
"Iya, aku sedang bertugas di sini. Kamu lagi apa? Memang jodoh tak akan kemana ya," cengirnya berusaha menggoda, tapi semakin membuatku tak nyaman juga.
"Bertugas? Kamu?" tanyaku masih bingung sendiri, karena tak ku lihat dia berseragam seperti para polisi yang lainnya, yang sedang mencari bukti di sekitar kita.
"Ya... Memang aku tak memakai seragam seperti mereka. Karena tugasku menyelidiki kasus dengan baju bebas saja. Agar orang yang ku tanyai bisa bercerita dengan leluasa," katanya sambil menunjukkan tanda pengenalnya sebagai aparat negara.
"Oh, aku kira kamu pengusaha," kataku sesuai yang ada dalam pikiran.
"Aku juga punya usaha, supermarket di beberapa kota. Kalau kamu mau, aku akan mengajakmu keliling memantau ke sana. Oh iya, ngomong-ngomong...apa yang kamu lakukan di sini?" tanyanya lagi.
"Aishh....," panggil bunda yang berjalan menuju ke arah kami.
"Aku dan bunda ingin ikut menyelidiki kasus Riri. Gadis yang terbunuh bersama bayinya di tempat ini," kataku menunjuk rimbunan alang-alang.
"Riri? Kamu tahu kalau namanya Riri? Kamu kenal?" tanya Ronald.
"Tadi sosoknya sempat menampakkan diri, lalu memberi petunjuk sampai aku menemukan kalung ini," kataku menunjukkan kalung itu.
Ronald nampak mengamati, lalu mengambil kalung dari tanganku.
"Sosok siapa yang kamu maksud?" tanya Ronald masih belum paham.
"Sosok bernama Riri, yang memberi petunjuk tentang kasus pembunuhan di tempat ini," jelasku pelan, agar dia bisa menerima cerita yang mungkin tak masuk akal.
"Polisi masih belum menemukan identitas apapun di sekitar sini. Jadi kita harus mencari petunjuk lain lagi. Atau kalau kamu sempat lihat dia, kita panggil sosoknya kemari," usul bunda memotong pertanyaan Ronald setelah beliau berdiri di antara kami.
"Memanggil sosok? Maksudnya bagaimana sih?" tanya Ronald lagi, masih belum paham maksud kami.
"Oke, akan aku jelaskan dulu. Kenapa aku bisa ikut mencari petunjuk di sini? Karena aku selalu didatangi sosok Riri, untuk mengungkap kematiannya yang masih menjadi misteri," kataku mulai cerita tentang pertemuanku benerapa waktu ini, termasuk dalam mimpi.
Detail kejadian yang aku lalui, dan berhubungan dengan sosok Riri, kembali ku ceritakan di sini. Barangkali Ronald yang seorang polisi, bisa mencari petunjuk lain lagi. Termasuk berita yang ku dapat dari ponsel tadi.
" Boleh saya bawa kalungnya? Saya akan coba menuju alamat dari berita gadis hilang yang bernama Riri dari ponselmu itu," kata Ronald memutuskan, setelah ceritaku selesai, yang sebenarnya masih belum bisa sepenuhnya diterima pemikiran nalar Ronald.
__ADS_1
"Boleh saya ikut? Barangkali nanti sosok itu memberi petunjuk lagi," usulku.
"Dengan senang hati. Bolehkan tante?" tanya Ronald bersemangat, langsung tersenyum ke arah bunda.
"Boleh saja. Tapi ingat ya, nanti balik rumah sakitnya jangan sampai kemalaman," kata bunda pada kami.
"Siap, nanti akan saya antar sampai rumah sakit. Kalau perlu sampai ke ruangan perawatan juga," kata Ronald masih memberikan senyuman ramahnya, tapi aku rasa ada modus di dalamnya.
"Tak usah. Cukup di depan gerbang rumah sakit, tak lebih," kataku memotong.
"Masih takut pacarmu cemburu?" ledeknya.
"Tak usah mulai, atau aku tak jadi ikut mencari petunjuk denganmu. Akan ku cari sendiri sesuai petunjuk dari Riri nanti," kataku mengancamnya
"Oke...oke....,maafkan saya. Mari kita berangkat sekarang, sebelum petang," ajaknya hendak menggandeng tanganku, tapi sudah ku kibaskan dulu sebelum dia menyentuhku.
