
"Memang kakak kenal sama Jil di mana?" tanyaku.
"Dari pujasera danau Rubi. Dia sering datang sebagai pengunjung, dan menungguku sampai jam kerja selesai. Semakin sering bertemu, kami semakin dekat sebagai sahabat dan teman curhat. Lama-lama, dia menyatakan perasaan sukanya yang juga aku rasakan."
Kak Raisha menerawang langit-langit kamar, membayangkan pertama kali pertemuan mereka dulu. Sambil bercerita, air mata penyesalan menetes di pipi putihnya itu.
" Lalu, bagaimana ceritanya sampai kakak hilang kemarin? " tanyaku.
" Kemarin aku mau anter makanan pelanggan. Kamu ingat 'kan?"
"Iya, aku ingat, Kak. Makanya kok sampai tak ada yang lihat kakak keluar dapur, atau ke tempat pelanggan?" tanggapanku.
"Nah, itu juga yang bikin saya bingung. Saat saya baru menginjakkan kaki keluar pintu, kok malah langsung seperti masuk ke dimensi lain. Gelap dan pengap. Bersamaan dengan itu, pintunya juga tertutup rapat.
"Lalu?" tanya Yumna.
"Trus di dalam ruangan yang gelap itu, tiba-tiba terdengar suara laki-laki yang tak asing di telingaku. Dia mengatakan kalau setelah bulan purnama tiba, dia akan menikahiku. Lha kan saya kaget juga, sebenarnya siapa yang ngomong?"
"Apa yang kakak lakukan setelah mendengar itu?"
"Ya pengen lari. Tapi gelap sekali, sampai akhirnya api dari obor-obor mulai menyala di kanan dan kiri tempatku berdiri."
"Kakak jadi lari?" tanyaku semakin penasaran.
"Ya enggak. Soalnya setelah api menyala, ternyata aku sudah tak di pujasera lagi. Mau lari ke mana? Gak tahu jalannya juga, karena ternyata di depanku seperti lorong panjang tanpa terlihat ujungnya."
"Terus?" ganti tanya kak Azzam yang ternyata sama kepo-nya juga.
"Dari belakangku, ternyata sumber suara lelaki itu. Dia mengaku kalau dia lah Jil yang sebenarnya. Lha karena wujud yang tak seperti saat menemuiku biasanya, aku kaget. Antara percaya dan tidak, tapi sungguh wujudnya tampak mengerikan sekali meskipun seperti batang pohon yang tinggi."
" Apa kakak akhirnya percaya, kalau dia memang Jil yang sebenarnya? " ganti tanya Yumna.
" Iya, setelah dia mengatakan tentang apa yang pernah kami lakukan, obrolkan, dan janjikan. "
" Kaka pernah berjanji apa? " sahutku lagi.
__ADS_1
" Saya pernah bilang, kalau saya mau menikah dengannya, setelah anak dan ibuku setuju semua."
"Lalu? Kenapa dia ingin mempersunting kakak kalau belum sesuai kesepakatan?"
"Awalnya saya juga bilang seperti itu. Tapi tiba-tiba, dia membuka pintu satu per satu, seperti penjara di samping kanan dan kiriku. Di sana ada orang yang pernah menjadi tumbal untuknya. Termasuk yang sudah dinikahinya, dan sudah tak menarik lagi baginya," tunduk kak Raisha sedih sekali.
" Lalu, apa kakak tanya siapa yang telah menumbalkan atau menyerahkan kakak padamya? "
" Iya, tapi dia bilang, saya tak perlu tahu. Yang penting saya harus siap menikah dengannya saat bulan purnama tiba," jelas kak Raisha sedih sekali.
"Lalu, bagaimana kakak bisa lolos dari sana? Apa yang nenekku lakukan untuk menolong kakak?"
"Ya, saat saya ditaruh di sebuah ruangan untuk menanti acara pernikahan, nenekmu dan suamiku datang dari begitu saja. Lalu nenekmu menyuruhku memegang tangannya, sambil memejamkan mata."
"Trus?" suaraku dan kak Azzam bersama, sampai membuat semua sedikit tertawa.
"Setelah di suruh buka mata, ternyata saya sudah ada di dapur lagi. Lalu beliau memintaku untuk bersembunyi, karena Jil pasti akan mencari. Sampai Aish menemukanku di balik pintu lemari bumbu tadi."
"Alhamdulillah, yang penting kakak bisa selamat. Oh iya, trus kira-kira apa makhluk itu akan terus mengejar kak Raisha ya?" tanya Yumna.
