Mata Kedua

Mata Kedua
Kejadian di Rumah Dini


__ADS_3

"Suaranya dari atas!"


Kami bergegas naik ke tangga yang menghubungkan setiap lantainya. Menyusuri beberapa ruangan, yang kami sendiri tak tahu isi di dalamnya.


Hanya dengan menempelkan telinga sebentar di setiap pintu, untuk memastikan keberadaan suara yang sempat kami dengar.


"Emmpph.....!!"


Suara itu muncul lagi, tapi hanya terdengar bergumam seperti mulut yang ditutup oleh suatu benda.


"Dari sini!" bisik kak Azzam menunjuk sebuah pintu, sambil menempelkan telinganya.


"Buka pelan saja!" kata Rey.


'Kriieeeet......'


Suasana yang sangat sepi di sini, membuat pintu terbuka terdengar nyaring sekali. Tapi untungnya tak ku lihat Alif dengan pedangnya di dalam ruangan ini.


"Ibunya Dini?" tanyaku pada seorang wanita yang duduk terikat membelakangi kami.


Wanita itu terus bergumam tak jelas, sambil mengangguk membenarkan. Tapi entah mengapa, aku merasa aura negatif justru bersumber padanya. Meski kadang datang, tapi sesaat kemudian terlihat normal kembali.


"Lepaskan saja. Kita tanya dimana keberadaan Alif sekarang!" kataku pada kak Azzam yang berdiri paling depan.


Kak Azzam membuka ikatan tangannya, sedangkan Rey tali pada kakinya. Aku sendiri bergegas melepas ikatan kain di mulutnya.


"Hehhh.... Terima kasih. Dimana Dini?" tanya wanita itu mulai berdiri menghadap kami.


Wanita dengan rambut lurus sebahu, berkulit putih, dan yang pasti sangat mirip dengan Dini.


"Kita juga sedang mencarinya tadi. Dia masuk dulu ke rumah ini," jawabku.


Aku tak tahu apa yang terjadi pada tubuhku sekarang. Rasa mual dan pusing tiba-tiba saja datang. Membuatku hampir saja pingsan.


"Aish kenapa?" tanya kak Azzam.


"Hawa negatif di sini terlalu kuat. Aku mual," ucapku celingukan.


"Sama, aku juga!" ucap Yumna setuju.


"Ibu, sebaiknya kita segera keluar dari rumah ini. Nanti kita cari Dini, dengan bantuan polisi," ajak kak Azzam menggandeng tangan ibu Dini hendak mengajaknya keluar.


"Azzam, lepaskan dia! Dia bukan ibuku!" sahut Dini tiba-tiba datang menemui kami di ruangan yang minim penerangan.

__ADS_1


"Maksudnya?" tanyaku masih mencoba menguatkan diri.


"Halooo.... Ibu, tolong ibu bilang. Sekarang ibu ada dimana?" ucap Dini pada ponsel yang dia pegang.


"Maksudnya apa? Ibu masih si kantor sekarang. Sudah ya, ibu sibuk sekali hari ini!"


Suara wanita yang sangat mirip dengan suara ditelepon sebelumnya, membuat kami ternganga.


"Lha, kamu siapa?" ujar kak Azzam langsung mengibaskan gandengannya kencang.


"HUAAAHAHAHAAA..........!!"


Sosok di depan kami tiba-tiba membesar, dengan kaki yang berubah menjadi ekor ular. Dari pinggang ke atasnya, nampak berwujud tubuh laki-laki bertaring dan mata merah yang menyala. Sisiknya juga penuh dimana-mana.


"Oh, jadi kamu sumber hawa negatif di sini!" tuduh kak Azzam.


"MENURUTMU?" jawabnya dengan suara berat menggelegar.


"A'udzu...... Heempph.....!"


Kak Azzam hendak membacakan beberapa ayat Al-Qur'an. Tapi dengan cepat, sosok bertubuh setengah ular itu mencekik lehernya sampai ke atas menempel dinding ruangan.


Aku yang sudah mulai menguasai diri, mencoba membaca ayat yang masih bisa ku ingat di kepala. Yang terpenting, aku harus melafalkannya dengan khusyuk pada Sang Pencipta.


"Hei.... Lepaskan temanku!" kata Rey hendak melawannya, dengan maju menghampirinya.


Baru saja telapak tangannya hendak di tempelkan di dahi kepala siluman ular, Rey langsung terpental, dan pingsan tak sadarkan diri karena kepalanya terbentur lemari.


"Rey... Aish.... Azzam.... Bertahanlah!" ucap Yumna sudah mulai lemas karena rasa pusing dan mualnya, sampai membuat tak bisa bangkit berdiri.


