
"Baiklah, nanti biar bisa segera dipindahkan ke ruang perawatan. Tapi jangan lupa hubungi keluarganya, supaya tidak menimbulkan masalah untuk kalian semua. Karena luka anak ini cukup parah di kepala," kata dokter mengingatkan kami.
"Baik, Dok. Sebentar lagi akan saya urus itu semua," janji kak Azzam.
"Ya sudah, kalau begitu saya kembali ke dalam. Saya akan mengurus pemindahannya ke ruang perawatan."
"Terima kasih banyak, Dok!" jawab kak Azzam mewakili kami.
Dokter menganggukkan kepala, dan segera masuk ke dalam ruangan gawat darurat lagi. Sedangkan kami, masih memikirkan pengurusan keluarga Fahri.
"Ada yang tahu keluarga Fahri?" tanya Rey.
"Kita balik kampus dulu gimana? Buat laporan ke sana, kalau Fahri sedang dirawat di sini," usulku.
"Oke, sekalian mau cek loker itu lagi. Masih penasaran banget soalnya," kata kak Azzam menimpali.
"Masih penasaran aja kalian," tawa Rey sambil menggelengkan kepala.
"Kayak kamu enggak aja. Sebaiknya ada sebagian yang tinggal di sini. Untuk membantu merawat Fahri," sahut Yumna.
"Lalu, gimana enaknya?" tanyaku meminta pendapat lainnya.
"Oke, aku dan Rey akan di sini. Kalian yang masih penasaran, ke kampus aja buat cari tahu," usul Yumna kemudian.
"Sip, ayo! Aku pinjam mobilnya kalau gitu."
Kak Azzam menerima kunci mobil Rey. Menuju kampus bersamaku, untuk memberitahu kepada keluarga Fahri melalui kampus kami nanti.
Mobil mulai dijalankan. Tak ada lagi percakapan. Hanya larut dalam pikiran. Tentang teror yang sedang melanda kampus, semenjak ditemukannya mayat bayi di loker 'angker'.
Beberapa menit kemudian, tak terasa kami sudah mulai memasuki wilayah tujuan.
"Alhamdulillah, jarak kampus dan rumah sakit tak terlalu jauh. Jadi kita tak terlalu banyak membuang waktu," ucapku saat mulai memasuki wilayah perguruan tinggi yang kami pilih sebagai tempat belajar selama ini.
__ADS_1
"Iya. Aku parkir sini aja deh, ayo cari rektor langsung aja," ajak kak Azzam kembali menggandeng tanganku, dengan tatapan beberapa mahasiswa yang berbisik satu sama lainnya di sepanjang langkah kami berjalan.
Di ruang rektorat, semua keadaan Fahri sudah kami utarakan. Dan beliau bersedia membantu menghubungi keluarganya, untuk merawat Fahri di rumah sakit.
Jadi kami tinggal mengurus sesuatu yang masih mengganjal di pikiran. Tentang loker misterius di ruangan yang sekarang mulai sepi orang. Karena semua mulai takut setelah ada kejadian aneh yang mulai menimpa.
Sesampainya di ruangan loker, semua kelihatan baik-baik saja. Termasuk loker F66, yang sudah kosong setelah dibuka kak Azzam juga.
"Gak ada apa-apa? Sebaiknya kita kembali ke Fahri, barangkali ada informasi baru yang di dapat mereka berdua. Gimana?" tanya kak Azzam meminta pendapatku.
"Iya deh. Kayaknya gak ada yang terlihat aneh di sekitar sini," jawabku melangkah meninggalkan loker-loker yang berjajar rapi, menuju ke tempat parkir mobil Rey tadi.
Tapi baru saja sampai taman, ku lihat Ariana sudah duduk di bawah pohon rindang. Bersama dengan Virgin, sahabatnya.
"Kak, lihat mereka?" tunjukku pada kedua gadis yang sedang serius membicarakan sesuatu.
"Eh iya, kok ada bayangan mirip bayi lagi nemplok di punggung Virgin. Sebenarnya apa mereka ada hubungannya sama jasad janin itu ya?"
"Nah, itu juga yang kelihatan di kaki Ariana tadi siang, sebelum dia pingsan sebelumnya. Ayo!" tarikan tanganku hendak menuju ke mereka berdua.
"Mau samperin mereka, buat tanya langsung saja. Apa mereka ada hubungannya sama pembuangan janin itu di sana?" kataku.
"Kalau kau cuma bertanya tanpa bukti yang jelas, tak akan ada yang mau mengakui kejahatannya sendiri. Kecuali orang yang memang siap menghadapi resikonya nanti."
