
Matahari sudah mulai menampakkan diri. Yumna dan Rey juga sudah muncul di ruangan ini, untuk membawakan kami sarapan pagi.
"Kamu belum sembuh?" tanya Rey mendekati kak Azzam di sebelah ranjangnya.
"Sebentar lagi. Kenapa? Kangen?"
"Sepi, gak ada yang diajak berdebat."
"Ohhh... Bilang aja kalau lagi kangen. Gak apa-apa kok, gak usah malu!" ledek kak Azzam tanpa ekspresi, membuat tinju Rey melayang ke lengannya.
"Aauuuwwhh....., ini orang kalau ketemu ngajak gelut aja!" seru kak Azzam mengelus lengannya yang masih ada sedikit memar.
"Hahaa.... Aku bukan Aish! Yang bucin sama makhluk konyol sepertimu," sanggah Rey tak terima.
"Enak saja. Kamu tuh yang harusnya dibilang aneh. Aku heran, kenapa Yumna bisa sesabar itu menghadapi sikap dinginmu ya?" tanya kak Azzam masih mengelus lengan.
"Sudah.... Sudah.... Ayo kita ke kampus!" ucapku melerai pertengkaran mereka, setelah sarapan ku santap dengan cepat saking laparnya.
"Lhoh... Ini Aish?" tanya Yumna baru menyadari keberadaanku di sini.
"Dikira siapa?" tanyaku balik.
"Baru saja aku mau tanya, kok Aish gak ada memangnya lagi kemana? Eh, ternyata lebih cantik sekarang," jawab Yumna memuji.
"Alhamdulillah. Kamu gak pengen tambah cantik?" tanyaku menatap matanya.
"Pengen hijrah juga sih, doakan saja ya!"
"Insyaa Allah, aamiin," kataku merangkulnya sebagai penyemangat.
"Oh, iya. Maaf kemarin tak bisa ke sini. Soalnya masih ada urusan di tempat lain juga," kata Yumna memberi alasannya.
"Urusan apa? Mengurus persiapan pernikahan?" tanyaku menggodanya.
"Maunya gitu. Tapi Yumna masih belum siap aja," sahut Rey membuat kami sedikit tertawa.
"Bukan soal itu. Tapi kami sempat ketemu..... Nah, itu dia!" jawab Yumna menunjuk berita di televisi yang sedang dinyalakan oleh bunda.
"Maksudnya kamu ketemu artis yang sedang hilang itu?" tanyaku masih belum sepenuhnya mengerti.
"Iya, tapi sudah bukan manusia."
"Hah? Berarti, dia sudah.....," kataku sengaja tak melanjutkan.
"Iya, sudah tiada. Dan kami sempat mengikuti petunjuknya, sampai tak terlihat lagi sosoknya."
"Petunjuk apa?" tanyaku.
"Sosoknya mengarahkan kami ke tempat yang mungkin menjadi saksi bisu kematiannya. Cuma karena kemalaman, kami putuskan untuk pulang saja. Tak jadi membongkar sesuatu yang ditunjuknya, karena beresiko merusak tempat kejadian perkara," jelas Yumna.
"Dimana? Jauh dari sini?" tanyaku.
__ADS_1
"Di sungai dekat dengan villa mewah di puncak bukit sana. Rencananya nanti kami akan kembali ke sana bersama para polisi. Semoga saja mereka percaya dan mau mengikuti kami," jawab Yumna.
"Kalian ngapain ke daerah villa?" tanya kak Azzam menyahuti.
"Antar dokumen ke ayah Rey, yang lagi meeting di villanya bersama beberapa karyawannya. Karena mereka sedang melakukan liburan bersama sambil bekerja," jelas Yumna.
"Ohhh.... Kirain," jawab kak Azzam meledek cengengesan seperti biasa.
"Apa sih? Gak jelas!" sahut Yumna.
"Tadi polisi yang biasa membantu kita sudah ku hubungi. Setelah pulang kampus saja kita menyusul ke sana nanti," kata Rey menyahuti.
"Aku sebenarnya ingin ikut. Tapi aku sendiri masih ada masalah dengan kematian Riri. Masih mencari keberadaan Roy sebagai tersangka sesuai petunjuknya, dan mengumpulkan bukti-bukti," kataku.
"Roy?" tanya Yumna.
Sejenak Yumna dan Rey saling berpandangan, kemudian melihatku dengan tatapan tanya besar.
"Kenapa?" tanyaku ikut bingung tak paham.
"Sepertinya kita menghadapi kasus yang sama. Karena aku sempat dengar dia berbisik kata Roy, saat sosok gadis itu menunjuk tempat kejadiannya," jawab Yumna.
"Oh ya? Berarti memang kita harus segera temukan orang itu, sebelum ada korban lagi!"
Baru saja kami berbincang, seseorang sudah mengetuk pintu kamar ruangan ini.
"Silahkan masuk!" kata bunda yang tadi hanya mendengar saja, mulai membukakan pintunya.
"Ronald! Ngapain kemari?" tanyaku.
"Waoooww.... Kamu cantik!" katanya tanpa menjawab pertanyaanku.
"Siapa dia?" tanya kak Azzam.
"Itu polisi yang kemarin sempat bunda ceritakan," sahut bunda.
"Ohhh.....ada perlu apa ya?" tanya kak Azzam mulai duduk dan memberi ancang-ancang perlawanan.