Aku dan kak Azzam yang masih tercekik di dinding, masih berusaha mengucap permohonan kepada Sang Pemilik jiwa ini. Meskipun cuma dalam hati.


Dengan bergandengan penuh perjuangan meski masih melayang, kami mencoba lebih fokus untuk memohon perlindungan kepada Allah Ta'ala. Karena hanya rasa pasrah yang kita miliki sekarang.


"Lepaskan cucuku!" suara wanita tua di ruangan yang remang, nampak mencakar punggung siluman ular.


'Brukk..'


Aku dan kak Azzam terjatuh karena dilepas begitu sana, dari cengkraman tangan yang berkuku tajam. Bersamaan dengan siluman ular yang langsung menghadap ke belakang.


"Ku bereskan kamu dulu, setelah itu baru menyelesaikan mereka," ucap sosok itu memutar ekornya.


"Mbah Darmi.....," ucapku setelah bisa mengembalikan kesadaranku seperti sebelumnya.

__ADS_1


"Baca ayat kitab suci yang kau bisa. Biar aku yang melawannya," kata mbah Darmi mulai maju menghadapi.


Kak Azzam, aku, dan Yumna saling berpegangan. Menyatukan hati dan pikiran sebagai kekuatan yang bisa kita lakukan. Sambil melafalkan ayat-ayat kitab suci yang masih ada di kepala. Meskipun rasanya susah sekali mengingatnya.


'Braakk.....'


'Bruukk...'


Suara dentuman terdengar jelas sekali. Sedangkan Dini hanya bisa berdiri, sambil menangisi nasibnya sendiri.


Pertarungan itu terlihat sengit. Mulai dari mbah Darmi yang melayang, dan menginjak kepala sosok ini. Sampai siluman ular ganti melawan dengan melempar tubuh mbah Darmi hingga terkapar. Aku yang tak tega hendak beranjak berdiri, tapi kak Azzam menggelengkan kepala sambil terus mengucapkan ayat-ayat kitab suci yang kami bisa.


Mbah Darmi terlihat sudah cukup lemas sekali. Tapi beliau masih terus mengingatkan kami untuk tetap berdoa pada Illahi. Agar makhluk ini bisa lemas dan kekurangan energi.


Rasanya baru lima menit pertarungan itu dimulai. Tapi siluman itu sudah terlihat menfuasai peperangan ini. Dia mulai mengangkat mbah Darmi, seperti posisi kami tadi. Mencekik leher yang membuat sakit sekali.


"STOOOPPPP!" kata Dini.


"Kalau mau mengambil milikmu, bawalah aku. Aku yang sudah melakukan perjanjian itu! Lepaskan mereka yang tak bersalah ini!" kata Dini tegas.


Makhluk ular itu langsung melepaskan pegangannya. Membuat tubuh mbah Darmi jatuh, dan hilang entah kemana.


Siluman ular mulai tersenyum lebar. Menyeringai seperti hendak menerkam korban. Lalu memaksa masuk ke dalam tubuh Dini, meski merasa tak nyaman dengan bacaan kitab suci yang masih menggema di ruangan ini.


Dini yang sudah dirasuki langsung lari keluar rumah ini. Kami bertiga lari mengejarnya keluar, tapi jejaknya sudah tak terlihat lagi.


"Kalian siapa?" tanya seorang wanita paruh baya membawa banyak barang belanjaan masuk ke rumah ini.


"Kami temannya Dini. Apa tadi lihat Dini keluar?" tanyaku ngos-ngosan.


"Nona Dini? Saya tak melihatnya sama sekali. Apa dia pulang tadi?"


"Kalau begitu, aku kejar Dini dulu. Yumna di sini saja urus Rey yang lagi pingsan di atas ya!" usulku.


"Ini ada apa sebenarnya?" tanya wanita yang sepertinya seorang asisten rumah tangga.


"Nanti akan saya jelaskan. Tolong bantu teman kami yang pingsan di atas karena kepalanya terbentur lemari," ajak Yumna kembali naik ke atas.


Aku dan kak Azzam melanjutkan pelarian. Tapi baru sampai gerbang, ku lihat penjaga keamanan baru saja datang.


"Lhoh, bapak baru datang?" tanyaku heran, karena tadi kami benar-benar melihat wujudnya sedang terkapar di pos satpam.


"Kalian siapa? Saya memang seharian ini keluar rumah mencari nona Dini yang sudah tak pulang beberapa hari," jawab penjaga keamaan itu.

__ADS_1


__ADS_2