
"Siap, Bos!" jawab semuanya.
"Ya sudah, kita cari sekarang!" ucap Rey membuyarkan karyawannya.
Aku dan kak Azzam ke arah kiri, sedangkan semuanya berpencar sendiri-sendiri.
"KAK RAISHAAAA.....," teriak kami saling menyahuti.
Terus memanggil nama yang tak juga kembali. Meski teriakan sudah terdengar mulai dari dekat danau, sampai sudut sekitar kami.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Rey tiba-tiba sudah berdiri di belakangku, mengikuti langkahku mencari.
"Aku juga bingung, tapi tadi sebelum aku mengalami hal aneh, dan sebelum kak Raisha menghilang, seperti ada sekelebat bayangan yang terus mengawasi kami," jelasku memulai.
"Memang tadi kamu mengalami hal aneh apa?" tanya Rey mulai membuat semuanya fokus menunggu penjelasan dariku.
Ku ceritakan apa yang aku alami tadi, sambil berjalan mencari kak Raisha yang belum ada kabarnya sama sekali.
"Sudah ku duga, kalau ini ada hubungannya sama pacar kak Raisha," sahut Yumna memukul telapak tangan kirinya, dengan genggaman tangan kanan.
"Apa yang kamu tahu?" tanya Rey kembali, sambil menatap kekasihnya.
"Tadi aku lihat Aish berjalan ke sana kemari dengan pandangan kosong, sampai akhirnya dia berdiri di pinggir danau Rubi. Kami semua sempat berteriak, karena sedikit lagi dia hampir menceburkan diri."
"Trus?" tanyaku ikut penasaran, karena aku tak merasa melakukan itu semua.
"Aku lihat, ada sosok nenek tua menahanmu, agar mundur ke belakang. Lalu dia menyuruhku untuk menyadarkanmu, kemudian.....menghilang," jelas Yumna sambil menjentikkan jarinya di kata terakhir yang dia ucapkan.
"Trus?"
"Eh, setelah didorong mundur olehhnya, kamu malah asik duduk dan memejamkan mata di sana," jelas Yumna menunjuk pinggir danau, tempat aku mulai sadar sudah dikerumuni banyak orang.
"Nenek tua, siapa?" tanyaku dan kak Azzam saling berpandangan sambil mengetukkan jari telunjuk kanan di daguku.
"Iya, nenek tua dengan tatapan teduhnya. Sepertinya dia tak rela kalau kamu sampai celaka. Apalagi sampai kamu masuk ke dalam jebakan Jil, yang sedang mengganggu kita."
"Bagaimana ciri-ciri nenek itu?" tanyaku.
Yumna menceritakan detail fisiknya, mulai dari gelungan rambut sampai kebaya. Dan akhirnya aku bisa mengira, siapa sosok yang dia maksud itu.
__ADS_1
"Mbah Darmi!" tebakku dan kak Azzam bersama.
"Aku tak tahu, karena belum sempat kenalan juga, he..... ," cengir Yumna.
"Memang mbah Darmi suruh apa buat menyadarkan aku?"
"Tanpa menyebutkan namanya, beliau mendekatiku dan meminta agar membisikkan nama di telingamu. Alhamdulillah, ternyata berhasil membuat kamu sadar lagi," jelas Yumna mulai mengikutiku mengucap syukur, saat mendapat kenikmatan.
"Kurang ajar, jadi dia pandai mempermainkan pikiran orang. Licik! Jil... Kalau berani, muncullah di sini. Jangan hanya bisa membuat ilusi, dan bersembunyi!" teriakku geram.
"Sabar, jaga emosi. Istighfar, mohon ampun sama Allah, supaya pikiranmu tak dimanfaatkan setan," seru kak Azzam merangkul pundakku, agar aku bisa lebih tenang.
"Oke, kita cari lagi Raisha dulu. Sambil menenangkan pikiranmu. Setelah itu, kita diskusi untuk rencana selanjutnya," usul Rey kami jawab anggukan bersama.
Sampai tak terasa satu jam sudah berlalu. Waktu berkumpul kami tiba, tanpa menemukan petunjuk, maupun kak Raisha.
Rey dengan terpaksa menghubungi pihak berwajib juga. Kebetulan dia punya seorang teman polisi, yang selalu siap membantu kasus yang dia hadapi. Jadi saat ini, dia meminta temannya itu untuk membantu pencarian di sekitar sini.