"Oh, maafkan saya!" katanya lagi, sambil menangkupkan tangan di depan dada.
"Ya sudah, berangkatlah. Hati-hati di jalan!" kata bunda memberi ijin padaku.
"Wa'alaikum salam," jawab bunda juga terlihat heran dengan polisi tak berseragam ini, sambil tersenyum dan menggelengkan kepala.
"Aneh. Maunya apa sih, pakai ikut-ikutan cium tangan bunda segala. Mau cari perhatian, hah!" kataku bergumam sendiri, berjalan menuju jajaran sepeda motor polisi dan mobil yang terparkir rapi, di pelataran sebelum lokasi tempat ditemukannya mayat Riri.
Sepertinya Ronald masih mengikutiku dari belakang, saat aku berjalan. Jadi ku percepat langkah, agar kami bisa segera berangkat sebelum petang.
Semakin lama langkahku berjalan, tapi tak ada yang menyalip atau menunjukkan padaku tempat mobil miliknya. Sampai terdengar sebuah teriakan dari belakangku yang membuatku berhenti melangkah.
"Aish... Mobilku di situ!" katanya menunjuk ke sebelah warung di seberang jalan tadi, yang semakin jauh di belakangku berdiri. Bukan di jajaran tempat parkir mobil polisi yang lain di sini.
"Astaghfirullah, kenapa nggak bilang dari tadi sih? Jadi balik ke sana lagi kan!" gerutuku saat menoleh ke belakang.
"Tadi kamu gak tanya, langsung nyelonong jalan aja. Ku ikuti juga langkahmu, tapi cepat sekali. Padahal aku mau memberitahu kalau mobilku tak diparkir di tempat itu."
__ADS_1
"Sudah, tak usah dibahas lagi!" kataku sewot, menahan rasa malu yang teramat sangat ini.
Kami kembali berjalan ke tempat pertemuan tadi. Ku lihat bunda juga masih berdiri di tempatnya, sambil tersenyum sendiri. Membuatku bertambah malu karena rasa sok tahuku.
"Makanya tanya dulu sebelumnya," kata bunda saat aku berjalan melewatinya kembali.
"Iya," jawabku menunduk sambil terus berjalan.
Ronald yang mendahuluiku sampai di sebelah mobilnya, langsung membukakan pintu untukku. Tanpa berucap lagi, akupun masuk dan masih sedikit menahan malu.
Ronald memutar untuk masuk ke belakang kemudi. Kemudian sedikit memberikan senyum untuk menyambutku, tapi sama sekali tak ku tanggapi. Tapi sepertinya dia tak akan menyerah sampai di sini.
"Kita jalan sekarang ya," kata Ronald berusaha ramah.
"Silahkan!" jawabku masih ada rasa kesal.
Mobil mulai berjalan. Menuju ke alamat rumah Riri yang sempat diberitakan. Dengan keadaan jalan yang mulai petang, sampai terdengar adzan berkumandang.
"Bisa cari masjid sebentar?" tanyaku mengingatkan Ronald, kalau aku perlu melakujan ibadahku yang berbeda dengannya.
"Siap, apa yang tidak buat kamu!" katanya masih terus usaha.
Semakin lama dia tersenyum, semakin jengkel saja rasanya. Tapi masih ku tahan meski rasa tak nyaman terus ada.
"Masjid di situ gak apa-apa 'kan?" tanyanya setelah mobil ini mendekati sebuah masjid.
"Gak apa-apa. Semua masjid sama saja kok. Yang penting bisa untuk melaksanakan kewajiban," kataku masih dengan nada ketus.
Tak lama, mobil diberhentikan di depan masjid yang cukup menawan. Dengan kerlap-kerlip lampu yang menarik perhatian, dan kebersihan yang membuat sangat nyaman.
Setelah Ronald mematikan mesin mobil, dia langsung turun dan kembali memutari mobil ini. Hanya untuk membukakan pintunya untukku kembali.
"Silahkan!" katanya masih berusaha ramah meski terus ku sewoti.
__ADS_1
Tanpa menjawab, aku langsung turun dan melangkah ke masjid yang sudah memanggil untuk menyerukan kewajiban petang ini. Meninggalkan Ronald sendiri, yang masih berdiri di sebelah mobilnya berhenti.