Mata Kedua

Mata Kedua
Pisang Pembawa Petaka


__ADS_3

"Kamu tak apa?" tanyaku dan Yumna bersama, setelah mengajak anak laki-laki ini sedikit menepi.


"Iya, aku tak apa. Kakak siapa?" tanyanya bingung, mulai menoleh ke kanan dan kiri.


"Namaku Aish, dan ini kak Yumna. Kamu sendiri siapa?"


Aku mulai memperkenalkan diri, mencoba mendekati anak ini untuk mencari tahu keanehan yang sempat ku rasa dari sorot matanya ini.


"Aku Zul. Kak Aish dan kak Yumna mau apa?" tanyanya lagi, seperti masih belum tahu apa yang membuat kami mendekat padanya.


"Kamu kenapa berdiri di tengah jalan raya tadi?" tanya Rey menghampiri anak itu, setelah menepikan mobilnya.


"Di tengah jalan?" tanyanya kembali, masih seperti bingung dan shock sendiri, dengan menggenggam sebuah plastik kecil hitam yang sepertinya berisi bungkusan makanan.


"Sudahlah. Kita ajak dia duduk sebentar. Oh iya, kamu sudah makan belum?" tanyaku dijawab gelengan kepala oleh anak itu.


"Ya sudah, kamu ikut kami makan di rumah makan itu gimana?" ajakku.


"Tadi aku sudah membeli sebungkus nasi, dan dikasih pisang emas oleh pemilik rumah makan itu. Tapi nasinya masih belum ku makan, cuma pisangnya aja yang baru setengah masuk dalam perutku. Sisanya mau aku bagi dengan adikku yang lagi sakit di rumah," jawabnya polos.


'Deeghh......'


Entah perasaan apa ini, tapi hatiku mulai tak enak saat mendengar penuturan anak lelaki tersebut.


" Boleh ku lihat pisang yang dikasih sama pemilik rumah makan itu? " tanya Rey yang sepertinya mengalami rasa khawatir yang sama.


"Tapi, itu untuk adikku."


"Iya, kami hanya ingin melihatnya. Nanti akan kami ganti dengan makanan yang lain kalau pisang itu sudah tak layak untuk dimakan," kataku menenangkannya.


"Tapi makanan ini layak kok. Bukan sisa orang lain," jelasnya.


"Sudahlah, serahkan saja pisang yang sempat kau makan sedikit tadi," ucap Rey mulai tak sabar.


"Oh baiklah. Tapi itu sebenarnya buat adikku yang ada di rumah," katanya menunjukkan isi dari plastik hitam yang dibawanya, dan menyerahkan pisang yang tinggal separo.

__ADS_1


Rey mengambil pisang itu, kemudian menggenggam dan memejamkan mata sejenak. Seperti sedang menerawang jauh ke dalam pikiran, mencari tahu maksud sebenarnya dari pemberian pisang oleh pemilik rumah makan tersebut.


"Boleh aku minta pisangnya?" tanya Rey kemudian, setelah membuka mata.


"Tapi, itu hanya separo saja. Dan sengaja ku sisakan untuk adikku di rumah," jawab anak itu merasa keberatan.


"Oke, saya tanya dulu. Tadi apa yang kamu lakukan di tengah jalan itu?" tanya Rey menunjuk ke tempat Zul sempat berdiri tadi.


"Aku tadi cuma mau selamatkan anak ayam yang ada di situ. Tapi kok tiba-tiba hilang, semoga tak tertabrak oleh kendaraan lain."


"Anak ayam? Tadi aku sama sekali tak melihat ada anak ayam di jalan? Cuma kamu yang lagi melamun di tengah jalan, dengan tatapan kosong," sahut Yumna.


"Aku tak melamun tadi. Aku cuma mau selamatkan anak ayam," jelasnya kekeh pada pendirian.


"Sepertinya dia masih belum sadar, kalau sedang dimanfaatkan," gumam Rey hendak berlalu, meninggalkan kami menjelaskannya sendiri.


"Dimanfaatkan?" tanya Zul.


"Zul, boleh kita ikut pulang ke rumahmu? Tadi katanya adikmu sakit? Boleh kakak ikut menjenguknya?" rayuku agar tahu lebih dalam, sebelum menebak yang masih ku ragukan.


"Boleh, tapi kenapa kalian ingin menjenguk adikku? Padahal kita tak pernah kenal sebelumnya?"


"Cuma ibu dan adikku."


"Lalu, apa yang kau lakukan di sekitar sini?"


