ada Martha di sini. Tahunya setelah pengasuh Martha pulang kampung."


"Sekarang setelah selesai semuanya, pasti Martha tak mau tinggal di rumahku lagi," sambung bu Nuri dengan nada sedih sekali.


"Sabar ya, Bu. Apa ibu merasa kehilangan dia, yang biasa tinggal di rumah ini meskipun biasanya cuma di gudang saja?"


"Pasti. Saat ada dia di sini, saya merasa senang sekali. Ada temannya kalau suami ke luar kota, meski saya tak bisa mengobrol dengannya karena dia selalu bersembunyi."


Obrolan kami terus berlanjut, sampai suara kak Azzam nyaring memanggil kami untuk mencicipi sarapan pagi.


" Heeemm.... Pandai sekali kalian masak rupanya," puji bu Nuri mulai menunjukkan wajah tenang, setelah bercerita sedih tentang Martha tadi.


" Bukan 'kalian', tapi 'saya'. Karena dia tak melakukan apa-apa, selain terus menerus mencicipi masakan, sebelum disajikan, " sahut Rey menyindir kak Azzam.


"Pantesan tinggal dikit yang ditata di meja. Padahal perasaan tadi kita banyak masaknya," kata bu Nuri membuat kita tertawa bersama.


Selesai sarapan, kami semua langsung menuju ke rumah sakit tempat Martha dan kakaknya dirawat.


"Nyawa Anjani dan bayinya tak bisa diselamatkan," ucap polisi.


Rasa sedih dan khawatir bercampur jadi satu. Sedih karena Anjani menjadi korban meninggal di kejadian malam tadi, dah khawatir membayangkan keadaan Martha yang sudah berjuang dua tahun demi menyelamatkan saudaranya.


Kami langsung bergegas menuju ruang perawatan, dimana Martha mendapatkan pengobatan.


" Assalamu'alaikun," salamku saat kami baru membuka pintu.


"Wa'alaikumsalam," jawab semuanya.


"Martha, bagaimana keadaanmu?" tanya Yumna mendekat padanya, langsung memeluk untuk memberi semangat sebelum Martha bercerita tentang kehilangan yang baru dia rasakan.


"Mungkin memang lebih baik seperti ini. Anjani sudah lebih tenang sekarang," ucapnya memandang kosong ke depan, sambil membayangkan sesuatu yang kami tidak tahu.


"Ikhlaskan dia. Mungkin ini yang terbaik untuknya," sahut Yumna mengelus punggung kurusnya.


"Aku sudah ikhlas."

__ADS_1


Martha mulai berusaha tersenyum, untuk melepaskan semua kesedihan.


"Lalu, setelah ini apa rencanamu selanjutnya?" tanyaku ikut duduk di sebelah ranjangnya.


"Aku juga tak tahu. Aku sudah tak punya keluarga ataupun kerabat, saat pulang nanti. Keluarga orang tuaku juga tak terlalu peduli pada keberadaanku di dunia ini, setelah kesombongan yang pernah aku lakukan beberapa tahun yang lalu," jawabnya mulai menunduk sedih.


"Martha, ibu tahu kalau kamu sebenarnya anak baik. Mungkin sikap burukmu dulu hanya sebagai pelampiasan, karena sering kesepian. Bagaimana kalau kamu tinggal bersama ibu, agar sama-sama tak kesepian lagi," tawar bu Nuri dengan senyum ramahnya.


"Ibu serius?"


"Apa saya terlihat sedang bercanda?" jawabnya membuat Martha menggelengkan kepala sambil tersenyum bahagia.


Pembicaraan ini dilanjutkan, dengan Martha yang mulai bercerita. Kalau sebelum orang tuanya meninggal, pak Malik dan istrinya pernah berkunjung ke rumahnya, saat baru pindah ke kampung itu.


Ternyata mereka teman lama, dengan nasib yang hampir sama. Yaitu tak memiliki keturunan.


Pak Malik juga cerita, kalau akhirnya mereka mengadopsi anak dari panti asuhan yang sama. Dan ternyata menemukan saudara kembar, yang wajahnya tak terlalu mirip kalau tak diperhatikan. Martha dan Anjani, nama baru yang sudah diberikan setelah adopsi.


Martha tak sengaja mendengar itu. Dia sempat shock, dan mengurung diri di kamarnya. Meski tak berani menanyakan langsung kepada orang tua angkatnya.


"Jadi, mungkin Anjani dan kamu mungkin diadopsi sebagai pancingan supaya bisa hamil ya?" tanyaku.


"Iya. Tapi ada hal lain yang mengejutkanku. Pak Malik ternyata melakukan ritual pemujaan setan, demi bisa mendapatkan anak dan kekayaan."


"Ritual untuk medapatkan anak juga?" tanyaku penasaran.


"Iya, mereka menyarankan pada orang tuaku untuk mencobanya. Karena mereka terbukti berhasil memiliki anak kandung, yaitu Nabila."


Martha terlihat mengambil nafas panjang, sebelum melanjutkan ceritanya.


"Ritual itu, dengan cara makan sup janin manusia."


"Astaghfirullah," kataku terkejut mendengarnya.


"Dan orang tuaku sempat tergiur juga, ingin melakukan hal yang sama. Pergi ke daerah terpencil, yang khusus menjual makanan itu secara ilegal di sebuah pulau yang jauh dari kota."


"Jadi, orang tuamu pergi tanpa mengajak kamu, bukan untuk liburan?" tanya bu Nuri.


"Bukan, tapi untuk mencoba sup janin itu. Dan si*lnya, pak Malik dan istriny sudah ketagihan rasanya. Sampai tega menghamili Anjani, untuk diambil janinya sebagai bahan sup juga," sesal Martha mengingat nasib tragis saudaranya.

__ADS_1


__ADS_2