
Seminggu kemudian......
Pagi sekali gawaiku sudah berbunyi. Ku lihat jarum pendek jam juga masih di angka tiga.
"Hoahmmm.... Siapa ya?" gumamku masih setengah memejamkan mata.
Ku coba membaca tulisan yang tertera di telepon seluler milikku, yang terletak di atas nakas sebelah tempat tidur.
"Nomor baru? Siapa ya?" heranku sambil menekan tanda warna hijau, dengan menyandarkan badan di tembok di belakangku.
"Haloo.....!"
"Aish, tolong saya. Bian hilang, tak ada di tempat tidurnya!" jawab suara dari seberang sana.
"Maksudnya?"
Aku masih bingung. Berusaha mengingat, nama Bian yang sempat terucap oleh wanita itu. Karena beberapa waktu ini banyak sekali tugas kuliah sampai sedikit lupa waktu, termasuk masalah yang pernah terjadi di sekitarku.
"Bian..... Anak yang seminggu lalu hampir kalian tabrak. Yang kamu bilang sedang diikuti oleh sosok kakaknya," jelas Rima, yang baru aku ingat namanya.
"Oh iya, saya ingat? Dia hilang kemana?"
"Saya juga tak tahu. Tadi saya dengar ada suara Bian seperti sedang mengobrol dengan seseorang. Sambil sedikit teriak-teriak tak jelas!"
"Tapi pas saya buka kamarnya, dia sudah tak ada. Saya sudah cari ke seluruh rumah, bahkan sampai ke halaman juga. Tapi sama sekali tak menemukan keberadaannya," jelas Rima.
Rima berkata dengan sedikit nada bergetar. Seperti ada sesuatu ketakutan yang dia rasakan.
" Ayah Bian kemana? Tahu tidak kalau anaknya hilang? " tanyaku lagi.
" Ayahnya sedang tugas ke luar kota. Saya sama Bian saja yang sedang ada di rumah sendiri. Bisa minta tolong bantu cari dia?" pinta dengan suara Rima memelas.
"Oke, akan kami usahakan ya. Soalnya ini baru beberapa jam lewat tengah malam."
"Baiklah, saya tunggu. Semoga Bian segera ditemukan."
"Amiin. Kirim lokasi ya, nanti kalau sudah dapat kendaraan, saya akan ke sana."
"Baiklah. Akan saya kirim lokasi saya sekarang," kata Rima menutup sambungan teleponnya.
__ADS_1
Tak lama dari aku menutup teleponnya, sebuah pesan masuk berisi peta lokasi dari nomor Rima.
"Oke, bismillah!" kataku mencari tukang ojek melalui aplikasi di telepon selulerku.
Sembari menunggu, ku ketuk pintu Yumna untuk mengajaknya ke sana. Tapi setelah tiga ketukan tak ada jawaban, ku putuskan untuk mengirim pesan saja padanya. Agar tak bingung mencariku saat dia tak menemukan keberadaanku di rumah ini.
Setelah siap ku bersihkan muka dan sholat malam sebentar, tak lama suara sepeda motor tukang ojekpun datang. Akupun segera keluar, dengan memakai jaket tebal, dan mencangklong tas kecil untuk menaruh beberapa barang penting pribadi, seperti dompet dan gawaiku.
"Sesuai alamat di aplikasi ya, Pak!" kataku saat buru-buru keluar rumah Yumna.
"Iya!" jawabnya singkat.
Sepeda motor mulai melaju ke jalan. Menyusuru dinginnya malam.
"Bapak biasa narik jam segini?" tanyaku memulai percakapan, agar perjalanan tak membosankan.
"Iya, Dek. Lagi ngejar target setoran. Adek sendiri kenapa keluar malam-malam begini?" tanyanya menanggapi.
"Teman saya lagi butuh bantuan, Pak. Anak yang diasuhnya menghilang dari tempat tidur," jawabku.
"Malam-malam begini hilang kemana? Umur berapa anaknya?"
"Sekitar lima tahunan, Pak."
"Saya sendiri juga tak tahu. Karena sudah dicari sampai sekitar rumah, tetep tak ada. Padahal pagarnya sudah dikunci juga."
"Apa mungkin dibawa sama makhluk gaib ya, Dek? Soalnya tetangga saya pernah ada yang seperti itu. Tiga hari baru ketemu, dalam lemari bajunya. Padahal sebelumnya dicari di tempat itu tak ada."
