
"TIDAK! AKU TAK MAU DIPENJARA," teriak Ariana terus melajukan kursi rodanya.
"Ariana, tunggu!" kata Virgin hendak mencegah sahabatnya.
"Jangan mendekat! Aku lebih baik tiada daripada harus masuk penjara!" ancam Ariana yang baru menyambar pisau buah, dari meja makan mewah di rumah ini.
"Tolong hentikan! Jangan nekat, Ariana!" teriak beberapa orang yang menyaksikan di ruangan ini, termasuk Virgin, sahabatnya.
"Siapa yang memanggil polisi?" tanya ibu Ariana.
"Maaf, Tante. Saya yang memanggilnya. Supaya bisa lega kalau maut sudah menjemput kita. Sebagai penebus dosa, meskipun tak terhapus sepenuhnya," jelas Virgin masih menunjukkan wajah santai tanpa beban yang terlihat di wajahnya.
"Dasar sahabat tak tahu diri. Sudah ditolong, malah lapor polisi," umpat ibu Ariana lagi.
"Maafkan saya. Ariana, ayo kita hadapi bersama. Nanti akan aku jelaskan pada polisi, kalau akulah yang paling dominan bersalah pada kasus pembuangan bayiku sendiri," kata Virgin mencoba menenangkan sahabatnya.
"Iya, Nona. Kalau kamu tak terbukti bersalah, kami tak akan memasukkanmu ke penjara. Kami hanya ingin meminta keterangan dari kamu saja," kata lembut salah satu polisi ikut menenangkan.
"Aku tak mau dihukum. Aku tak salah apa-apa. Aku hanya menuruti perkataan Virgin saja!" kata Ariana masih menempelkan pisau di lengannya, meski belum sempat mengirisnya.
"Ariana. Apa kau kira setelah mati, kau bisa bebas dari segala hukuman atas semua perbuatanmu di dunia ini?" tanyaku mulai menyibak orang-orang yang sebelumnya berdiri di depanku.
"Apa kau kira di akhirat kelak, kau tak mendapatkan hukuman lagi? Apalagi ditambah dengan perbuatan mengakhiri hidupmu sendiri, yang sangat dibenci oleh Allah Sang pemilik jiwa ini. Kau pikir kau bisa lari kemana, saat hukuman kekal itu datang nanti, hah! Pikirkan itu juga, sebelum kecerobohan membuat penyesalan lagi," tanyaku membuatnya menangis, dan mengambil cepat pisau dari tangan kirinya saat dia mulai terlihat lengah.
" Hua....aaa......., aku sudah banyak dosa. Aku belum siap mati. Aku.... Akuuu.... Huwaa......, " tangisnya semakin menjadi.
" Pak polisi, nanti saya akan menyerahkan diri saya sendiri. Bersama dengan sahabat saya yang menjadi saksi. Tapi tolong beri saya kesempatan, untuk menyelesaikan pemakaman papa dulu," mohon Virgin pada para polisi.
Awalnya mereka sedikit keberatan atas permintaan tersebut, karena tugas negara dianggap lebih penting dari kebutuhan pribadi. Tapi setelah dilakukan rundingan bersama, akhirnya rasa kemanusiaan muncul juga, untuk disetujui.
__ADS_1
"Baiklah. Kami akan ikut dalam proses pemakaman ini, sampai selesai nanti," kata salah satu polisi memutuskan, setelah mengabari atasannya yang berada di kantor, agar bisa mengerti keadaan di sini.
Satu per satu acara pemakaman sudah dimulai. Tanpa ada halangan berarti, akhirnya bisa selesai tepat pada waktu yang sudah diperkirakan tadi. Sampai akhirnya Virgin dibawa ke kantor polisi, bersama dengan Ariana yang sudah mulai bisa mengendalikan emosi. Tepat saat ibu Virgin juga baru saja tiba, untuk mengurus kasus hukum putrinya nanti.
"Mak, karena semua sudah selesai, kami minta ijin pamit dulu. Sebelum kesorean nanti," pamit kak Azzam pada asisten rumah tangga di rumah ini.
"Terima kasih banyak, Nak. Kalau tak ada kalian di sini, pasti tadi pemakaman tak bisa segera diselesaikan. Ibunya Virgin saja baru tiba setelah suaminya sudah berada di pusara," sesal Mak masih dalam suasana duka.
"Sabar, Mak. Semua akan indah pada waktunya. Kalau ada apa-apa, Mak bisa hubungi kami lagi lain hari," kata kak Azzam memeluk tubuh renta di depan kami.
