
"Sarapan pagi apa hari ini?" tanya kak Azzam menghampiri kami yang sedang berada di dapur bersama.
"Ini, lagi lihat Rey masak. Kakak ikut bantuin juga dong, biar bisa masakin aku kalau kita sudah menikah nanti."
"Nah, kode tuh!" sahut Yumna meledek ke arahku.
"Kode apaan?" tanyaku baru sadar kalau keceplosan.
"Kode minta segera disahkan. Kuliahnya nyambi setelah nikah juga gak apa-apa kok," sahut Yumna lagi.
"Ya ayuk!" sahut kak Azzam tanpa beban, sambil duduk di kursi belakang kami.
"Tuh... Nunggu apa lagi," sahut bu Nuri semakin membuatku merasa malu saja.
"Eh Rey, sudah matang masaknya?" tanyaku pada Rey yang diam seperti biasa.
"Hampir. Heh, Asem! Bantuin kenapa? Biar Aish gak kecewa," panggil Rey pada kak Azzam, yang ternyata ikut meledekku juga sambil tersenyum menyebalkan.
"Hadehhhh.... Pagi-pagi dah sarapan bully ini," sahutku.
"Enak dong!" goda Yumna lagi.
"Kalau nasi kebuli enak, kalau bully dari kalian rasanya pahit," jawabku membuat semuanya tertawa bersama.
'Tok Tok Tok....'
Suara ketukan pintu terdengar cepat sekali. Seperti seseorang yang sedang terburu-buru, ingin segera dibukakan pintu.
"Siapa ya?" tanya bu Nuri melangkah ke depan.
'Tok Tok Tok.....'
Suara ketukan masih terdengar, tapi tak ada jawaban dari luar.
"Iya, sebentar!" jawab bu Nuri terus melangkahkan kaki.
Aku yang penasaran, menggandeng Yumna mengikuti di belakang bu Nuri, menuju pintu depan rumah ini.
"Ya?" kata bu Nuri seraya membukakan pintunya.
"Bu... Tolong... Tolong...," sahut gadis muda seusiaku, dengan perut yang terlihat sedikit membesar meski tertutup oleh gaun putih yang lebar.
"Eh... Kamu, bukannya anak dari Pak Malik? Yang tinggal dirumah sebelah?" tanya bu Nuri masih belum terlalu paham, karena jarang bertemu dengannya.
"Maaf, saya tutup pintunya!"
Wanita itu masuk dengan paksa, tanpa menjawab pertanyaan dari bu Nuri sebelumnya.
__ADS_1
"Ibu kenal? Pak Malik itu.... Ehmm...bukannya yang membeli rumahku?" tanya Yumna.
"Iya, kalau memang benar dia anaknya."
Kami semua menatap lekat ke arah wanita yang terlihat masih ngos-ngosan, sambil bersandar pada daun pintu yang dia tutup sendiri.
"Eh, kamu hamil kan?" tanyaku menatap lekat ke arahnya.
"Apa iya?" tanya bu Nuri ikut mengamati, masih menunggu sepatah kata keluar dari mulutnya.
"Saya ambilkan air dulu sepertinya dia baru saja mengalami trauma," kataku menuju ke belakang.
Bu Nuri dan Yumna meminta wanita itu duduk, sebelum air untuknya datang untuk diteguk.
"Ini, minum dulu. Ambil nafas pelan, keluarkan dengan terus istighfar. Setelah beberapa kali, insyaa Allah kamu akan lebih lega nanti," kataku mengulurkan gelas berisi air mineral.
"Hehhhhh...... Aku lupa cara berdoa. Atau apalah itu namanya," sahutnya sambil menenggak habis air yang ku berikan tadi.
"Astaghfirullahal 'adzim.....," tuntunku perlahan, sampai beberapa kali untuk membuatnya mengikuti.
"Sudah tenang? Kalau begitu, coba ceritakan," kataku lagi dengan pelan.
"Tolong,...bawa aku pergi dari sini!"
"Maksudnya apa? Apa benar kamu anaknya Pak Malik?" tanyaku mengulang pertanyaan bu Nuri sebelumnya.
Kami yang ingin mendengar ceritanya, hanya bisa menunggu. Sampai dia kembali tenang, untuk melanjutkannya lagi. Tapi....
'Tok Tok Tok....'
Baru saja dia mulai lega, ketukan pintu kasar terdengar di depan kami.
" Tolong, jangan beritahu kalau saya ada di sini!" ucap Anjani.
Baru saja bu Nuri berdiri, pintu sudah terbuka karena didobrak dengan paksa. Sedangkan Anjani, belum sempat menyembunyikan dirinya.
"Maaf, akan saya ganti kerusakan pintu ini. Anjani, pulang!" suara lelaki dari belakang tubuh pria berotot, yang memaksa masuk ke sini.
Dua lelaki berotot itu menyeret paksa tubuh Anjani, meski dia terus meronta, meminta tolong pada kami semua.
"Stop! Kenapa kalian membawa paksa gadis itu pergi?" teriakku yang hampir emosi menyaksikan kejadian di depan mataku ini.