"Lalu, dibawa kemana katanya?"
"Katanya diajak jalan-jalan ke tempat hiburan yang ada di luar kota oleh kakeknya yang sudah meninggal."
"Oh ya?"
"Iya. Dia main sepuasnya di sana, terus pas dah puas, pulang lagi mereka naik bus yang sama seperti saat berangkat. Dia disuruh tidur setiap perjalanan, eh pa bangun sudah dalam lemari baju. Hiii......," jelas tukang ojek yang ku naiki sepeda motornya ini.
"Naik bus dan ke taman hiburan gratis ya berarti?" candaku agar tak terlalu tegang saat menceritakan.
"Iya, Dek. Tapi ngeri kalau yang ajak makhluk begituan. Aduh, masih gelap kok saya malah teringat kejadian itu ya?" sesalnya terlanjur bercerita.
__ADS_1
"Gak apa-apa, Pak. Yang penting jangan sampai putus doanya, kalau bertemu yang macam-macam kayak 'mereka'!" kataku tersenyum, sambil memperhatikan beberapa pemandangan mengerikan di setiap pinggir jalan. Mulai dari bentuk korban kecelakaan, sampai mbak-mbak baju putih yang lagi balapan terbang.
" Dan anehnya lagi, Dek. Anak tetangga saya itu merasa tak sampai sehari bermain, kok hilangnya sudah tiga hari," lanjutnya masih meneruskan ceritanya tadi.
"Mungkin mereka membawa ke alam yang tak sama dengan alam manusia."
"Iya juga. Ah, jadi ngomongin yang serem-serem. Untung kita lewatnya daerah perumahan mewah yang terang benderang di sepanjang jalan sekarang."
"Lhah nanti bapak pulangnya?" tanyaku lagi, mengingat ada jalan yang sedikit gelap dengan makhluk-makhluk iseng yang sempat terlewati tadi.
"Saya mau stay di pos satpam saja sampai terang. Barangkali ada penumpang juga di daerah sini, he....," cengirnya menutupi rasa takut.
"Yang penting terus berdoa ya, Pak. Eh, itu di sekitar sini alamatnya ya!" kataku menatap peta dari hp yang masih ku pegang ini.
"Iya, Dek. Nah, rumah ini kayaknya!" ucapnya mulai menghentikan sepeda motornya.
Ku berikan uang dua kali lipat dari tarif yang sudah tersedia di aplikasi. Menghargai kerja keras bapak ini, sambil mendoakan kelancaran rejekinya nanti.
"Terima kasih, Pak. Assalamu'alaikum," kataku sebelum dia pergi.
"Wa'alaikumsalam, hati-hati, Dek. Semoga anak yang diasuh temannya bisa segera ketemu."
"Amiin," jawabku menatap tukang ojek yang berlalu menjauhi tempat ini.
Di sebelahku sudah terlihat sebuah rumah yang cukup besar, untuk ditinggali seorang anak dan pengasuhnya saja. Meski tak terlalu mewah layaknya para tetangga di daerah sini, tapi rumah ini cukup bisa membuat seorang anak berlarian kesana kemari.
Baru saja ku langkahkan kaki mendekati rumah ini, sebuah teriakan perempuan dari dalam membuatku berlari. Mempercepat langkah ini untuk masuk ke dalam pagar yang sudah terbuka tak terlalu lebar.
"Rima.....," panggilku pelan, karena aku belum benar-benar yakin, kalau ini rumah yang ingin ku tuju.
Tak ada lagi suara yang meminta pertolongan. Tapi aku sedikit yakin kalau tadi itu suara Rima yang terdengar.
"Rima....," panggilku sekali lagi, memutari halaman luar rumah ini.
"Aaaaargghh..... Ampunn.....," suara Rima kembali terdengar lagi.
Aku mulai yakin kalau dia sedang tak baik saat ini. Tapi aku belum menemukan keberadannya sekarang.
"Rima, ini Aish. Kamu dimana?" tanyaku masih mencari dalam kegelapan di pagi buta.
__ADS_1
Baru saja ku injakkan kaki di taman belakang rumah ini, suara langkah Rima berdegup mendekatiku di sini.
"Aish.... Tolong! Ibu.... Ibu Bian datang lagi!" teriaknya sambil mengatur nafas yang tersengal-sengal, karena menahan ketakutan dari tadi.