"Oh iya, kok dari tadi gak lihat ada Fahri? Gak ada orang yang diperban kepalanya di sekitar sini 'kan?" tanyaku mengingatkan semuanya, tentang kejadian yang sempat mencengangkan pikiran kita.
"Fahri? Oh iya....ya....kok tadi sampai pemakaman selesai kita gak lihat dia sama sekali?" sahut Yumna.
"Saya juga gak lihat ada anak yang diperban kepalanya?" timpal Mak.
" Maksud kakak bukan manusia?" tanyaku.
" Kalau dari hatiku bilang dia manusia, tapi dari pikiranku bilangnya bukan. Entahlah! "
" Ayo cepat ke rumah sakit saja, daripada kita mikir macam-macam tentang dia!" ajak Yumna.
Setelah berbasa basi sejenak, kami langsung menuju rumah sakit tempat Fahri dirawat. Meski sebenarnya tak percaya, tapi tadi kami berempat sepertinya melihat semua.
Sepanjang perjalanan, kami saling menebak sesuai yang ada dipikiran masing-masing. Mulai dari ada sosok yang menyerupai, sampai berpikir ada hal buruk yang sedang menimpa Fahri. Sampai tak terasa, rumah sakit sudah di depan kami.
"Kami turun duluan ya, kejauhan kalau dari parkiran. Gak apa-apa 'kan, Rey?" tanya kak Azzam.
"Oke, gak apa-apa. Biar kalian bisa cepat cek keadaan dia juga," seru Rey tumben tak mempermasalahkan kita yang meninggalkan dia.
__ADS_1
"Turun sini saja ya!" seru Yumna menunjuk tempat yang nyaman untuk berhenti sementara.
Mobil dihentikan di bawah pohon mangga yang cukup besar. Yang letaknya tepat di depan rumah sakit, tempat Fahri dirawat setelah sempat tertabrak.
Kami bertiga langsung turun dan berlari, untuk mencari tahu keadaan Fahri. Tanpa Rey yang harus memarkirkan kendaraannya, beberapa meter dari pintu masuk bangunan rumah sakit ini.
Terus berlari tanpa melihat kanan dan kiri. Karena kami sudah tahu tempat Fahri dirawat, tempo hari. Namun sesampainya di depan kamar yang merawat Fahri, kosong tak ada orang sama sekali. Membuat hati kami semakin khawatir, membayangkan nasib dari Fahri. Terutama setelah melihat sosoknya yang sempat terlihat hadir di rumah Virgin tadi.
"Suster, maaf! Pasien yang tinggal di kamar ini kemana ya?" tanya kak Azzam pada seorang perawat yang baru mau masuk, untuk membersihkan kamar perawatan ini.
"Oh, maksudnya Fahri?"
"Iya bener. Kemana, Sus?" jawabku.
"Tadi pagi, dia sempat muntah-muntah dan kejang. Lalu belum sadarkan diri sampai sekarang. Jadi dipindahkan ke ruang ICU untuk diteliti lebih dalam," jelas suster.
"Alhamdulillah," jawab kak Azzam.
"Lhah, masuk ICU kok malah bilang gitu?" protes Yumna.
"Alhamdulillah, masih ada harapan dia hidup. Setelah kita sempat lihat sosoknya berkeliaran tadi," jawab kak Azzam sambil berlalu meninggalkan kita menuju ruang ICU.
Kami berdua yang masih bingung sama sikapnya, hanya bisa mengiyakan daripada berdebat panjang. Mengikuti langkahnya pergi, untuk kemudian mencari keberadaan Fahri.
Sesampainya di depan ruang ICU, kami melihat selang dan jarum menancap di seluruh tubuh Fahri saat ini. Dari kaca yang membatasi antara ruangan kami, Fahri masih pulas dalam tidurnya. Ditemani seorang wanita yang mungkin adalah ibunya, sedang duduk sambil mengelus kepalanya.
"Sepertinya tak semua orang boleh masuk ke dalam. Lebih baik kita tunggu saja di sini, sampai ada dokter yang bisa kita tanya tentang keadaannya saat ini," usul kak Azzam sambil menunjuk ke dalam ruangan.
"Iya, sambil tunggu Rey juga. Ini katanya lagi cari kita, ke kamar Fahri yang lama," ucap Yumna menunjukkan tulisan di gawainya.
__ADS_1