"Sebaiknya tak usah ikut campur. Ini uang ganti rugi kerusakan rumah ini," kata wanita yang mungkin adalah istri pak Malik menghampiri kami, dan menaruh segebok uang kertas itu di tangan bu Nuri.
"Ada apa ini?" tanya kak Azzam dan Rey baru menyadari keributan kami.
"Ini urusan keluarga kami. Maaf kalau mengganggu pagi-pagi sekali. Anak kami, Anjani, sedang mengalami masalah kejiwaan. Setelah dihamili pacarnya dan ditinggal pergi," jelas wanita setengah tua itu mulai melembutkan suaranya.
__ADS_1
"Ooohhh....., kalau memamg begitu, kenapa tak dibawa ke rumah sakit saja?" tanya kak Azzam kembali.
"Kami sudah menyewa perawat khusus untuknya. Permisi," kata ibu itu beranjak pergi, mengikuti suaminya bi belakang pria berotot yang sedang menyeret Anjani.
"Tolooong....ampuuunn....saya tidak gila... Ampunn....," tangis Anjani, tanpa kita bisa berbuat apa-apa lagi.
Kami berlima yang menyaksikan di sini, masih bengong tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Sampai aku menyadari, ada sesuatu yang aneh tentang penjelasan dari wanita setengah tua tadi.
"Sebentar, bukannya kata bu Nuri, keluarga mereka tak pernah terlihat keluar rumah? Lalu, Anjani hamil sama siapa?" tanyaku heran.
"Eh, iya juga. Kalau dia sekarang hamil, berarti kemungkinan baru beberapa bulan yang lalu melakukannya. Tapi, sudah dua tahun terakhir, saya tak pernah melihat dia keluar rumah. Aneh!" sahut bu Nuri baru memikitkannya juga.
"Mungkin pacarnya adalah salah satu pegawai, atau pengawalnya dulu. Yang kabur setelah menghamili dia. Sepertinya mereka keluarga yang cukup berada, kenapa tinggal di kampung terpencil seperti ini ya?" tanya kak Azzam sambil menduga-duga.
"Sarapan dulu saja. Sudah matang masakannya. Nanti keburu dingin," sahut Rey membuyarkan pikiran kita, meski aku masih tak berhenti memikirkannya.
Sarapan pagi kami lalui masih dengan penuh tanda tanya. Sampai akhirnya kita selesai, dan berangkat ke makan orang tua Yumna.
Kami berangkat hanya dengan berjalan kaki saja, karena selain tak teralu jauh, juga karena jalannya tak bisa dilalui oleh kendaraan roda empat milik Rey.
Sesampainya di makam, ternyata benar tebakan Yumna. Ncus sedang asik nongkrong di salah satu dahannya, untuk beristirahat sebelum malam nanti membuatnya terjaga. Bersama para makhluk sejenisnya.
Doa bersama kami panjatkan di depan pusara. Dengan tangisan air mata Yumna. Sampai matahari sudah mulai tinggi, kami harus meninggalkan tempat ini.
"Ayo pulang. Tenangkan dirimu," kata Rey merangkul bahu kekasihnya itu.
"Yumna, kita keluargamu juga. Tetap semangat ya," kataku ikut mengelus punggung tangannya.
"Iya, terima kasih semua. Aku merasa benar-benar memiliki keluarga, meski tak sedarah dengan siapapun juga. Terima kasih atas semua perhatian kalian semua," sahut Yumna mulai beranjak berdiri, untuk kembali pulang ke rumah bu Nuri.
Sesampainya di rumah, Rey langsung menemani Yumna di ruang keluarga. Bersama dengan bu Nuri juga. Sedangkan aku, masih penasaran dengan kejadian Anjani di rumahnya.
" Eh, mau kemana?" tanya kak Azzam tiba-tiba menangkap pergelangan tanganku, saat aku hendak beranjak keluar rumah ini.
"Mau ke depan," tunjukku sambil berbisik.
"Aku temani!"
Tak bisa ku bohongi lagi, kalau rasa penasaranku terlalu tinggi. Meski kak Azzam sempat memperingatkanku agar tak mengawasi mereka lagi.
"Aku tak bisa tinggal diam, saat ada seorang wanita diperlakukan seperti tadi," jelasku pada kak Azzam agar mau mengerti, setelah kita berdua di teras rumah bu Nuri.
"Tapi, bukannya tadi kata orang tuanya, kalau dia itu kehilangan kewarasannya?" tanya kak Azzam masih meminta penjelasan.
"Aku tak percaya. Karena dia bisa jelas berbicara, sesuai pertanyaan kita. Kalau memang dia benar-benar gila, aneh aja karena bu Nuri, tetangga paling dekat, tak pernah melihatnya punya kekasih di luar sana. Trus hamil sama siapa?"
"Terlalu tak masuk akal kalau sama pengawalnya, tanpa diketahui keluarga. Bukankah mereka semua selalu di rumah saja?" lanjutku mematahkan teori kak Azzam sebelumnya.
__ADS_1
"Benar juga. Lalu, apa yang sebenarnya terjadi dengannya?"