"Kalau setahuku sih, tujuan utama dia sebenarnya adalah menghancurkan pujasera. Dan kak Raisha hanya sebagai bonusnya. Tapi tak ada salahnya kita tetap mengawasi kak Raisa," sahutku.
Suara pintu kamar perawatan tiba-tiba terdengar ada yang mengetuknya. Membuat kami sempat sedikit terperajat, karena keadaan di sini masih menjelang dini hari.
" Siapa ya?" tanyaku.
" Iya, siapa kira-kira yang datang ke sini? Apa Jil tahu keberadaanku?" sahut kak Raisha terlihat khawatir sekali.
"Kakak tenang saja. Kami masih tetap berada di pihak kakak untuk melawan makhluk itu. Atas ijin Allah, kita bisa menghadapinya bersama," yakinku.
'Tok... Tok... Tok...'
Suara ketukan kembali terdengar, bersamaan dengan bunyi gawai Rey yang bergetar.
"Rendi?" gumam Rey membaca nama pemanggil dari layarnya.
__ADS_1
"Ya... Oh, oke. Sebentar!" ucapnya langsung berdiri, dan membuka pintu kamar ini.
"Maaf mengganggu istirahat semuanya," ucapnya masuk dengan diikuti anak kecil dan neneknya dari belakang tubuhnya.
"Louisa? Mama?" panggil kak Raisha pada seseorang yang diajak pak Rendi, yang ternyata adalah keluarganya.
"Pak Rendi masih di sini? Kata Rey, tadi setelah urus administrasi langsung pulang?" tanya Yumna.
"Iya, tadi saya memang sudah pamit pulang. Lalu saat di jalan, saya jadi kepikiran sama keluarga Raisha. Takut kalau mereka kenapa-kenapa aja kalau cuma berdua," jawabnya.
"Terima kasih banyak," jawab Rey.
Setelah obrolan sebentar, pak Rendi pamit pulang. Sedangkan kak Raisha mengobrol bersama ibu dan anaknya yang duduk di sebelah ranjangnya. Dan tak terasa kami semua terlelap sebentar saja, sampai adzan subuh berkumandang tanda pagi sudah menjelang.
Kak Azzam memimpin sholat berjamaah di ruangan ini. Dengan khusyuk, kami pasrah pada takdir Illahi. Dan kembali melanjutkan rencana selanjutnya, setelah doa kami panjatkan bersama.
Baru saja obrolan hendak di mulai, suara tangis ibu kak Raisha membuat kami fokus pada mereka. Yang sedang berdiskus sendiri di ranjangnya.
"Raisha, maafkan ibu, Nak. Ibu menutupi sebuah kesalahan suamimu, hiks...," tangis ibu kak Raisha, setelah beliau mohon ampun pada Sang Pencipta saat berjamaah bersama.
"Kesalahan apa, Bu?"
"Kesalahan, kalau suamimu pernah bersekutu dengan setan."
"Aa... Apaa? Maksudnya?"
"Suamimu memang meninggal karena penyakit yang dia derita. Tapi itu terjadi, setelah dia menolak permintaan guru spiritualnya, untuk menyerahkan anak yang sedang dalam kandunganmu saat itu," ucap ibu kak Raisha, sambil mengelus kepala cucunya yang masih terlelap.
" Apa lagi ini? Ibu tahu dari mana? "
" Suamimu sendiri yang mengaku, dan meminta maaf pada ibu. Tapi dia bilang, kalau dia akan merelakan dirinya kalau gurunya menginginkan tumbal salah satu keluarganya. Karena selama ini, perjanjian mereka hanya menumbalkan seekor ayam hitam saja. "
" Untuk apa? Kenapa dia melakukan itu? " tangis kak Raisha.
" Awalnya dia hanya ingin memiliki kesaktian, kebal saat disakiti orang. Dia hanya menjalankan ritual sederhana, hanya untuk melindungi dirinya. Tapi ternyata, lama-lama permintaan gurunya semakin aneh saja. Sampai gurunya menginginkan kamu, menjadi istri kesekian untuknya, " jelas ibu kak Raisha menunduk sedih.
__ADS_1
" Ja... Jadi..., hehhh.... Saya tak tahu harus bersikap apa. Marah karena dia berbuat yang tak wajar, tapi kagum atas keberaniannya yang merelakan dirinya untuk menyelamatkan aku dan Louisa. "
" Lalu, apa hubungannya dengan pujasera kalau begitu? Sebenarnya siapa dalang dibalik ini semua? " gumamku mendengarkan cerita kak Riana dan ibunya.