"Saya hanya ingin menyampaikan, kalau Roy sudah ditemukan keberadaannya. Tapi saya perlu bantuan Aish untuk mencari bukti-bukti yang masuk akal karena dia tak mungkin mengakui perbuatan kejinya," jawab Ronald santai.
"Rey dan Yumna juga sepertinya menemukan korban Roy lagi. Entah nama yang sama, atau memang orangnya yang sama," sahutku serius tanpa menanggapi tatapan Ronald dan kak Azzam yang seperti ada kewaspadaan.
"Bagus kalau begitu. Bisa kita berangkat sekarang?"
"Kita mau ke kampus dulu. Ada mata kuliah pagi ini. Rey juga sudah menghubungi polisi untuk membongkar petunjuknya nanti," kata Yumna.
Yumna mulai menceritakan sesuai kejadian yang mereka berdua alami semalam. Mulai dari mendengar tangisan di pinggir jalan, sampai melihat sosok terbang menuju sungai dekat villa-villa mewah di daerah bukit.
" Sudah aku share lokasinya sama polisi!" jawab Rey.
"Baiklah, kalau begitu saya akan ikut meluncur ke sana sekarang. Aish mau ikut?" tawarnya.
__ADS_1
Ku lirik sekilas wajah kak Azzam. Hanya diam masih dengan tatapan tak mengenakkan.
"Aku ke kampus dulu saja, sama mereka. Nanti kami menyusul ke sana. Iya 'kan, Yumna?"
"Iya, nanti kami menyusul," jawabnya.
"Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu. Terima kasih informasinya. Semoga cepat bisa ditangkap pelakunya," kata Ronald sambil mengajak bersalaman ke semua orang, tapi hanya ku tangkupkan tangan di depan dada seperti bunda dan umi saja.
"Tak usah salaman. Kalau mau pergi ya tinggal pergi saja!" kata kak Azzam yang hanya ditanggapi senyuman menantang.
"Permisi semuanya!"
Langkah Ronald mulai membuatnya menghilang dari tempat ini. Dan suasana mulai terlihat kondusif lagi.
"Aish, sebaiknya kau jauhi dia. Aku rasa dia buaya darat yang menyamar menjadi manusia," kata kak Azzam mulai tak senang.
"Hahahaaa..... Bilang saja cemburu!" ledek Rey.
"Ya, memang aku tak suka melihat kedekatan Aish sama dia. Dari tampangnya sudah terlihat kalau kerjaannya suka mempermainkan wanita."
"Sudahlah. Aish aman di tangan kita. Ayo kita ke kampus, keburu siang nanti!" ajak Rey sambil menepuk bahu kak Azzam yang masih terlihat tegang.
"Nanti aku minta ke dokter supaya cepat mengeluarkanku dari tempat ini. Aku ingin ikut petualangan bersama kalian mencari Roy juga, karena penasaran sama tingkahnya yang suka menghilangkan nyawa wanita tapi bisa menghilangkan saksi dan bukti yang mengarah padanya," kata kak Azzam mulai mengabalisa, sesuai cerita kita.
" Iya, cepat sembuh. Sebelum Aish tergoda sama polisi tadi, " kata Yumna sambil tertawa.
" Hahaha.... Sudahlah. Kita tinggalkan dia biar istirahat dan cepat sembuh. Biar tak terlalu lama kesempatan polisi tadi menggoda Aish, " tambah Rey tertawa puas meledeknya.
"Lihat saja kalau aku keluar dari sini. Sedikit saja nyenggol Aish, tak akan ku diamkan dia!"
"Sudah... Sudah.... Ayo berangkat!" kata bunda mendorong tubuhku yang juga langsung menggandeng Yumna.
"Assalamu'alaikum," ucapku mulai melangkah keluar.
"Wa'alaikumsalam. Hati-hati, dan selalu berdoa di setiap langkah kalian ya!"
"Insyaa Allah, Bunda!" jawabku sambil meninggahkan ruangan.
Sambil berjalan, ku ceritakan juga tentang kisah Susan. Yumna yang mendengar sampai meneteskan air mata saat membayangkan. Karena nasib sebatang kara yang juga dia alami sekarang.
Tapi disamping itu ada rasa syukur karena dia diasuh neneknya yang penyayang. Tak mengalami nasib seperti Susan yang harus dijual kepada Roy untuk membayar hutang.
****
Teruntuk pembaca setia, akhir bulan nanti akan ada giveaway lagi ya. Caranya gampang banget. Tinggal sering klik like dan tulis komentar yang berhubungan dengan isi cerita.
Semakin banyak komentar, akan semakin banyak kesempatan menang. Karena author akan mengambil 4 orang secara acak di kolom komentar dari episode yang belum ditentukan.
Akan ada pulsa masing-masing 25ribu seperti biasa, yang insyaa Allah akan diumumkan pada tanggal 30 Juni 2021 nanti.
Ayooo.... Banyak-banyak komentar ya, karena belum tahu di episode novel 'Mata Kedua' mana yang akan diambil komentarnya.
__ADS_1
Maafkan juga atas keterlambatan up beberapa waktu ini, dikarenakan adanya urusan yang belum bisa ditinggalkan. Terima kasih atas semua dukungan untuk pembaca yang masih setia menunggu ceritanya๐๐๐๐