"Adikku sakit, seperti yang sudah aku katakan sebelumnya. Jadi terpaksa aku yang harus mencari makanan untuk mereka saat ini, saat tangan ibuku yang biasanya juga digunakan untuk mencuci pakaian tetangga, harus di perban karena pecahan piring kaca yang melukai sangat dalam sekali."


"Kalau aku boleh kasih saran, bakar saja pisang itu di sini. Sebelum kamu pulang. Agar tak berlanjut sampai ke kehidupan keluargamu nanti," ucap Rey lagi yang ternyata kembali ke sini setelah mengamati dari depan rumah makan yang sangat ramai itu.


"Memangnya apa yang terjadi? Apa anak ini mau dijadikan tumbal?" tanyaku langsung, sesuai apa yang ada dalam kepalaku saat ini.


"Ya, dan pisang inilah medianya," jelas Rey kembali menatap pisang yang tinggal separo itu.


"Tap... Tapi.... Tadi aku membeli makanan itu. Kenapa malah aku diincar sebagai tumbal? Heeehhhh..... Pdahal adik dan ibuki sangat kelaparan saat ini. Dan uang hasil kerjku mengngkat barang di pasar, sudah habis untuk sebungkus nasi yang sangat diinginkan adikku," kata Zul merasa sedih sekali.

__ADS_1


"Tadi kamu beli makanannya bukan? Apa pisangnya juga beli? Atau dikasih?" tanya Rey seperti sudah pernah tahu kejadian serupa sebelumnya.


"Iya, aku beli makanannya. Lalu dikasih bonus pisang katanya."


"Oke, berarti memang ini sumber masalahnya. Kita bakar sekarang saja, mumpung masih di sini juga," kata Yumna mengambil korek dari dalam mobil kekasihnya, yang pernah digunakan untuk acara barbeque di pujasera.


"Rey, kamu yakin kalau ini sudah dilakukan, Zul akan baik-baik saja?"


"Coba saja. Dan biarkan makhluk yang di dalam sana murka, mengambil kembali miliknya kalau pemilik rumah makan itu tak pindah dari sana setelah ketahuan dan gagal dalam proses penumbalan."


"Oke, kita bakar semuanya saja di pojok sana. Nanti kak Rey yang akan menggantikan nasimu, untuk adik dan ibumu," kataku mengambil nasi tersebut, dan membawanya ke sudut taman yang terletak di seberang rumah makan.


Awalnya, api sangat sulit sekali dinyalakan. Beberapa kali Yumna mencoba, belum sempat menyentuh plastik, tapi api selalu saja padam.


" Gak bisa nyala? Coba sini," kataku ingin membantu.


"Bismillahirohmanirohim......," ku baca surat Al-Fatihah, dan ku lanjutkan ayat kursi sambil menyalakan api.


Tanpa disangka, semua berjalan sesuai yang seharusnya. Kemudian ku lanjutkan membaca surat yasin, saat api ku sentuhkan pada plastik nasi yang mungkin bisa membahayakan Zul nanti.


Api mulai menyala. Saat kami membakar di bekas tanah yang sudah menjadi tempat pembakaran sampah sebelumnya di pojok taman kota.


Dari dalam kobaran api yang menyala, seperti terdengar raungan marah makhluk tak kasat mata. Yang mungkin nanti akan membuat perhitungan dengan manusia yang bersekutu padanya.


Satu jam berlalu, kami masih mengamati bekas bakaran itu.


"Sudah habis ludes kayaknya. Sekarang kita cari makan ke tempat lain kalau begitu," ajakku menggandeng Zul yang masih meratapi makanannya.


"Zul, ikhlaskan ya. Kita akan menggantinya, di rumah makan lainnya," kataku.


"Iya, Kak. Padahal, adikku ingin sekali mencoba masakan di rumah makan yang ramai itu. Setiap kami berdua lewat di depannya," sesalnya.


"Saat aku sudah bekerja keras hari ini untuk menuruti keinginan adikku, ternyata masih belum rejekiku," lanjutnya.


"Rejekimu bisa datang dari mana saja. Percayalah bahwa Allah memberi kejadian ini, pasti ada hikmah yang bisa diambil nanti," ucapku mengelus kepalanya, sambil menuntunnya masuk ke dalam mobil Rey meski dari wajahnya nampak sedikit keraguan juga.

__ADS_1


Kami terus meyakinkan dia, kalau kami cuma orang yang kebetulan lewat saja. Sebagai perantara pertolongan Allah SWT, agar dia tak jadi dicelakai oleh makhluk yang bekerjasama dengan manusia yang lemah imannya.


"Kita ke rumah Zul dulu ya, buat ajak keluarganya makan di tempat makannya nanti," usulku yang disetujui semuanya.


__ADS_2