"Terima kasih atas bantuannya. Tapi untuk sementara, pujasera akan saya tutup dulu. Sampai Raisha ketemu. Sekarang kalian boleh pulang, dan tolong bantu doa agar semua bisa kembali lancar seperti sebelumnya . Selamat malam," kata Rey membuyarkan karyawannya untuk pulang.
Selain pihak berwenang, di sini masih ada aku, pak Rendi, Yumna, Rey, dan kak Azzam. Selagi polisi mencari ditemani pak Rendi di depan dan sekitar danau, kami berempat masih di dalam kantor Rey.
"Menurut kalian, apa yang terjadi pada Raisha?" tanya Rey pada kami bertiga.
"Apa kamu tahu, seberapa dekat makhluk itu dengan Raisha?" tanya Rey lagi.
"Mereka memang sedang menjalin asmara. Tapi....," kataku terpotong, saat melihat bayangan seorang laki-laki dari pantulan kaca jendela.
"Tapi apa?"
"Kita harus tanya dia!" tunjukku pada lelaki itu setelah mengamatinya beberapa detik.
Sudah tak ada lagi yang melihatku bercerita. Semua mengarahkan pandangannya ke luar jendela, belakang kantor Rey.
"Siapa dia?" tanya kak Azzam saat kami berlari keluar bersama.
"Mungkin mantan suami kak Raisha," jawabku ngos-ngosan.
"Hei, jangan pergi. Kita butuh informasi darimu," kata Rey menggertak sosok lelaki pucat itu sebelum dia berbalik arah hendak menghilang lagi.
__ADS_1
"Heh.. Hehh... Hehhh..... Apa... Apa kamu suami kak Raisha?" tanyaku tepat di hadapannya, sambil mengatur nafas juga.
"Darimana kamu tahu?" tanyanya.
"Karena kami mirip sama foto Louisa, dia anakmu 'kan?" ucapku lebih mendekat dengan perlahan.
"Iya, dia anakku. Tolong Raisha," katanya.
"Bagaimana cara kami menolongnya?" aku semakin mendekat ke arahnya, sedangkan temanku yang lain masih berdiri di tempat mereka, karena tak terlalu tahu masalahnya.
"Dia dibawa masuk ke alam, Jil. Bawa dia kembali! Tolong demi Louisa," katanya sedih sekali.
"Oke, kita coba masuk ke sana. Apa kamu bersedia menunjukkan tempatnya?" tanya Rey.
"Iya, akan aku tunjukkan."
"Bagaimana caranya?" tanyaku masih tak mengerti, karena sebelumnya aku masuk ke alam mereka, dibantu ayah dan bunda.
"Kita ke ruanganku saja," ajak Rey.
"Tak bisa, kalian harus langsung masuk ke dalam hutan itu. Aku tahu kalian berempat mempunyai kelebihan yang hampir sama. Jadi tak susah untuk mencari gerbangnya," jelas suami kak Raisha.
"Gerbang?" tanya Yumna.
"Apa itu berarti, di dalam hutan itu ada kerajaan setan?" sahut kak Azzam polos.
"Tak ada banyak waktu, ayo kita lakukan segera. Sebelum bulan purnama tiba, dan Raisha sudah menjadi permaisurinya."
"Ayo!!" jawab kami bersama, mengikuti langkah suami kak Raisha.
Di belakang pujasera ini, tepatnya jauh di belakang bangunan yang berjajar rapi, masih terdapat hutan yang sebenarnya tak terlalu rimbun juga.
Tapi kata Yumna, jauh di dalam hutan itu, ada sebuah pegunungan yang suka menyesatkan manusia. Oleh sebab itu, tak ada yang berminat pergi ke sana. Terlebih setelah beberapa orang pendaki tak ada yang berhasil kembali.
"Bos Rey, mau kemana?" tanya pak Rendi yang melihat kami hendak masuk ke dalam hutan.
"Kami mau cari ke sana!"
"Tapi, Bos. Itu bahaya! Tak ada manusia yang berhasil keluar dari sana," serunya lagi.
__ADS_1
"Kamu tak usah khawatir, kami akan baik-baik saja," jawab Rey tanpa beban.
Pak Rendi masih terus berusaha mencegah kami. Dengan alasan keselamatan, dia menjelaskan mitos gunung yang sudah memakan banyak korban.