"Oke, kita amati dulu dari balik pohon di belakang mereka. Gimana?" usulku lagi.
"Nah, kalau itu aku setuju!"
Dengan sedikit bersembunyi, kami berdua melangkah ke balik pohon sesuai kesepakatan sebelumnya. Diam saja untuk mengamati pembicaraan mereka. Dan untungnya ada semak yang tak terlalu tinggi, bisa menutupi kami meskipun mungkin akan sedikit merasakan pegal di kaki untuk jongkok di sini.
"Dari pagi kakiku berat sekali. Kayak ada batu besar yang dirantai di kaki. Terutama sebelah kiri," keluh Ariana pada sahabatnya.
"Aku malah di punggung. Sampai pusing rasanya. Apa itu ada hubungannya sama janin yang kita taruh di loker F66 ya?" tanya Virgin menimpali.
__ADS_1
"Ih... Ngeri juga kalau itu sebabnya. Kamu juga, kenapa suka bikin tapi gak mau merawat," timpal Ariana lagi.
Baru juga pembicaraan yang ku dengar hanya sedikit, tubuh kak Azzam sudah menggeliat karena gatal. Seekor ulat bulu berjalan perlahan di lengan jaketnya. Membuat kami terpaksa kabur secepatnya.
Ku suruh kak Azzam melepaskan, meski leher sudah terlanjur penuh dengan bentol merah yang terasa sangat gatal. Karena ulah ulat bulu yang sudah kami lempar, kembali ke semak taman tempat kami bersembunyi.
Kak Azzam diam sendiri di sebelah mobil terparkir. Sedangkan aku lari ke toserba deoan, mencari bedak gatal untuk merontokkan bulunyang sempat menempel sedikit di leher kak Azzam.
"Jaketnya tak usah dipakai. Masukkan plastik ini saja. Makanya kalau sembunyi tuh harus lihat sekitar tempat kita dulu. Aku aja tadi pas mau duduk celingukan, takut kalau ada hewan. Eh, kakak saking semangatnya nguping, sampai kena ulat bulu," omelanku.
"Maaf ya, lehernya ku tabur bedak dulu," lanjutku untuk meminta ijin sebelum mengoleskan ke leher kak Azzam yang duduk di semen pembatas antara mobil yang terparkir rapi.
"I love you," kata kak Azzam singkat, dengan tatapan mata yang berjarak tak lebih dari sepuluh centi meter.
Rasa deg-degan mulai menjalar. Ada rasa gugup saat mata yang biasanya konyol, berubah serius dan tajam ke arahku. Nafasku rasanya juga hampir tak bisa ku tarik lagi, ketika nafas kak Azzam terasa berhembus wangi di depan hidungku.
Tapi tetap ku tahan rasa itu, agar tak terlihat gugup dan membuatku malu. Meski tanganku yang mengoles lehernya, sempat terhenti salah tingkah sendiri. Sampai terdengar suara jeritan dari arah taman yang tak jauh dari tempat kami, membuyarkan pandangan jarak dekat ini.
"AAAAAARRGGGGHHHHH......," jeritan wanita, seperti suara Virgin.
Aku dan kak Azzam melupakan sejenak rasa yang membuat kami mati gaya. Untuk meneruskan misi yang sempat tertunda.
Kami berlari bersama, menuju sumber suara. Beberapa mahasiswa ternyata sudah berkumpul di tempat kami sempat mengintip sebelumnya. Ke tampat Virgin dan Ariana.
" Ada apa?" tanya kak Azzam setelah kami sampai di kerumunan itu.
"Eh, lehermu kenapa? Abis sama Aish kok pada merah-merah semua?" celetuk Rio, seorang teman yang paling iseng di kelas.
"Kena ulat bulu!" jawab kak Azzam agar tak ada yang berpikir macam-macam.
"Memangnya Aish bunya ulat bulu?" celetuk Rio lagi, membuat kami tak menghiraukannya, karena kondisi Ariana yang tadi pingsan, sekarang menjadi kejang-kejang.
"Bawa ke mobil, kita ke rumah sakit sekarang!" seru kak Azzam meminta bantuan para mahasiswi untuk mengangkat Ariana.
__ADS_1
Kami langsung memasukkan dalam belakang mobil Rey, tempat untuk membawa Fahri sebelumnya. Ada dua orang mahasiswi lain yang ikut menemani kami ke rumah sakit. Tapi justru Virgin, sahabat baiknya selama ini, tak terlihat lagi di sekitar sini.